
"Orang tua? Orang tua anda bilang? Sekarang saya tanya, apakah yang di sebut dengan orang tua itu mereka yang lebih menomor satukan pekerjaannya daripada keluarganya?" ucap Chanyeol dengan nada yang sinis.
"Apa maksud kamu? Kami lakukan ini juga untuk masa depan kamu." kata Yong Jin tak kalah kerasnya dengan suara Chanyeol.
"Kita ini sudah kaya. Untuk apa kalian menimbun banyak uang. Apa kurang cukup kekayaan kita selama ini? Anak kalian yang dia sudah menjadi orang yang terkenal di dunia. Kekayaan dari dua keluarga yang sudah kalian kumpulkan apa kurang cukup? Bahkan kekayaan itu tak akan habis untuk tujuh turunan. Jika aku mau menghamburkan nya dalam semalam pun tak akan pernah habis. Asal kalian tahu, aku tak pernah meminta uang yang banyak. Aku tak pernah meminta hadiah yang mewah dari kalian. aku hanya minta kasih sayang dan waktu dari kalian. Bukan malah seperti ini. Kami bukan bank yang setiap hari hanya menerima setoran uang dari kalian. Tapi kami juga butuh kasih sayang. Apa kalian sadar bahwa kalian yang mengaku sebagai orang tua, justru kalianlah orang terakhir yang tahu tentang keadaanku dan kak Yura." ucap Chanyeol mengeluarkan apa yang selama ini dia pendam dan ingin katakan kepada orang tuanya.
Untuk pertama kalinya Yong Jin tidak menjawab perkataan anaknya itu. Untuk pertama kalinya Yong Jin merasa kalah dengan anaknya. Dia hanya diam setelah mendengar perkataan anaknya. Karena jujur, hatinya membenarkan apa yang Chanyeol katakan barusan. Selama ini dia memang kurang memperhatikan Chanyeol dan Yura. Mereka bagaikan anak tirinya. Sedangkan Minky dan Junnie selalu ia banggakan.
Apalagi tentang hal yang bersangkutan dengan Chanyeol dan Yura, Ela dan Yong Jin akan menjadi orang terakhir yang tahu. Itupun bukan dari bibir anak mereka melainkan dari Jin-young atau Yuna. Bukan karena Chanyeol atau Yura tidak memberitahu mereka, tapi mereka selalu menganggap omongan Chanyeol dan Yura hanyalah angin lalu. Ela dan Yong Jin, terutama Yong Jin selalu mengesampingkan apa yang di sampaikan oleh mereka berdua. Dan pada akhirnya Jin-young dan Yuna sebagai pengingat mereka.
Seperti saat Yura akan menikah dua tahun yang lalu. Yong Jin marah besar kepada Yura karena Yura mengatakan bahwa dia akan menikah seminggu kemudian. Orang tua mana yang tak marah kalau anaknya baru memberitahu tentang pernikahan mereka di saat waktu sudah mepet. Namun Yura hanya diam saja karena sebenarnya hampir tiap minggu jika ada kesempatan berbicara dengan Yong Jin, Yura selalu mengatakan tanggal. berapa dia menikah dan tinggal. berapa hari dia menikah. Tapi lagi-lagi Yong Jin mengesampingkan omongan Yura. Sampai akhirnya tinggal waktu seminggu Yura memberitahunya, dia marah-marah karena harus membatalkan semua janjinya sepuluh hari ke depan. Tapi di akhir cerita, Jin-young memarahi Yong Jin karena itu bukan salah Yura melainkan salahnya sendiri yang tak pernah mengingat apa yang di katakan oleh anaknya.
Kali ini Yong Jin melihat sendiri bahwa Chanyeol tengah kecewa. Yong Jin bisa melihat itu dari mata Chanyeol yang menatapnya dengan tanam dan dalam. Tak ada keramahan pada tatapan itu. Yong Jin bahkan merasa di tatap oleh seorang musuh. Bukan di tatap oleh seorang anak. Sedangkan Ela sendiri hanya menunduk karena tak sanggup menatap mata anaknya yang tengah menahan amarah itu. Ela terus menangis sambil menunduk.
