Kisah Keysha

Kisah Keysha
S2. My Two Wishes Have Been Fulfilled


__ADS_3

Pagi ini, Woodz terbangun dan merasakan seluruh badannya begitu sakit. Bahkan untuk membuka matanya rasanya sudah tak sanggup lagi. Badannya terasa begitu berat. Nafasnya mungkin akan tersengal jika bukan karena oksigen yang terpasang di hidungnya.


Samar-samar, Woodz mendengar suara orang yang tengah memuntahkan isi perutnya di dalam kamar mandi. Woodz menggerakkan bola matanya saja karena tak bisa menggerakkan kepalanya. Di lihatnya jam dinding yang baru menunjukkan pukul lima pagi. Dan Woods pun menengok ke arah kamar mandi yang tertutup.


Selang beberapa menit akhirnya terlihat Ela yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ela terlihat menyeka ujung bibirnya yang basah karena sehabis muntah. Ingin rasanya Woodz bertanya. Namun bibirnya terasa kelu. Hingga akhirnya Ela menghampirinya.


"Ohh, kakak sudah bangun?" ucapan Ela membuat Jin-young yang tengah menemani Ela di dalam kamar Woodz pun terbangun.


"Pagi bener banguni Woodz?" tanya Jin-young..


"Kakak mau apa? apa kakak haus atau lapar?" tanya Ela. Namun Woodz hanya menggelengkan kepalanya.


Sudah selama dia di rawat di rumah sakit ini, dia tak melihat Gloria. Dia ingin sekali melihat anak itu. Dia ingin mendengar anak itu memanggilnya ayah. Meski hanya untuk sekali saja.


"Yu.. Yu.. Yu-Ra.." ucap Woodz terbata-bata dan lirih. Namun Jin-young bisa menyebutnya.


"Kamu rindu dengan Yu Ra?" tanya Jin-young.


Woodz pun mengangguk dan sedikit menarik ujung bibirnya untuk ternyum.


"Baiklah. Nanti setelah aku periksa ke dokter, aku akan menjemput anak-anak. Mereka pasti rindu denganmu." ucap Ela.


"Kamu mau ngapain periksa ke dokter dek?" tanya Jin-young.


"Ini badanku rasanya lemes banget gak enak kak. Mau minta vitamin aja." ucap Ela.


"Ohh ya udah. Kalau gitu hati-hati ya. Sekalian bilang ke Yong Jin untuk kesini ya. Kita bahas kerjaan di ruangan ini sembari menunggu Woodz. Rasanya aku malas untuk keluar dari ruangan ini." ucap Woodz yang merasakan firasat tak baik jika dia meninggalkan Woodz.


Hingga akhirnya Jin-young seharian ini berada di ruangan Woodz. dia menemani Woodz meskipun sudah ada Kevin dan juga Key. kebetulan Tuan dan Nyonya Park juga sedang berada di Korea dan tengah menjenguk Woodz. Mereka semua memiliki perasaan yang sama. Mereka semua tak ingin pergi dari ruangan itu. Mereka semua enggan untuk meninggalkan Woodz.

__ADS_1


"Selamat siang semuanya... Lihat lah kak, siapa yang Ela bawa." ucap Ela saat berdiri di ambang pintu. Dan saat Ela menyingkir dari ambang pintu, dilihatnya tiga malaikat kecil Woodz yang sangat Woodz sayangi. Siapa lagi kalau bukan si kembar Junnie dan Minky serta anak semata wayangnya Lin Yu Ra.


Woodz hanya bisa mengulas senyum. Sebisa mungkin Woodz mengumpulkan kekuatannya untuk berbicara. Sebenarnya Woodz merasakan bahwa bagian tubuh bawahnya hampir tak bisa ia rasakan. Namun ia masih terus mengulas senyum agar para keluarga nya tak merasa khawatir. 2oodz tersenyum terlebih ketika Gloria atau Yu Ra itu mendekatinya.


"Ayah..." ucap Gloria menahan tangisnya. Semua mata menatap tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Gloria.


Bagaimana bisa dia tahu bahwa Woodz adalah ayah kandungnya. Dan siapa yang memberi tahunya. Ternyata Gloria membuka kalungnya dan memperlihatkan kepada Woodz.


"Benar.. Om adalah ayah ku. Ayah.." ucap Gloria langsung memeluk Woodz. dengan penuh haru semuanya melihat pemandangan yang begitu hangat di depannya.


"An-anakku.." ucap Woodz dengan kekuatannya.


Tiba-tiba saja mereka di kagetkan dengan suara Ela yang menahan ingin muntah. Ela segera berlari kearah kamar mandi di ruangan itu. Di susul oleh Yong Jin yang sudah ikut masuk ke dalam kamar mandi. Semuanya pun langsung merubah ekspresi menjadi ekspresi panik dan khawatir.


Selang lima menit Ela keluar dari kamar mandi lalu duduk di sofa ruangan itu. Wajahnya sedikit pucat. Dia memegangi perutnya. Lalu Jin-young pun bertanya karena mengingat tadi pagi Ela sempat memeriksakan dirinya.


"Dek, bagaimana keadaan kamu? apa kata dokter?" tanya Jin-young kepada Ela membuat Yong Jin menatap Ela dengan penuh pertanyaan.


