
Setelah meeting tadi, Vin's langsung pulang ke rumahnya. Dia pulang dalam keadaan hati yang tak enak. Dia berasa malas mau ngapa-ngapain sampai pintu rumahnya terbuka. Menampakkan sosok lelaki tinggi tampan. Siapa lagi kalau bukan Park Jin-young.
"Woy bro.. lusuh banget sih lo." tanya Jin-young yang melihat muka kusut temannya itu.
"Males gue Jin, gue gak suka dalam keadaan kaya begini." ucap Vin's dengan memejamkan matanya.
"Kenapa? lo kangen bini lo?"
"Bukan, tadi gue ketemu Clara." kata Vin's membuat Jin-young harus mengingat nama Clara.
"Clara? cewek yang lo sering ceritain waktu kecil itu? Kalau gak salah yang nyatain cinta ke lo kan?" tanya Jin-young tepat sasaran.
"Bener. Tapi gue udah putus sama dia satu tahun yang lalu waktu istri gue kecelakaan." ucap Vin's menatap Jin-young.
"Nah kalau itu gue ingat. Lo cerita ke gue sebelum lo balik lagi ke Korea sama istri lo. terus kenapa sekarang lo bahas Clara lagi? Kata Ela lo kesini karena mau melakukan program bayi tabung?" tanya Jin-young yang masih belum tahu kemana arah pembicaraan mereka.
"Iya gue tahu Jin, tapi tadi waktu gue ketemu dia, gue ngerasa masih ada rasa sama tu cewek. Sebisa mungkin gue tolak dia, gue gak bisa mungkirin kalau dia itu cinta pertama gue Jin. Gue gak bisa ngelupain orang yang udah ada di hati gue puluhan tahun gitu aja." ucap Vin's yang terlihat sekali kalau dia sedang galau.
"Iya Vin's, gue paham sama apa yang lo rasain. Karna gue juga lagi ngalamin apa yang lo rasain sekarang. Gue juga sama gak bisa ngelupain gadis itu. Tapi lo gak boleh gini Vin's, lo udah punya istri sekarang. Istri lo pasti nungguin lo pulang. Lo gak bisa gitu aja ninggalin dia dan milih mantan kekasih lo. Lo ingat Vin's, sekarang dia sedang berusaha buat ngebahagiain lo dengan cara berusaha hamil anak lo." ujar Jin-young.
"Iya gue tahu Jin. Makanya gue bingung sekarang. Gue mesti bagaimana caranya agar gue gak kebawa perasaan saat gue ketemu dia. Asal lo tahu, perusahaan gue sedang menjalin kerjasama dengan perusahaan nya. Otomatis dengan sendirinya gue bakal sering ketemu sama dia Jin." ucap Vin's.
"Iya gue tahu, tapi sekarang lo udah punya istri Vin's, ingat itu. Lo gak bisa seenaknya aja kaya gitu. Ingat Vin's! Ya udah gue mau cabut dulu." Jin-young pun pergi meninggalkan rumah Vin's yang masih saja terdiam memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya dengan Clara, cinta pertamanya dan juga Nana, istrinya.
Saat Vin's masih terdiam dengan pandangan kosongnya seperti mencari pertanyaan akan kepada siapa dirinya berlabuh, tiba-tiba HP nya berdering. Dia mengangkat telfon itu tanpa melihat siapa yang menelfon.
"Halo?" ucap Vin's dengan nada tak semangat.
"Suamiku.... I Miss You!" teriak dari seberang.
__ADS_1
Mendengar teriakan itu, Vin's melihat siapa yang menelfon. Ternyata itu istrinya. Dia pun langsung fokus memikirkan istrinya. Mungkin ini jawabannya. Bahwa dia harus melupakan cinta pertamanya dan mempertahankan rumah tangganya.
"I miss you too istriku." ucap Vin's setelah memberi jeda sedikit.
"Suamiku kenapa? kelihatannya sedang lemas seperti itu? kamu capek ya?" tanya Nana dengan suara lembutnya.
"Aku gak capek sayang. Tapi aku kangen sama kamu. Dan aku juga mau bilang, kemungkinan aku akan lebih lama disini. Karena ada satu perusahaan dibawah naungan ku yang hampir collaps. Aku harus segera menanganinya sayang. Apa kamu tidak apa-apa jika aku lebih lama disini yang?" ucap Vin's yang sebenarnya merasa tak enak dengan Nana yang ditinggal lama olehnya.
"Tak apa-apa sayang. aku paham kok. lagipula aku juga tak mungkin melarangmu. karena aku tahu bahwa kamu disana kan kerja. Tak mungkin kamu akan selingkuh."
