
Siang itu, semuanya berkumpul di Rumah sakit. Bahkan Minky dan Junnie juga sudah sampai di Korea dan langsung berada di rumah sakit. Minky sesekali melihat ke dalam ke arah saudara perempuannya itu. Sedangkan Junnie terus saja sibuk dengan ponselnya karena banyak sekali telfon dari klien karena pembatalan schedule yang seharusnya dia hadiri.
Kondisi Yura masih sama saja. Bahkan mungkin kelihatan lebih lemah dari sebelumnya sesuai dengan apa yang dokter selalu katakan bahwa Yura tidak akan bisa bertahan lama. Chanyeol masih saja diam dalam duduknya. Dia terus saja diam bagaikan sebuah patung lilin di ruangan itu. Dia juga mengabaikan keluarganya yang mengajaknya bicara. Dia hanya sedikit merespon dengan anggukan atau gelengan kepala. Hal itu justru membuat Jin-young susah. Karena kalau Chanyeol sudah bungkam, hanya Han Sung lah yang membuatnya bisa bicara. Tapi Han Sung berasa di sekolah bersama Zie.
Tiba-tiba saja di tengah ketenangan mereka, para dokter dan perawat yang merawat Yura berdatangan dengan panik satu persatu. Begitupun juga dengan dokter Wu yang ikut masuk dengan wajah penuh dengan kecemasan. Semuanya pun kini mulai fokus dengan Yura yang tengah di kerumuni oleh beberapa petugas medis di dalam. Chanyeol rasanya ingin menerobos masuk ke dalam ruangan itu. Sedangkan Yohan yang tak kuasa melihat istrinya hanya bisa terus duduk di tempatnya dengan tangannya terus tergenggam dan berdoa. Dia selalu berharap bahwa istrinya akan baik-baik saja. Berharap bahwa istrinya akan kembali padanya.
Mata Chanyeol terbelalak ketika melihat para perawat itu satu persatu mulai melepaskan alat medis yang berada di tubuh Yura. Mulai dari alat bantu pernafasan, detak jantung sampai infus, semuanya mereka lepas. Bagi yang lain yang melihat pun langsung paham kalau Yura sudah meninggal hanya bisa menangis. Namun tidak bagi Chanyeol. Dia tetap kukuh bahwa kakaknya itu belum meninggal. Berbeda dengan Yohan yang tahu maksud dari keluarga besar istrinya menangis, dia pun bersimpuh dan menangis meraung-raung. Dia tidak terlihat seperti sosok yang gagah. Ela mendekatinya dan memeluknya layaknya anaknya sendiri. Sedangkan Chanyeol yang melihat dokter Wu keluar dari ruangan itupun segera menghampirinya dan mencengkram krah baju dokter Wu.
"Apa-apaan ini dok. Kenapa semua alat pada tubuh kakak saya di lepas? Maksudnya apa ini." ucap Chanyeol dengan kasar.
"Tenang tuan, tenang..." kata dokter Wu menenangkan Chanyeol.
"Bagaimana saya bisa tenang kalau anak buah anda dengan seenaknya melepaskan semua alat medis pada tubuh kakak saya." ucap Chanyeol kasar dan semakin mempererat genggaman tangannya pada krah baju dokter Wu.
"Chanyeol, lepaskan! jangan kurang ajar ya kamu." bentak Yong Jin.
"Mereka yang kurang ajar! mereka yang dengan seenaknya melepaskan alat medis kak Yura. Apa di kiranya mereka kita tidak mampu membayar pengobatan kak Yura?" ucap Chanyeol dengan air mata yang mulai mengalir pada pipi putihnya.
"Tenang tuan. Maafkan kami. Kami terpaksa harus melepaskan semuanya karena pasien sudah di nyatakan meninggal." ucap dokter Wu pelan.
"Siapa yang berani menyatakan kakak saya meninggal. Kakak saya belum meninggal!" teriak Chanyeol. Mendengar teriakan Chanyeol hati Yohan semakin teriris.
Plak! Satu tamparan mendarat di pipi putih Chanyeol dari Yong Jin.
__ADS_1
"Chanyeol sadar. Sadar kamu. Yura sudah meninggal. Dia tidak tertolong. Papa harap kamu harus menerimanya. Jangan kaya begini. Kamu hanya akan memberatkan Yura nantinya. Biarkan dia pergi dengan tenang!" ucap Yong Jin yang tak tahan melihat anaknya seperti itu. Untuk pertama kali dia melihat anaknya yang pembangkang menjadi selemah itu.
