Kisah Keysha

Kisah Keysha
S3. Trouble Maker Part 14


__ADS_3

San Francisco.


"Wah.... akhirnya setelah perjalanan panjang sampai juga gue. Hmm... mending istirahat di hotel dulu aja. Nanti sore baru jalan-jalan." ucap Chanyeol setelah mendarat di bandara internasional San Francisco.


Chanyeol melangkahkan kaki menuju hotel yang sudah ia pesan ketika berada di perjalanan. Untuk pertama kalinya dia pergi jauh seorang diri. Ternyata begitu mengasyikkan baginya. Dia membawa banyak uang cash di tasnya. Dia tak ingin orang tuanya tahu bahwa dia berada di luar negeri dengan melacak kartu ATM nya.


Setelah beristirahat sejenak di hotel, Chanyeol memutuskan untuk ber jalan-jalan sebentar. Dia akan mencari SIM besok saja karena ini juga sudah bukan jam kerja lagi. Dengan banyak pertimbangan, dia memutuskan untuk melihat rumah keluarganya yang berada di sini.


Chanyeol memakai pakaian serba hitam. Celana dan jaket kulit hitam, kaos dalam hitam dan juga topi hitam. Jangan lupa dengan kacamata hitam pula. Dia membawa tas kecilnya yang menyimpan banyak uang cash.


Chanyeol mengendarai taxi hingga sampai di rumah keluarganya. Namun dia tidak turun dari taxi melainkan melihat rumahnya itu dari jauh. Di kejauhan dia melihat Mamanya tengah menyiram halaman yang penuh dengan bunga. Ternyata Mamanya sudah pulang dari kantor. Namun pemandangan yang begitu menyesakkan dada terlihat dimatanya.


Chanyeol melihat kakak perempuannya yang ternyata tengah berada di San Francisco melendot tubuh Ela dengan penuh kehangatan. Bahkan mereka saling bercanda tawa dengan riang. Sampai ketika ada anak kecil yang menghampiri mereka. Anak kecil itu terlihat lusuh dan kumal. Chanyeol awalnya berpikir merasa kasihan karena pasti sebentar lagi dia akan di tendang oleh kakaknya itu. Namun ternyata apa yang dia duga tak sesuai dengan apa yang dilihatnya.


"Selamat sore Nyonya, bisakah anda membeli kembang gula ini?" tawar seorang anak kecil kepada Ela dan Minky.


"Ohh.. Hai dek, kamu jual kembang gula? berapa satu? ahh tidak, aku beli semuanya." ucap Minky dengan ramah.


"Apa nyonya bercanda?" tanya anak kecil itu tidak percaya.


"Tidak. Ini aku beli semuanya." ucap Minky.


"Wah makasih Nyonya. akhirnya aku bisa makan bersama kedua adikku. Makasih nyonya." ucap anak kecil itu.


"Sama-sama sayang." ucap Minky sambil mengelus dan mencium puncak kepada anak kecil itu dengan sayang.


Adegan itu dilihat dengan jelas oleh Chanyeol. Hati Chanyeol yang awalnya merasa kasihan kini dia merasa iri dengan anak kecil itu. Dia iri karena kakaknya bisa bersikap seperti itu, lembut dan penuh kasih sayang kepada orang lain. Tapi tidak terhadap adiknya sendiri. Chanyeol juga bisa melihat raut wajah Mama nya yang penuh dengan rasa kagum kepada kakaknya itu. Padahal selama ini dia juga menerima banyak penghargaan namun tak pernah mendapatkan ucapan selamat dari keluarganya.

__ADS_1


"Pak jalan pak." ucap Chanyeol kepada sopir taxi. Lalu mobil itu melaju kembali ke hotel. Chanyeol membayarnya setelah itu masuk ke dalam hotel.


Namun saat dia melewati restoran yang berada di hotel itu, Chanyeol melihat Papanya berada di sana tengah makan bersama orang lain yang mungkin klien prianya. Chanyeol pun memutuskan untuk makan di dekat meja Yong Jin dan dia memunggungi meja Yong Jin agar tidak ketahuan juga agar bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Papanya itu.


