
Hari ini, Vin's mengumpulkan semua keluarga di ruang keluarga rumah Yong Jin. Dia ingin memberi tahu perihal apa yang akan dia lakukan untuk memperoleh keturunan.
"Nak, ada apa kamu mengumpulkan kita semua?" tanya Kevin.
"Begini semuanya. Kalian sudah tahu kalau aku dan Nana sudah menikah satu tahun lebih. Dan kami belum juga di beri momongan. Kemarin kita pergi ke dokter untuk melihat kesuburan kita." ucap Vin's.
"Lalu apa yang terjadi nak?" tanya Rei.
"Sebenarnya kami berdua sehat sehat saja. Namun ini juga ada pengaruh dari Nana yang kemarin kecelakaan. Namun dari itu semua, dokter menyarankan untuk melakukan IVF progam. Atau program bayi tabung." kata Vin's.
"Bayi tabung kak? kalian berdua yakin?" tanya Ela.
"Kita harus yakin La. ini semua juga untuk kebaikan bersama. Kita juga ingin segera merawat anak kita sendiri seperti kamu dan kak Jin." ucap Nana yang dari tadi diam memberi kesempatan kepada sang suami untuk berbicara.
"Kalau begitu, kalian akan melakukan program itu dengan dokter yang Papa pilihkan saja. Papa punya kenalan dokter spesialis kandungan. Mungkin itu bisa membantu. Dia juga sering melakukan program kehamilan jenis lainnya." ucap Tuan Park yang ikut di undang karena kini mereka menjadi satu keluarga besar.
"Sungguh? Tapi dimana Pa?" tanya Yong Jin.
"Amerika. lebih tepatnya New York." kata Tuan Park lagi.
"Berarti kak Vin's dan Nana jadi balik ke sana lagi dong." ucap Ela sedih.
"Tidak apa-apa sayang. kan anakmu udah lahir. nanti bisa diajak kesana." hibur Key yang tahu kalau anak perempuannya itu begitu menyayangi kakaknya.
"Ohh iya. kalau begitu tidak apa-apa. Nanti kita akan sering kesana jenguk kalian. Lagian New York dan San Francisco juga dekat kan? jadi Kak Vin's juga bisa lebih dekat dengan perusahaan." ucap Ela senang.
Dan itulah akhir keputusan mereka. Semuanya mendukung rencana Vin's dan Nana untuk program bayi tabung. Seminggu lagi mereka akan kembali mengantar kepergian Vin's dan Nana ke New York.
*
*
*
Hari keberangkatan pun tiba. Vin's dan Nana diantar oleh seluruh keluarga ke bandara. Bahkan baby twins pun juga ikut ke sana mengantar uncle dan aunty nya.
"Kalian baik-baik ya disana. Kamu jangan kecelakaan lagi ya sayang." ucap Key.
"Iya bunda. sekarang kan ada Mama sama Papa juga yang ikut kesana." ucap Nana yang kini mereka ditemani oleh Rei dan Nyonya kim ke New York nya.
__ADS_1
"Kalau begitu, selamat jalan uncle and aunty. pulang nanti bawa dedek ya." ucap Ela sambil menirukan suara seperti anak kecil.
"Kalian juga jangan jadi anak yang nakal ya. patuh sama Ayah dan Bunda. uncle pasti akan kangen banget sama kalian. Nanti kalau ketemu kalian sudah bisa jalan ya." ucap Vin's kepada baby twins yang kini sudah berumur setengah tahun dan bisa mulai merespon apa yang dikatakan oleh Vin's.
Mereka pun melepas kepergian Vin's dan Nana beserta kedua orang tua Nana. Ada sebersit kekhawatiran tentang hubungan keluarga mereka di hati Ela. Ela takut kalau apa yang terjadi saat mereka di San Francisco terjadi lagi.
Ya, Ela sudah menyelidiki apa penyebab Nana kecelakaan bersama Yong Jin kala itu. Hingga Ela dan Yong Jin mendapatkan hasil penyelidikannya. bahwa ada satu wanita yang menjalin hubungan dengan Vin's. Ela takut kalau kakaknya akan bertemu lagi dengan gadis itu dan menjalin hubungan kembali. Dia takut masalah yang lalu akan semakin menjadi.
Namun Yong Jin yang tahu akan kekhawatiran Ela pun segera menggenggam tangan Ela dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Yong Jin menguatkan Ela untuk terus positif thinking terhadap kakaknya. Dia yakin kalau Vin's tak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
*
*
*
Hari-hari pun berlalu.
"Sayang, kamu mau kemana? kenapa sudah rapi?" tanya Key yang melihat Ela sudah rapi dengan pakaian yang begitu bagus seperti akan pergi ke perjamuan.
"Ela ingin ke kantor kak Jin. Pengen makan siang bareng. sudah lama kita gak makan siang bareng semenjak baby twins lahir." ucap Ela sambil membawa makanannya.
