Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
158 : Ashera Mencuri Miliknya Arvin


__ADS_3

Setelah dua jam lamanya untuk melepaskan penat mereka berdua, Arvin yang sempat memejamkan matanya itu tiba-tiba saja membuka matanya, dan memperlihatkan siluet mata hitamnya yang detik itu juga menatap intens ujung kepalanya Ashera.


Tapi di saat yang sama juga, Arvin pun nampak Daseon yang sedang merapikan tempat tidur yang sempat acak-acakan, sampai menyetrikanya, di mata Arvin, Daseon memang benar-benar memperlihatkan kinerjanya yang begitu sempurna itu.


"Apa kau terus bekerja seperti robot?" Arvin terbangun, dan langsung menoleh ke belakang, melihat pemandangan luar kota yang begitu terang, menunjukkan bahwa kota seoul tidak ada kata tidur.


"Apa anda akhirnya bersimpati kepada saya? Karena terus memberikan layanan terbaik kepada anda?"


"Jadi pelayan saja sudah belagu," lirik Arvin terhadap Daseon yang terus saja memasang ekspresi wajah kalem, seolah apa yang di lakukan nya itu tidak mengganggu, padahal di jam malam seperti ini tidak seharusnya Daseon masuk kedalam kamarnya.


"Karena Tuan muda saja belagu, kenapa palayannya sendiri tidak boleh jadi belagu?" ledek Daseon dengan senyuman ramahnya, yang mana setiap kali Arvin melihat senyuman itu, Arvin merasa jadi kesal sendiri, karena tidak adanya Daseon yang terlihat takut dengannya. "Apa anda ingin memindahkan Ashera ke tempat tidur?"


Akhirnya Daseon pun bertanya mengenai gadis yang sedang meringkuk di sofa yang sempat jadi tempat tidur Arvin juga.


Arvin meliriknya, melihat betapa pulasnya Ashera saat tertidur, dengan jawaban datar, Arvin langsung menjawab : "Tidak. Untuk apa aku repot-repot memindahkan tubuhnya ke tempat tidur, jika ujung-ujungnya besok pagi pasti sudah ada di sofa lagi," tatap Arvin, memperhatikan Ashera yang sedang tertidur itu. 'Walaupun aku ingin, tapi tetap saja dia akan kembali ke sofa, jadi untuk apa aku melakukannya jika dia bahkan tidak tahu terima kasih?'


Sebab Arvin merasa tidak berguna melakukan hal yang sia-sia, Arvin pun memutuskan untuk pergi ke tempat tidur yang masih hangat, karena tadi baru saja di setrika oleh Daseon.


Muak sih, melihat muka Daseon, tapi sayangnya semua kinerja yang di lakukan oleh laki-laki ini benar-benar tidak ada tandingannya.


Makannya, walaupun Arvin tidak suka, dia tetap menempatkan orang itu di dekatnya.


"Apa anda ingin min-" belum selesai menawarkan sesuatu kepada Arvin, Arvin yang sudah tahu pasti Daseon akan mengatakan apa, langsung menyela dengan cepat.

__ADS_1


"Aku hanya ingin segera tidur, dan kau keluar dari kamarku, tidak usah pakai bawa-bawa susu segala," peringat Arvin.


"Biar nambah tinggi, anda tidak mau?" sindir Daseon, mencoba merayu anak didiknya yang sedang puber itu.


Arvin yang di buat kesal sendiri itu langsung menyembunyikan tubuh separuh telanjangnya di dalam selimut dan berkata : "Kau sedang beharap aku seperti tiang listrik?" sahutnya, 'Sudah setinggi ini saja, semua sendiku kadang-kadang sakit, dia malah menyuruhku agar lebih tinggi lagi, dasar pelayan, dia bahkan berani sekali meledekku.' ucap Arvin, mengumpat Daseon.


"Padahal biasanya juga anda mau minum su-"


"Diam kau! Keluar sana!" tekan Arvin seraya melempar jam beker yang kebetulan memang ada di samping tempat tidurnya persis.


Tapi yang di lempari jam saja, berhasil menangkapnya dan langsung menyunggingkan senyuman simpul kepadanya.


