Kisah Keysha

Kisah Keysha
S3. Trouble Maker Part 55


__ADS_3

Drrrttt.... drrrttt...


Handphone Han Sung bergetar di dalam sakunya. Han Eung pun segera mengangkatnya tatkala melihat nama Daddy di layar ponselnya.


"Hallo Dad, ada apa?" tanya Han Sung saat mengangkat telfon Jin-young.


^^^"Terbanglah ke Venezuela sekarang bersama Mommy mu. Nenekmu sakit, dia ingin bertemu dneganmu." ucap Jin-young dari seberang dengan nada yang cemas dan khawatir.^^^


"Nenek sakit? Lalu siapa yang akan mengurus perusahaan Dad jika aku harus ke Venezuela sekarang?" tanya Han Sung yang khawatir dengan neneknya tapi juga khawatir dengan perusahaan Daddy nya yang dia tinggalkan.


^^^"Daddy sudah menyuruh orang kepercayaan Daddy. Dia akan menghandle selama kita disini. Kamu tenang saja. Bersiaplah, Mommy akan menjemputmu di perusahaan nanti. Kamu langsung berangkat dari perusahaan saja karena Mommy sudah membelikan mu tiket online untukmu." ucap Jin-young.^^^


"Baiklah Dad, kalau begitu aku akan menunggu Mommy." ucap Han Sung lalu mematikan telfon dari Jin-young.


Sekali lagi kegelisahan Han Sung terjawab sudah. Dia selalu merasa gelisah dan tidak bisa tidur jika di antara keluarganya ada yang kenapa-kenapa. Biasanya itu terjadi untuk Chanyeol yang paling dekat dengannya. Tapi ternyata firasat itu bukan untuk Chanyeol melainkan untuk neneknya. Padahal semalam orang yang ada di pikirannya ketika dia tengah gelisah adalah Chanyeol. Sama sekali bukan untuk neneknya.


Sudah sepuluh menit akhirnya Yuna datang menjemput Han Sung di kantornya. Mereka pun segera berangkat ke bandara untuk mengejar pesawat ke Venezuela. Han Wung dan Yuna tampak diam tanpa kata selama dalam perjalanan ke Bandara. Han Sung lebih ke fokus pada HP yang berada di tangannya. Dia mengirim pesan kepada Chanyeol, memberitahu Chanyeol bahwa dia akan segera terbang ke Venezuela tanpa memberitahu kepada Chanyeol apa alasan dia harus segera terbang ke sana.


Namun saat sudah waktunya Han Sung harus naik pesawat dan menon aktifkan HP nya, Chanyeol tidak membalas pesannya. Bahkan membacanya saja tidak. Terpaksa dia langsung memasukkan HP nya kembali ke dalam saku. Toh juga tidak bisa untuk mengirim pesan ke Chanyeol.


...***...


Los Angeles, Malam hari.


Chanyeol begitu menikmati jalan-jalannya dengan Freya. Mereka berdua pulang sampai rumah pukul lima sore. Sesuai janji Chanyeol bahwa mereka setelah pulang dari jalan-jalannya, Chanyeol akan mengajari Freya membuat tteokbokki. Jadi sepulang dari mereka jalan-jalan tadi, Chanyeol mengajak Freya mampir ke toko bahan sebentar. Lalu saat sampai rumah Chanyeol langsung mengajari Freya membuat tteokbokki.


Hingga sampai jam makan malam mereka masih berada di dapur untuk membuat tteokbokki. Bahkan Scarlett dan Krystal juga ikut bergabung dengan mereka. Mereka membuat tteokbokki bersama dengan bersenda gurau. Meskipun Chanyeol hanya lelaki sendiri tapi tidak membuatnya untuk canggung tertawa bersama mereka di sela membuat tteokbokki. Mereka selain antusias membuatnya, juga antusias memakannya. Terutama Scarlett yang memang doyan makan itu. Hingga tepat saat jam makan malam, Yong Bin pulang dan melihat pemandangan di dapur yang terasa begitu hangat.


"Wah... tumben ini semuanya lagi berada di dapur. Ada acara apa?" tanya Yong Bin yang lebih dulu duduk di meja makan dan mulutnya pun langsung berair karena melihat tteokbokki dan juga eomuk di hadapannya.


"Ini lho Pa, kita bertiga lagi belajar masak masakan Korea dari Oppa. Ternyata Oppa pintar banget masaknya. Enak lagi." ucap Freya sambil menyantap tteokbokki yang sejak tadi tak pernah lepas dari mulutnya. Habis ambil lagi, habis ambil lagi.


"Wah... Papa jadi rindu kampung halaman kalau kaya begini. Tadi siang kimbap dan samgyetang, sekarang tteokbokki dan eomuk. besok apa lagi?" ucap Yong Bin sambil menyantap eomuk nya.


"Kalau memang Om rindu kampung halaman, Om bisa kok makan di restoran Korea." ucap Chanyeol.


