Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
Kejutan Tak Terduga


__ADS_3

“Jika kau seperti ini terus, lebih baik kita keluar bersama dari sekolah ini sekalian, Dini!” teriak Ashera seraya menahan rasa sakit di leher dan rambutnya juga.


“Baiklah, karena kau memilih seperti itu, sekalian saja, aku melakukan ini!”


Tanpa pikir panjang, Arvin yang melihat segalanya dengan kedua matanya sendiri, langsung membola sempurna, ketika Dini benar-benar mencengkram bahunya Ashera dan dengan sengaja malah mendorongnya ke tangga.


Dan beberapa kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Ashera dengan gerak bibirnya langsung mengisyaratkan makna yang lebih dalam dari pada yang terlihat itu, sebelum akhirnya Ashera terjun ke lantai dua.


BRUKK...


Suara keras dari tubuh yang terjatuh, seketika membuat Arvin langsung berlari dengan sebuah teriakan yang memanggil namanya. "Ashera!"


"D-dini, dia mendorong Ashera sampai jatuh ke tangga,"


"Ih, apa sampai sebegitunya ya?"


"Dua orang itu memang terus membuat keributan."


"Aku tidak percaya, dia sampai mendorong teman kelasnya sendiri,"


"H-hei, apa kau tadi merekamnya?"


Beberapa orang dari mereka jelas merekam aksi itu, tapi rupanya tidak lama setelah itu, ponsel mereka semua langsung menjadi putih semua.


"E-ehh, ini kenapa? Layarku jadi putih." mencoba menyalakan dan mematikan handphone nya, tapi semuanya berakhir sama.


"Aku juga, yah..., ini kenapa sih? Padahal aku mau kirim video tadi ke temanku,"


Raut muka wajah mereka begitu kecewa, serta panik, sebab handphone mereka semua tidak berfungsi sama sekali.


Termasuk dengan Dini, tubuhnya langsung diam membeku dengan raut muka yang begitu panik, karena dia baru saja menyadarinya, kalau di belakang Ashera rupanya ada tangga yang mengarah ke bawah.


'A-aku, apa yang aku lakukan tadi? Aku mendorong Ashera ke bawah sana?!' Dini tidak bisa pergi kemanapun, seakan sepasang kakinya terpaku dengan lantai, dan membuatnya menyaksikan tubuh Ashera yang ada di bawah.

__ADS_1


DRAP....DRAP....DRAP.....


Suara langkah kaki milik seseorang yang di takuti oleh mereka semua, langsung menyaingi wajah-wajah dari para semua orang yang sedang terkejut di selimuti rasa khawatir mereka, dan orang itu adalah Arvin.


"Dini! Kau memang dari masuk sekolah ini tidak pernah sekalipun memakai otak ya?! Bisanya buat rusuh terus," sarkas Arvin, "Kau akan aku tindaki, dan kalian berdua! Tangkap dia dan bawa langsung ke ruang BK!" perintah Arvin, baik itu terhadap Dini maupun terhadap dua orang anak laki-laki yang dari tadi hanya diam dan menonton dari dalam kelas.


"Iya!" jawab kedua orang itu dengan serentak, lalu segera keluar dan cepat-cepat membawa Dini pergi dari sana.


Setelah memberikan teguran keras kepada Dini, Arvin pun langsung menoleh ke arah dimana di bawah sana ada seseorang yang sudah tergeletak dengan posisi kepala yang hampir saja membentur dinding jika bukan karena tangan Fajar yang sempat menolong Ashera sebelum benar-benar terbentur.


"A-ashera! Ashera, kau dengar aku?" panggil Fajar di bawah sana, sebagai orang yang setidaknya berhasil menyelamatkan kepalanya Ashera sebelum membentur dinding.


Namun, sayang sekali tidak dengan tubuhnya Ashera yang dari awal sudah jatuh ke lantai dan sekarang sudah terkulai lemah di lantai.


Tidak seperti Fajar yang panik dengan Ashera karena baru saja jatuh, maka Arvin justru mengkhawatirkan hal lain.


'Ashera? Dia- tidak mungkin, bukannya aku akhir-akhir ini selalu memakai alat pengaman, dan dia juga aku pastikan memakan obatnya? Tapi ... kenapa, dia berdarah? Tunggu, ini gawat, aku harus bawa dia pergi ke rumah sakit!' mendapatkan ketakutan dan kekhawatiran yang besar dari melihat adanya darah yang keluar dan menodai kakinya Ashera, Arvin sontak bergegas turun ke bawah.


"Arvin, kau hubungi ambulans!" perintah Fajar kepada Arvin yang akhirnya tang juga.


Arvin sejujurnya sudah marah besar, tapi demi menahan rasa panik yang akan membuat pikirannya kacau, Arvin langsung turun ke bawah melewati Fajar dan mengabaikan Ashera?


