
Setelah makan siang bersama dengan Gladis, entah kenapa bibir Chanyeol tak pernah berhenti melengkungkan garis senyumnya. Selama perjalanan ke kelas dia terus tersenyum. Sampai-sampai seluruh murid yang melihat Chanyeol tersenyum teriak seperti akan pingsan karena bagi mereka Chanyeol jarang sekali terlihat tersenyum.
Chanyeol duduk di bangkunya. Dia masih saja tersenyum. Apalagi ketika matanya dan mata Gladis yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kelas bertemu, Gladis tersenyum begitu manisnya di matanya. Dia tersenyum lebih lebar membalas senyuman Gladis.
Chanyeol duduk di kursinya. Meski dia duduk di bangku paling belakang, namun matanya tak pernah lepas dari punggung gadis yang sudah membuatnya tersenyum itu. Chanyeol bahkan tidak tahu kapan ketiga temannya masuk ke dalam kelas dan memergokinya tersenyum.
"Ehh.. tuh pangeran kita udah gila ya? Kenapa dia senyum senyum sendiri?" tanya Taeyong kepada Han Sung dan Jihoon karena melihat pemandangan yang tak biasa.
"Ehh iya tuh. Kenapa tuh anak kesambet kah?" ucap Jihoon.
Han Sung hanya diam melihat Chanyeol tersenyum. Selama ini dia jarang sekali melihat Chanyeol tersenyum selain di depan Yura. Lalu siapa yang membuatnya tersenyum? Batin Han Sung mempertanyakan. Sampai saat Han Sung mengikuti arah pandang Chanyeol kemana dia memandang dan kenapa dia terus tersenyum.
Mata Han Sung tertuju pada Gladis yang dari tadi di pandangi oleh Chanyeol. Han Sung sempat mengernyit kan dahinya. Lalu dia paham saat kembali melihat mata Chanyeol. Han Sung ikut tersenyum. Dia memiliki kesimpulan sendiri yang nantinya akan dia tanyakan kepada sepupunya sekaligus sahabatnya itu.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Seperti biasa, semuanya langsung berhamburan keluar dari kelas. Chanyeol langsung keluar tanpa menunggu teman-temannya.
"Ya! mau kemana tuh anak? Tumben buru-buru amat." ucap Taeyong.
"Kebelet kali. Ya udah gue kejar dia dulu ya. Bye." ucap Han Sung.
"Enak ya jadi mereka berdua. Tak perlu les kesana kemari untuk bisa masuk ke perguruan tinggi. Lah kita, orang tua kita memang punya gedung sekolah. Tapi kita masih harus sering les karena otak kita yang pas-pasan." ucap Jihoon.
"Udah gak usah kebanyakan ngeluh. Ayo buruan kita les lebih awal biar bisa pulang lebih awal. Kalau pulang lebih awal nanti kita bisa nongkrong bareng sama mereka berdua." ucap Taeyong menyeret lengan Jihoon menuju tempat les mereka.
Di sisi lain, Han Sung yang mengejar Chanyeol berhenti dengan jarak sekitar tiga meter di belakang Chanyeol. Dia memperhatikan Chanyeol yang pandangannya terus tertuju ke arah Gladis. Entah apa yang akan di lakukan oleh Chanyeol itu.
__ADS_1
Kini mereka bertiga sudah masuk ke dalam sebuah bus. Gladis yang duduk di barisan depan tidak tahu bahwa ada Chanyeol yang mengikutinya. Sedangkan Chanyeol yang duduk di barisan tengah tidak mengetahui bahwa ada Han Sung yang mengikutinya duduk di bagian belakang. Chanyeol memperhatikan Gladis, sedangkan Han Sung memperhatikan Chanyeol.
Saat Gladis sudah turun dengan selamat sampai di tempat kerja part time nya, Chanyeol tersenyum lega. Dia mengambil jalan sebaliknya untuk pulang. Namun saat dia melihat ke arah depan, dia kaget karena ada Han Sung yang tengah melipat tangannya di dada dan tersenyum mematikan. Chanyeol pun tak bisa berkutik dan hanya pasrah melihatnya.