"Kalau begitu selamat tidur Tuan," ucap Daseon, lalu dia meletakkan jam itu ke atas meja rias yang tidak jauh dari tempatnya, dan segera pergi keluar dari kamar milik majikannya, meninggalkan kedua orang tersebut dalam satu ruangan dengan lampu sudah padam.


KLEK...


Setelah menggerutu kesal, Arvin pun mematikan lampu meja dan segera tidur.


Tapi-


Ruang gelap yang sudah terisi oleh dua orang anak itu, tidak mengartikan kalau mereka benar-benar tertidur.


Bukan untuk Arvin, melainkan untuk Ashera.

__ADS_1


Ashera yang tadinya diam dan nampak sudah tertidur itu, sebenarnya itu hanyalah akting belaka.


"Jelek ya?" gumam Ashera seraya memandangi langit-langit kamar yang nampak sedikit terang, sebab ada lukisan yang mengandalkan cat glow in the dark, sehingga saat gelap, dia pun bisa melihat pemandangan cantik itu.


Yah, pemandangan di atas sana memang terlihat cukup cantik, tapi ketika Ashera menyentuh wajahnya sendiri dan melihat pantulan wajahnya dari gelas kaca yang sebenarnya kena tembus dari cahaya bulan purnama, Ashera pun nampak berpikir dalam diamnya.


'Demi kepribadianku yang satunya lagi, aku berpikir kalau aku akan membuat anak itu setidaknya tidak melirik ke perempuan lain lagi.


Memang, dia menepati janjinya untuk bersikap baik kepadaku, tapi tidak dengan apa yang dia lakukan terakhir kali, melihatmu jalan berdua dengan mantan pacarmu, enak sekali ya jadi dia, punya banyak perempuan cantik di sampingnya, bahkan mantan pacar sendiri, kau mau-mau saja ikut dengannya untuk kencan di saat kau sedang bulan madu denganku.


Hanya mendekatiku karena aroma tubuhku yang membuatnya nyaman, apa aku berikan parfum aroma comberan agar sekalian dia tidak usah mendekatiku?' pikiran yang tiba-tiba saja terlintas itu pun membuat Ashera yang sedang dalam mode kepribadian angkuhnya itu segera melirik ke arah Arvin.


Ashera pikir, itu bukan ide yang buruk, tapi akan membuat hubungan semakin buruk.


'Jangan deh, takutnya saat bangun nanti, kepribadianku yang satu itu malah semakin di maki-maki, aku tidak tega melihat diriku sendiri ini menangisi laki-laki seperti Arvin yang sombong itu.' pikirannya pun jadi berubah lagi, dia sama sekali tidak berharap kalau dirinya sendiri akan di omel habis-habisan oleh Arvin yang punya sikap keras itu.


Maka dari itu, di kesempatan dimana Arvin dan Daseon sudah tertidur pulas, Ashera diam-diam bangun dan beranjak dari sofa menuju tempat dimana Arvin menaruh pakaian kotor serta jaketnya.


Dalam cahaya yang begitu remang itu, Ashera akhirnya mendapatkan dompet milik Arvin.


Tidak terlalu tebal, tapi begitu melihat isinya, akan membuat semua wanita merasa tercengang, sebab rupanya Arvin memiliki Clack Card, bahkan ada lima atm yang berbeda, sim, kartu member beberapa tempat, serta ada beberapa lembar uang yang ada di dalam sana.


"Maaf ya, aku akan sedikit menguras uangmu," lirih Ashera sambil mencium dua kartu ATM tersebut.

__ADS_1


Dia tidak memilih Black Card, karena Ashera tahu kalau Arvin tidak pernah memakai kartu hitam itu, sebab kartu yang di berikan oleh Nenek nya Arvin itu, masih bukan miliknya Arvin, dan datanya masih terhubung dengan akun milik Neneknya, makannya Ashera pun menghindari untuk memakai uang dari beliau, karena tidak ingin terlihat begitu memanfaatkan posisinya, sebab mau bagaimanapun dia masih sadar diri.


Setelah dia mendapatkan kartu itu, Ashera pun memakai mantel milik Arvin dan segera pergi dari sana, meninggalkan Arvin dalam mimpi indah.


__ADS_2