
Hari ini, merupakan hari yang berbeda bagi Chanyeol. Dia mengingat kejadian semalam yang membuatnya begitu bahagia. Mereka lah keluarga yang sebenarnya.
Tok.. tok.. tok..
"Aden... Apa aden sudah bangun? Kalau sudah, Tuan besar tengah menunggu aden di bawah." ucap Bibi.
"Baik bi." jawab Chanyeol.
"Papa ngapain datang ke Korea lagi? akhir pekan pula. Biasanya akhir pekan Papa tetap kerja? Dan beberapa hari ini aku tidak membuat masalah." gumam Chanyeol pada diri sendiri lalu menuju ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi.
Karena hari ini akhir pekan jadi dia ingin bermalas-malasan di rumah. Dia ingin bangun siang dan menghabiskan waktunya di kamar bersama dengan kasur dan bantalnya yang nyaman. Tapi dia terpaksa keluar karena Papanya menunggu.
"Pagi pa." salam Chanyeol kepada Papanya ketika sampai di meja makan. Dia duduk bersebrangan dengan Yong Jin.
"Hmm..."
Hanya itu jawaban dari Yong Jin. Dia meneruskan sarapan siangnya. Sedangkan Chanyeol mulai menyantap makanannya. Dia memakan nasi goreng kesukaannya.
"Papa hari ini pulang kesini karena ingin membicarakan sesuatu dengan kamu. Kamu lihat ini." ucap Yong Jin sambil melihatkan sebuah majalah bisnis.
Dia membaca artikel yang ada di halaman bisnis milik Yong Jin itu. "Anak bungsu keluarga Park ternyata seorang penyakitan. Apakah ini penyebab dia tak pernah terlihat?". Dalam hati Chanyeol tersenyum karena berita itu muncul dan Papanya membacanya.
" Lalu?" tanya Chanyeol.
"Papa ingin kamu sekolah keluar negeri. Papa ingin kamu masuk ke Harvard University tempat kakak kamu mengajar. Papa ingin dunia melihat bahwa anak bungsu keluarga Park tidak seperti yang di beritakan." ucap Yong Jin.
"Hahaha... Papa malu kalau memang media mencium bau bahwa ternyata anak keluarga Park itu penyakitan?" ucap Chanyeol.
"Jangan tertawa kamu Chan. Semua ini juga Papa lakukan untuk kamu. Papa tidak ingin kamu di pandang sebelah mata." ucap Yong Jin.
__ADS_1
"Untuk aku? Bukan untuk nama baik keluarga yang Papa banggakan ini? Lagipula selama ini Chanyeol hidup sebagai Chan Lin lebih bahagia daripada sebagai Park Chanyeol." ucap Chanyeol sambil menatap dalam Yong Jin.
"Pokoknya kamu gak bisa menolak. Semua keputusan ada di tangan Papa. Papa kasih kamu waktu sampai lulus. Di hari kelulusan kamu harus sudah berangkat ke Harvard University. Setuju atau tidak kamu harus berangkat." ucap Yong Jin tegas.
"Kalau aku tetap menolak nya?" tanya Chanyeol.
"Maka perusahaan milik Yura taruhannya." ucap Yong Jin mengancam.
"PA!" bentak Chanyeol tak Terima. Dia bahkan sampai menggebrak meja. "Papa gak bisa ya mengancamku dengan perusahaan kak Yura. Kalau sampai sedikit saja Papa menyentuh perusahaan kak Yura, maka aku bersumpah, aku akan membuat keluarga Park hilang di muka bumi ini seperti keluarga Lin." ancam Chanyeol balik kepada Yong Jin.
"Untuk apa kamu mengancam Papa seperti itu? Punya apa kamu, ha?! Lagipula sampai kapanpun kamu tak bisa mengancam Papa seperti itu. Pokoknya waktumu hanya sampai hari kelulusan. Kalau kamu tetap kekeh untuk tidak mau pergi ke Harvard, maka taruhannya perusahaan Yura dan keluarganya akan jatuh miskin. Dan kalau sampai Papa dengar kamu meminta tolong keluarga Hans, Papa juga akan hancurkan semua usaha keluarganya." ucap Yong Jin.