Ucapan Nana terdengar seperti tamparan untuk Vin's. Sudah bisa di pastikan bahwa Nana akan kecewa berat jika tahu dirinya kembali bertemu dengan Clara disini. Bahkan kedepannya dia akan bekerjasama yang memungkinkan untuk sering bertemu.
"Iya sayang. kan aku juga udah bilang kalau aku tak akan selingkuh dari kamu sayang. Aku kan hanya cinta mati dengan kamu." ucap Vin's dengan senyumnya.
Dia sudah memantapkan hatinya untuk tak akan pernah kembali kepada Clara. Clara memang mungkin cinta pertamanya. Namun Nana cinta terakhirnya. Dia tak akan pernah berpaling dari Nana sampai kapanpun.
*
*
*
"Senang bekerja sama dengan anda Mister Vin's." ucap Janet kepada Vin's.
Mereka berdua kini telah selesai melakukan kerjasama. Dan nanti malam mereka akan melakukan pesta perayaan keberhasilan kerjasama mereka. Pesta meriah yang terdiri dari kalangan atas.
"Senang juga bekerjasama dengan anda Miss Janet. Kalau begitu sampai bertemu nanti malam." ucap Vin's lalu pergi meninggalkan Janet dan tanpa melihat sekalipun kepada Clara.
Meskipun Vin's tahu bahwa sedari tadi Clara terus memperhatikannya, tapi Vin's sama sekali tak memperhatikannya. Dia hanya fokus pada layar dan Janet. Tak sedikitpun dia melihat kearah Clara. Bahkan sekedar melirik saja dia tidak mau. Dia sudah memantapkan hatinya kepada Nana dan tak akan melihat wanita lain.
__ADS_1
Malam pesta perayaan pun di mulai, banyak sekali tamu yang diundang karena perusahaan Janet juga merupakan perusahaan besar meskipun tak sebesar milik Vin's.
Tersedia banyak jamuan disana. Bahkan berbagai macam jenis anggur ada disana. Namun Vin's tak meminum sedikitpun minuman yang berbau alkohol. Dia tak ingin kalap dimana tak ada orang yang dia percaya disini. Karena Jin-young mendadak harus pulang ke Venezuela karena adiknya akan bertunangan.
Jadi dia tak ingin di manfaatkan disini karena dia sadar bahwa dia memiliki nama besar yang pasti akan banyak orang yang mengincarnya untuk membuat namanya hancur seketika. Dia hanya sekedar bercengkerama dengan rekan bisnisnya dengan membawa sebuah jus anggur yang sengaja dia minta kepada waiters agar terlihat bahwa dia sedang minum anggur.
Namun entah kenapa, sesaat setelah dia meminum minumannya, dia merasakan pusing. Dia pun berjalan menuju kamarnya di antar oleh sekretaris nya. Setelah masuk kedalam kamar, dia di tinggal oleh sekretaris nya untuk mencari penangkal mabuk. Namun, belum sampai ranjang, dia sudah terjatuh.
Waktu berselang satu jam kemudian, Vin's terbangun membuka matanya merasakan ada seseorang yang bergerak diatas tubuhnya. Dia tak tahu siapa itu. Dia mengucek matanya dan terlihat walah asing diatasnya tempat dia tertidur dalam keadaan telanjang bulat diatas ranjang. Wanita itu terus bergerak dan mendesah diatasnya. Vin's yang masih setengah sadar mencoba untuk duduk namun kesusahan karena wanita itu terus memompa keluar masuk diatas tubuhnya.
Vin's ingin mendorong wanita itu namun dia tak kuasa untuk melakukannya. Dia justru malah memegang pinggang wanita itu dan menikmati perlakuan dominan wanita itu diatasnya. Sampai terdengar dobrakan pintu kamarnya. Vin's tersadar, dan wanita itupun langsung menghentikan aksinya.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN!" teriakan itu membuat Vin's sadar dan segera melepaskan wanita itu dari tubuhnya dan mendorongnya jatuh ke lantai.
Vin's memungut boxernya lalu berjalan menghampiri wanita yang terlihat begitu murka itu. Wanita yang tak lain adalah istrinya itu. Namun belum sempat dia berkata, Nana sudah menampar nya dengan sangat keras. Vin's tak bisa membalasnya. Dia hanya bisa menerima semua itu, namun matanya melihat tangan Nana bergerak.
Dia melototkan matanya ketika melihat Nana melepaskan cincin pernikahannya dan melemparkannya tepat di muka Vin's. Suara denting cincin yang terjatuh menemani Vin's yang menatap Nana pergi dari jangkauannya. Dia hanya bisa melorot jatuh kebawah mengambil cincin itu dengan erat dan menangis.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.