
"Ya udah, sekarang kakak mau kerja dulu. kamu mau ikut ke ruangan kakak apa mau ke kampus sekarang?" tanya Vin's.
"Kalau Ela pengen disini dulu gimana kak? boleh gak?" tanya Ela.
"Emm... kalau itu sih terserah sama Jin. dia keganggu gak kalau kamu disini. gimana bro?" tanya Vin's kepada Jin yang tengah asyik melihat - lihat kado.
"Boleh. kebetulan sekali. kamu disini sama kakak ya. bantuin kakak beresin ini semua." kata Jin.
"beneran kak? asyik..." kata Ela kegirangan langsung ikut duduk di lantai bersama Jin.
"Ya udah kalau gitu kakak tinggal ya. kamu jangan bikin repot kak Jin." pesan Vin's.
"iya kak. Ela kan udah dewasa. iya kan kak Jin?" kata Ela mencari dukungan.
"iya iya.. kamu udah dewasa." kata Jin sambil mengelus puncak kepala Ela. "dewasa umurnya. sifat kamu mah masih kaya anak-anak. tapi kamu lucu. duh.. apa-apaan sih kenapa jadi mikirin Ela." lanjut Jin dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.
Ela yang melihat Jin menggelengkan kepalanya terlihat begitu lucu. Ela menahan tawanya namun tak bisa. akhirnya dia melepaskan tawanya. Hal itu sontak membuat Jin mengalihkan pandangannya dari tumpukan kado didepannya. Dia melihat Ela dengan ekspresi penuh tanya. apa yang membuat Ela bisa tertawa tanpa sebab itu.
"Kamu kenapa tertawa tanpa sebab seperti itu? jangan bilang kalau wajah kakak ada yang aneh? atau jangan - jangan kamu kesambet?" tanya Jin.
"Ya! enak aja bilang kalau Ela kesambet. kakak tuh yang kesambet. gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba geleng-geleng kepala sendiri. apa kalo gak namanya kesambet. malah ngatain Ela yang kesambet." kata Ela sambil menahan tawa juga marahnya.
"Ya! kakak juga gak kesambet ya. tadi kakak lagi mikir, tapi seketika kakak langsung menepis pikiran itu makanya kakak langsung geleng-geleng kepala. malah dikatain kesambet." elak Jin. Dia sebenarnya malu karena Ela mengetahui kelakuan yang memalukan nya.
"oke oke... ya udah sekarang terusin aja yuk unboxing kadonya." kata Ela.
Mereka pun membuka satu persatu bersama kado tersebut. kebanyakan berupa jam tangan dan dasi. ada juga yang memberi kado coklat. jika itu isinya coklat maka akan langsung mereka makan.
"Ohh iya kak. kenapa kakak hanya punya teman laki-laki saja? dan itupun cuma kak Vin's." ucap Eka sambil memakan coklat yang ada di pangkuannya.
__ADS_1
Kini mereka berdua tengah bersantai di sofa setelah merasakan pegal pada kaki karena terlalu lama duduk di lantai. dan juga tangannya yang pegal membuka kado yang berasa tak ada habisnya itu.
"Emm.. entahlah. Kakak hanya merasa nyaman aja bersama Vin's. kakak gak berminat buat deket dengan orang baru lagi." kata Vin's sambil ikut makan coklat yang ada di pangkuan Ela.
"kalau teman cewek? Ela gak pernah lihat kakak dekat dengan cewek. bahkan Ela bisa menebak kalau hanya Ela teman cewek kakak satu-satunya. kak Vin's juga." kata Ela.
Yong Jin pun membenarkan duduknya dan menghadap kesamping. Menatap wajah Ela.
"Asal kamu tahu aja ya La, kakak dan Kak Vin's itu sebenarnya paling malas ngeladenin wanita. wanita itu ribet. susah di mengerti. mainnya kode-kodean mulu gak pernah terus terang." kata Jin.
"Terus kenapa kakak mau dekat sama Ela?" kata Ela.
