Kisah Keysha

Kisah Keysha
S2. Distantly


__ADS_3

Semenjak kejadian itu hubungan Nana dan Jin-young semakin merenggang. Bahkan Nana sudah jarang sekali bermain ke teoko bunga milik Joanna. Gaun pernikahan yang di design oleh Nana untuk Cassie pun sudah Nana suruh asistennya mengantarkannya. Kini Nana hanya berdiam diri dirumah. Dia akan keluar setelah melihat Jin-young tak ada di rumah. Baru dia akan keluar.


Dia menghindari Jin-young karena tak ingin dikira memberikan harapan palsu. Dia juga tak ingin jika Jin-young mendekatinya hanya karena kasihan. Hari ini Nana tengah duduk di depan TV yang berada di ruang santai butik nya. Tiba-tiba ada iklan makanan dan Nana pun menginginkannya. Biasa hormon kehamilan.


"Uhh... pengen itu coklat." ucap Nana.


"Beli dong bos. Masak cuma bilang pengen." ucap asistennya.


"Ya udah kalau gitu kamu beliin sana." katanya.


"Lah kok saya bos? biasanya kan dibeliin sama Tuan Jason. Iya gak sis?" kata asistennya meminta dukungan dari karyawan yang lain.


"Bener bos. Biasanya Tuan Jason juga sering bawain bos makanan kan kalau lagi pengen?" ucap karyawannya yang lain.


"Udah deh gak usah bahas orang lain. Buruan selesaiin kerjanya. Jangan ngomong mulu." ucap Nana lalu berjalan menuju kamarnya.


Benar apa yang dikatakan oleh para karyawannya. Dia memang terlalu mengandalkan Jin-young selama ini. Bahkan dalam hal menurutinya sendiri saja dia tak bisa. Namun saat dia memikirkan tentang itu, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk.


"Bos.. ada paket." ucap asistennya.


Nana pun pergi keluar dan melihat paket yang terletak di meja kerjanya. Nana mengerutkan keningnya karena tak tahu paket dari siapa.


"Paket dari siapa ini?" tanya Nana.


"Gak tahu bos. Kurirnya gak bilang dari siapa. Bos habis belanja online kali bos." ucap Mita, asistennya.


"Benar bos. tadi saya yang menerimanya. Dan dia hanya bilang kalau pengirimnya tak menyebutkan namanya." ujar Valen. karyawan yang lainnya.


"Isinya apa ya? Valen kamu buka gih. Aku takut kalau bom buku." ucap Nana ngasal.


"Ahh bos mah kalau yang gak enak di kasih ke aku. Enaknya aja di makan sendiri. Awas ya kalau isinya makanan. Nanti aku harus di kasih ya bos." ujar Valen yang sebenarnya sedikit takut.


Pelan-pelan dia mendekati bingkisan itu. Namun saat tangannya hendak memegang bungkusan itu, tiba-tiba...

__ADS_1


Booommm!


"Ehh... bom ehh.. bom"


Valen kaget mendengar teriakan Mita yang mengagetkan nya. Sedangkan Mita dan Nana tertawa melihat Valen melonjak kaget. Namun mereka kembali tegang saat Valen mendekati bingkisan itu lagi. Nana sudah bersembunyi di balik tubuh Mita.


Perlahan namun pasti, Valen membuka bingkisan berbentuk kotak itu setelah sebelumnya menarik pitanya terlebih dahulu. Valen dengan perlahan menyingkap tutup kotaknya itu lalu melongok melihat isi dalam kotaknya. Valen membelalakkan matanya melihat isi dari kotak itu.


"Bos.. bos.. bos.." ucap Valen memanggil bos nya untuk mendekat.


Nana pun mendekati kotak itu setelah mendorong tubuh Mita untuk tetap berada di depannya. Nana melongo ketika melihat isi dalam kotak itu. Matanya berbinar dan langsung mengambil coklat itu.



Ya, isinya coklat yang sangat dia inginkan baru saja. Dia langsung mengambil satu dan melahap nya. Dia melahap nya tanpa berhenti. Dia begitu menginginkan coklat itu. Tanpa peduli dengan tatapan Valen dan Mita.


