
Tak lama berselang, bayi Nana lahir. Seorang bayi perempuan yang begitu cantik. Suara tangus itu mampu menggelitik hati Vin's. Vin's tersenyum saat mendengar suara bayi itu. Dia juga menangis karena tak bisa menjadi orang yang pertama kali melihat putrinya lahir.
Dengan Nana yang lebih memilih untuk ditemabi oleh Jin-young, sudah bisa di pastikan bahwa di hati Nana sudah tak ada namanya. Dia lebih memilih pergi daripada berharap dengan yang tak akan pernah kembali. Dia juga sudah berjanji kepada Tuhan untuk tidak mengganggu Nana lagi jika dia sudah bertemu dengan Nana. Mungkin memang uni takdir untuk kisah cintanya.
"Halo..." Vin's menelfon sekretaris Hans.
"Halo mister ada apa?" tanya Hans dari seberang.
"Segera urus surat perceraian ku di Korea." kata Vin's.
"Surat perceraian Mister? bukankah Nyonya Nana sudah meninggal?" tanya Hans.
"Dia belum meninggal, tapi dia tak akan pernah kembali. Jadi secepatnya urus surat perceraian itu kalau bisa jadi hari ini dan kirim lewat fax." ucap Vin's tegas.
"Baik Mister."
Vin's pun menutup telfonnya. Dia ingin kembali ke tempat keluarga nya berkumpul. Mereka semua masih berdiri di depan pintu ruangan Nana. Sampai saat mata Vin's melihat Nana sudah di dorong keluar dengan brangkarnya. Dia melihat raut bahagia Nana yang tengah menyanding babynya. Untuk pertama kalinya Vin's melihat babynya. Baby yang cantik. Ingin rasanya Vin's menggendong babynya. Namun dia tak akan pernah melakukan itu. Biarlah Nana bahagia dengan pilihannya.
Selang dua jam, ruang rawat Nana sudah penuh. semuanya melihat keadaan Nana dan Babynya. Nana bisa menerima semuanya setelah meminta maaf pada semuanta karena pergi begitu saja. Sedangkan semuanya sudah memaafkan Nana. Namun satu yang tak terlihat batang hidungnya. Yaitu Vin's. Vin's lebih memilih berada di luar menunggu fax dari Hans.
"Siapa nama baby nya Na?" tanya Ela.
"Emm... biar Jason aja yang memberinya nama, kan dia ayahnya." ucap Nana membuat semuanya menatap Jin-young kaget.
Jin-young yang ditatap seperti itupun bingung mau jawab gimana. Akhirnya dia hanya mengulus senyum pasi, dia bingung mau bagaimana berbicara dengan keluarganya. Padahal dia sendiri tahu bagaimana Vin's. Terlebih sampai sekarang Vin's belum berani masuk ke dalam. Hingga terdengar suara pintu dibuka. Mereka yang berada disana menatap Vin's dengan tatapan iba kecuali Nana yang menatapnya penuh kebencian. Rasanya untuk Vin's sudah benar-benar habis. Tak peduli bahwa kenyataannya Vin's adalah ayah dari anaknya. Tapi Vin's dengan melapangkan dadanya tersenyum menerima pandangan yang penuh kebencian dari Nana tersebut.
__ADS_1
"Cantik.." ucap Vin's saat pertama kali melihat baby yang sedang berada di gendongan Ela. Niat hati ingin menyentuh anak itu, namun tangannya terhenti ketika Nana berbicara.
"Jason, tolong kamu gendong anak kita." ucap Nana kepada Jason membuat Ela seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nana. Jin-young pun dengan berat hati mengambil baby dari pelukan Ela. "Jangan pernah kamu sentuh anakku." ucap Nana dengan sadisnya kepada Vin's.
Vin's bisa merasakan bagaimana sakitnya dia mendengar perkataan Nana. Namun dia mencoba untuk menguatkan hatinya, dia tersenyum lalu menyerahkan surat dari pengadilan untuk Nana. Mata Ela terbelalak melihat apa yang dilakukan oleh Vin's. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa Vin's akan menceraikan Nana.
"Kak, apa yang kakak lakukan? Kakak menceraikan Nana?" tanya Ela tak percaya.
"Nak... apa kamu yakin mau menceraikan Nana?" tanya Keysha.
"Pikirkan lagi nak. Kami tahu bagaimana perjuangan kamu untuk mencari Nana dan bagaimana kehilangannya kamu saat tahu Nana pergi." ucap Kevin.
"Aku yakin. Terlebih sudah ada Jin-young di samping Nana yang aku yakin tak akan menyakiti Nana." ucap Vin's membuat Jin-young menggelengkan kepalanya.
"Gak Vin's, gue salah udah cinta sama istri lo. dan saat ini, dipikiran gue bukan untuk mendapatkan Nana, melainkan membuatmu kembali dengan Nana." ucap Jin-young. Dia tak mau dianggap menjadi pengrusak hubungan sahabatnya sendiri.
