Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
106 : Kecurigaan


__ADS_3

"V-vian- jangan membuat ketua marah, lihat, kita jadi pusat perhatian mereka semua," bisik teman Alvian yang tadi kerah baju seragamnya sempat di tarik oleh Arvin.


Arvin yang masih memasang wajah dingin, namun penuh dengan ketegasan, segera memandang ketiga orang di depannya itu, dan tidak lama setelah itu karena mungkin, gara-gara suaranya tadi yang begitu keras, akhirnya teman-teman alias anak buah Arvin di sekolah itu langsung berkumpul juga.


"Arvin," panggilnya.


"Arvin, kami sudah datang,"


"Aku juga, jadi kita mau berkumpul karena mau bahas apa?"


Ucap satu per satu dari mereka semua, ketika satu kumpulan dari geng petugas dari seksi keamanan, sudah berkumpul di ujung lapangan.


Seperti kawanan dari serigala yang tahu mana pemimpinnya sendiri, mereka benar-benar berkumpul dengan barisan yang langsung rapi.


Bahkan sampai semua murid sekolah yang melihat Arvin sedang mengumpulkan anak buahnya sendiri itu, terlihat bagaikan seorang komando dari kemiliteran.


Tentu saja, melihat hal itu, banyak dari mereka yang langsung terpesona dengan keberadaan dari merek semua.


Alasannya bahkan cukup sederhana, karena anak buah yang Arvin miliki itu bahkan benar-benar punya proporsi tubuh yang bukan kaleng-kaleng, semuanya merata punya tubuh yang bagus, sehingga banyak yang jadi penggemar dari geng yang di pimpin oleh Arvin itu.


"A-arvin, sebaiknya kau jawab saja mereka, jangan hiraukan keberadaanku lagi," ucap Alvian dengan lirih, gara-gara mentalnya baru saja di uji dengan ketegasan yang di perlihatkan oleh Arvin ini kepadanya.


Tapi, karena Alvian pada dasarnya satu kelompok dengan Arvin juga sebagai seksi keamanan, dia pun tidak bisa pergi dari sana saat itu juga, karena harus ikut dalam kumpulan itu.


"Bisa baris tidak? Apa kalian pikir aku memimpin belajar kelompok?" tukas Arvin dengan tatapan matanya yang menyipit, tengah mengabsen satu per satu anak buahnya itu, lengkap atau tidak.

__ADS_1


Mereka yang tidak ingin mendengar Arvin berbicara dengan nada yang tinggi, mau tidak mau harus menuruti ucapannya.


Sehingga, dalam sekejap mata, dari dua puluh orang itu, mereka semua langsung berbaris layaknya seorang tentara yang akan di berikan misi oleh kapten mereka.


"..." Arvin yang merasa mereka semua sudah bisa menuruti perintahnya dengan barisan yang cukup rapi, Arvin pun langsung angkat bicara lagi, soal pengumpulan mereka sebelum diadakannya apel pagi. "Dengar, aku akan bicara satu kali saja tanpa pengulangan, jadi dengarkan baik-baik."


"Baik!" Jawab mereka secara serentak, bahkan Alvian pun turut serta juga.


"Selagi semua orang akan melakukan apel pagi, kalian semua bergerak untuk melakukan operasi razia rutin," ucap Arvin, tanpa menolehkan kepalanya entah ke kanan dan ke kiri, karena di saat dia berdiri fokus di tempatnya, tatapannya sebenarnya tertuju di lantai tiga, yang mana tepat di depan atas sana, ada satu kelas, kelas yang di huni oleh Ashera.


Arvin yang memang memiliki mata yang cukup jeli itu, dia tiba-tiba jadi sempat meragukan akan keberadaan dari Ashera.


Perempuan yang lebih suka duduk di kursinya, di tempat yang biasanya, yaitu di barisan paling belakang tepat di samping jendela, sosok dari perempuan itu benar-benar tidak ada sama sekali.


"Jadi kita akan merazia apa?" tanya salah satu dari mereka.


