
Hari sudah beranjak sore. tak terasa sudah mau seharian Ela berada di rumah mertuanya. dia memberi kabar lewat HP kepada Na Young agar dia jangan khawatir. dan Na Young pun mengerti meskipun dia masih menagih penjelasan jika mereka bertemu besok di kampus.
Park Yong Bin pulang dengan hati yang riang. dia ingin menyapa kakak ipar yang semalam di ceritakan oleh mama papanya. dia tidak tahu menahu siapa istri kakaknya.
Ceweknya seperti apa sih? cantik gak ya? kenapa dia mau sama cowok dingin kaya kak Jin ya? pikirnya. Dia tidak benar-benar tidak tahu kalau istri kakaknya itu adalah Ela. sampai dia melihatnya dengan mata kepala sendiri sekarang ini di meja makan.
"sore semuanya. pangeran tampan pulang." kata Yong Bin saat sampai di meja makan yang sudah diisi orang tuanya dan juga Yong Jin serta Ela.
"Sore Yong Bin." sapa Ela dengan ramah.
Yong Bin yang merasa kenal dengan suara itu pun langsung melihatnya. Dia kaget saat melihat ada Ela duduk di samping kakaknya. Pikirannya sempat menepis fakta bahwa Ela adalah saudara iparnya. Namun dia mengedarkan pandangannya sekali lagi. Dan disini hanya ada Ela, wanita selain mamanya.
"Ela.. kamu ngapain disini?" tanya Yong Bin.
"Loh.. kok kenapa sih. ya kan wajar kalau menantu mama tinggal disini." kata Mama.
"Ja-jadi kamu kakak iparku?" kata Yong Bin dan Ela pun mengangguk dengan senyum manisnya.
"Iya adik ipar. hehe lucu ya. kita di kampus deket banget sekarang aku jadi kakak ipar kamu." kata Ela dengan polosnya.
Yong Bin menatap kakaknya yang menghindari kontak mata dengannya. Yong Bin pun menarik tangan kakaknya dan segera membawanya jauh dari sana.
"Pa, Ma, La. Aku pinjam kak Jin sebentar." kata Yong Bin.
Setelah dirasa cukup jauh sampai keluarga mereka tak bisa mendengarnya, Yong Bin mulai menyidang Yong Jin. Dia menatap kakaknya dengan ekspresi yang garang.
"Apa maksudnya ini kak? kenapa bisa kamu menikahi Ela? apa kakak lupa bahwa aku cinta dengan Ela?" kata Yong Bin dengan tegas.
"Bukan maksud kakak mau merebut Ela darimu dek. tapi ini sudah menjadi kehendak Om Kevin untuk menikahkan Ela dengan kakak." elak Yong Jin.
"Tapi kan kakak bisa menolaknya."
"Kakak sudah menolaknya. bahkan meskipun kakak menolak menikahinya, kakak tetap ingin menjalankan perintah Om Kevin untuk menikahi Ela hari itu juga namun dengan kamu sebagai sang mempelai prianya. tapi kamu justru tak mengangkat telfon ku kemarin. lalu kakak bisa apa untuk menghentikannya." kata Yong Jin.
"Apa kakak sudah menyentuhnya semalam?" tanya Yong Bin dengan nada putus asa.
"Kamu jangan khawatir. kakak hanya menikahinya diatas kertas. bahkan kakak belum menyentuhnya. kamu tenang saja. kakak akan cari waktu yang tepat untuk menceraikannya dan membuatnya tidak akan berkutik selain menikahimu." kata Yong Jin.
"Kalau begitu, aku tunggu ya kak. aku harap kakak tidak mengecewakanku." ucap Yong Bin lalu pergi meninggalkan Yong Jin sendiri yang tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengar percakapan mereka.
*
*
Sebelum itu di meja makan.
"Ma, Ela udah selesai, Ela akan panggil Kak Jin dan juga Yong Bin untuk makan." kata Ela yang bangkit dari duduknya.
"Iya sana nak." jawab Papa.
Ela pun mencari keberadaan sang suami beserta adik iparnya itu. Dia mencari kemana saja sampai dia menemukan mereka berdua tengah berada di teras halaman belakang. saat Ela ingin menghampiri mereka, tak sengaja Ela mendengar percakapan mereka.
