Kisah Keysha

Kisah Keysha
S2. Park Jin-young And Yuna Scene 11


__ADS_3

Jin-young dan Yuna sudah pergi menggunakan mobil Jin-young. Yuna tidak tahu bahwa Jin-young akan membawanya pergi bukan ke kantor tapi ke tempat lain. Yuna baru sadar ketika mobil mereka berjalan di pesisir pantai dan berhenti disana.


"ayo turun." ajak Jin-young.


Yuna masih terpaku ketika mendapati mereka bukannya ke kantor tapi malah ke pantai. Bahkan Yuna masih tidak bergeming ketika Jin-young membukakan pintu untuknya. Yuna tersadar ketika Jin-young yang tidak sabar sudah menggendong Yuna dan membawanya ke bibir pantai lalu menjatuhkannya ke dalam air.


"Ya! Oppa...." teriak Yuna ketika mendapati tubuhnya sudah basah.


"Hahaha... kena kan. Makanya jangan ngelamun kalau aku ajak bicara." ucap Jin-young sambil terus menyipratkan air ke wajah Yuna.


"Oppa berhenti.. baju kita basah. Gimana nanti kita ke kantornya." ucap Yuna.


"Aku memang sengaja tidak ingin membawa kamu ke kantor. Aku masih ingin mengajakmu jalan-jalan." ucap Jin-young membuat Yuna berdiri dan terpaku.


"Berarti oppa membohongi eomma dan juga Bo Reum eonni?" ucap Yuna.


"Anak pinter." kata Jin-young sambil mengusap rambut Yuna jadi semakin tambah amburadul.


"Ya! Kesini kamu lelaki nakal." ucap Yuna sambil terus mengejar Jin-young.


Sedangkan Jin-young terus berlari menghindari kejaran Yuna. Mereka bermain kejar kejaran. Saat mereka sudah merasakan lelah mereka duduk di pasir dan saling bersandar dengan punggung mereka satu sama lain.


"Oppa.." panggil Yuna memecah keheningan diantara mereka.


"Hmm..."


"Gomawo." kata Yuna membuat Jin-young yang tadi menutup mata menjadi membuka matanya dan duduk tegak lalu melihat ke arah Yuna.


"Untuk?" tanya Jin-young.

__ADS_1


"Semuanya. Oppa sudah memberi semuanya kepada aku dan ayah. Semuanya yang telah membuat ayah tersenyum bahagia." ucap Yuna.


"Apa hanya ayah yang bahagia? kamu tidak?"


"Melihat ayah bahagia, itulah yang membuat aku ikut bahagia. Oppa sudah mewujudkan impian ayah untuk memiliki sebuah cafe. Oppa sudah memberiku uang banyak seperti yang dulu aku impikan. Aku selalu bermimpi terbangun di pagi hari tanpa memikirkan kemana aku mencari uang untuk makan besok. Makasih oppa. Berkat oppa, aku bisa membuat ayah makan enak. Tidak melulu makan ramyeon murah di usia tuanya." ucap Yuna dengan berkaca-kaca. Dia mengusap matanya agar air mata nya tak turun lalu melanjutkan perkataannya. "Dan hari ini, aku berterimakasih kepada Oppa karena sudah membawaku ke tempat seindah ini. Jujur, karena keterbatasan biaya, aku tak pernah pergi kemanapun selain rumah, sekolah dan tempat kerja. Sekarang aku bisa melihat indahnya pantai luar negeri seperti yang teman-temanku bicarakan. Aku bisa merasakan naik mobil, bisa merasakan naik pesawat, melihat indahnya daratan dan lautan dari atas sana. Makasih ya Oppa." ucap Yuna tulus dari dalam hatinya.


Jin-young yang mendengar ungkapan yang dikatakan oleh Yuna, Jin-young merasa hangat. Hal yang begitu wajar dia lakukan, justru menjadi hal yang amat berarti bagi Yuna. Dia bahkan kadang berasa bosan karena harus berada di dalam pesawat. Mungkin sepertiga hidupnya dia habiskan di dalam kendaraan. Tapi itu justru membuat Yuna merasa bahagia.


"Jadi aku orang yang membawamu ke pantai pertama kali? Benarkah?" tanya Jin-young.


