Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
8 : Ashera


__ADS_3

"Nyonya, ini-" Ashera saat ini sudah kembali ke kediaman utama Ravarden.


Dimana rumah utama ini terpisah cukup jauh dengan rumah kedua orang tua Arvin.


Dan memang, Ashera bekerja di rumah ini sebab mengikuti jejak ibu nya yang bekerja melayani Nenek nya Arvin.


"Kau pakai saja, tidak ada orang yang akan memperdulikan kau pakai apa. Jadi tidak usah membayar kembali, aku tidak semiskin itu untuk menerima uang darimu hanya karena pakaian." Ucap Nenek Tina, nyonya besar keluarga Ravarden terhadap Ashera yang hendak mengatakan sesuatu.


"M-maaf saya salah berbicara."


Neneknya Arvin pun mendelik tajam ke arah Ashera yang masih berdiri di belakangnya dengan kepala menunduk. "Ashera, aku bahkan belum mendengar kau mengatakan soal uang dari pakaian yang aku belikan kepadamu, kenapa kau malah minta maaf?"


Lagi-lagi Ashera jadi serba salah. Niatnya untuk membayar kembali pakaian yang di berikan oleh neneknya Arvin, namun niatnya itu sudah ketahuan lebih dulu tanpa membuat Ashera bicara banyak, dan hal itu pun membuatnya secara spontan jadi minta maaf karena tidak bermaksud untuk menganggap majikan besar nya itu miskin, dan lagi-lagi itu juga jadi masalah juga.


"Hari ini kau istirahat saja. Tapi malam nanti, setelah makan malam kau temui aku di kamarku." Perintahnya, sebelum ia pergi ke lantai dua menggunakan lift dengan ditemani Luna di belakangnya.


"Baik Nyonya." Jawab Ashera sambil membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat kepadanya.


Setelah melihat pintu lift tertutup, Ashera pun kembali berdiri dengan posisi tegap, dan melihat ke langit-langit rumah yang ia tinggali sebagai tempat dimana ia bekerja.


Langit rumah yang indah dan besar.



Interior rumah yang begitu memanjakan mata itu sama sekali tidak pernah kehilangan nilai nya, meskipun sudah bertahun-tahun Ashera tatap. Itulah yang menjadi alasan kenapa Ashera sering berdiri dan menatap langit-langit dari rumah tersebut, karena warnanya cukup lembut dan cantik.


'Aku takut, apa yang akan terjadi kedepannya? Padahal selama ini aku hidup jadi pelayan dengan sangat lancar tanpa hambatan, tapi semua itu serasa jadi hancur dalam setengah hari ini. Aku jadi berurusan dengan anak itu,' Wajah takutnya pun kembali muncul karena pikiran tadi.


Tubuhnya jadi kembali menggigil gemetar ketakutan karena tubuhnya yang sudah di jamah banyak oleh Arvin, apalagi sesuatu yang sudah masuk kedalam perutnya.


Di mata Ashera, ia jadi merasakan sesuatu yang horor akan terjadi.


Dan diantara banyaknya kemungkinan, adalah perut yang tadinya rata, tiba-tiba jadi buncit dan besar.


Seketika wajah Ashera jadi pucat pasi, dia sangat ketakutan dengan bayangan yang tiba-tiba saja muncul itu, jika perutnya tiba-tiba buncit dan berisi makhluk hidup di dalamnya.


Memandangi kedua kakinya itu, Ashera yang masih menunduk itu pun kembali membuat tangisan tanpa suara. 'Hiks...aku tidak mau, aku tidak mau itu terjadi. Aku tidak tahu harus bagaimana jika aku hamil.


Nyonya memang sudah memberikanku obat kontrasepsi, tapi aku juga tidak tahu apakah jika aku makan itu, aku dapat menghindari kehamilan.

