
Jin-young berjalan kembali ke kamar inap Nana. Sebelum dia masuk, ada seseorang yang mencekam tangan Jin-young. Jin-young melihat siapa itu, ternyata Yong Jin yang menahannya.
"Ikut gue sebentar." ucap Yong Jin lalu menarik tangan Jin-young.
Dan kini mereka berdua berdiri berhadapan di atap rumah sakit. Jin-young menatap kearah kota sedangkan Yong Jin menatap dalam Jin-young.
"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya bro.?" tanya Yong Jin.
"Entahlah bro. Tapi yaang pasti aku ingin menemukan Vin's untuk Ela dahulu." ucap Jin-young.
"Kamu yakin? Kamu tidak akan menyesal melepaskan Nana? Apa kamu tidak akan menyesal jika Nana akan kembali kedalam pelukan Vin's?" tanya Yong Jin.
"Kalau dulu mungkin aku akan bilang menyesal karena melepas orang yang benar-benar sudah menjatuhkanku kedalam paling cinta. Kamu sendiri tahu bahwa aku belum pernah sejatuh cinta ini. Namun satu jam lalu, ada perkataan seseorang yang membuatku membuka mata. Dia yang membuatku sadar bahwa mungkin Vin's sekarang akan hidup kesepian. Hidupnya tak akan kembali berwarna lagi setelah aku masuk kedalam rumah tangganya. Sudah tak ada istri dan anak yang menemanunya di hari tua, bahkan saudara dan orang tuanya pun tak ada disaat dia membutuhkan bantuan nantinya. Dia akan benar-benar hidup kesepian. Apa aku bisa membiarkan sahabatku sendiri hidup dalam kesepian, bro?"ucap Jin-young.
Tanpa sadar air matanya pun menetes. Untuk pertama kalinya Yong Jin melihat Jin-young menangis di hadapannya. Lelaki yang biasanya terlihat begitu dingin dan sulit untuk di dekati kini telah menunjukkan kerapuhan nya.
"Aku akan membantumu mencari Vin's. Karena aku juga tak tega melihat istri dan mertuaku bersedih atas perginya Vin's." ucap Yong Jin.
"Sungguh?" ucap Jin-young.
"Sungguh. Bagaimana bisa aku membiarkan istri ku bersedih karena kehilangan kakak tercintanya. tenang saja. Kamu tetaplah di samping Nana. Jaga dia dan anaknya. Hingga saatnya tiba, kamu bawa mereka di hadapan Vin's. kembalikan mereka ketempat yang seharusnya." ucap Yong Jin.
"Baiklah bro. Aku berjanji akan menjaga mereka berdua dan tak akan menikahi Nana. Akan kuberikan Nana kembali kedalam pelukan Vin's saat kita sudah menemukannya." janji Jin-young.
Kini mereka berdua sudah berpisah. Sebentar lagi pesawat Yong Jin akan lepas landas dari Venezuela. Sedangkan Jin-young masih menetap di Venezuela menemani Nana. Sesuai janjinya kepada Yong Jin. Ia akan menjaga Nana sampai Vin's kembali dan mengembalikan keluarga Vin's agar utuh kembali.
*
*
*
"Kemana tujuannya?" tanya Yong Jin kepada sekretaris nya.
__ADS_1
"Tuan Vin's terbang ke Korea Tuan. dia akan tiba nanti malam. hanya selisih beberapa jam dengan anda. Tapi kalau anda bisa terbang dengan penerbangan paling cepat, kemungkinan Anda akan sampai berbarengan." ucap sekretaris nya.
"Baiklah kalau begitu. terus awasi pergerakannya kalau dia sudah tiba di bandara." ucap Yong Jin lalu menutup telfonnya.
"Bagaimana nak? apa sudah ketemu keberadaan Vin's?" tanya Kevin.
"Sudah Yah. ternyata Vin's terbang ke Korea. Hari ini juga kita akan terbang ke Korea. siapkan pakaian kalian semua." ucap Yong Jin lalu di angguki oleh semuanya.
"Apa kalian benar-benar akan pergi? Maafkanlah anakku yang tak pernah tahu kalau wanita yang di cintainya itu istri dari Vin's." ucap Joanna.