"Lalu kau mau pergi kemana?!"


"Aku cari tandu, kau hubungi orang bernama Chaose!" Arvin yang seolah di kejar setan, langsung melempar handphone nya sendiri ke arah Fajar dan Arvin, dia pergi ke lantai bawah yang kebetulan tepat di sebelah tangga, ada ruang UKS, dan di sana ada tandu yang bisa di gunakan.


'Aku pikir dia akan langsung menggendongnya. Yah, tidak mungkin juga sih, tapi dia bahkan lebih cekatan dan cepat bertindak di situasi seperti ini. Arvin, dari dulu dia sepertinya punya rahasia yang masih di simpan rapat dengan baik.


Tapi soal Ashera-' melihat ke tempat dimana adanya darah yang keluar dari bawah sana, Fajar pun jadinya punya satu pikiran yang mengarah ke satu hal yang pasti, kalau darah itu adalah darah dari orang yang sedang hamil dan keguguran.


Terbesit rasa kecewa, rupanya Ashera punya rahasia besar yang tidak di ketahui oleh mereka semua, tapi mau bagaimana lagi jika semua ini saja sudah terlanjur?


"Lihat itu, Ashera- dia... Apa dia diam-diam hamil?"

__ADS_1


"Eh iya, kakinya- sepertinya benar. Ih, sejak kapan dia melakukannya ya?"


"Wah, ini sangat parah, dia malah hamil di tengah-tengah masih sekolah seperti ini."


DEG....


Semua orang yang ada di sana pun terkejut dengan penuturan dari salah satu teman mereka, termasuk Arvin yang akhirnya kembali dengan tandu berada di tangannya.


'Ashera, kenapa kau menyembunyikan rahasia ini dariku kalau kau memang hamil?' geram Arvin, 'Padahal-' tidak bisa melanjutkan kata-katanya di dalam pikirannya, dengan langkah yang begitu tegas, Arvin pun sampai di tempat dimana Ashera berada.


"Aku sudah menghubunginya, mereka akan sampai kurang dari lima menit." kata Fajar seraya menyerahkan handphone nya kepada Arvin.


Arvin menggenggam handphone nya sendiri dengan kuat, sakan dia ingin merem*as handphone itu menjadi penyek.


"Kau bantu aku bawa dia keluar, aku akan membawanya ke rumah sakit," pinta Arvin terhadap Fajar, mulai menggeser tubuhnya Ashera untuk di pindahkan ke tandu.


"Kau sebaiknya yang mengurus soal Dini, aku akan yang mengantarnya dan memberitahu orang tuanya,"


Fajar dan Arvin pun beradu pendapat. Tapi karena di sini posisinya Arvin adalah sebagai penanggung jawab atas masalah ini, Arvin pun bersikeras untuk menjadi pendampingnya Ashera untuk menemaninya membawanya ke rumah sakit sampai selesai.


"Justru kaulah yang sebagai wakil ketua Osis, mengurus semua masalah ini, lakukan rapat dengan anak buahku, bantu mereka, karena kaulah orang yang punya posisi untuk menentukan kasus ini, ketimbang aku, Fajar." lagi-lagi Arvin bermonolog soal pendapatnya sendiri, membuat suasana disana jadi semakin menegang.


"Arvin, Fajar, apa yang kalian berdua perdebatkan? Bawa Ashera ke keluar, helikopternya sudah hampir sampai!" salah satu guru yang lewat itu, langsung menegur Arvin dan Fajar untuk segera menangani Ashera.


Arvin dan Fajar pun memutuskan untuk tidak kembali berdebat, dan memilih untuk membawa pergi Ashera dari sana, di susul dengan para murid sekolah yang penasaran dengan mereka.


"Ih, ikta ik-"


"Hei~ Kalian mau apa? Sudah waktunya jam pelajaran! Tidak ada yang boleh pergi dari lantai ini!" perintah sang guru, yang langsung bertindak tegas untuk tidak membuat para siswa dan siswi itu pergi dari lantai tiga.


Lalu dua orang itu pun pergi membawa Ashera, meskipun rasa cemas melanda mereka.


"Arvin- ini sakit." suara yang begitu lirih itu memanggil nama Arvin.

__ADS_1


'Kenapa dia memanggil namanya? Berarti apa memang benar, dia dan Arvin diam-diam punya hubungan? Sebentar, kalau di pikir-pikir Arvin ini bukan anak yang bisa di anggap sebagai orang setia, jangan sesuatu terjadi kepada Ashera karena ulahnya Arvin?' Fajar yang sempat mendengarnya, hanya bisa diam dan terus membawa Ashera pergi keluar dari gedung sekolah.


__ADS_2