__ADS_1


Arrgghh....aku benar-benar tidak mau itu terjadi!' Tidak mau berpikir terlalu lama dan berdiri sendirian dengan tangisan di wajahnya, Ashera segera pergi dari sana, dan mengurung diri di dalam kamarnya.


BRAKK....


_____________


Malam harinya.


"Luna, aku sudah selesai makan malam, Ashera, dimana dia?" Tanya Nenek Tina, seraya mengusap bibirnya dengan serbet kain berwarna putih, lalu menoleh ke arah Luna yang terus berdiri di belakangnya.


"Saya seharian ini belum melihatnya Nyonya, saya akan coba menjenguknya ke dalam kamarnya." Jawab Luna.


"Baiklah, bawa dia ke kamarku." Nenek Tina pun beranjak dari ruang makan dan pergi ke kamarnya.


"Baik Nyonya." Jawab Luna lagi, lalu melirik ke salah satu pelayan yang hendak mengemas semua peralatan makan malam. "Kau, temani Nyonya sampai ke kamarnya."


Dan seorang wanita dengan seragam pelayan yang ditunjuk oleh Luna langsung menganggukkan kepalanya, menemani Nyonya besar pergi ke kamar.


Sedangkan Luna, ia pergi ke kamar pelayan yang letaknya ada di rumah bagian belakang, sehingga sedikit jauh jika mencari keberadaan dari Ashera.


"Ashera?" Panggil Luna, wanita muda berusia 24 tahunan ini pun mengetuk pintu kamar milik Ashera dan mencoba memanggil namanya. "Ashera, kau ada di dalam kan? Nyonya sudah menunggumu, jadi cepat keluar."


"Ashera? Apa kau tidur?" Ketukan kembali di lakukan, tapi lagi-lagi tidka ada respon dari pemilik kamar. 'Kelihatannya aku harus menerobos masuk.'


Sebagai orang yang berada di sisi Nyonya besar secara langsung, Luna memiliki segala akses di rumah tersebut, karena sudah dipercayakan oleh Nyonya besar. Maka dari itu, hanya sekedar memiliki kunci cadangan setiap kamar, Luna pun mempunyai nya.


Dan Luna kali ini pun menggunakannya untuk masuk kedalam kamar yang digunakan oleh Ashera.


KLEK...


"Ashera?" Panggil Luna lagi, dan ketika masuk, Luna justru diperlihatkan dengan Ashera yang meringkuk di atas kasur, dan selain itu saat Luna mendekat, Luna melihat wajah Ashera yang sudah sembab. 'Dia menangis lagi.'


Karena Ibu nya Ashera tinggal bersama dengan kedua majikan dari kedua orang tuanya Arvin, maka Ashera dan Ibunya pun harus berpisah. Melihat hal itu, Luna jadi merasa bersimpati, sebab kehidupan Ashera yang begitu sederhana, dan meskipun bekerja menjadi seorang pelayan, kemauan kuat untuk belajar terus melekat di dalam dirinya.


Di karenakan Luna tidak tega untuk membangunkan gadis kecil ini, Luna pun tidak jadi membawa Ashera pergi menemui Nyonya besar.


Sehingga Luna kembali dengan tangan kosong.


"Nyonya, saya kembali." Luna mencoba memberitahu.

__ADS_1


KLEK....


"Bagaimana? Kenapa kau malah kembali sendirian?"


"Ashera sedang tidur Nyonya, dan karena saya melihat Ashera tidur karena menangis, jadi saya tidak tega untuk membangunkannya." Ucap Luna, alasan dibalik dirinya kembali dengan tangan kosong.


Nenek Tina yang sedang menikmati teh, hanya diam sambil memperhatikan permukaan air berwarna kemerahan itu.


"Dia pasti masih terguncang." Gumam Nenek Tina. "Luna, kau lihat kan tadi pagi? Dia sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah. Tapi karena anakku malam tadi menginap disini, dan pagi-pagi sudah memasak ingin diberikan kepada Arvin yang sudah jarang kelihatan batang hidungnya, jadi aku menyuruh Ashera untuk mengantarkannya.