"Dasar ya bumil. Kayanya dulu aku gak sebegitunya deh pas hamil." ucap Valen yang notabene sebagai single parent anak satu.


"Nanti kamu juga akan tahu sendiri. Tak perlu bertanya nanti kamu akan merasakannya. Itu sudah kodratnya seorang wanita." ucap Valen.


"Tapi aku tak mau cepat-cepat menikah. Pengalaman kalian berdua membuatku takut untuk menikah." ucap Mita tiba-tiba.


"Ehh justru pengalaman kita ini untuk pelajaran kamu bukan malah untuk trauma kamu." ucap Valen tak Terima.


"Iya deh."


*


*


*


Disisi lain, Jin-young yang merasa puas akan hadiah yang dikirim untuk Nana pun tersenyum lebar. Ya dia yang mengirim coklat itu. Bagaimana Nana bisa tahu? Karena diam-diam Jin-young memasang CCTV yang juga bisa merekam keseharian Nana di butik. Namun tidak sampai dikamar Nana karena Jin-young juga belum pernah memasukinya.

__ADS_1


Jadi Jin-young tahu ketika Nana melihat iklan coklat. Melihat Nana yang selalu ingin memakan makanan yang dia inginkan dan harus saat itu juga, maka Jin-young inisiatif untuk membelikannya. Awalnya dia menunggu sampai Nana menelfon seperti biasa. Merengek untuk membelikannya makanan yang dia mau. Tapi mengingat hubungan mereka yang tengah renggang, membuat Jin-young harus memutar otaknya untuk tetap bisa menjaga dan menuruti apa yang di inginkan baby Nana yang masih di dalam perutnya.


Joanna dan Cassie kadang menyayangkan kerenggangan hubungan Jin-young dan Nana. Namun Joanna sendiri paham akan apa yang dirasakan oleh Nana. Dia paham sekali. Apalagi dia hamil tanpa suami. Suaminya pergi meninggalkannya. Mungkin itu yang membuat Nana menjadi enggan untuk membuka hatinya kembali.


Joanna sebenarnya menghargai pendapat Nana. Namun dia tidak menyangka bahwa Nana akan menjauh begitu kepada keluarganya. Dia tak pernah tahu bahwa endingnya akan seperti ini.


Apalagi Cassie yang juga sudah merasa dekat dengan Nana pun menjadi sedih karena Nana ikut cuek dan tak peduli kepadanya. Padahal Cassie sudah berharap bahwa Nana akan menjadi bagian dari keluarganya.


"Mau sampai kapan kamu akan seperti ini nak?" tanya Joanna kepada Jin-young yang terus memperhatikan apa yang sedang dilakukan Nana lewat layar komputer yang tersambung dengan CCTV yang berada di rumah Nana.


"Sampai dia benar-benar aman dan jatuh di pelukan orang yang benar-benar tepat dan mencintainya. Bisa menghargainya dan melindunginya." ucap Jin-young tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer.


"Apa kamu tidak ingin menjadi lelaki itu nak?" tanya Joanna lagi.


"Rasa ingin itu pasti selalu ada Eomma. Bahkan itu sudah berada sejak pertama kali aku bertemu dengannya dan jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Tapi aku tak mau egois. Dia sudah menolakku. Tak ada lagi harapan untukku memulai dengannya eomma. Hanya ini yang bisa ku lakukan. mencintainya dari jauh. Melindunginya diam-diam. Meski dia tak pernah bisa tahu apa yang aku lakukan." ucap Jin-young terlihat tegar.


Namun Joanna tahu, dalam perkataan itu ada perih di hati Jin-young. Dia sebagai ibunya tahu dan paham. Jin-young belum pernah sebegitu mencintai seorang gadis sampai seperti ini. Bahkan dari banyaknya gadis yang Jin-young kencani,belum pernah Joanna sampai melihat Jin-young yang segalau ini memikirkan wanita yang dia suka mencampakkan nya. Cintanya begitu tulus dan begitu besar bagi Nana.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2