"Ya kalau kamu mah karena udah dari kecil kenal La. Selain kamu kakak juga gak ada teman cewek lagi. mana ada sih yang mau sama kakak. kecuali mantan kakak dulu." kata Jin menatap ke langit-langit ruangan sambil badannya bersandar di sofa.
"Maksud kakak, si cewek pirang itu ya? Yang dulu waktu SMA sering ngelendotin kakak?" ucap Ela mengingat ingat siapa cewek itu.
"Iya La. Hanya dia yang bisa menggerakan hati kakak." kata Jin.
"Serius?" tanya Yong Jin yang penasaran lelaki mana yang sudah menggerakan hati seorang wanita manja di depannya ini.
"Iya kak. Serius. tapi kakak tahu gak, barusan aku tahu kalau orang itu tidak mencintaiku. dia bahkan belum bisa move on dari cinta pertamanya." kata Ela.
"Oh ya? siapa sih cowok nya kalau boleh tahu La?" tanya Yong Jin yang penasaran. namun itu membuat Ela semakin lesu.
"Hais... aku cerita pun kakak gak akan tahu orangnya yang mana." katanya lesu. "emang kalau Ela kasih tahu, kakak mau ngapain?" tanya Ela.
"Mau kakak kasih pelajaran. seenaknya aja dia gak bisa peka kalau ada bidadari secantik kamu menyukainya. akan kakak paksa dia sampai dia jatuh cinta sama kamu La." kata Jin penuh semangat.
"Emang Ela cantik kah kak? Jika di bandingin sama mantan pacar cowok itu, Ela tak ada apa-apa nya kak." kata Ela semakin memancing, tapi yang dipancing memakan umpannya saja tidak.
__ADS_1
"Cantik itu relatif La. mungkin mantan cowok itu cantik. tapi dimata cowok itu, kamu pasti ada nilai sendiri baginya. kamu tak perlu minder. jaman sekarang emansipasi wanita itu sudah berlaku La. kejarlah dia. jangan dikasih kendor La. siapa tahu itu cowok akan jatuh cinta sama kamu La." kata Jin menyemangati.
"Baiklah kak." Ela menjawab dengan lesu sambil menatap Jin yang mulai memejamkan matanya dan tertidur.
"Kak... andai kamu tahu kalau lelaki itu adalah kamu. akankah kamu berkata seperti ini sekarang? akankah kamu lebih membelaku dibanding cinta pertamamu itu? akankah kamu menerima gadis manja sepertiku? apakah aku dimatamu memiliki nilai plus sendiri? apakah yang kamu katakan itu akan berlaku juga jika amkamu tahu aku mencintaimu kak? apakah kamu akan membiarkanku mengejarmu?
Pertanyaan itu hanya bisa keluar dalam hati dan pikiran Ela. dia tak sampai untuk berkata kepada Yong Jin seperti itu. Ela terlanjur malu dan minder. karena dia tahu kalau Yong Jin masih mencintai cinta pertamanya. Apalagi Ela masih mengingat dengan jelas bahwa sang mantan kekasih Jin itu begitu cantik. bisa dibilang di perfect.
Jika dibandingkan dengan Ela yang hanya seorang gadis dengan postur tubuh yang mungil seperti anak SMA, itu tak ada apa-apa nya. jika dihadapan Yong Jin ada Ela dan wanita itu, Ela yakin, sembilan puluh lima persen Yong Jin akan memilih wanita itu. sedangkan lima persennya dia memilih Ela hanya karena sudah menganggap Ela sebagai adiknya. Dan juga merasa kasihan saja kepada Ela. Adik dari sahabatnya sendiri.
Hanya membayangkan saja membuat hati Ela terasa begitu sakit. Apalagi kalau Ela menyatakan perasaannya dan seketika langsung ditolak oleh Jin? Mungkin hatinya akan langsung hancur berkeping-keping tanpa bekas.
.
.
.
.
.
.
.
.
Visual untuk tokoh Park Yong Jin.
__ADS_1