"*Kamu jangan khawatir. kakak hanya menikahinya diatas kertas. bahkan kakak belum menyentuhnya. kamu tenang saja. kakak akan cari waktu yang tepat untuk menceraikannya dan membuatnya tidak akan berkutik selain menikahimu." kata Yong Jin.
"Kalau begitu, aku tunggu ya kak. aku harap kakak tidak mengecewakanku." ucap Yong Bin*.
Seketika itu, bulir bening jatuh dari ujung pelupuk matanya. dia menahan isak tangisnya dengan menutup bibirnya sendiri dengan telapak tangannya agar tak terdengar dari siapapun. dia pun pergi dari tempat itu melalui pintu yang berlawanan dari Yong Bin. dia tak ingin terlihat menangis oleh Yong Jin ataupun Yong Bin.
__ADS_1
Ela pun berlari menuju ke kamarnya. lebih tepatnya kamar milik Yong Jin suaminya sendiri. Ela masuk kedalam kamar mandi dan menyalakan shower ymdan mengguyur tubuhnya. Dia menangis sekencang - kencangnya, namun dia tak ingin orang lain mendengarnya maka dia menyalakan shower itu. dia menangis terguguk di bawah guyuran shower.
Hatinya begitu sakit seperti tersayat pedang yang amat tajam. dia yakin kalau luka ini tak akan pernah sembuh selama Yong Jin tidak mau menerimanya sebagai seorang istri. Saat itu juga dia berasa ingin menyerah. dia tak ingin meneruskan pernikahan itu. dia lebih memilih hidup diluar sendiri daripada harus hidup bersama orang yang tak menginginkannya. Namun, lagi-lagi terlintas di ingatannya tentang begitu rapuhnya sang Ayah dan juga begitu bahagianya dan tenangnya sang Bunda dan Kakak ketika meninggalkan Ela sendiri di sini.
Bagaimana jadinya jika Ela egois ingin pergi dari sini. sama saja membuat masalah untuk dirinya sendiri. dia tak ingin anggota keluarga menjadi merasa bersalah. terlebih lagi dia tak ingin meninggalkan mertuanya yang sudah begitu baik kepadanya.
"Aku harus tegar. aku harus menjadi wanita yang kuat. bagaimanapun aku sekarang istrinya Kak Jin. aku tak boleh lemah. aku harus membuat Kak Jin menjadi suka kepadaku, sayang kepadaku dan jatuh cinta kepadaku sampai tak bisa hidup tanpaku. aku akan membuatnya bertekuk lutut kepadaku." ucap Ela dengan optimis kepada dirinya sendiri.
Ela pun menghaous air matanya dan melanjutkan ritual mandi yang tak diinginkannya ini. Namun akan lebih terlihat natural jika dia benar-benar selesai dari mandi.
Di sisi lain..
"Ma.. mana Ela?" tanya Yong Jin saat kembali dari teras belakang.
"Loh bukannya dia nyusul kamu sama Yong Bin?" tanya Mama.
Deg.
Jantung Yong Jin tiba-tiba berdetak kencang. dia takut kalau Ela mendengar perkataannya dengan Yong Bin tadi. Dia pun mencari Ela tanpa pamit kepada sang orang tua di depannya itu. Yong Jin langsung menuju kamarnya yang pertama kali dia lakukan.
Yong Jin berpikir kalau Ela pasti sudah mendengarnya dan sedang menangis di kamar. dia dikasih tahu oleh Vin's bahwa jika Ela menangis, tempat untuk menemukannya adalah di kamar. Yong Jin pun segera membuka kamar yang tak terkunci itu. dia tak melihat Ela berada disana.
Yong Jin yang panik pun langsung menuju pintu kamar hendak keluar. Namun belum sempat dia membuka pintu yang sudah tertutup itu, dia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Dan muncullah Ela dengan balutan handuk yang minim di tubuhnya dengan rambut yang setengah basah.