Namun mata Vin's terfokus dengan Nana yang menandatangani surat itu. Vin's mengulum senyumnya. "Semuanya sudah berakhir sekarang saat aku bertemu dengan Nana. Semua kesalahanku tak pernah bisa termaafkan. Sekeras apapun aku menjelaskan, tak akan pernah dipercaya oleh Nana. Lagipula dihatinya sudah ada nama orang lain. Aku tak mungkin mengikat seseorang yang hatinya saja sudah menjadi milik orang lain. Lagipula aku sudah berjanji kepada Tuhan. Ini sudah akhir perjuanganku untuk bertahan dengannya. Aku tak pernah meminta Tuhan untuk membuat Nana kembali dalam pelukanku. Aku hanya minta kepada Tuhan untuk pertemukan aku dengan Nana satu kali saja. Setelah itu aku tak akan mengganggunya lagi. Tak akan mengusiknya lagi. Dan tak akan mengejar cintanya lagi meskipun dihatiku tak bisa menghapus namanya. Aku akan selamanya pergi dari hidupnya. Aku tak akan pernah muncul dihadapannya lagi." ucapan Vin's terdengar begitu menyayat hati. Namun Vin's terlihat tegar dengan berkata seperti itu sembari tersenyum.
Vin's mengambil surat itu dan dibawanya. Dia berpamitan sebelum pergi.
"Mama, Papa. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga putrimu." ucap Vin's kepada kedua mertuanya. "Aku tahu bahwa kalian menyayangiku seperti anak sendiri sejak kecil. Tapi aku mohon, Terima Jin-young sebagai menantu baru kalian. Aku akan senang mendengarnya." ucap Vin's lalu beralih ke kedua orang tuanya.
"Ayah, Bunda... makasih udah membesarkan Vin's. Maaf Vin's buat kalian malu dengan sifat Vin's. Setelah ini, Vin's akan pergi dan tak akan membuat kalian malu lagi." ucap Vin's kepada kedua orang tuanya.
"Dek... kamu yang harmonis ya dengan Yong Jin. Jangan sampai keluarga kalian menjadi seperti keluargaku yang hancur berantakan." ucap Vin's kepada Ela.
__ADS_1
"Dan kamu Jin-young, jaga Nana dan anaknya ya. Aku tak berhak mengaku bahwa bayi itu anakku. Karena aku tak ada ketika dia hamil dan melahirkan. Terimakasih sudah menjaga mereka penuh dengan kasih sayang. Dan untuk Nana.. semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu." ucap Vin's kepada Jin-young dan Nana.
"Pasti. Pastinya aku akan bahagia karena selama aku berada disisi Jin-young, aku bahkan lebih bahagia daripada saat aku berada di sisimu." ucap Nana dengan nada kasarnya.
"Baguslah kalau begitu. Aku pergi. Selamat tinggal semuanya." ucap Vin's lalu berlalu pergi meninggalkan semuanya tanpa peduli panggilan mereka.
Saat Ela, Yong Jin, Jin-young dan kedua orang tua Ela mengejarnya, Vin's berlari lebih cepat. Mobil yang sudah dia siapkan untuk pergi dari rumah sakit sudah menunggunya di bawah. Dengan cepat dia langsung masuk kedalam mobil itu dan langsung melaju dengan kencang sebelum semuanya bisa menyusulnya. Vin's pergi dengan airmata yang terus mengalir. Dia mencoba untuk mengikhlaskan, tapi hatinya terasa sakit meninggalkan semuanya. Bahkan saat dia melihat Bundanya jatuh terduduk dengan airmata. Dia rasanya ingin menghampiri Bundanya, namun jika dia menghampiri bundanya, dia akan merasakan berat untuk pergi dari hadapan mereka.
Sedangkan dia sudah berjanji untuk pergi dari kehidupan Nana. Dia tak akan bisa pergi dari kehidupan Nana jika dia masih berada di sekitar keluarganya yang pastinya akan sering berada di sekitar Nana. Dan yang pasti dia sangat sedih, saat dia mengingat anaknya. Untuk pertama kalinya dia melihat anaknya dari jarak dekat, dan itu mungkin akan menjadi yang terakhir dia melihat anaknya.
"Selamat tinggal anakku sayang, maafkan Ayah ya sayang. Ayah harus pergi. Kuharap kamu tidak tahu bahwa kamu mempunyai ayah kandung yang begitu b*j*ng*n. Ingatlah bahwa ayahmu hanya satu, yaitu Jin-young seorang. Meskipun begitu, kamu tetap menjadi anak ayah yang pertama dan satu-satunya. Ayah tak akan menikah lagi nak. Ayah tak mau kamu mempunyai saudara lain dari ibu yang berbeda. berbahagialah nak. Ayah selalu menyayangimu." ucap Vin's dalam hatinya dengan mantap.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.