
Setelah pulang dari periksa kandungan, Nana dan Cassie berjalan dari pasar tradisional yang akan menjadi street food jika sore hari. Dan itu begitu memuaskan lidah Nana yang sebagai ibu hamil dan juga Cassie yang memang suka dengan makanan.
Mereka berjalan sambil memakan makanannya dan juga sembari bercanda riang. Hingga tiba-tiba Nana melihat seseorang yang begitu familiar di depan rumah Joanna. Lelaki itu tengah memeluk Joanna erat sambil menyium pipi Joanna. Cassie tidak melihatnya karena asyik dengan ice creamnya.
"Cas, kamu tahu siapa lelaki yang tengah memeluk eomma?" tanya Nana.
Mendnegar pertanyaan Nana, Cassie pun mendongak dan melihat lelaki yang tengah memeluk ibunya. Bukannya tegang namun Cassie malah tersenyum dan berlari menuju lelaki itu membuat Nana tertegun sejenak dengan sikap Cassie.
"Oppa....!" teriak Cassie.
"Ohh jadi dia kakaknya. kok kayanya familiar ya." batin Nana.
"Hei bocil. darimana saja kau? kata eomma kamu tengah ke klinik untuk memeriksa kandungan. Emangnya kamu hamil?" tanya lelaki itu yang belum tahu tentang keberadaan Nana.
"Bukan aku yang hamil. Tapi kak Nana. tetangga baru kita yang tinggal sendirian. Aku membantunya karena dia kan cuma tinggal sendirian. tengah hamil muda pula." ucap Cassie dengan wajah imutnya.
"Nana?" Lelaki itu mengerutkan keningnya.
"Iya namanya kak Nana. itu dia orangnya." ucap Cassie menunjuk Nana yang berada di belakangnya.
Nana terpaku melihat orang itu adalah Jason alias Park Jin-young. Sedangkan Jin-young pun ikut terpaku melihat gadis yang selama ini dicarinya ternyata berada di sini. Dan apa, dia tengah hamil? Pikirannya pun kacau. Dia menggandeng tangan Nana dan membawanya masuk kedalam mobil. Nana yang masih kaget pun hanya diam sedangkan Joanna dan Cassie yang ingin protes pun dipotong oleh Jin-young.
"Eomma, Cassie. aku pinjam Nana sebentar. aku akan mengembalikannya dengan utuh. kalian tenang saja." ucap Jin-young lalu pergi dari sana meninggalkan Joanna dan Cassie dengan muka yang masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Eomma, apa eomma lihat betapa kagetmya mereka berdua ketika bertemu?" tanya Cassie sambil terus melihat mobil kakaknya pergi.
"Iya. Eomma masih mengingatnya. Apa jangan-jangan lelaki brengsek yang dimaksud Nana itu...." Joanna menatap Cassie, dan Cassie pun balik menatapnya.
"Jason!" pekik mereka bersama.
__ADS_1
*
*
*
Disisi Jin-young dan Nana. Jin-young membawa Nana ke sebuah taman dimana tengah nya ada danau buatan. Mereka duduk berdekatan di sebuah bangku yang berada tepat di bawah pohon yang rindang.
"Kamu apa kabar?" tanya Jin-young mengawali pembicaraan mereka setelah mereka saling diam beberapa saat.
"Seperti yang kamu dengar, aku tidak baik. Mungkin baik karena sekarang aku tengah hamil. tapi tidak dengan hatiku." ucap Nana.
Entah kenapa dia merasa nyaman ketika ada Jin-young disampingnya. Dia ingin mencurahkan semuanya kepada Jin-young.
"Ada apa? apa kamu ada masalah? kalau kamu hamil, kemana suamimu? kenapa kamu berada disini?" tanya Jin-young yang penasaran karena dia sudah mencari wanita ini tapi seperti hilang di telan bumi.
"Ya!"
"Apa kamu akan membocorkan semuanya dengan Eomma dan Cassie?"
"tidak!"
Nana tersenyum mendnegar jawaban yang jelas dan lugas dari Jin-young itu. Jin-young sendiri merasakan teramat rindu dengan senyum gadis itu.