Ela sebenarnya juga kaget melihat Yong Jin berada di kamarnya kala itu. Dia sendiri bahkan malu karena hanya menggunakan handuk minim di tubuhnya. Namun hatinya menguatkan dia untuk menjadi wanita yang tak tahu malu. lagipula Yong Jin juga sudah menjadi suaminya. mau telanjang pun sudah menjadi hak bagi Yong Jin untuk melihatnya.
Sedangkan di sisi Yong Jin yang belum pernah sekalipun melihat wanita dengan tampilan yang begitu sexy seperti sekarang, dia hanya bisa menelan salinannya. Dia sendiri mengakui kalau dia tak menyangka anak kecil yang selalu manja itu kini menjadi gadis yang sexy dan sungguh menggoda. Yong Jin memandang Ela dari bawah sampai atas. dia memperhatikan setiap inci tubuh gadis yang sudah menjadi istrinya itu.
Terlihat kulitnya yang putih mulus dan pasti halus jika di sentuh. bibirnya yang berwarna merah muda itu pasti akan manis jika di cium. Yong Jin berpikir yang tidak - tidak. Dia malah membayangkan bagaimana rasanya jika tangannya menyentuh buah dada Ela yang terlihat tak begitu besar tapi menggoda. Dia bahkan membayangkan bagaimana rasanya jika juniornya memasuki liang surgawi milik Ela yang dia pikir pasti masih begitu sempit.
"A-ada ap-apa La?" kata Yong Jin tergagap karena Ela mendekatinya masih dengan handuk yang melilit di tubuhnya.
"Kakak itu yang ada apa. dari tadi Ela panggil kakak tidak menyahut nya. bahkan kakak malah melamun. kakak sedang melamunkan apa sih?" tanya Ela sembari memunggungi Yong Jin dan memakai bajunya satu persatu.
"Eh.. eh.. kamu mau ngapain La? kenapa mau lepas handuk?" tanya Yong Jin.
"Ya pakai baju lah kak. mau apa lagi. masak iya nanu tidur mau pakai handuk." kata Ela. Dia tahu kalau Yong Jin sebenarnya tadi sedang memperhatikan tubuhnya. sekarang dia sudah tahu bagaimana cara mengambil hati Yong Jin. jika kecantikan dan prestasi serta sikap baiknya tak bisa membuat Yong Jin jatuh cinta. Maka dia akan membuat Yong Jin jatuh cinta kepadanya lewat tubuhnya. Dia gak peduli jika Yong Jin akan jatuh cinta karena tubuhnya bukan karena hatinya, tapi dengan itu saja sudah cukup untuk mengikat Yong Jin di sisinya.
"Kenapa pakai disini? pakailah di kamar mandi." kata Yong Jin ketus sambil berjalan kearah lemarinya.
"Gak mau."
"Emang kamu gak malu? kan ada kakak?"
"Lah kenapa malu? orang kakak itu suami Ela kok. udah ahh Ela mau ganti baju. udah kedinginan." kata Ela tak memperdulikan Yong Jin.
Akhirnya Yong Jin yang mengalah. dia yang pergi masuk kedalam kamar mandi. namun sebelum itu dia menghentikan langkahnya dan berkata kepada Ela.
"La, kamu pakai baju hangat ya. malam ini juga kita pergi ke apartemen kakak. kita akan tinggal disana karena kita sudah menikah. kakak tidak bisa untuk terus bergantung kepada Papa dan Mama. itu prinsip kakak dulu. Kakak juga sudah menyiapkan apartemen sejak jauh - jauh hari kalau kakak menikah." kata Yong Jin.
"Baiklah kak. tapi apa Papa dan Mama mengijinkannya?" tanya Ela.
"Mereka mebgijinkannya, jadi lebih baik kamu berkemas." kata Yong Jin yang langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa menunggu sang istri menjawab.
Ela pun langsung menuruti kemauan Yong Jin. kebetulan kopernya belum dia bongkar. jadi dia tak perlu berkemas banyak. Dia pun keluar menunggu sang suami di ruang keluarga sambil membawa dia kopernya dan tas ransel kecil yang selalu dia bwa kemana saja termasuk kuliah.
"Kamu sudah siap nak? mana suamimu?" tanya Mama yang ternyata juga sudah rapi.
__ADS_1
"Dia masih mandi Ma. Mama kok udah rapi aja? Papa juga?" tanya Ela.