"Rasanya beda Chan. Tidak seperti rasa asli dari Korea. Bahkan rasanya lebih asli dari buatanmu." ucap Yong Bin. Chanyeol pun memberi isyarat kepada Freya melalui matanya agar Freya berbicara seperti yang mereka bicarakan di Korea town tadi.


"Ada kok yang rasanya mirip sekali, malah seperti makan di Korea asli. Bahkan ya Pa, suasananya hingga bahasa yang di pakai oleh pemiliknya adalah bahasa Korea." ucap Freya.

__ADS_1


"Memangnya ada tempat seperti itu di sini kak? Kayanya yang bertuliskan restoran ala Korea, tapi yang buat orang asli pribumi." ucap Scarlett.


"Ada, namanya Korea town. Tidak jauh kok dari sini. Paling sekitar tiga puluh menit memakai mobil." ucap Chanyeol.


"Benarkah? kenapa aku tidak tahu ada tempat seperti itu disini?" tanya Scarlett.


"Masa sih kamu gak tahu? Padahal tempat itu sudah booming di sosial media. Bagaimana bisa kamu yang selalu mengikuti hal hal yang berbau dengan tren anak muda jaman sekarang bisa tidak tahu." ucap Freya.


"Benarkah?" tanya Scarlett yang langsung meletakkan alat makannya. Dia mengeluarkan HP nya untuk mencari kebenarannya tentang Korea town. Dan benar saja ada tempat seperti yang di maksud oleh kakaknya di negara ini. "Wah benar saja. Ternyata memang ada." ucap Scarlett sambil menunjukkan kepada Papa dan Mamanya. "Ehh... ini kan teman sekelasku? Ohh ternyata dia cuma main ke Korea town aja toh. Kirain di Korea beneran. Gak tahunya cuma bohong doang." ucap Scarlett sambil terus melihat HP nya.


"Nah bener kan udah booming, jadi gimana Pa, kalau weekend ini kita kesana ber sama-sama. Kita piknik di taman sekitar sana? Gimana pa? atau mau bawa bekal makanan dari rumah juga bisa." ucap Freya memberi alasan kepada Papanya agar Papanya tidak hanya sibuk bekerja saja.


"Ayolah Pa, kita ikut anak anak. sekali-kali kita jalan-jalan bareng gitu Pa." ucap Krystal yang terlihat sangat antusias dengan itu.


"Baiklah, sabtu ini kita jalan-jalan bersama." ucap Yong Bin dan di sambut gembira oleh yang lain. Semuanya berteriak kegirangan.


"Yeay... makasih Pa. Sudah lama banget keluarga kita gak piknik bareng kaya begitu." ucap Scarlett kegirangan.


"Kalau begitu cepat habiskan makanmu dan pergilah tidur. Berdoa semoga segera hari sabtu." canda Chanyeol yang di balas dengan tawa oleh semuanya termasuk Chanyeol.


Mereka saling bercanda dan tertawa selama menghabiskan makanan yang ada di meja makan. Tak peduli Yong Bin yang terasa lelah setelah bekerja, namun dengan begini dia justru merasa lelahnya hilang. Chanyeol bahkan enggan untuk beranjak dari meja makan. Dia merasakan memiliki keluarga yang lengkap. Rasanya sudah lama sekali dia mendapatkan suasana keluarga yang hangat seperti ini. Bahkan mungkin belum pernah dia mendapatkannya. Meskipun mungkin sekarang ada Yong jin dan Ela di rumahnya, Namun mereka tak bisa sehangat keluarga ini. Candaan mereka terlalu garing hanya untuk sekedar basa-basi saja. Bukan hanya terlalu garing tapi juga kaku. Bahkan rasanya tak ada kehangatan pada sikap mereka.


"Enaknya punya anak laki-laki tuh ya begini Chan. Bisa di ajak main game bersama. Dulu Om selalu main game dengan Bright. Tapi dia sekarang sudah sibuk dengan dunia spy nya." ucap Yong Bin.


"Tapi seumur hidup Chanyeol belum pernah main game bareng papa. Bahkan di kamar Chanyeol tak boleh ada game. Kalau Chanyeol mau main game, Chanyeol bermain di tempat Han Sung." ucap Chanyeol dengan senyum sedikit hambar. Yong Bin pun melirik ke arah Chanyeol. Dia merasa tak enak setelah berkata seperti tadi. Yong Bin pun mengalihkan pembicaraan.


"Ya ya ya... Chanyeol~ahh... Kamu curang ya mainnya. Om lagi gak fokus malah kamu bobol gawang Om." ucap Yong Bin yang kebetulan juga Chanyeol tengah membobol gawangnya.


"Tidak, Om saja yang semakin lama semakin menurun skill mainnya. Masak anak muda kalah sama orang tua." ledek Chanyeol yang tahu kalau Om nya itu mengalihkan pembicaraan agar tidak menyakiti dirinya.