"Benar. dan aku bersyukur sekali memiliki suami seperti oppa. Awalnya aku pikir oppa itu orangnya pedofil karena menikahi anak kecil. Ternyata bukan. hehe." ucap Yuna sambil mengangkat simbol V yang dia buat dengan dua jarinya.


"Aku memang pedofil. Nyatanya semalam aku melakukan itu. Tapi kamu meresponnya." ucap Jin-young seketika membuat Yuna malu.


"Oppa, jangan di bicarakan lagi. Aku malu oppa." ucap Yuna. "Lagian ini di tempat umum, bisa-bisanya Oppa bilang seperti itu kepadaku." lanjutnya sambil menutup wajahnya yang ia yakini pasti sudah seperti kepiting rebus.


"Kenapa di tutupi wajahnya. Pasti cantik kalau lagi merona." ucap Jin-young menggoda.


"Belum ada sejarahnya orang mati karena malu. Kamu itu ada ada aja. Sudah ayo ganti baju allu cari makan." ucap Jin-young.


"Ganti baju? Aku gak bawa baju Oppa." ucap Yuna mengikuti langkah kaki Jin-young kearah mobil lalu membawa paper bag di tangannya dan berjalan menuju sebuah villa kecil yang sudah dia pesan tadi sebelum berangkat.


"Aku bawakan baju untuk kamu. Jadi selama baju itu di cuci lalu di keringkan, kamu ganti pakai ini dulu jadi nanti saat pulang kamu tetap bisa pakai baju ini agar orang rumah tidak curiga." ucap Jin-young.


"Kalau gitu aku mandi dulu ya Oppa." ucap Yuna mengambil paper bag yang tadi diberikan oleh Jin-young.


"Kenapa tidak mandi bersama aja?" ucap Jin-young dengan mesumnya.


"Emm.. ti-tidak." ucap Yuna lalu berlari ke dalam kamar mandi dan langsung menguncinya.

__ADS_1


Namun dia tidak tahu kalau di samping kamar mandi ada walk in closet yang terhubung dengan kamar tidur. Yang artinya Jin-young memasuki walk in closet itu lalu membuka pintu kamar mandinya. Yuna pun terpekik kaget saat melihat Jin-young berada di dalam kamar mandinya ketika berbalik.


"Ya! Oppa.. bagaimana kamu bisa masuk?" tanya Yuna merapikan kembali pakaiannya yang tadi sempat dia buka.


"Lewat situ." ucap Jin-young sambil menunjukkan pintu lain yang dimaksudnya. "Lagipula semalam aku sudah melihat semuanya sayang, jadi releks saja ya. jangan malu gitu kenapa sih." ucap Jin-young yang pada akhirnya Yuna hanya pasrah saja.


"Baiklah, aku pasrah saja. Lagian tak ada gunanya untuk menolak." gumam Yuna.


Dengan berat hati Yuna segera melepas pakaiannya dan segera berjalan kearah shower di ikuti oleh Jin-young yang juga sudah melepaskan semuanya. Awalnya kondisi masih biasa saja, hanya pelukan yang di berikan oleh Jin-young. Namun lama kelamaan tangan Jin-young menjalar kemana-mana dan Jin-young pun memulai hal yang baru saja mereka lakukan semalam. Naif jika Yuna tak menyukainya. Justru Yuna seperti berperan lebih aktif ketika Jin-young mendudukkan tubuhnya pada closet yang tertutup. Yuna dengan panasnya menaik turunkan tubuhnya di hadapan Jin-young. Mereka melakukan itu sepanjang siang sampai sampai mereka lupa untuk makan siang dan baru kerasa lapar ketika sore hari Yuna terbangun di atas kasur.


"Oppa, aku lapar." ucap Yuna membangunkan Jin-young yang masih terlelap di sampingnya.


"Kamu mau makan apa? kurasa makanannya akan sampai bersamaan dengan laundry kilat pakaian kita." ucap Jin-young sambil merapikan bathrope yang dipakainya.


"Emm.. apa aja yang penting bisa memenuhi perutku. Perutku sudah berdemo Oppa." ucap Yuna sambil duduk dan menutupi tubuh polosnya dengan handuk.


"Baiklah baby kecil. Kita akan makan makanan yang enak. Tunggu ya." ucap Jin-young dengan penuh sayang membuat Yuna tersenyum begitu manisnya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2