Tangan Chanyeol yang tadinya mencengkeram kuat krah baju dokter Wu pun kini melemas. Dia masih tidak percaya dengan kenyataan yang dia dengar barusan. Perlahan dia menyingkirkan dokter Wu dari hadapannya. Dengan terseok-seok, Chanyeol berjalan masuk dan menghampiri brangkar Yura. Chanyeol masih tidak percaya bahwa kakaknya sudah pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal kepadanya.
Air mata Chanyeol mau mengalir ketika dia menyibakkan selimut yang menutupi wajah Yura. Chanyeol semakin menangis ketika melihat senyum kakaknya yang menghiasi wajah cantik nya di akhir hidupnya ini. Tanda bahwa dia pergi dengan bahagia. Chanyeol memeluk Yura dengan deraian air mata. Memeluk erat tubuh yang sudah tak bernyawa itu. Chanyeol berharap ini hanyalah mimpi belaka di siang bolong. Dia begitu tidak ingin mempercayai hal yang begitu mendadak di depannya. Namun bukti bahwa Yura sekarang menutup matanya di hadapannya dengan damai, membuktikan bahwa semuanya bukan hanya sebuah mimpi. Yura, kakaknya tercinta sudah pergi menyusul kedua orang tuanya.
Yohan dan yang lainnya pun ikut masuk ke dalam ruangan itu. Yohan ikut memeluk Yura dari sisi yang berlawanan dengan Chanyeol dan kembali menangisi istrinya yang sudah tak bernyawa dalam dekapannya. Yong Jin mencoba memisahkan Chanyeol dengan Yura. Namun tak bisa karena Chanyeol memeluknya dengan begitu erat. Yuna yang tak tahan melihat sosok Chanyeol yang biasanya bercanda dan bermanja dengannya kini tengah begitu terpukul kehilangan kakak tercintanya pun memilih untuk keluar dari ruangan itu. Dua lelaki yang begitu gagah dan pemberani kini benar-benar terlihat begitu rapuh. Yuna mengambil ponselnya dan sesegera mungkin menelfon Han Sung.
...***...
Di sekolah, Han Sung tengah berada di kelas mengikuti kelas terakhirnya sebelum pulang. Namun selama pelajaran, pikirannya terus berada di rumah sakit. Dia memiliki firasat yang tak enak. Terlebih bayang-bayang Chanyeol menangis meraung-raung terus hinggap di benaknya. Namun dia tidak bisa meninggalkan sekolah tanpa panggilan dari orang tuanya.
Tiba-tiba saja saat dia tengah mencoba fokus untuk mengikuti pelajaran, Handphone Han Sung bergetar di dalam sakunya. Dia pun membukanya dan terlihat tulisan Mommy di layar ponselnya. Dengan segera dia menjawab panggilan dari Mommy nya itu tanpa peduli bahwa ia tengah berada di kelas.
^^^"Nak, Cepatlah ke rumah sakit. Chanyeol dia... Yura...." ucap Yuna yang tak bisa berkata bahwa Yura meninggal kepada Han Sung.^^^
Namun Han Sung tahu apa yang di maksud oleh Yuna. Dia pun segera berdiri. Namun handphone di tangannya tiba-tiba saja terjatuh membuat semua orang yang berada di kelas melihat ke arahnya penuh dengan tanda tanya. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, untuk pertama kalinya mereka melihat seorang Park Han Sung menangis. Han Sung tak bisa membendung air matanya. Dia teringat akan Chanyeol yang pasti tengah bersedih sekarang.
Taeyong, Jihoon dan Zie pun mendekati Han Sung. Namun setiap pertanyaan yang terlontar dari mereka tak ada satupun yang di jawab oleh Han Sung. Han Sung masih saja diam hingga akhirnya dia bisa berbicara setelah berusaha mengendalikan dirinya.
"Lo kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Taeyong.
"Chan-Chan...." hanya nama panggilan Chanyeol yang keluar dari mulut Han Sung. Dia tidak bisa menjelaskan lebih lebar lagi.
__ADS_1
Ada apa dengan Chan-Chan? Bicara yang jelas? Jangan buat kita khawatir."ucap Jihoon yang tak sabar dengan Han Sung.
Seluruh orang di kelas itu menatap mereka penuh tanya. Namun tak ada satupun yang berani untuk bertanya. Bahkan gurunya pun memilih diam karena tak tahu apa-apa yang terjadi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1