
Pikirannya menjadi kacau, dengan hati yang di selimuti rasa gelisah yang cukup banyak untuk menjadi alasan dia memberikan perhatian yang lebih banyak untuk di sebut sebagai seorang pengawas.
“Apa kau tidak bisa bekerja lebih bagus lagi?! Semua orang di sekolah pasti sudah menontonnya. Aku berikan waktu sampai lima menit, semua website blokir, halangi semua jaringan komunikasi, dan jangan biarkan ada satu file pun yang keluar dari dari forum sekolah.” perintah Arvin kepada semua anak buahnya itu, agar mereka semua bekerja sama untuk menghapus kemungkinan besar adanya orang yang mengambil video, merekam aksi perundungan dengan korban yang tidak lain adalah Ashera.
“Arvin, lebih baik kau cepat panggil Ashera kesini, agar dia tidak dijadikan sasaran semua orang di kelasnya.” perintah Alfian kepada Arvin, untuk segera memanggil Ashera agar terhindar dari teman-teman kelasnya yang akan membully Ashera. Entah itu lewat verbal ataupun fisik, kemungkinan besar hal tersebut pasti akan terjadi, maka dari itu, Alfian pun mengutarakan pendapatnya kepada Arvin, selaku ketua mereka.
‘Dia benar, aku harus membuat dia datang kesini saja.’ pikir Arvin. Sambil mengawasi pekerjaan dari teman-temannya, Arvin pun mencoba untuk menghubungi Ashera. “Hah? Kenapa dia tidak mengangkatnya?” Arvin mulai kesal, gara-gara teleponnya tidak di angkat.
Namun, disini Arvin tanpa sadar ceroboh sendiri, karena tiba-tiba menghubungi Ashera secara langsung.
‘Sejak kapan dia punya nomornya Ashera?’ Alfian pun bingung sendiri, mengingat ketika di sekolah ataupun sepanjang masa sekolah mereka, Arvin sama sekali tidak punya hubungan apapun dengan Ashera.
Tapi anehnya, untuk saat ini laki-laki ini justru tampak khawatir, sampai ekspresi wajahnya pun berubah jadi penuh amarah, hanya karena gara-gara Ashera tidak bisa di hubungi.
‘Apa hanya perasaanku saja, kalau Arvin sepertinya memang menyembunyikan sesuatu dariku.’ batin Alfian. Dia sebenarnya curiga dengan gerak-gerik serta sikap Arvin yang lumayan bebeda dari pada biasanya.
Akan tetapi, mengingat saat ini berita paling mencemarkan sekolah sedang berada di ujung tanduk, untuk membuat nama baik sekolah mereka jatuh, Alfian pun mencoba untuk berpikir kalau hal ini wajar di ekspresikan oleh Arvin untuk cemas sekaligus khawatir juga.
‘Mungkin saja itu. Jangan berpikir yang tidak-tidak Fian, si Arvin ini aku tahu jelas, dia ini laki-laki macam apa. Demi nama baik sekolah, dia bahkan rela jadi objek paling menonjol untuk memberikan pelajaran untuk semua orang yang melanggar, jadi pasti dia khawatir soal Ashera yang akan mencemarkan nama baik sekolah.’ Fian pun berpendapat seperti itu, begitu melihat Arvin begitu antusias sekali untuk menghubungi Ashera berulang kali.
‘Perempuan ini, menguji kesabaranku sekali ya? Sambungannya terhubung, tapi dia bahkan sama sekali tidak mengangkatnya. Apa dia sengaja?’ pikir Arvin, sebenarnya dia mencemaskan Ashera yang tidak kunjung mengangkat teleponnya, padahal sambungannya terhubung.
Tapi, Arvin sendiri memang tidak tahu, kalau sebenarnya handphone nya Ashera ketinggalan di rumah, semasa Ashera mengeluarkan buku dan mengganti isi tas nya.
__ADS_1
Hanya saja, semua itu tidak membuat Arvin kehabisan ide, sebab dengan pikiran briliannya, Arvin justru punya ide untuk membuat pengumuman yang di tunjukkan untuk Ashera, sebab dia tahu kalau Ashera pasti sudah berada di sekolah, tapi Arvin sendiri belum tahu kalau Ashera sudah ada di kelasnya sendiri.
“Arvin! Kau mau pergi kemana?” Alfian bertanya dengan nada berteriak, melihat anak itu hendak pergi keluar.
