
"A-apa yang membuat anak dari sekolah SMA sepertimu datang kemari?" Tanya salah satu orang guru SMP ketika ia melihat ada seorang siswa memakai seragam SMA yang datang ke halaman sekolah dengan ditemani dua orang yang tidak lain adalah murid sekolah mereka.
"Siapa itu? Aku baru melihatnya."
"Wah, benar-benar deh. Tubuhnya cukup tinggi. Tapi dia ternyata sekolah di SMA yang terkenal itu?"
"Ihh, kira-kira dia sudah punya pacar atau belum ya?"
"Ini akan sungguh menjadi pemandangan yang sangat langka. Kapan lagi bisa lihat laki-laki setampan dia di sekolah kita."
"Benar-benar, aku juga sangat senang. Untung saja aku ikut keluar."
Banyak murid para siswa-siswi SMP Bakti yang begitu terpesona dengan kehadiran dari Arvin ini.
Tapi, bagi Arvin, keberadaan para penonton itu hanyalah lalat saja, jadi dia pun tidak begitu menghiraukan mereka selain mengantarkan kedua murid mereka.
'Mengganggu.' Detik hati Arvin, lalu kembali ke topik utama, Arvin pun menjawab : "Aku hanya ingin mengembalikan mereka berdua ke habitatnya setelah mengganggu wilyahku yang damai."
'Habitat?' Pak guru ini langsung tercengang dengan cara bicara Arvin yang tidak begitu sopan itu.
Dia termasuk guru baru di SMP Bakti itu, makannya ia tidak tahu siapa Arvin ini, selain perawakannya yang tinggi itu justru seolah kalau Arvin ini orang dewasa yang sedang menyamar mnejadi seorang murid.
'Itulah, jika sudah menggangguku, aku tidak akan segan-segan mempermalukan kalian berdua.' Batin Arvin, dalam dia ia menyeringai puas.
"J-jadi maksudnya menganggu?"
"Ya, mereka berdua membuatku cukup muak karena bertengkar di depanku karena masalah percintaan." Papar Arvin, lalu seketika wajah yang tadinya tidak berekspresi apapun, berubah menjadi wajah penuh amarah. Dia mendelik tajam ke arah dua bocah yang masih junior itu dan berkata : "Walaupun kelihatannya sepele, tapi itu sangat mengganggu wilayah sekolahku, apa anda paham?"
'A-auranya, siapa dia sebenarnya. Walaupun dia hanya bicara dan berdiri saja seperti itu, tapi aku merasakan aura yang cukup kuat.' Pikirnya, nyalinya bahkan sempat menciut, padahal di sini yang lebih tua adalah dia sendiri, sedangkan Arvin lebih muda dua belas tahun darinya.
"Kenapa aku tidak dengar jawabannya? Paham kan apa yang aku katakan?" Merasa terhina karena bicara sendirian tanpa mendengar jawaban apapun, Arvin sekilas langsung bertanya kepada pak guru tersebut dengan aura yang terasa cukup mencekam, sebab waktu istirahatnya jadi berkurang dari seharusnya.
"P-paha, terima kasih sudah mengantarkan anak murdi saya yang bandel ini." Dengan wajah gugup, pak guru ini langsung menarik kedua muridnya yang dari tadi diam di belakang tubuh Arvin. "Kalian berdua sini, minta maaf kepadanya." Perintahnya.
"K-kenapa aku harus minta maaf?" tanya perempuan ini, masih tidak ingin mengakui kesalahannya.
"Aku tidak perlu minta maaf dari kalian, tapi jika sekali lagi kalian berdua menggangguku, aku akan memberikan kalian berdua perhitungan lebih dari ini." Ancam Arvin dengan ekspresi wajah yang cukup dingin.
Bulu kuduk mereka bertiga seketika berdiri dengan ekspresi wajah Arvin yang cukup bengis layaknya orang yang bisa membunuh mereka kapan saja tanpa pandang bulu.