"Kami mengerti, tapi apakah ada alasan lain, kenapa sampai wajahmu kelihatannya khawatir dengan seseorang?" satu pertanyaan lagi pun menghampiri Arvin lagi, yang mana hal itu membuat Arvin akhirnya menurunkan pandangannya kepada teman-temannya itu.


"Aku bukan khawatir pada seseorang, melainkan aku punya firasat kalau hari ini pasti ada sesuatu yang tidak biasa. Biasanya jika seseorang tidak ada, pasti akan ada orang lainnya yang sama-sama tidak ada.


Jadi, jangan beranggapan kalau aku sedang khawatir pada seseorang, mengerti?" jelas Arvin, dan sudut matanya pun melihat Arliana yang sedang berjalan berdua dengan Doni. 'Sepertinya Dini memang tidak dengan mereka berdua,' pikir Arvin


__________________


Jam setengah delapan pagi, di jam itu semua murid sekolah sudah berkumpul di lapangan, beserta dengan semua guru.

__ADS_1


Tapi, meskipun semua orang terlihat sudah berkumpul semua, sebenarnya tidak dengan semua anak buah Arvin yang mana satu setiap satu orang masuk ke dalam satu kelas dan dengan cepat melakukan razia lagi.


Tentu saja, dengan hasil yang sudah di tebak, mereka akan mengambil barang yang kira-kira tidak di perbolehkan di bawa, bahkan ada yang sampai membawa catokan ke kelas pun, langsung di ambil dan di kumpulkan kedalam kantong sampah.


Namun, tidak seperti semua teman-temannya Arvin yang bertugas di setiap kelas untuk menggeledah barang, Arvin justru sedang berpatroli sendirian.


'Kemana anak itu? Saat semua orang masuk ke lapangan, aku bahkan sama sekali tidak melihat batang hidungnya. Apa ini ada hubungannya dengan Dini?' Arvin saat ini sedang ada di lantai tiga, tepatnya di kelas yang di tempati oleh Ashera.


Tapi, begitu Arvin masuk ke kelas, dia tidak menemukan adanya tas sekolah milik Ashera, dan hal itu membuat Arvin jadi semakin curiga.


Di tambah lagi, saat Arvin mengecek satu per satu wajah dari semua murid sekolah di bawah sana, dari sekian banyak orang, karena Arvin punya ingatan yang cukup bagus, Arvin tahu, siapa saja yang tidak ada dalam barisan.


"Sepertinya ada sesuatu yang harus aku selidiki, apalagi yang satu kelas dengan Ashera, adalah Dini.


Hanya sekilas melihatnya saja, aku tahu seberapa bencinya dia kepada Ashera.


Walaupun aku tidak tahu asal dari kebencian itu sejak dari kapan, tapi- jika dendam miliknya itu sampai menimbulkan Ashera kenapa-kenapa, karena nantinya akan merugikanku juga, aku tidak akan tinggal diam," ucap Arvin, selagi memakai handphone canggihnya itu untuk mengabsen semua murid setiap kelas yang berbaris di bawah sana.


DRRTT....


Arvin langsung menjawab panggilan itu, "Kenapa tiba-tiba menghubungiku?" tanya Arvin, matanya tidak bisa dia alihkan dari pemandangan yang ada di bawah sana.


-"Sebaiknya kau datang ke gudang belakang, aku belum memberitahu yang lain, disini aku menemukan beberapa orang babak belur, dan-"-


"Dan apa? Bisa tidak, jangan bicara setengah-setengah ha?" pinta Arvin, dia yang tidak sabaran itu, tepat setelah mendengar kalau harus pergi ke gudang belakang sekolah, yang artinya adalah gudang yang digunakan untuk meletakkan semua alat ataupun meja kursi yang tidak terpakai lagi, sudah mulai berjalan cepat untuk turun dari lantai tiga.

__ADS_1


-"Disini ada Dini dan Ashera juga, aku tidak tahu apa yang terjadi, jadi makannya aku memberitahumu,"- imbuhnya.


'Dini, Ashera, dua perempuan ini, lagi-lagi memang terus membuat masalah!' Karena sudah jelas, apa yang harus Arvin tangani, Arvin pun akhirnya berlari dengan cepat menuju ke tempat tujuannya, yaitu ke belakang sekolah.


__ADS_2