"Sebenarnya aku sudah menikah. Sebelum aku bertemu denganmu." ucapan Nana membuat Jin-young seperti tersambar petir.
"Apa saat kita bertemu pertama kali itu, kamu sudah menikah?" tanya Jin-young.
"Ya.. aku sudah menikah. Dulu itu aku menikah karena di jodohkan. Aku dan suamiku tidak saling mencintai. Kala itu saat kita bertemu, aku tengah galau karena suamiku dingin kepadaku. Padahal aku sudah mulai mencintainya ketika itu umur pernikahan kita baru dia minggu." kata Nana menerawang. Jin-young memperhatikannya dengan seksama tanpa menginterupsinya.
__ADS_1
"Kamu tahu tidak? malamnya dia tidak pulang. Setelah satu minggu kita bertemu, dia jarang pulang kerumah. Dan aku jarang menghubunginya. Saat itu meskipun aku statusnya istrinya, tapi nyatanya dia tengah kencan dengan kekasih masa kecilnya. Kamu tahu, di depan mataku dia tengah berciuman dengan mesranya. Bahkan hari itu ulang tahunku. Waktu pagi aku sudah seperti besar kepala karena dia membelikan ku hadiah sebuah mobil. Tapi nyatanya, mobil itu saja dia membelinya atas pilihan dari selingkuhannya itu."ucap Nana dengan getir menahan air matanya mengingat itu.
"Setelah melihat mereka aku pergi. Namun di tengah perjalanan aku kecelakaan hingga akhirnya aku hampir saja meninggal. Namun saat aku terbangun aku tak mengingat apapun. Dan mulai saat itu hubunganku membaik. Kami kembali ke Korea untuk menjalin hubungan yang lebih baik lagi. Akhirnya beberapa bulan kemudian aku mengingat semuanya. Dia meminta maaf kepadaku. Dan kita pun melupakannya. Namun satu minggu yang lalu, kamu tahu tidak apa yang kulihat di kamar hotel tempatnya merayakan pesta keberhasilannya atas tender? Dia tengah memasuki wanita lain. Aku melihatnya sendiri di kamar hotel bahwa dia tengah bersetubuh dengan wanita lain. Aku melihatnya jelas dia menikmatinya. Padahal aku mencarinya karena ingin memberi kabar bahwa aku tengah hamil. Dan kamu tahu, melihatku pergi pun dia tidak mengejarku Jason.. aku hancur Jas.. aku hancur.." kini Nana tak lagi bisa membendung tangisnya.
Dia menangis dengan keras di dalam pelukan Jin-young. Jin-young yang selama ini mencari Nana pun merasa iba dengan apa yang menimpa Nana. Dia begitu mencintai Nana bahkan setelah dia bertemu dengan Nana sehari. Dia mencintai Nana karena Nana gadis yang baik menurutnya.
Jin-young mengelus kepala Nana dan menciun puncak kepala Nana dengan sangat lama. Dia membagi kesedihan Nana pada dirinya. Ingin sekali rasanya dia membunuh suami yang telah menyakiti Nana. Namun, siapa suaminya saja dia tidak tahu. Maka dari itu dia bersumpah pada dirinya sendiri. Dia akan menjaga Nana dengan apapun caranya itu. Dia tak akan membiarkan Nana merasakan sakit lagi, menangis lagi dan kecewa lagi. Dia akan melindungi Nana dengan segenap hatinya.
"Tenanglah. menangislah sepuasmu, aku janji aku akan selalu berada di sisimu di saat kamu sedih. aku akan membuatmu bahagia. Masih ada eomma dan Cassie disini. Kamu tak perlu takut. Aku bisa pastikan suamimu tak akan menemukanmu disini. Dia tak akan bisa menyakitimu lagi." ucap Jin-young.
Mendengar apa yang dikatakan Jin-young membuatnya merasa nyaman dan Aman. Nana memeluk Jin-young dengan erat. Tak peduli dengan orang sekitar. Toh diluar negeri berpelukan bahkan berciunan di pinggir jalan itu wajar.
Dia memeluk erat dan mencium bau tubuh Jin-young yang begitu menenangkannya. Dia berasa tak ingin melepaskannya. Dia takut akan menjadi khawatir kembali jika melepaskan pelukan itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1