
Sepeninggalan Ela, Nana hanya diam. Tatapannya kosong. Dia bisa melihat betapa kagetnya orang tuanya. Namun disini dia merasa di temani oleh Jin-young dan keluarganya. Namun apa yang terjadi berikutnya membuat Nana kaget.
Plak.
Tamparan keras melayang di pipi indahnya. Dia melihat siapa yang menampar nya. Matanya memanas ketika melihat Papanya lah yang menampar nya. Nana menangis sambil memegangi pipinya yang perih.
"Puas kamu? Papa tidak pernah mengajari kamu menjadi wanita yang kurang ajar seperti ini. Papa tidak pernah mengajarimu menjadi wanita j*l*ng seperti ini. Mau ditaruh dimana muka kita kepada keluarga Lyn. Ha?" Bentak Rei kepada anak semata wayangnya itu.
"Mama tak pernah mengajarimu sikap seperti ini nak. Dimana sifat yang rendah hati mu? kenapa kamu menjadi seperti ini?" kata Nyonya Kim yang merasa kecewa terhadap sikap Nana.
"Ma, Pa. Seharusnya kalian memarahi kak Vin's. Dia yang membuat aku menjadi seperti ini. Dia yang membuat anak kalian sakit hati. Membuat anak kalian menangis. Kenapa kalian justru menbela Kak Vin's?" ucap Nana tak percaya.
"Memang seharusnya kita membela Vin's. Bukan membelamu yang tak tahu diri ini. Bagimana bisa seorang ibu memisahkan anaknya dari ayah kandungnya sendiri. Bahkan kamu belum mendengar penjelasannya kenapa dia bisa sampai dijebak dan siapa yang menjebaknya dalam kamar itu. Apa kamu tahu bagaimana perjuangannya untuk bangkit dari keterpurukan nya? Benar apa kata Ela. Kamu itu wanita yang egois. Sekarang terserah kamu mau bagaimana nak. Papa sama Mama tak akan ikut campur dengan kehidupanmu. Nana anak kami sudah lama mati. Ayo Ma, kita pergi dari sini. Disini, kita tak ada gunanya lagi karena anak kita sudah lama mati."ucap Rei sambil membawa Nyonya Kim keluar.
Orang tua Jin-young pun ikut keluar meninggalkan anak Nana yang sudah tertidur di dalam box bayinya. Sedangkan Jin-young sendiri merasa bingung mau bagaimana lagi. Dia belum mempunyai rencana untuk kedepannya. Apakah mau meneruskan hubungannya dengan Nana atau tidak. Tapi dia bahkan sudah ikut membuat sahabatnya, kakak dari Ela yang sangat dia cintai pergi meninggalkan mereka.
"Jason... kamu kenapa diam saja? Sekarang aku sudah tak punya siapa-siapa. Apa kamu juga akan meninggalkan aku?" tanya Nana sambil menggenggam tangan Jin-young.
"Beri aku sedikit waktu Na. Aku masih belum percaya bahwa kamu istri dari sahabat Karibku sendiri." ucap Jin-young sambil melepaskan genggaman tangan Nana dan pergi dari ruangan itu meninggalkan Nana seorang diri.
Jin-young pergi ke taman rumah sakit. Dari sana dia bisa melihat keluarganya tengah membujuk orang tua Nana yang hendak pergi dari sana. Bisa di pastikan betapa kecewanya mereka saat melihat anaknya sendiri mencoreng nama baik orang tuanya. Bahkan papanya di pecat dengan tidak hormat.
Di pintu keluar rumah sakit, Jin-young juga melihat keluarga Park dan Lyn hendak memasuki mobil. Raut kehilangan terpancar jelas di muka Kevin dan Key. Bagaimana tidak, mereka begitu mencintai anak lelaki mereka namun kini anak itu telah pergi dari sisi mereka. Jin-young juga melihat raut amarah yang ada di muka manis dan polos Ela yang selama ini tak pernah dia temukan. Wajah malaikat berubah menjadi wajah dingin. Bahkan Yong Jin yang berada di sampingnya pun dia abaikan.
__ADS_1
Orang tua Yong Jin juga melihat besannya seperti itu merasa kasihan. Raut wajah penuh air mata di wajah Nyonya Park terlihat jelas dari matanya. Jin-young semakin menghela nafas beratnya. Niat hati ingin mengenalkan wanita pujaannya justru malah berakhir seperti ini.