Tapi apa Luna? Arvin yang sudah berani minum alkohol itu, malah membuat Ashera jadi terseret.


Aku jadi merasa bersalah kepadanya."


Mendengar cerita yang terasa pedih itu, Luna jadi ikutan sedih. "Jangan menyalahkan diri sendiri Nyonya." Luna memang tidak pandai untuk menenangkan hati seseorang yang sedang sedih itu, tapi Luna tetap bicara untuk menengahi keadaan. "Mungkin saja kejadian kali ini, dari luar memang terlihat seperti kecelakaan, anda jadi berpikir kalau masalah ini disebabkan oleh Nyonya.


Tapi Nyonya, semua kehidupan pasti punya takdirnya masing-masing. Saya bukan mau memberikan ceramah atau apapun, namun saya hanya berpikir dari sudut pandang saya sendiri bahwa, kemungkinan besar kalau kejadian yang menimpa Tuan muda dan Ashera juga merupakan takdir yang sudah di tetapkan oleh yang di atas.


Jika ada sebab pasti ada akibat. Pasti akan ada makna dari setiap kejadian.


Dan Tuan muda, anda akhirnya tahu kan kalau Tuan muda hidup sendirian di apartemen seperti itu, membuat Tuan muda seperti seseorang yang awalnya terlihat bermartabat, namun setelah memutuskan tinggal terpisah, beliau jadi orang seperti itu." Jelas Luna panjang lebar.


Lamunannya kian pudar, dan menyahut semua ucapan yang di jelaskan oleh Luna barusan. "Hmmm....., kau ada benarnya juga. Kedua orang tuanya saja sibuk dengan urusannya masing-masing, sedangkan aku sudah jadi tua bangka, jadi aku tidak bisa menjaga anak nakal itu terus menerus. Aku juga sedikit bosan jika harus memperhatikannya terus.


Walaupun dipertemukan dengan cara yang kurang pantas seperti itu, dia memang lebih baik untuk ada di sisinya. Lagi pula Luna, sepertinya aku belum memberitahu rahasia kenapa aku tidak marah kepada Ashera dengan kejadian tadi siang kan?"


Luna mengernyitkan matanya, rasa penasarannya pun kambuh. "Ya, saya pikir anda akan marah, karena Ashera hanyalah anak seorang pelayan. Dan sesuai dengan perkataan dari Tuan muda, jika di tetapkan pada status, tentu saja Ashera sama sekali tidak setara dengan standar posisi dari Tuan muda.


Bahkan jika dari segi standar orang kaya pada umumnya, mana mungkin ada yang mau menerima kejadian yang terjadi antara majikan dan pelayan, pasti mereka akan langsung di usir, atau di hukum berat.


Tapi anda bahkan justru menyuruh Tuan muda untuk menikahinya, apa ada alasan lain, kenapa anda sampai berkata demikian kepada Tuan muda, Nyonya?"


Mendengar ucapan Luna yang begitu mendetail, dan semua ucapannya memang masuk akal, karena kebanyakan orang dengan status tertinggi, pasti akan merasa enggan untuk memiliki hubungan dengan seorang pelayan, apalagi jika sudah menyangkut soal hubungan terlarang, majikan dan pelayan, itu adalah sesuatu yang di anggap sebagai hal tabu, Nenek Tina pun tersenyum.


Senyuman penuh dengan rasa puas, meskipun terbesit rasa bersalah juga. "Ya. Seperti yang kau perkirakan tadi, sebenarnya ada sesuatu yang menjadi alasanku untuk memberikan perintah Arvin untuk menikahinya."


"Apa itu?"


Nenek Tina menyesap teh tersebut, dan meletakkan cangkirnya ke atas lemek, sebelum akhirnya Nenek Tina menoleh dan menatap Luna dengan senyuman lemah.

__ADS_1


__ADS_2