__ADS_1
Begitu Arvin sudah pergi, pak guru ini langsung bicara sejenak. "Jadi katakan, apa yang barusan kalian berdua lakukan di depannya? Apa kalian berdua tidak tahu kalau dia berasal dari SMA Sakti yang ada di ujung blok? Kalian berdua ini! Jangan membuat ulah lagi!" Begitu selesai berbicara, kedua tangannya langsung menjewer telinga mereka berdua.
"A..a-aduh, ampun pak, aku salah."
"I-iya pak, ampun, ini sakit pak."
"Bapak tidak akan melepaskannya, cepat ikut bapak pergi!" Perintahnya lagi.
______________
Di rumahnya Arvin. Suasana yang begitu menegangkan pun terjadi diantara mereka bertiga.
Luna, dia hanya tetap berdiri diam di belakang kursi yang di duduki oleh Nyonya besar nya. Sedangkan Ashera, dia duduk di sofa panjang dengan kedua tangan sedikit bergelut sendiri karena cukup tegang, seolah dia baru saja melakukan kesalahan besar kepada majikan besarnya itu.
"Ashera, apa kau baik-baik saja?"
"Ah, iya, saya baik-baik saja Nyonya." Jawab Ashera dengan cepat, meskipun ia sudah merasa gugup sendiri.
Nenek Tina diam seraya menyesap teh hangat yang di buat oleh Ashera. Ada sedikit perbedaan di dalamnya, dan membuat Nenek Tina merasa curiga.
'Dia kelihatannya sangat gugup sekali. Ya, ini sudah jelas, tiba-tiba saja aku menyuruhnya menikah, tapi ini juga sebagai penebus dari meninggalnya Ayahnya itu. Aku tidak bisa berbuat banyak, selain bisa menjodohkan kedua anak ini.
Lagi pula, Ashera juga bukan sekedar pelayanku yang termuda saja, jadi aku tidak perlu khawatir dengannya, sekalipun kenyataannya dia memang hanya seorang pelayan saja.' setelah begitu mempertimbangkan pikirannya mengenai Ashera, yang mana dirinya mau saja mengiyakan untuk menjodohkan cucunya dengan pelayan kecilnya ini, Nenek Tina pun angkat bicara lagi : "Kenapa kau gugup seperti itu? Apa aku terlalu menakutkan untukmu?"
"Hera."
"....!" Mendengar Nenek Tina tiba-tiba saja memanggil nama itu, Ashera ini langsung terdiam dengan wajah sedikit pucat. Tidak Ashera saja, tapi Luna pun juga.
"Kau tidak perlu menyembunyikannya, aku tahu kau ini Hera, jadi bicara saja denganku secara santai." Papar Nenek Tina dengan terus terang, sehingga membuat kedua orang di belakang dan depannya itu benar-benar terkejut.
"Bagaimana anda bisa tahu?" Karena sudah ketahuan, Ashera yang memiliki nama panggilan Hera sebagai sisi dirinya yang lain, ia pun bicara dengan sedikit lebih santai lagi.
Namun, Nenek Tina justru hanya merespon pertanyaan itu dengan senyuman tipisnya.
"Aku ini sudah kenal denganmu sejak kau masih ada di kandungan Ibumu, jadi bahkan di saat kau tiba-tiba berubah kepribadian, aku juga tahu. Jangan remehkan nenek peyot ini Hera." Jelas Nenek Tina seolah apa yang baru saja di ucapkan nya tadi hanyalah lelucon belaka.
Mendengar penjelasan dari Nenek Tina, Hera langsung terkesiap karena rupanya orang ini memang sudah cukup kenal dekat dengannya, padahal hari-harinya hanya melayani seadanya saja.
Itulah yang di lakukan oleh Ashera sebenarnya.
__ADS_1
Meskipun dia bekerja jadi seorang pelayan, namun pekerjaannya tidaklah seberapa, karena Nenek Tina memperkerjakan Ashera seperti seorang pekerja paruh waktu yang memiliki beberapa waktu saja, Ashera bisa bekerja.
