Istri Simpanan Tuan Muda Arvin

Istri Simpanan Tuan Muda Arvin
57 : Rencana Pembalasan


__ADS_3

"Nyonya, lihat Tuan muda, dia dengan patuh mau pergi bersama dengan Ashera."


"Ya, bukannya ini pemandangan yang cukup langka? Biasanya dia suka sekali pergi ke bar, tapi bisa membuat Arvin belanja bersama dengan Ashera seperti itu, kelihatannya dia sudah mulai menerima Ashera di sisinya." jelas Nenek Tina.


Saat ini mereka berdua ada di salah satu ruang istirahat, karena Nenek Tina sendiri sudah cukup lelah untuk cuci mata di mall, maka dari itu mereka berdua pun istirahat terlebih dahulu sambil menonton dua orang anak muda yang belum lama ini menikah.


"Maaf jika saya lancang." Luna berbicara dengan ekspresi ragu, karena yang ingin ia bicarakan lebih sensitif. "Tapi apakah anda benar-benar tidak mempermasalahkan jika Ashera lah yang berada di sisi Tuan muda untuk selamanya?"


Begitu mendengar pertanyaan dari Luna, bodyguard miliknya, Nenek Tina pun menjawab : "Luna, aku hanya bertanggung jawab atas wasiat mendiang suamiku juga, jadi aku juga tidak mempermasalahkannya. Lagi pula, jika bukan karena Ayahnya Ashera yang menyelamatkan suamiku dulu, aku mungkin akan kehilangan dia lebih cepat dari ini."


"Tapi Nyonya, apa anda tidak memikirkan bagaimana Nyonya Tuan Darwin dan Nyonya Nurisya? Beliau kan kedua orang tua Tuan muda."


"Lagian yang mengurus saat Arvin masih bayi dulu, kira-kira siapa coba? Karena mereka berdua menikah bahkan tanpa perhitungan lebih dulu dalam membuat anak, saat itu mereka ketar-ketir seperti dua orang tidak waras, jadi untuk apa aku harus memikirkan perasaan mereka berdua yang lebih suka bekerja ketimbang mengurus anaknya sendiri?" Papar Nenek Tina dengan wajah serius.


Dia masih ingat dengan benar delapan belas tahun yang lalu, saat anaknya hamil gara-gara tidak pernah absen dalam tugas dari pasutri baru, sampai akhirnya begitu hamil dan melahirkan, anak dan menantunya sama sekali tidak tahu apa yang harus mereka berdua lakukan.


Makannya, Nenek Tina pun sama sekali tidak memberikan kesempatan kedua orang tua Arvin untuk mengutarakan pendapatnya, sebab bagaimanapun semua itu tidak ada gunanya di saat Arvin sendiri sudah membuat masalah sendiri dengan pelayan kesayangannya Nenek Tina.


"Jadi apa kau masih penasaran dengan sesuatu?" Tanya Nenek Tina lagi kepada Luna.


Luna yang senantiasa berdiri dibelakang majikannya itu, bertanya lagi : "Ada satu lagi, tidak lama lagi setelah ulangan semesteran akan ada libur panjang, apa anda akan membuat hari itu jadi hari bulan madu untuk mereka berdua?"


Nenek Tina semakin mengernyitkan matanya ketika dia diperlihatkan anak dan menantunya itu lagi-lagi berdebat, "Jika kau tidak mengatakannya mungkin sudah lupa dulu. Jadwalkan mereka berdua kalau libur panjang bulan depan akan digunakan mereka berdua untuk bulan madu. Lagi pula karena sudah terlanjur mereka berdua sudah pernah tidur bersama, jadi sekalian saja di terobos, agar aku bisa segera memiliki cicit."


'Nyonya, anda malah berpikir soal cicit ketimbang masa depan Tuan muda dan Ashera.' Luna yang sedikit terkejut dengan jawaban dari sang majikan, hanya tersenyum simpul dan menjawab : "Baik Nyonya. Saya akan pilihkan tempat terbaik untuk mereka berdua."

__ADS_1


"Oh ya Luna." Nenek Tina menoleh ke belakang. "Apa kau tahu alasan Ashera tidak berangkat sekolah? Padahal dia yang paling rajin sendiri jika sudah berangkat sekolah, sampai jam enam pagi saja, dia sudah harus di sekolah dulu."


'Apa aku harus memberitahu Nyonya tentang masalah yang di alami oleh Ashera?' Luna bingung. Tapi, karena pekerjaannya itu menuntut sebuah kepercayaan yang di dasari dengan kejujuran, Luna pun menjawab : "Ashera sedang dalam masa skors, Nyonya."


Nenek Tina yang hendak minum jus itu, langsung mengerutkan keningnya. "Apa? Bagaimana bisa?"


Nenek Tina tentu saja tidak bisa langsung percaya begitu saja, kenapa anak rajin seperti Ashera bisa kena skors?


"Memangnya apa yang dilakukan oleh Ashera?" Tanyanya lagi.


Dan begitu, Luna pun menjawab semua rasa penasaran dari majikannya tersebut.