"Pa, Om Jason itu sepupu Papa. Kenapa Papa tega mengancam ku dengan kebahagiaan mereka?" ucap Chanyeol tak percaya.
"Itu semua tergantung dengan kamu. Kalau kamu menurut maka semuanya tetap akan seperti ini. Tapi kalau kamu membangkang, maka ya keluarga Jason dan Yura akan hancur. Mereka akan hidup di jalanan. Dan semua itu karena kamu." ucap Yong Jin.
"Papa memang sudah di butakan dengan harta dan kekayaan. Papa sudah tak mempunyai hati. Hal ini justru semakin membuatku menyesal karena sudah lahir di keluarga Park yang ternyata kejam." ucap Chanyeol.
"Mungkin, sekarang kamu bisa menolak. Tapi sebentar lagi kamu tak akan bisa menolaknya. Kamu akan menuruti semua perintahnya." gumam Yong Jin kepada dirinya sendiri.
Di sisi lain, Chanyeol berjalan tak tahu arah dan tujuannya. Tak terasa dia sudah berjalan kaki selama satu jam. Dia bingung tak tahu mau kemana. Sampai kakinya melangkah ke sebuah taman. Dia berhenti disana dan duduk disana sendirian.
"Sampai kapan gue akan menjadi boneka untuk keluarga gue? Pendapat gue tak pernah di hargai. Apa yang gue inginkan selalu di abaikan. Enak ya kalau udah punya SIM, kemana-mana bisa pakai mobil." ucap Chanyeol pada diri sendiri.
Lalu tiba-tiba pikirannya berkelana. Dia ingat tentang cerita kakaknya yang mendapatkan SIM di umur delapan belas tahun saat dia di Amerika.
"Kurasa gue harus ke Amerika. Tapi jangan sampai keluarga yang lain tahu kalau gue mau ke Amerika." batin Chanyeol.
Dengan mantap Chanyeol pulang kembali ke rumahnya. Ternyata Papanya sudah tak ada di rumah. Kata Bibi, Yong Jin sudah pergi tak lama setelah Chanyeol pergi dari rumah itu.
__ADS_1
"Oke ini kesempatan emas. Gue harus bergerak cepat." ucap Chanyeol lalu menyiapkan semua hal untuk pergi keluar negeri.
Untuk pertama kalinya dia keluar negeri sendiri. Biasanya dia diantar atau di jemput oleh utusan Yong Jin. Namun kali ini dia bergerak sendiri.
"Bibi, nanti kalau Hans atau yang lain tanya nyari aku, bilang aja aku gak ada ya bi. Aku pergi berkemah sendirian di daerah Silla." ucap Chanyeol berbohong.
"Jauh amat den. aden sendiri?" tanya Bibi.
"Gak kok. Sama anak club musik. udah ya Bi. Paling aku pergi sekitar tiga sampai lima hari. Atau seminggu. oke Bi." ucap Chanyeol dengan senyum di bibirnya.
"Baik den."
Dengan cepat Chanyeol yang membawa tas ransel besar itu masuk ke dalam taxi yang di pesannya. Taxi itu sudah menunggunya di depan rumah. Dia juga berharap Hans tidak melihatnya. Dan ternyata keuntungan tengah berpihak kepadanya. Hans tengah pergi bersama dengan kedua orang tuanya.
Sampai di bandara dia langsung mencari tiket untuk menuju ke San Francisco. Untungnya dulu Chanyeol lahir di sana, jadi itu dapat memudahkan dia untuk cepat mendapatkan SIM. Jika nanti sudah memiliki SIM, dia akan dengan mudah kesana kemari sendiri tanpa bantuan sopir. Itu juga membuatnya bisa kabur kapanpun dia mau nantinya.
Dia juga sudah memesan tiket untuk menginap di hotel. Tidak mungkin dia akan menginap di rumah kedua orang tuanya. Akan bagaimana dia menjelaskannya kepada kedua orang tuanya kalau seperti itu. Dia tak mau tujuannya diketahui oleh orang tuanya. Orang tuanya pasti akan membuatnya tak pernah bisa kembali ke Korea kalau sampai mereka tahu bahwa Chanyeol pergi ke America.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.