"Apa yang aku lakukan? Kenapa semuanya menjadi terpecah belah seperti ini? Aku tak menginginkan semuanya. Tapi aku tak bisa membohongi hatiku sendiri bahwa aku masih mencintai Nana. Tapi cintaku membuat Vin's harus pergi dari kehidupan keluarganya. Apa yang harus aku lakukan Tuhan..." ratap Jin-young dalam tangisnya sampai dia merasakan ada seseorang yang menepuk pundaknya.
"Tuan... apakah anda sedang ada masalah? Ku lihat dari tadi anda tengah bersedih?" ucap seorang wanita yang jelas sekali bahwa dia seorang pasien dirumah sakit ini karena selain memakai pakaian pasien, tangannya juga masih di infus. Dia bahkan memakai selang oksigen.
"Emm... mungkin, tapi tak sebesar masalah anda yang sekarang tengah berada di dalam rumah sakit." ucap Jin-young.
"Bagi anda. Tapi bagiku tidak. mau mengobrol sebentar?" tanya wanita itu.
"Boleh." ucap Jin-young.
Entah kenapa, dengan tiba-tiba Jin-young menceritakan semua masalah yang terjadi di sini dengan wanita yang bahkan tak dia tahu siapa namanya. Wanita yang menurutnya begitu nyaman untuk mencurahkan semua permasalahannya. Wanita itu hanya tersenyum menanggapi apa yang dikatakan oleh Jin-young.
"Mungkin sekarang, sahabatmu itu akan menjadi seperti aku yang dulu. Hidup tanpa keluarga dan sahabat di luar sana. Dia tak akan pernah mendapatkan kasih sayang lagi. Apalagi keluarganya telah terpecah belah karena keegoisan satu orang. Kalau menurut saranku, ikuti kata hatimu. Jangan sampai kamu menikahinya tapi kamu akan semakin menyesal karena membuat semuanya semakin jauh. Kamu tidak mau kan seorang anak akan berpisah dengan ayah kandungnya? Coba kamu bayangkan kamu menjadi anak itu? Apa kamu tidak sedih?"tanya wanita itu membuat Jin-young tersadar.
Dari awal cintanya pada Nana memang sudah salah. Tak seharusnya dia terus mengejar Nana bahkan saat tahu Nana tengah hamil anak Vin's. Tak seharusnya Jin-young seperti ini kepada Nana. Dia harus melepaskan Nana dan kembalikan Nana kepada yang seharusnya.
Tanpa sadar dia sudah menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. Padahal dia sendiri tahu bahwa kesalahan Vin's itu bukan murni karena dia ingin selingkuh. Melainkan dia di jebak. Bahkan dia sudah mengetahuinya sendiri.
"Benar apa kata kamu nona. Aku harus mencari dia yang pergi dari sini. Aku harus menemukannya dan membawanya kembali." ucap Jin-young dengan mantap.
"Nah.. itu baru temanku. Mau kan menjadi temanku satu-satunya dan yang terakhir?" ucap wanita itu sambil bersalaman dan di sambut dengan senyum oleh Jin-young.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Aku akan kembali ke kamarku. Datanglah satu jam lagi ke kamarku. Untuk mengucapkan selamat tinggal. karena sebentar lagi aku akan pergi dari rumah sakit ini." ucapnya ambigu.
"Pergi? apa kamu akan dipindahkan berobatnya?" tanya Jin-young dan wanita itu mengangguk sambil tersenyum manis. Mungkin kalau dua tahun yang lalu dia lebih dulu bertemu dengan wanita ini, dia akan mencintainya karena senyumnya sungguh manis.
Satu jam pun berlalu.
Jin-young yang mengingat nomor kamar wanita tadi pun sesuai janjinya untuk menemui wanita tadi di kamarnya. Namun saat dia sampai di depan kamar, terlihat suara ttangis yang kencang dari arah dalam. Jin-young masuk dan melihat keluarga wanita itu menangis sesenggukan sambil memeluk wanita yang satu jam tadi bersama nya.
Wanita itu terbaring kaku dengan peralatan dokter yang perlahan di lepas. Senyumnya yang mengembang indah di wajahnya seakan mengucapkan bahwa dia bahagia bisa pergi ditemani keluarganya di sampingnya. Benar apa kata dia tadi, bahwa Jin-young akan menjadi teman pertama, Satu-satunya dan teman terakhirnya. Dan disinilah dia mengucapkan selamat tinggal.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.