
"Pagi anak-anak. Hari ini akan ada siswi pindahan baru. Dia baru saja datang dari Sidney. silahkan masuk." ucap kepala sekolah yang masuk ke kelas XII-2, kelas Chanyeol dan Han Sung.
Gadis berambut pirang masuk ke dalam kelas mereka. Mata Chanyeol dan Han Sung pun terbelalak. Karena dia melihat bahwa gadis yang baru saja masuk itu gadis yang tadi pagi dilihatnya di bus ketika perjalanan ke sekolah. Seluruh kelas pun langsung riuh terutama para lelaki. Namun tatapan mata gadis itu begitu dingin dan terlihat susah untuk di dekati.
"Perkenalkan semuanya, namaku Ainsley Beatrix Mackenzie. Panggil saja aku Zie." ucapnya dengan bahasa Korea yang fasih.
"Wow bahasa koreamu bagus sekali." ucap salah seorang murid perempuan.
"Terimakasih." kata Zie tanpa senyum di wajahnya.
"Oke Zie, kamu duduk di bangku yang kosong samping jendela itu ya. Chanyeol, Han Sung, jangan ganggu murid baru ini." ucap Kepala sekolah memberi peringatan kepada duo biang kerok di sekolah ini. Ya meskipun biang kerok namun mereka berdua aset sekolah ini. Jadi tak akan di keluarkan. Apalagi Han Sung yang terkenal dengan kepintarannya dalam ilmu sains dan tak ada tandingannya.
Zie berjalan dengan tenang duduk di depan Chanyeol. Bahkan melihat sedikitpun ke arah Chanyeol saja tidak. Padahal sedari tadi Chanyeol dan Han Sung terus memperhatikan Zie. Entah apa yang ada di pikiran Han Sung dan Chanyeol, yang pasti hanya mereka masing-masing yang tahu isi dari apa yang tengah mereka pikirkan.
tring... tring... tring..
Bel pulang sekolah berbunyi. Semua murid langsung berhamburan untuk pulang sekolah. Namun tidak untuk kelima murid yang berada di kelas XII-2. Namun biasanya hanya empat murid saja, yaitu genk Chanyeol, sekarang bertambah satu, dia adalah Zie. Entah kenapa gadis itu bertahan di bangkunya sambil menatap kosong ke luar jendela.
"Ehh, kenapa tu bocah?" tanya Taeyong.
"Entahlah. lo aja gih yang tanya." kata Chanyeol kepada Jihoon yang selama ini menjadi juru bicara ketiga temannya. Bukannya Han Sung, Taeyong atau Chanyeol malas untuk berbicara. Tapi emang diantara mereka berempat Jihoon lah yang paling cerewet.
"Hei, kenalin gue Jihoon. Lo... kenapa gak pulang?" tanya Jihoon.
"Gue malas pulang. Kalian tahu gak tempat yang bisa di pake buat have fun?" tanya Xie tanpa di duga oleh semuanya.
"He..!" ucap ke empat pria di depannya menatap tak percaya Zie.
"Jujur ya, sebelum gue mengiyakan ajakan bokap nyokap gue untuk ikut pindah ke Korea. Gue udah cari tahu perihal sekolah yang akan gue masukin ini. Dan di sekolah ini, lo berempat orang yang paling terkenal kan? Lo Jihoon, Lo Chanyeol, Lo Han Sung dan Lo Taeyong. trouble maker Handsome." ucap Zie membuat semuanya tak percaya.
"Gila, lo tahu kita semua? padahal kita gak tahu lo." ucap Han Sung.
"Tapi gue tahu kalian semua. Gue gak jauh beda sama lo Hans. Gue di pindah ke Korea juga karena kesalah pahaman orang tua gue. Ya pada akhirnya mereka lebih percaya pada orang lain daripada sama anaknya ini. Jadi ya mending gue disini have fun aja lah sama kalian. Gue mau jadi trouble maker kaya kalian." ucap Zie dengan senyum yang sebenarnya manis tapi terlihat sekali bahwa senyum itu penuh dengan rahasia.
__ADS_1
"Ehh gila baru kali ini ada cewek yang mau jadi trouble maker kaya kita. Biasanya cewek yang kita kencani justru minta kita pada berhenti jadi trouble maker." ucap Taeyong.
"Ya itu mereka. Bukan gue. gimana, gue di trima gak?" kata Zie.