______________


"Jika kau mau beli baju, sana pergi sendiri. Aku tiba-tiba ada urusan di sini." Setelah pintu lift terbuka, Arvin bergegas keluar dan hampir saja meninggalkan Ashera yang sudah penasaran, kalau Arvin ini mau pergi kemana?


Makannya, daripada harus berpisah, Ashera memutuskan gantian untuk mengikuti Arvin yang mau pergi ke toko mainan?


"Hei, jangan-jangan kau mau beli boneka figur lagi?" Tanya Ashera, dia mencegat Arvin pergi lebih jauh lagi, karena pria ini langkah kakinya benar-benar meresahkan, bisa membuat mereka berdua berpisah.


Arvin yang tiba-tiba saja di cegat oleh Ahsera yang sedang bertanya itu, tiba-tiba saja punya ide.


Arvin lantas berputar ke belakang, lalu dia pun bicara empat mata dengan Ashera yang sedang menunggu sebuah jawaban darinya. "Kalau di ingat-ingat, kemarin kau kan sempat menendang salah satu boneka figur milikku yang Naruto itu, apalagi bukan satu, tapi dua, kali ini kau harus mendapatkan boneka figur yang akan di jual di sana, dapatkan itu sebagai ganti rugimu kepadaku, kau mengerti?"


"I-itu, padahal hanya boneka, kau itu kan sudah besar, kenapa seperti anak kecil saja suka dengan boneka seperti itu?" Ashera sedang membuat alasan lain karena ia benar-benar enggan untuk mengantri, apalagi di depan toko mainan yang belum di buka itu sudah terlihat banyak sekali orang yang mengantri.

__ADS_1


"Jadi kau tidak mau mengganti biaya ganti rugimu kepadaku?" Arvin semakin mengintimidasi Ashera dengan suaranya yang terdengar dingin itu. "Yang kau rusakkan itu harganya dua belas juta, ini tidak seberapa, hanya lima juta dan tiga juta. Apa kau bahkan tidak mau bertanggung jawab kepada barang milikku, tapi kau sendiri waktu itu menangis agar aku bertanggung jawab padamu. Jadi itu balasan dari pelayan yang melayani Nenekku yang mengutamakan tanggung jawab sebagai pondasi dasar nama keluarga Nenekku?"


'Kenapa malah mengancam soal pondasi nama Ravarden segala? Tapi iya sih, aku memang sudah merusakkan barangnya, tapi apa aku harus mengantri di tempat seramai itu?'


'Heh, kau pikir aku ini bodoh? Sebenarnya aku tahu siapa pemilik toko itu, karena Mall ini saja milik keluarga Ravarden.


Aku bisa saja menelepon pemilik toko untuk menyisakan boneka figur yang mau mereka jual kepada mereka, agar aku bisa dapat bagian tanpa perlu mengantri.


Tapi karena dia kemarin sudah membuat salah satu bonekaku di rusak bahkan sampai dengan cara di yang mengenaskan seperti itu, aku akan membuatmu membayarnya, kalau cara untuk mendapatkan barang yang kau mau, bukan sekedar beli, tapi harus melewati kerumunan yang menyesakkan itu.


Ayo, kali ini aku akan membuatmu bekerja keras padaku. Bukannya itu tugasmu sebagai pelayan dari Nenekku?' Pikir Arvin, dia pun benar-benar punya niat yang licik kepada Ashera.


Ashera sendiri sudah terlihat begitu enggan, karena memang banyak orang yang mengantri untuk mendapatkan barang yang sama dengan apa yang di inginkan oleh Arvin.


"Baiklah, sini mana uangnya."


"He~ " Arvin tiba-tiba saja tersenyum tipis. "Bukannya kau ada uang? Ganti rugi piring yang di pecahkan olehmu, juga dua boneka yang harganya setara dengan laptop gaming punyaku, kau yang harus bayar ganti rugi itu dengan uangmu sendiri.


Aku akan tunggu disini, nanti aku akan kirim produk yang harus kau beli itu." ucap Arvin dengan begitu panjang lebar, agar Ashera mengerti maksud dari tujuannya saat ini adalah untuk membuat Ashera bertanggung jawab dengan perbuatannya yang terakhir kali itu benar-benar sangat merugikan Arvin sendiri.


"Jahatnya, padahal hanya boneka, tapi sebegitu mahalnya. Bahkan jika uang untuk beli boneka figur itu harganya sampai puluhan juta, bukannya lebih baik di donasikan ke panti, setidaknya agar kau dapat pahala ya?" gumam Ashera. Dan karena ia sempat di dorong pelan oleh Arvin, otomatis Ashera pun jadi melangkah maju dan masuk kedalam kerumunan.


'Hahaha, rencana yang cukup cerdas Arvin. Dia harus merasakan bagaimana menderitanya kemarin, karena aku mendapatkan perlakukan yang tidak pernah dilakukan oleh orang lain kepadaku sampai tahap aku terlihat seperti orang rendahan saja.


Hus-hus...sebaiknya kau bisa dapatkan yang lebih bagus, itupun jika kau bisa. Karena hanya ada lima ratus produk saja.' Dalam diam Arvin pun jadi tertawa senang bisa membalaskan dendam miliknya karena yang kemarin.

__ADS_1


__ADS_2