"Wah, Mister Park sungguh orang yang patut menjadi panutan. Usahanya meraja lela dimana saja. Bahkan hampir tiap negara pasti ada usahanya yang dirintis bersama sang adik dan istri." ucap salah satu koleganya.


"Ini semua juga berkat usaha kedua orang tuaku yang tak pernah lelah membangun semuanya dulu." ucap Yong Jin.


"Lalu, siapa yang akan meneruskannya? Bukankah anak kembar anda berbeda jurusan semua dengan bidang anda? Apa anak bungsu anda?" tanya salah satunya.


"Ank bungsu saya?" pertanyaan itu terlepas dari bibir Yong Jin. Chanyeol menantikan apa yang akan di jawab oleh Papanya itu ketika ditanya tentang anak bungsunya.


"Iya, bukankah selama ini anda selalu bilang anak bungsu anda tidak mau di publikasikan karena sibuk dengan belajar dan belajar agar bisa meneruskan perusahaan turun temurun anda?" kata seseorang yang dirasa Chanyeol duduk tepat berada di samping kanan Yong Jin.


"Ya anda benar. Tapi umurnya masih terlalu kecil untuk memegang perusahaan. Biarlah dia menjalani masa mudanya dengan bahagia dulu." ucapan Yong Jin yang di dengar di telinga Chanyeol membuat nya ingin muntah.


"Meskipun tidak sering bertemu hubungan kita baik. Kita selalu meluangkan waktu untuk anak bungsu ku. Kita pergi berwisata bersama, makan malam dan melakukan hal yang indah layaknya ayah dan anak pada umumnya. Dia bahkan lebih jago bermain golf daripada diriku." ucap Yong Jin menyombongkan Chanyeol. Padahal keadaan yang sebenarnya begitu terbalik.


"Wah, andai aku memiliki anak perempuan, akan ku jodohkan dia dengan salah satu anak lelaki anda Mister."


Chanyeol yang sudah tak kuat mendengar ucapan bohong Papanya itu memilih pergi dari sana. Dia sudah tak tahan dengan apa yang di katakan oleh Papanya tersebut.


*


*


*

__ADS_1


Pagi harinya, Chanyeol melakukan hal utama yang membuatnya berada di sini. Yakni membuat SIM mengemudi. Dengan semangat dia datang ke tempat membuat SIM.


Tak butuh waktu lama dia membuatnya. Chanyeol tersenyum puas ketika dia sudah menerima SIM yang di inginkan. Chanyeol langsung kembali ke hotel dan bermania dengan kasurnya.


"Kali ini gue bingung mau ngapain. Gue kangen sama anak-anak. Andai gue kesini bareng sama anak-anak pasti ruangan ini akan menjadi ramai dan tidak membosankan seperti ini. Ahh lebih baik aku berkemas dan segera pulang ke Korea saja. Aku juga merindukan masakan Bibi." gumam Chanyeol pada dirinya sendiri.


Chanyeol lalu bangkit dan segera mengemas pakaiannya. Sebenarnya dia masih ingin disini dan berjalan-jalan. Namun karena dia merasa bosan hanya. liburan sendiri akhirnya dia memutuskan untuk pulang saja ke Korea bertemu dengan sahabat dan juga Bibi di rumah yang menunggunya.


Chanyeol juga merindukan sosok Gladis yang diam-diam sudah mempunyai tempat di hatinya itu. Hanya mengingat senyumnya saja Chanyeol sudah merasakan amat rindu dengan gadis itu. Chanyeol tersenyum sendiri jika mengingat Gladis.


"Hais... kenapa aku rindu sekali pada gadis itu. Sedang apakah dia?" tanya Chanyeol pada dirinya sendiri.


Dia menatap langit siang di San Francisco. Sebentar lagi dia akan terbang kembali ke Korea. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Gladis. Gadis yang sudah menempatkan dirinya pada indahnya jatuh cinta yang pertama. Ahh tidak, jatuh cinta keduanya. Dia bahkan tidak bisa melupakan cinta pertamanya walaupun dia tak bisa menemukannya lagi.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2