"Park kecil? Kamu hamil sayang?" ucap Yong Jin dengan tak bisa menutupi kebahagiaan. Ela pun hanya mengangguk sambil tersenyum penuh haru. Kebahagiaan yang mereka Terima tak sebanding jika melihat seseorang yang tengah terbaring lemah diatas brangkar dengan berbagai alat meris terpasang di tubuhnya.


Ela mendekati Woodz. Dia meraih tangan Woodz dan menggenggamnya. Ela pun mencium tangan itu penuh dengan sayang. Semuanya menatap haru apa yang di lakukan oleh Ela.


"Kak... kakak cepat sembuh ya. Disini ada keponakan kakak yang masih ingin bertemu dengan uncle nya nanti." ucap Ela.


Woodz pun berusaha mencoba meraba perut aela seperti dulu ketika Ela tengah hamil baby twins. Ela yang melihat Woodz kesusahan pun mendekatkan tubuhnya dan berdiri agar bisa memudahkan Woodz mengelus perut Ela.


"Park.. Park Chan-Chanyeol. Park Chanyeol." ucap Woodz sedikit lirih.


"Kakak ingin memberinya nama Park Chanyeol jika anakku lahir laki-laki?" ucap Ela menebak apa yang dikatakan oleh Woodz. Woodz pun hanya mengangguk. "Baik, nanti akan ku pakai nama itu ketika anakku lahir laki-laki seperti yang kakak inginkan." ucap Ela tersenyum melihat kakaknya yang antusias mendengar berita kehamilannya.

__ADS_1


Woodz menatap semuanya yang ada di ruangan itu. Semuanya pun seakan terkena magnet dan langsung saja mendekat ke arah brangkar Woodz. Semuanya kini mengelilingi Woodz. Terlihat Woodz sedang ingin membicarakan sesuatu. Entah mendapatkan kekuatan dari mana, Woodz berbicara. Padahal tubuhnya sudah terasa semakin lemas dan dingin.


"A-aku ba-bahagia. Du-dua im-impianku su-sudah ter-terwujud. E-ela ha-hamil la-lagi. Dan, Yu-yura me-memanggilku a-ayah. A-aku ba-bahagia. A-aku bi-bisa per-pergi se-sekarang." ucap Woodz dengan terbata-bata sambil melihat semuanya. Terutama kedua orang tuanya dan Ela.


Key dan Ela tak bisa berbicara. Sedangkan Jin-young menatap langit-langit tak mampu menatap Woodz. Yong Jin menenangkan Ela sedangkan kepala Kevin sudah berada di pundak istrinya. Minky, Junnie dan Gloria yang masih kecil pun seakan paham dengan keadaan lalu saling bergandengan tangan dengan mata berkaca-kaca. Tuan dan Nyonya park saling berpelukan. Juga eomma panti dan Seung Woo yang baru saja datang langsung ikut mengelilingi Woodz. Eomma panti terus menggenggam tangannya sendiri. Firasat yang dirasakan tak pernah salah meskipun Woodz bukan anak kandungnya.


"Se-semuanya.. a-aku per-pergi. Bun-bunda, a-ayah.. ka-kalian se-sehat se-selalu ya. E-ela, te-tetaplah ja-jadi a-anak, is-istri dan i-ibu yang sem-sempurna. Jin-young, se-semoga ka-kamu ba-bahagia de-dengan is-istrimu. dan un-untuk a-anak ku Yu-Ra. A-ayah cin-cinta ka-kamu nak. A-aku a-akan me-menunggu ka-kalian se-semua di sur-surga. Sam-pai kan ra.. sa.. cin.. ta.. ku.. un.. tuk.. Na.. Na.."


Tiiiiiiiiiiittttttttt......


Ucapan itu menjadi ucapan terakhir dari Woodz. Hari itu juga, Woodz menghembuskan nafas terakhirnya. Dia meninggalkan dunia ini dengan senyumannya yang terakhir manis dalam tidur abadinya.


Ela menangis terguguk dengan memeluk tubuh kaku kakaknya. Begitupun Key yang tak bisa menahan tangisnya. Dia ambruk memeluk anaknya dengan ratapan yang begitu menyayat hati. Kevin jatuh terduduk di lantai. Tuan Park menghampiri Kevin dan Nyonya park menenangkan Key.


Yong Jin memeluk kedua anaknya. Sedangkan Gloria langsung berlari memeluk Jin-young. Namun pandangan Jin-young terus menatap langit-langit. Dia tak mampu menatap sahabatnya yang sudah tiada. Eomma panti menangis dalam pelukan Hangat Seung Woo yang juga ikut meneteskan air matanya. Dia begitu sedih kehilangan sosok Woodz yang begitu baik dimatanya selama ini. Sosok lelaki yang begitu penyayang terhadap anak-anak. Lelaki yang begitu saja menghadapi semua cobaan hidupnya hingga akhir hayatnya.


Ruangan itu menjadi saksi bisu betapa kehilangannya mereka akan sosok Woodz yang selama ini mengisi kehidupan mereka. Di luar, daun pertama musim gugur jatuh bertepatan dengan perginya Woodz. Musim gugur yang akan menjadi pengingat Ela kehilangan sosok yang paling berharga dalam hidupnya. Kakaknya tercinta.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2