Ya, Ashera tanpa sadar sudah di berikan perlakukan khusus yang bahkan tidka Ashera ketahui secara pasti, karena menganggap kalau pekerjaannya hanyalah sebuah keseharusan saja.
"J-jangan begitu, nyonya bukan nenek peyot." Hera jadi langsung meralat ucapan dari nenek Tina sendiri.
"Pfftt..." Nenek Tina dan Luna tanpa disengaja jadi menahan tawa yang bahkan akhirnya tidak bisa di tahan juga.
"Kalau aku bukan nenek peyot, berarti aku ini memang Nenek penyihir."
"Nyonya, anda itu bukan Nenek penyihir, tapi Nenek Tina, eh...m-maksud saya Nyonya Tina." Hera jadi malu sendiri karena memanggil nama panggilan itu secara langsung.
Dan hasilnya, Nenek Tina dan Luna kembali tertawa juga.
"Hahaha, Hera-hera." ucap Nenek Tina, masih tidak mampu untuk berhenti tertawa.
'Kenapa mereka berdua malah tertawa? Memangnya ucapanku salah ya?' Hera pun langsung diam, menutup mulutnya rapat-rapat demi membebaskan mereka berdua untuk menertawainya.
"Hah, sudah-sudah, aku tidak ingin lanjut tertawa terus atau perutku jadi sakit." Kata Nenek Tina sambil memberikan kode kepada Luna agar tidak tertawa lagi juga. "Hera, aku ingin tanya, bagaimana kau bisa menjadi Hera? Ada apa dengan Ashera?"
"Ya, itu karena saya mengalami demam tinggi, jadi secara secara tidak sadar kepribadian saya jadi berubah."
"Kau memang gadis yang aneh, tapi aku suka, karena aku suka sesuatu yang unik sepertimu." Balas Nenek Tina, meskipun sangat di sayangkan rupanya Ashera demam, dan membuat kepribadiannya berubah seperti itu.
Dia sebenarnya tetap Ashera, hanya saja sifatnya yang kali ini lumayan kasar, jadi Nenek Tina pun berharap kalau setidaknya dengan adanya kepribadian Ashera yang kasar ini, Ashera bisa mengimbangi kenakalan cucunya.
Itulah yang membuatnya tertarik, karena anak di depannya ini itu unik.
"Entah aku mau senang atau tidak, tapi aku harap kau bisa menjaga dirimu baik-baik. Dan imbangi kewarasan si Arvin itu, agar kau tidak kalah dengan tingkahnya yang nakal itu." Pinta Nenek Tina kepada Ashera, atau Hera ini.
"Anda ini memang aneh."
Luna langsung mengerjapkan matanya, ia baru saja mendengar kata-kata penuh keberanian dari Ashera.
"Memangnya apanya yang aneh dari Nenek peyot ini?" Ledek Nenek Tina lagi.
"Nyonya, jangan seperti pada diri anda sendiri, itu tidak baik untuk telinga saya." selanya dengan cepat. "Yang membuat anda terkesan aneh, kenapa anda mau-mau saja menuruti kemauan dari saya untuk menikah dengan cucu anda? Itu sangat merugikan, kecuali kalau saya memang hanya diper-"
"Tanggung jawab." Jawab Nenek Tina dengan cepat. "Aku adalah orang yang menjunjung tinggi tanggung jawab dari setiap keputusan, jadi lagi pula karena itu kamu, aku tidak begitu mempermasalahkannya." Jelasnya dengan panjang lebar, membuat Ashera terdiam tidak bisa berkata-kata.
__ADS_1
Seandainya semua orang di dunia ini sama-sama memiliki kesadaran dalam menjunjung tinggi setiap keputusan dan perbuatan, akan ada banyak kedamaian di dunia. Tapi semua itu hanyalah angan-angan dari segelintir orang saja seperti dirinya.
'Orang yang sangat bijaksana.' Detik hati Ashera, begitu melihat cara Nenek Tina minum teh saja, berhasil menarik Ashera untuk memiliki kesan kalau Nenek Tina itu punya aura yang cukup kuat dalam memimpin.