"Emm... di trima gak nya, lo datang aja ntar malam di taman dekat namsan tower. gue tunggu disana jam tujuh malam." ucap Chanyeol.
Melihat Chanyeol pergi dari kelas ketiga temannya pun ikut pergi meninggalkan Zie sendiri. Zie hanya tersenyum misterius. Senyum yang tak bisa di artikan.
*
*
*
"Lo yakin mau ngajak tu cewek gabung?" tanya Taeyong.
"Gue rasa rada aneh sama tu cewek." ucap Han Sung.
"Kita lihat aja nanti. Se trouble maker apa dia." kata Chanyeol.
"Hmm... karena pasti kalian gak bisa kabur dari rumah, kalian pasti akan di seret oleh orang tua kalian untuk ikut di pesta kakak gue. iya kan?" tanya Chanyeol.
"Bener banget lo. berarti ntar malam ketemu di taman Namsan Tower setengah jam sebelum ketemu dengan tu cewek." kata Taeyong.
"Oke." jawab ketiga lainnya serempak.
Mereka pun berpisah setelah berada di luar gerbang sekolah. Han Sung dan Chanyeol pulang ke rumahnya sambil terus bercanda di dalam bus. Mereka selalu menjadi perhatian bagi para perempuan yang berada di dalam bus. Bahkan ada yang dengan terang-terangan menyatakan perasaannya kepada Han Sung atau Chanyeol. Namun mereka berdua tak menanggapinya karena di dalam bus bukan hal yang tepat untuk mencari mangsa.
"Bi, aku pulang." ucap Chanyeol ketika masuk ke dalam rumah, sudah menjadi kebiasaannya.
"Ada keluarganya yang lain kenapa cuma bibi yang lo panggil." ucap Minky.
Sebenarnya Chanyeol tahu kalau keluarganya masih di rumah. Namun dia enggan menyapa nya. Karena baginya keluarganya itu tak pernah ada dirumah. Dan hanya ada bibinya yang ada di rumah itu.
__ADS_1
"Aden sudah pulang." ucap Bibi yang menghampiri Chanyeol dan membawakan tasnya.
"Bibi masak apa hari ini?" tanya Chanyeol.
"Kamu sudah pulang nak? Hari ini yang masak Mama. Mama masak masakan kesukaanmu lho." ucap Ela.
"Bi, jadi bibi gak masak hari ini?" tanya Chanyeol kepada bibi daripada menghirauian ucapan Mamanya.
"Maaf den. Karena Nyonya sudah memasak jadi saya tidak memasak." kata Bibi.
"Kalau begitu, aku mau makan di rumah Mommy aja." ucap Chanyeol lalu pergi ke kamarnya tak menghiraukan Mamanya.
"Sudahlah ma, lagian anak kaya begitu kenapa sih masih aja di perhatikan? Dia tak ada sopan santunnya begitu sama Mama." ucap Minky.
"Biar aja dia mati kelaparan karena tak makan. Jadi kita tak perlu repot-repot pusing ngurusin dia yang selalu berbuat onar." ucap Junnie.
"Kenapa kalian ngomongnya begitu. Kalian lupa, dia itu juga adik kalian." ucap Ela.
"Tapi dia penyebab kakek nenek meninggal Ma. Kalau saja dia tidak ngotot untuk menyuruh para kakek dan nenek menggunakan mobil itu, mereka tidak akan meninggal. Selamanya, kematian kakek dan nenek itu salah Chanyeol." ucap Minky.
"Dan jangan lupakan juga tentang Mama yang pernah koma hanya karena mempertahankan anak itu. Kalau Mama dulu mengikuti saran dokter untuk menggugurkan kandungan Mama, mungkin Mama tidak akan koma sampai tiga bulan lamanya setelah melahirkan Chanyeol. Sekarang dia hanya menjadi kesialan bagi keluarga Park. Ingat itu Ma." ucap Junnie.
Tanpa mereka sadari bahwa Bibi menangis mendengar percakapan mereka. Bahkan Chanyeol juga tak sengaja mendengar percakapan mereka karena dia tengah berada di ujung tangga ingin turun. Ternyata hal yang membuatnya mendapatkan perilaku buruk dari keluarganya itu karena ini. Kalau boleh meminta dia tak ingin di lahirkan dari keluarga ini. Dia lebih memilih di lahirkan dari keluarga sederhana yang penuh dengan cinta.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.