
Ela yang sudah mengingat kembali hal itu pun segera mencari barang yang selama ini dia simpan rapat. barang itu pemberian Mama mertuanya karena Mama mertuanya segera ingin mempunyai cucu. Meskipun tidak selalu mendesak Ela, tapi Ela tahu bahwa mertuanya segera ingin memiliki cucu.
Ela mengambil testpack itu dari bawah tumpukan bajunya. dia menimang nimang benda kecil itu. apa akan dia tes atau tidak. Tapi dia ingat, dia pernah membaca kalau ingin hasil yang memuaskan, jika mengetes nya saat pagi hari. Akhirnya Ela kembali menyimpan testpack itu dan akan mengujinya besok pagi saat bangun tidur.
Setelah mengambil sweater panjang, Ela pun turun untuk kembali berkumpul bersama yang lain. Semuanya terlihat begitu senang bisa bercengkrama bersama - sama. Bahkan Yong Jin bisa berbaur dengan para teman wanitanya.
YingYing juga sudah tak sungkan lagi kepada kedua orang tua Ela. meskipun saat mereka pertama kali bekerja pada Key, mereka terlihat kaku, namun sekarang mereka terlihat bisa berbaur.
"La, rencanamu nanti mau bagaimana setelah lulus?" tanya Boa.
"Emm.. entahlah kak. Aku hanya ingin jadi istri rumahan untuk kak Jin aja." ucap Ela sambil memeluk lengan Yong Jin.
"Yang udah punya pasangan enak ya. Tuan Jin. tolong dong kenalkan kita berdua kepada klienmu. siapa tahu ada jodoh kita." ucap YingYing yang sudah mulai ngelantur karena alkohol yang ada disana. meskipun kadarnya rendah, tapi YingYing paling tidak bisa untuk minum minuman beralkohol.
"Iya nak. Kamu gak mau nerusin S2 gitu?" tanya Mama.
"Emm.. semuanya tergantung kak Jin, Ma." jawab Ela sambil diam-diam mengelus perutnya. Dia merasakan kalau sudah ada benih cintanya di dalam sana.
"Aku tak pernah melarangmu kalau mau kuliah lagi sayang. kejarlah impianmu. aku tak mau jadi penghambat karirmu." kata Yong Jin.
"Emm.. gak kak. Ela masih ingin dirumah. menjadi istri yang berada di rumah menunggu suami pulang kayanya asyik. nanti kalau aku mau berkarir, biar aku gambar di rumah terus aku kasih ke Bunda. boleh kan Bund?" kata Ela kepada bundanya.
"Boleh dong sayang. masak buat anak bunda gak boleh." jawab Key sambil mengelus rambut Ela.
Malam itu mereka habiskan dengan bercengkrama apa saja yang membuat hubungan kekeluargaan mereka semakin dalam. Hingga akhirnya saya malam mulai beranjak menjadi dini hari, semuanya juga sudah mengantuk, Yong Jin menyuruh beberapa sopir di rumah itu mengantar para wanita teman Ela untuk pulang. Itulah kenapa Yong Jin menyuruh mereka untuk berangkat menggunakan taksi saja. Karena Yong Jin tidak mungkin membiarkan para wanita pulang larut malam sendirian. Pasti dia yang akan kena omel sang istri.
*
*
*
Pagi harinya. pukul lima pagi, Ela sudah terbangun. sebenarnya dia bahkan tidak bisa tidur. dia terus menunggu pagi. dia ingin segera menguji testpack, apakah benar dia hamil atau tidak.
Tapi sebelum dia menguji, dia justru merasakan mual yang amat mual. dia langsung memuntahkan seluruh isi dalam perut kosongnya.
"Hoeek... hoeek..."
Yong Jin terbangun mendengar suara orang muntah dari dalam kamar mandi. Dia segera berlari kesana dan melihat sang istri tengah muntah.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa? kenapa kamu muntah - muntah lagi? Apa kamu sakit?" tanya Yong Jin.
"Gak sayang, aku cuma mual aja. ini udah mendingan setelah ada yang keluar." ucap Ela membersihkan sisa muntahan di bibirnya.
Yong Jin menyodorkan handuknya. dia cemas melihat Ela seperti itu. Ela hanya menyunggingkan senyumnya melihat sang suami cemas seperti itu. Akhirnya Ela buka suara.
"Sayang, sebenarnya aku belum haid juga selama dua bulan. aku ingin mengeceknya sekarang. kamu keluarlah dulu." kata Ela sambil mendorong Yong Jin.