"Wah ngatain nih anak.. Gini-gini walaupun umur Om sudah tua, jiwa Om tetap jiwa muda. Jangan remehin Om kamu. Nanti kalah nangis kamu." ucap Yong Bin.


"Gak lah, aku gak akan kalah. Aku pasti bisa kalahin Om. Masak seorang Chanyeol kalah dari orang tua. Mau di taruh dimana mukaku." ucap Chanyeol semakin meledek Om nya.


"Ya! dasar kamu ya." ucap Yong Bin yang merasa lebih lega karena Chanyeol bisa di ajak mengalihkan pembicaraan.


Setengah jam pun berlalu. Chanyeol dan Yong Bin masih asyik dengan PlayStation nya. Bahkan para wanita pun ikut bergabung duduk diantara mereka. Krystal mendukung Yong Bin sedangkan Scarlett dan Freya mendukung Chanyeol. Ini seperti yang tua melawan yang muda. Dan jiwa muda Chanyeol tidak menginginkan untuk kalah. Para wanita terus bersorak untuk dukungan masing-masing. Kali ini bukan sepak bola lagi, melainkan permainan balap mobil yang lucu yang bisa membuat perut mereka sakit karena tertawa. Apalagi melihat Yong Bin asal-asalan dalam bermain. Setelah beberapa kali kalah, Yong Bin pun akhirnya mengaku kalah dan menghentikan permainannya. Scarlett dan Freya pun bersorak untuk kemenangan Chanyeol.


"Yeay... Oppa menang... Papa memang sudah semakin tua. Mainnya semakin buruk." ucap Scarlett.

__ADS_1


"Apa kamu bilang?" tanya Yong Bin sambil mendekati anak bungsunya itu guna ingin menggelitikinya untuk memberinya pelajaran.


"Kabuuuurrr...." teriak Freya sambil menarik tangan Scarlett untuk masuk ke dalam kamar. Terdengar tawa mereka yang keras sekali dari luar.


"Dasar anak-anak itu. Ayo Ma, kita juga masuk ke dalam kamar. Papa ngantuk." ucap Yong Bin menarik Krystal.


"Om sama tante masuk dulu ya Chan." ucap Krystal meninggalkan Chanyeol sendirian di ruang keluarga.


"Iya tante, aku sebentar lagi juga masuk kedalam kamar kok." ucap Chanyeol.


Akhirnya mereka semua kembali ke dalam kamar masing-masing guna mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah. Termasuk Chanyeol yang langsung merebahkan tubuhnya di ranjangnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Chanyeol melihat HP nya yang sejak tadi tengah dia charger. Dia melihat satu pesan masuk di layar hpnya. Nama Han Sung tertera jelas di layar ponselnya. Chanyeol pun langsung membukanya.


...Chan, hari ini gue di telfon bokap gue. Gue dan Mommy gue harus segera ke Venezuela sekarang. Mungkin saat lo buka pesan ini gue lagi ada dalam perjalanan ke sana. Dan HP gue bakalan gue matiin sampai dua puluh jam kedepan. Bye bro....


Kiranya seperti itu pesan yang di kirim oleh Han Sung untuk Chanyeol. Namun pesan itu mampu membuat Chanyeol panik dengan seketika karena Han Sung tidak menjelaskan apa alasan dia di haruskan segera untuk pergi ke Venezuela hari itu juga. Chanyeol melihat jam berapa Han Sung mengiriminya pesan. Ternyata itu baru lima jam yang lalu. Yang artinya masih ada waktu lima belas jam lagi untuk menunggu sampai Han Sung mengaktifkan telfonnya lagi.


Chanyeol memilih untuk menunggu hingga besok saatnya Han Eung tiba di Venezuela. Tapi resikonya malam ini dia pasti akan sulit untuk tidur. Tapi ya bagaimana lagi. Mau berapa kalipun menelfon Han Sung pun tak akan bisa. Bahkan sampai jarinya putus pun tak akan tersambung. Mau menghubungi Jin-young pun merasa tidak enak karena perbedaan waktu Los Angeles dan Venezuela.


Venezuela lebih cepat tiga jam dari Los Angeles. Jika di Los Angeles saja sudah pukul sepuluh malam, berarti di Venezuela sudah pukul satu dini hari. Apakah baik kalau menelfon di jam segitu? tidak kan? Chanyeol tak akan enak menelfon orang yang lebih tua pada dini hari. Apalagi itu pasti juga akan mengganggu istirahat Jin-young.


Maka Chanyeol memutuskan untuk tetap diam dan bersabar menunggu sampai lima belas jam kedepan. walaupun sulit namun dia akan tetap berusaha agar tidak kalap dan memesan tiket online penerbangan ke Venezuela malam itu juga. Dia terlalu takut kalau kalau ada sesuatu yang penting dan mendesak sekali terjadi di sana.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2