"Tak perlu meminta maaf tante. Itu juga bukan murni kesalahan kak Jin-young. karena hati tak pernah pernah bisa kita atur untuk jatuh cinta kepada orang lain. Itu sudah kehendak Tuhan untuk kak Jin-young jatuh cinta kepada Nana." ucap Ela dengan begitu dewasa.
Akhirnya mereka pun bergegas pergi ke bandara setelah Yong Jin mendapatkan tiket penerbangan tercepat. Mereka langsung lepas landas meninggalkan bandara Venezuela.
*
*
*
"Tuan.. ini yang anda minta sudah saya siapkan. Apa ada yang perlu saya lakukan lagi?" ucap sekretaris Hans.
"Ini, ini semua kamu kasihkan ke orang tua ku besok. Dan setelah itu aku akan pergi." ucap Vin's.
"Kemana kita akan pergi tuan? biar nanti kalau tuan besar bertanya saya bisa menjawab." ucap Hans.
"Bukan kita Hans. Tapi aku. Aku yang akan pergi tanpa kamu. Dan jangan pernah kamu ikut mencariku. Karena aku tak akan kembali lagi Hans. Aku titip perusahaan. Nanti Ela yang akan memegangnya. Ajari dia agar menjadi CEO yang lebih handal dari aku Hans." ucap Vin's yang lalu pergi kembali menuju bandara untuk melakukan penerbangan berikutnya setelah sebelum bertemu dengan Hans dia sempat membeli tiket dengan negara yang sudah dia tetapkan untuk tinggal.
"Tuan.. maksud anda apa Tuan. Tuan... Tuan.." Hans mengejarnya. Namun tangannya di cegah oleh Nam Ju Wan.
"Hans, mana Tuanmu?" tanya Nam Ju Wan.
"Hyung, Tuan pergi lagi dengan pesawat. Aku tak tahu kemana dia. Sedangkan identitasnya ada disini. Apa mungkin dia mempunyai identitas ganda?" tanya Hans kepada Nam Ju Wan yang lebih mengenal Vin's.
__ADS_1
"Tidak. Dia hanya mempunyai satu identitas. Tak mungkin dia mempunyai identitas ganda." ycap Nam Ju Wan.
"Kalau begitu ayo kita pencar Hyung. Kamu kearah sana, aku kearah sini. Masing-masing bawa bodyguard biar bisa segera ikut menemukan Tuan." ucap Hans.
Akhirnya mereka pun pencar. Namun sayang, mereka tak menemukan kemana Vin's. Bahkan sudah tiga pesawat yang lepas landas saat itu. Namun nama Vin's tak tertera disana.
Bertepatan dengan itu di lobi kedatangan, Yong Jin beserta rombongan sampai di Korea. Hans yang sudah di hubungi oleh Nam Ju Wan untuk ikut menyambut kedatangan Yong Jin pun segera menuju ke lobi kedatangan. Mereka menyambut kedatangan Yong Jin dengan muka takut. Karena kehilangan Vin's.
"Dimana dia sekarang?" tanya Yong Jin seketika membuat mereka berdua diam. "DIMANA DIA SEKARANG!" bentak Yong Jin sampai semua orang yang berada di bandara melihat kearah mereka.
"Ma-maaf Tuan. Kami kehilangan jejak Tuan Vin's." ucap Nam Ju Wan.
"Apa dengan maksud kehilangan jejak?" tanya Tuan Park.
"Sebenarnya tadi saya sempat bertemu dengan Tuan Vin's. Dia hanya menyuruh saya untuk membawakan uang satu koper dan juga pakaiannya. Lalu dia menyerahkan identitas dirinya dan pergi begitu saja. Entah saya bahkan tidak tahu kemana dia akan pergi Tuan. Saya hanya diberi identitas nya untuk segera di berikan untuk Tuan Lyn." ucap Hans pelan karena takut dengan tatapan mata yang ada di depannya.
Tatapan mata Ela yang biasanya keibuan terlihat lebih ganas daripada ketiga lelaki yang berada di sana. Ela menatap tajam ke arah Hans dan Nam Ju Wan sampai mereka tak berani untuk menatap balik Ela.
"Aku beri kalian waktu satu minggu. Temukan, atau kalian ku kirim ke pedalaman." ucap Ela pelan tapi penuh tekanan dan hawa yang membunuh.
Nam Ju Wan yang selama ini melihat Ela yang seperti anak-anak pun merasa kaget karena tak menyangka bahwa istri bosnya bisa berwajah mafia seperti itu.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.