Setelah perdebatan tadi, mereka berempat kembali duduk bersama di bangku panjang. Namun keheningan menyelimuti mereka. Tak ada perbincangan sama sekali. Semuanya kembali pada pikiran masing-masing. Semuanya hanya diam saja sampai fokus mereka teralihkan oleh dokter yang menangani Yura keluar dari ruangan itu. Ela dan Yong Jin pun bangun dari duduknya. Mengikuti Yohan yang sudah lebih dulu bangun untuk bertanya dengan dokter itu.
"Dok, bagaimana dengan istri saya? Apakah ada kemajuan?" tanya Yohan. Yohan selalu berharap dokter itu membawa kabar baik tentang Yura nya.
"Maafkan saya tuan, tapi istri anda masih belum ada perkembangan. Justru saya merasakan bahwa tubuh istri anda sudah semakin lemah. Tidak adanya kekuatan untuk bertahan hidup." ucap dokter dengan perasaan yang berat karena harus berbicara seperti itu di hadapan pasien.
"Apakah... Yura tidak akan sembuh dok?" Tanya Ela. Namun dokter itu bukannya menjawab justru malah membenarkan kacamatanya lalu menatap Ela dengan intens.
"Tuan Park? Nyonya Lin? Apa kabar?" sapa dokter itu kepada Ela dan Yong Jin.
__ADS_1
"Dokter Wu?" ucap Ela ketika mengetahui siapa dokter yang menangani anaknya itu. Meskipun dokter Wu terlihat lebih tua dari delapan belas tahun yang lalu ketika ia menjadi dokter untuk Woodz.
"Apakah pasien di dalam merupakan keluarga kalian?" tanya dokter Wu.
"Benar dok. Apakah anda masih ingat kakak saya?" tanya Ela.
"Tentu, dia pasien pertama saya dalam kasus kanker pankreas." ucap dokter Wu.
"Dia adalah anaknya." kata Ela sambil menunjuk ke arah Yura yang terbaring di dalam.
"Sungguh? Benarkah dia anak dari tuan Woodz? Lalu siapa istri tuan Woodz?" tanya Dokter Wu.
"Benar dok dia anak kakak saya. Istrinya itu Nana. Orang yang mendapatkan donor mata dari kakak saya. Namun mereka sudah bercerai enam tahun sebelum kejadian itu." ucap Ela membuat dokter Wu kaget.
"Apakah benar kalau Yura tidak akan bisa sembuh dok?" tanya Yong Jin.
"Kami selalu para dokter akan berusaha. Namun jujur saja, saya merasakan kalau tubuhnya semakin hari semakin lemas. Bahkan menurut saya, kondisi Yura kali ini lebih parah di bandingkan dengan ayahnya dulu." ucap Dokter Wu.
"Paa maksud dokter pasien pertama dalam kasus ini adalah Uncel saya, uncle Woodz?" tanya Chanyeol.
"Betul sekali. Ayahnya merupakan pasien pertamaku yang mengidap kanker pankreas. Dan setelah itu, aku sekalipun belum pernah menemukannya lagi. Aku menemukannya lagi setelah delapan belas tahun dan itu ad apada Yura, anaknya. Sungguh dunia yang penuh dengan tanda tanya." jelas Dokter Wu.
"Tapi apakah benar kalau istri saya akan meninggal dan tak akan sembuh?" tanya Yohan.
__ADS_1
"Berdoalah. Serahkan saja semuanya pada sang Pencipta. Kalau memang ini merupakan mukjizat, maka sebentar lagi orang yang berada di bangku itu akan mendapatkan mukjizat." ucap dokter itu.
Yohan kembali duduk karena tak sanggup mendengar perkataan dokter Wu tadi. Yohan selalu berharap bahwa istrinya harus sembuh meskipun Yura harus bangun dari komanya dua puluh tahun lagi maka dia akan menunggu. Namun dia tak akan menunggu untuk sebuah perpisahan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.