"Ela titip baby twins kepada Mama dan Bunda ya. Mereka anaknya gak rewel kok. kalau haus sudah ada asi di stok asi." ucap Ela sambil membawa tas jinjingnya dan pergi ke kantor Yong Jin.
Key dan Nyonya Park pun dengan senang hati mengurus cucu kembar mereka. Mereka juga memaklumi nya karena Ela dan Yong Jin sudah jarang terlihat bersama semenjak kelahiran baby twins. Ela lebih sering di sibukkan dengan baby twins, sedangkan Yong Jin sering di sibukkan dengan ke luar kota bahkan keluar negeri semenjak secara perlahan mulai membantu Yong Bin mengurus seluruh perusahaan yang akan di wariskan oleh Tuan Park kepada kedua anaknya.
Ela berjalan dengan anggun saat memasuki kantor milik suaminya. Dengan elegan dia berjalan menuju ke lift khusus untuk petinggi perusahaan. Saat dia berjalan melewati lobi perusahaan, dia menangkap seseorang yang begitu tampan berbalut jas berwarna biru muda yang hampir senada dengan warna rambutnya. Lelaki itu juga tengah membawa sebuah koper besar. penampilannya layak diberi penilaian tinggi karena mirip seperti boy band Korea.
"Park Jin-young?" ucap Ela sembari mendekat pada lelaki itu yang dia yakini bahwa itu sepupu suaminya, Park Jin-young.
"PARK JIN-YOUNG!" teriak Ela dengan girang saat melihat bahwa benar itu Park Jin-young.
"My Angel!" teriak Jin-young tak kalah heboh saat melihatnya.
"Ohh my God... udah lama banget aku gak ketemu dengan kamu. I Miss You.." ucap Ela memeluk erat Park Jin-young yang tak pernah dia panggil kakak meskipun umurnya hampir sama dengan umur suaminya. Karena bagi Ela, dulu Park Jin-young lebih pendek darinya jadi dia tak mau memanggilnya kakak.
"Ya! sampai kapan lo gak mau panggil gue kakak? Look.. gue sekarang lebih tinggi dari lo." ucap Jin-young dengan pedenya memperlihatkan bahwa dia lebih tinggi dari Ela yang memiliki tinggi 168cm itu.
__ADS_1
"Oke oke.. tapi daripada kakak, kayanya lo mesti lebih cocok di panggil uncle deh." ucap Ela sambil terus memeluk pinggang Jin-young sedangkan tangan Jin-young merangkul pundak Ela dengan mesra.
"Ohh iya, lo udah punya anak sekarang. gue pengen lihat anak lo." ucap Jin-young yang mengingat perkataan Vin's terakhir kali bahwa Ela tengah mengandung. dan mungkin sekarang anaknya sudah besar. pikir Jin-young.
"Iya nanti pokoknya lo bakal ketemu sama ponakan lo kalau lo mampir ke rumah gue. Ehh tapi ngomong-ngomong ini kenapa lo bawa koper besar banget?" tanya Ela.
"Sebenarnya gue kesini karena gue mau numpang tinggal di rumah lo. Dan gue berniat bertemu Yong Jin dulu disini. Ehh gak tahunya dia malah lagi meeting. Dan gue gak dibolehin buat nunggu di ruangannya coba." rengek Jin-young seperti anak kecil.
"Ya udah yuk ke atas. Kalau sama gue lo bakal bisa naik." Ela pun membawa Jin-young keatas. Namun dia mampir sebentar ke resepsionis. Jin-young terus merangkul pundak Ela dengan mesra.
"Mbak, tolong mbak ingat-ingat orang ini ya. Namanya Park Jin-young. Kalau orang ini kesini lagi dan mau ketemu sama Bapak, kamu persilahkan naik saja karena beliau sepupunya bapak." ucap Ela ramah.
"Baik Nyonya. Maaf kan saya Nyonya. Saya tidak tahu kalau itu saudaranya Tuan." ucap resepsionis itu takut.
"Tidak apa-apa. aku tidak akan marah. Lagian itu memang sudah SOP kantor ini. Kamu menjalankan dengan benar. kerja yang bagus. Aku hanya memberitahumu saja. Kalau Beliau kesini langsung antar ke ruangan Bapak saja." ucap Ela dengan nada ramahnya.
"Baik Nyonya. Lain kali akan saya lakukan sesuai perintah anda." ucapnya dengan hormat.
"Ya sudah, kalau begitu. Ayo kak naik." ucap Ela kembali merangkul pinggang Jin-young hingga menimbulkan kesalah pahaman bagi yang tidak tahu.
Seperti seseorang yang memotret mereka dari berbagai angel dengan begitu mesranya.
"Hahahaha jangan salahkan aku kalau suamimu berbalik memilihku. siapa suruh kamu menggandeng lelaki lain bahkan berani bertingkah mesra dengannya." ucap wanita yang tak lain Ko Eun Bi yang masih saja mendekati Yong Jin.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1