“Ke ruang siaran, kau awasi mereka, aku akan memanggil anak itu kesini,” begitu sudah menjawab pertanyaan dari Alfian, Arvin langsung berlari keluar naik ke lantai empat, dimanadi sana ada satu tempat khusus yang digunakan untuk menyiarkan segala informasi ke seluruh kelas.
Ruang siaran yang tidak boleh di kunjungi oleh siapapun selain anggota Osis itu sendiri. Dan kebetulan juga Arvina dalah salah satu anggotanya, sehingga dia pun dengan mudah bisa masuk, apalagi mengingat jabatan yang di miliki anak ini, jelas tidak akan ada yang bisa menghalanginya.
“Eh, kau mau apa datang kesini? Tumben sekali,” kata salah satu orang yang bertugas di dalam ruang siaran.
Tentu saja, karena di dalam ruang siaran itu terdiri dari kelompok yang mengikuti ekstrakukrikuler penyiar radio, mereka pun sedang mencoba membahas topik yang bisa mereka buat untuk kegiatan mereka nanti sore.
Tapi Arvin tentu akan jadi orang yang mengacaukan momen diskusi mereka semua, gara-gara Arvin menyerobot masuk.
“Aku pinjam mic nya,” tukas Arvin, berjalan dengan langkah besar dan lebar, dia pun langsung menyeret salah satu anak yang sedang duduk di kursi tepat di depan meja yang terdiri dari alat Broadcasting itu agar segera pergi dan di gantikan oleh Arvin.
“Shhtt~ Kalian berisik, aku usir kalian sekarang juga,” ancam Arvin dengan aura tubuhnya yang sangat gelap, yang menandakan kalau Arvin sedang tidak boleh di usik oleh mereka.
Pada akhirnya mereka pun jadinya terdiam, karena mereka terlalu sibuk di dalam ruang siaran, mereka jadinya keinggalan berita panas pagi itu.
Lalu tanpa perlu membuang waktu yang lama, Arvin mulai mengaktifkan semua alat tersebut untuk mencapai titik suara yang pas untuk di dengar oleh para pendengar.
“Memangnya dia bisa?”
__ADS_1
“Hei, kau jangan remehkan anak itu, apapun yang dia pegang, dia pasti bisa.” ungkap anak laki-laki ini kepada teman perempuannya yang baru melihat Arvin masuk kedalam ruang siara milik mereka.
“Ini, dan ini…, lalu ini. Ok, ini sudah pas,” gumam Arvin dengan ekspresi wajahnya yang begitu serius.
Seperti sudah terbiasa dalam mengoperasikan alat broadcasting, kurang dari dua puluh detik, Arvin pun sudah bisa menghubungkan mic di depannya itu dengan seluru speaker di seluruh penjuru.
“Sebenarnya apa yang mau dia lakukan sih? Aku jadi penasaran, mengingat dia ini kan sukanya bentak-bentak temannya sendiri, jika tidak mendengar semua perintah dan arahannya,”
Tapi di sebabkan diantara mereka yang tidak ada yang berani untuk mengganggu kegiatan dari Arvin, mereka pun memutuskan untuk diam saja.
//Kepada Ashera, dari kelas 11-D untuk segera ke ruang BK, sekarang. Di tunggu secepatnya. Aku ulangi, kepada Ashera, dari kelas 11-D untuk segera ke ruang BK. Aku beri waktu 8 menit, harus sudah ada di sana.//
“Apa? Kenapa Ashera di panggil?”
“Apalagi? Kalau bukan karena ada keperluan dengannya.” jawab Arvin dengan cepat, lantas Arvin pun pergi keluar dari ruang tersebut, namun dia tetap mencoba untuk menghubungi Ashera juga. 'Kenapa tidak di angkat sih? Apa di silent?'
Tidak mau ambil pusing lagi, Arvin segera kembali untuk setidaknya mencari orangnya langsung.
Arvin menuruni anak tangga yang mengarah ke lantai tiga.
"Ra! Kau menamparku? Kalau begitu-"
Samar-samar, dia mendengar suara teriakan yang di susul dengan bentakan. 'Haishh, pertengkaran lagi, apa mereka tidak lelah, bertengkar terus, padahal konsekuensinya saja sudah jelas, mereka harus di hukum oleh aku langsung.'
__ADS_1
Arvin pun mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi di lantai tiga. Karena dirinya juga kebetulan memang sedang turun ke bawah, dia pun akhirnya sempat melihat banyak orang yang lebih memilih untuk berdiri dan menonton pertengkaran antara dua wanita.
Hal tidak terduga pun terjadi, dimana rupanya dua orang yang sedang bertengkar itu, tidak lain adalah Dini dan Ashera?!