"Ya kan kita juga ingin mengantar kalian ke apartemen kalian. Mama takut kalau Yong Jin tidak membawamu ke apartemen malah membawamu pergi jauh." ucap Mama.
"Mama tenang aja. kakak Jin itu tak akan seperti itu kepada Ela. kan kakak Jin sayang dengan Ela dari dulu." ucap Ela dengan percaya diri.
"Baiklah nak. Tapi kalau dia buat kamu sakit, bilang sama Papa ya. akan Papa kirim dia ke Benua Antartika." kata Papa dan itu disambut gelak tawa Ela dan sang Mama.
Di lantai atas, Yong Bin memperhatikan senyum bahagia Ela disana. dia menatap Ela dengan tatapan yang sakit. seharusnya yang Ela tunggu sekarang dia, bukan Yong Jin.
"Kamu terlihat begitu bahagia La? apa selama ini lelaki yang kamu bilang telah mencuri hatimu itu Kak Jin? Apa aku harus mengalah kali ini La? kalau memang iya, tunjukkan padaku cintamu kepada kak Jin. Agar aku bisa menyerah secara perlahan kepadamu La." ucap Yong Bin dalam hatinya. dia pun memasuki kamarnya lalu mengunci pintu.
Sebenarnya tadi Mama dan Papa mengajaknya juga. tapi dia menolak dengan alasan tak enak badan. akhirnya Papa dan Mamanya tak bisa memaksa kehendak anak bungsunya itu.
*
*
Selang setengah jam, Yong Jin pun turun dan langsung membawa keluarganya untuk ikut mengantarnya ke apartemen. tak butuh waktu dari rumah untuk ke apartemen mereka. Bahkan apartemen tersebut berada tepat di jantung kota. Tak jauh juga jika harus ke butik Key yang tutup itu.
"Nah ini apartemen kita. kalau Mama sama Papa mau kesini, tinggal kesini aja ya. Jin kasih tahu kode pin apartemennya. kodenya tanggal Lahir Ela." ucap Yong Jin.
Dia sengaja menyetting tanggal lahir Ela karena dia akan memberikan apartemen itu untuk Ela jika mereka sudah bercerai. Dia juga sudah mengganti nama kepemilikan apartemen itu. Meskipun sebenarnya itu apartemen yang dia bangun dari tiga tahun yang lalu. apartemen impiannya dengan sang istri nanti. tapi sekarang karena Ela sudah menjadi istrinya jadi dia pun akan memberikannya kepada Ela nanti.
"Wah lihat Pa. anak kita ternyata bisa romantis ya." kata Mama.
"Iya Ma. kayanya kita gak bisa kesini sering-sering. takutnya ganggu keromantisan mereka." ucap Papa dengan nada menggoda.
"Ahh Papa sama Mama mah bisa aja. yuk Pa Ma. masuk. kita lihat - lihat. nanti kalau ada yang Ela kurang suka, kata Mama bisa ambil dari rumah." ucap Ela mencoba menutupi wajahnya yang merona. Sedangkan Jin membawa koper milik Ela.
Yong Jin menunjukkan kamar satu-satunya yang ada disana. Papa dan Mamanya pun tersenyum jahil.
"Tuh kan apa yang Papa bilang Ma. kita gak bisa kesini karena disini hanya ada satu kamar. mana bisa kita menginap disini." ucap Papa.
"Papa dan Mama kalau mau kesini ya kesini aja. bisa kok nginep. nanti Papa sama Mama tidur di kamar utama. Biar Jin sama Ela yang tidur di kasur itu." kata Yong Jin menunjuk kasur single di ruang santai tengah apartemen.
Ruangan yang indah untuk menikmati indahnya bulan dimalam hari karena kasur itu langsung mengarah ke balkon di depannya.
"Wah ternyata ada tempat romantisnya ya. ya udah sih Pa. mending kita balik aja ya daripada ganggu." ucap Mama yang langsung di setujui oleh Papa.
Akhirnya Papa dan Mama pergi meninggalkan Ela dan Yang Jin dengan kecanggungan mereka.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa untuk Like, coment dan votenya ya. terimakasih sudah mendukung author..
__ADS_1