Yong Jin yang masih bingung dengan apa yang dimaksud Ela pun hanya mengikuti saja apa yang Ela suruh. dia keluar dan duduk di ujung ranjang. Dia menunggu Ela dengan harap-harap cemas. sampai - sampai dia tak sabar dan berjalan mondar mandir di kamarnya. Hingga akhirnya, klik. Pintu kamar mandi dibuka dengan Ela yang menunduk.
"Sayang, bagaimana? Apa kamu hamil?" tanya Yong Jin. Melihat Ela yang menunduk bahkan saat ia mengangkat wajah Ela, terlihat sudut mata Ela basah. "sudah sayang... kalaupun tidak sekarang, mungkin nanti kita akan segera mendapatkannya." ucap Yong Jin menenangkan Ela.
"Sayang... aku hamil." ucap Ela terharu.
"Iya sayang, kamu hamil.. ehh apa? kamu beneran hamil sayang? aku akan jadi ayah?" tanya Yong Jin yang tidak percaya kalau tangisan Ela itu tangisan bahagia.
"Iya sayang, kamu akan jadi ayah. disini ada anak kita." ucap Ela mengambil tangan Yong Jin dan meletakkan tangan Yong Jin pada perut Ela yang masih rata itu.
"Akhirnya aku akan jadi Ayah..." ucap Yong Jin sambil mengangkat tubuh Ela dan memutarnya.
Seakan tak ada hal yang paling bahagia saat tahu istrinya itu hamil. Dia mengecupi wajah Ela. Mulai dari ujung kepala, mata, hidung, kedua pipi dan bibir Ela yang terakhir. Bibir Ela menjadi yang paling lama.
"Iya sayang. semoga kita menjadi keluarga yang semakin harmonis kedepannya. aku akan menjaga kandungan kita." ucap Ela dengan memeluk Yong Jin erat.
"I Love You my wife."
"I love you too my husband."
*
*
*
Ela dan Yong Jin turun untuk ikut sarapan bersama dengan wajah yang berseri. Hari ini Yong Jin men cancel semua jadwalnya karena berencana ingin membawa Ela ke rumah sakit untuk mengecek kandungan istrinya itu. Dia ingin memastikan bahwa kandungan istrinya baik-baik saja.
Setelah sarapan, Yong Jin dan Ela langsung pergi ke rumah sakit. Diantara mereka belum ada yang ingin memberi tahu kepada orang tuanya. Mereka ingin mencari waktu yang tepat untuk mengumumkan kehamilan ini.
Kini mereka sudah berada di dalam ruangan dokter kandungan. Yong Jin sengaja cek di rumah sakit biasa agar keluarga nya tidak tahu kalau Ela hamil. karena kalau mereka cek di rumah sakit keluarga Park, maka akan bisa di pastikan kalau papanya tahu.
__ADS_1
"Selamat ya bu, sudah di pastikan kalau ibu hamil. usia kehamilan ibu sembilan minggu." ucap dokter itu yang masih melihat kelayar monitor dimana bisa melihat janin yang dikandung Ela.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Yong Jin. dia terlihat yang paling antusias.
"Semuanya baik-baik saja. bahkan kedua janinnya juga terlihat baik." kata Dokter itu.
"Kedua janin dok?" tanya Ela dan Yong Jin bersamaan.
"Benar Pak. anak bapak dan ibu kembar. ini terlihat dari adanya dia kantung disini." tunjuk Dokter itu.
Ela dan Yong Jin tak percaya kalau mereka akan mendapatkan anak kembar untuk anak pertama mereka. sungguh anugerah yang bertubi-tubi. Ela bahkan sampai menitikkan air matanya. dia begitu bahagia sampai tidak tahu mau berkata apa.
"Apa saya sudah bisa melihat jenis kelaminnya dok?" tanya Yong Jin.
"Kalau itu belum pak. karena usia kehamilan ibu baru memasuki sembilan minggu. nanti kalau sudah masuk tiga belas minggu, baru bisa di perkirakan jenis kelaminnya." ucap dokter itu lagi.
Ela dan Yong Jin pun pulang setelah konsultasi itu selesai. terlihat rona bahagia di keduanya. Ela di beri obat anti mual dan vitamin agar tetap bisa makan. Dan Yong Jin juga di beri nasihat agar semakin memperhatikan istrinya. karena wanita hamil itu sungguh sensitif.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.