"Sejak kapan Chan-Chan kita ini jatuh cinta?" goda Han Sung dengan senyum menggodanya.
"Apaan sih. Siapa yang jatuh cinta." ucap Chanyeol mengelak.
"Gak jatuh cinta terus ngapain lo ada disini. Ngapain lo ngikutin Gladis sampai di tempat kerjanya?" tanya Han Sung kembali dengan nada menggoda.
"Ka-Karena.. Gu-Gue..." ucap Chanyeol tergagap.
"Ya... seorang Chanyeol yang sedang jatuh cinta tenyata bisa membuatnya tergagap. Memang benar ya, orang kalau jatuh cinta bisa berubah. Cinta merubah segalanya. hahaha.." ucap Han Sung sambil tergelak. Dengan segera Chanyeol membungkam mulut Han Sung.
"Diem ah.. jangan keras-keras. gue malu tahu gak. Lagian ngapain sih lo ngikutin gue sampai sini.?" ucap Chanyeol setelah melepaskan tangannya dari mulut Han Sung dan mereka berjalan pulang ke rumah.
"Entahlah Hans.. aku sendiri juga bingung. Aku bingung kenapa aku tersenyum. Aku bingung kenapa aku mengikutinya. Pokoknya aku bingung dengan apa yang aku lakukan." ucap Chanyeol dengan pandangan mata lurus kedepan.
"Itu tandanya kamu jatuh cinta sama tu anak. Masak kamu gak bisa rasain kalau itu cinta?" kata Han Sung.
"Ya mana gue tahu. Selama ini gue gak pernah jatuh cinta Hans. Lo kan tahu sendiri." ucap Chanyeol.
"Ya, lo emang belum pernah jatuh cinta. Dan kukira ini akan menjadi cinta pertamamu. pertahankan." ucap Han Sung.
"apa sih. gue belum memastikannya Hans. gue takut kalau perasaan ini hanya sekedar rasa kagum aja. gue takut kalau gue justru akan menyakitinya. Lo tahu kan keluarga gue gimana? ehh ralat, keluarga kita. Keluarga kita itu lebih mentingin hal yang berbau dengan kekayaan dan bisnis. Gue yakin seratus persen kalau boka0 gue pasti udah ngerencanain buat pernikahan bisnis sama anak temen bokap gue." ucap Chanyeol.
__ADS_1
"Emangnya lo tahu darimana kalau lo bakal di jodohin?" tanya Han Sung.
"Mama dan Papa itu menikah karena hasil perjodohan. Dan Om Woodz juga Tante Nana menikah juga karena perjodohan. Jadi bisa di pastikan aku juga akan menerima perjodohan itu. Dan lo juga tahu sendiri kan kalau kakak gue yang cewek juga udah tunangan dengan pengusaha muda anak dari teman Papa? Mereka itu juga di jodohkan asal lo tahu. Karena gue tahu kakak cewek gue itu punya pacar di tempatnya bekerja." ucap Chanyeol.
"Masak sih? Kok bokap dan nyokap gue gak bilang apa-apa sih perihal gue yang harus di jodohkan?" tanya Han Sung.
"Karena bokap nyokap lo menikah bukan karena perjodohan. Meskipun mereka berdua menikah dadakan, tapi setelah itu mereka saling jatuh cinta. Tak ada bantahan di antara keduanya. berbeda dengan kedua orang tuaku dan kedua orang tua kak Yura." ucap Chanyeol.
"Ya lo usaha dong. Lo harus buat yang tidak mungkin itu menjadi mungkin dan di Terima. Gue yakin, asal lo berusaha, pasti keluarga lo juga bakal nerima pilihan lo." ucap Han Sung menyemangati Chanyeol. Karena selain dalam bidang musik, baru sekarang dia melihat Chanyeol yang seserius ini ingin memperjuangkan apa yang dia inginkan.
"Kalaupun gue gak berhasil membuat keluarga gue yakin dengan semua jalan yang gue ambil, dan pada akhirnya gue di depak dari keluarga gue, gue harap lo masih tetap ada di samping gue Hans. Lo orang yang paling gue percaya di dunia ini." ucap Chanyeol tulus.
"Pasti bro. pasti."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.