
"Cie yang dilihatin terus. Awas tu mata nanti copot." goda Han Sung.
"Apa sih lo." ucap Chanyeol yang gugup karena ketahuan oleh Han Sung bahwa dia tengah melihat Gladis dari lantai dua sekolahnya. Sedangkan Gladis tengah bercanda di bangku taman bawah bersama temannya.
Entah kenapa bagi Chanyeol melihat tawa Gladis membuatnya menjadi lebih nyaman. Dia bisa melupakan semua masalah pada keluarganya. Dia merupakan obat bagi segala masalah untuk Chanyeol.
"Ternyata seorang Chanyeol bisa gugup juga ya kalau kepergok lagi ngelihatin gadis." ucap Han Sung. Namun tangan Chanyeol segera menutup mulut ember Han Sung itu.
"Bisa diem gak lo." ucap Chanyeol.
"Habis lo lucu. Baru kali ini gue lihat lo bisa se salting ini sama cewek. Biasanya lo kagak kaya gini. Bahkan dengan sederet mantan lo itu." ucap Han Sung.
"Alah lo juga sama nanti kalau lo ketemu sama cewek yang lo cinta." ucap Chanyeol.
"Wah.. berarti lo ngaku dong kalo lo lagi jatuh cinta?" kata Han Sung yang merasa bahwa Chanyeol terkena jebakannya.
"ng... ng... auk ahh.. gue mau ke kantin aja." ucap Chanyeol pergi untuk tidak kembali dengan pembicaraan yang membuatnya jatuh ke dalam perangkap Han Sung.
Namun sesuai dugaan Han Sung, Chanyeol tak akan pergi ke kantin. Justru Chanyeol akan semakin mendekatkan posisi dirinya untuk melihat Gladis lebih dekat lagi. Dan benar saja. Chanyeol tengah duduk di kursi yang berdekatan dengan meja Gladis dan teman-temannya. Dia berpura-pura sibuk dengan ponselnya padahal dia mencuri gambar Gladis.
"Dasar bucin." ucap Han Sung yang melihatnya dari lantai atas.
*
*
*
Satu minggu berlalu. Chanyeol melalui hari dengan tenang seperti biasa. Walaupun tak ada kabar satupun dari keluarganya. Bahkan Ela juga tak memberinya selamat di hari ulang tahunnya. Sampai semua keluarganya pulang di malam ini. Namun orang tua Chanyeol membawa seseorang yang tak asing di mata Chanyeol.
"Chanyeol sini nak." kata Ela dengan lembut.
Dengan malas dan acuh, Chanyeol mendekat ke arah mereka dan seorang gadis yang memakai celana panjang serta lengan panjang itu menundukkan kepalanya.
"Nak, kenalin. kamu pasti ingat dia. Dia gadis yang waktu kecil sering main denganmu. Sekarang sudah besar dan cantik." ucap Ela.
Chanyeol sedikit mengingat kembali gadis yang mencuri hatinya untuk pertama kali. Teman masa kecilnya yang dulu selalu bermain dengannya. Namun dia merasa asing dengan gadis itu. Bukan perasaan yang familiar yang seharusnya dia dapatkan.
"Ayo nak. Dia Chanyeol. yang dulu sering main denganmu. Dia dulu selalu memanggilmu...." ucapan Ela terpotong.
"Gadis tteokbokki, karena aku suka sekali dengan tteokbokki. Dan kemana-mana selalu membawanya." ucap gadis itu yang langsung mengangkat kepalanya menatap Chanyeol. Gadis itu tersenyum namun Chanyeol memperlihatkan reaksi kagetnya.
__ADS_1
"Zie?" ucap Chanyeol yang melihat gadis di depannya itu Zie. Gadis berambut pirang, si anak baru nya di sekolah.
"Syukurlah kalau kamu sudah mengenalnya. Dia gadis yang dulu sering main bersamamu sebelum dia pindah bersama keluarganya. Mulai hari ini dia akan tinggal disini bersama kamu. Kamu harus bersikap baik dengannya." ucap Yong Jin tegas.
"Kenapa dia tinggal di sini? Bukankah dia ada keluarganya disini?" ucap Chanyeol tak suka karena perasaannya kepada Zie, begitu berbeda terhadap gadis tteokbokki yang dulu dikenalnya ketika kecil. Hatinya terus menyangkal bahwa dia gadis itu.
"Karena mulai hari ini dia akan menjadi tunangan kamu. Jadi kamu tak bisa seenaknya berlaku di rumah ini." ucap Yong Jin.
"Tunangan? Di umurku yang baru segini Papa bilang aku sudah bertunangan dengan Zie? Apa Papa gila?" ucap Chanyeol.
"Kenapa tidak? Bahkan menikahkan kalian besok saja Papa bisa." ucap Yong Jin.
"Pa, aku sudah bukan anak kecil lagi. Aku sudah bisa memilih jalanku sendiri. Dan untuk apa Papa sama Mama mencari dia lagi kalau hanya untuk di jadikan sebagai istri CCTV ku. Itu kan tujuan Papa?" ucap Chanyeol yang masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Yong Jin.
"Kamu tak bisa menolaknya. Bagaimanapun kalian sudah bertunangan mulai hari ini. Dan kalian akan menikah nantinya. Papa tak ingin mendengar kamu menikah dengan gadis yang tak jelas bibit bebet bobotnya." ucap Yong Jin.
"Lagian nak, kamu kan juga sudah mengenal Zie dari kecil. Kalian dulu juga begitu dekat. tidak lah sulit untuk mencintainya lagi seperti dulu." ucap Ela.
"Terserah kalian. Disini aku memang bukanlah anak. Tapi hanya sebagai boneka kalian. Kalian benar-benar tidak mempunyai perasaan." ucap Chanyeol lalu pergi meninggalkan mereka bertiga di ruang keluarga. Dia masuk ke slama kamar lalu mengunci pintunya.
"Zie, maafkan Chanyeol ya. Kamar kamu di sana. Kamu bisa tidur disana mulai sekarang." ucap Ela lembut.
"Makasih Ma." jawab Zie lalu membawa kopernya masuk ke dalam kamar itu.
"Setidaknya harus ada satu kelemahan Chanyeol yang bisa membuat Chanyeol bertekuk lutut dengan kita Ma." ucap Yong Jin.
"Tapi kan selama ini kita yang udah tanpa sengaja membuatnya tumbuh menjadi seperti itu." ucap Ela mengingatkan Yong Jin..
"Tapi kita seperti ini juga untuk mencukupi kebutuhan nya agar tidak seperti anak di luar sana yang serba kekurangan. Sudah lah ma, nanti kalau anaknya menjadi penurut itu juga bagus untuk Mama." ucap Yong Jin menyelesaikan debatnya dengan Ela.
Chanyeol yang merasa emosi dan gerah dengan suasana langsung melompat ke balkon kamar Han Sung. Dia masuk tanpa permisi dan mengagetkan Han Sung yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ya! gue kira hantu tahu gak lo. Ada apa lo? Kenapa muka lo kucel amat." ucap Han Sung melihat wajah Chanyeol yang tak seperti biasanya. Ini pasti ada suatu masalah yang mungkin juga masalah besar.
"Kayanya gue makin gila kalau tetap di keluarga Park." ucap Chanyeol.
"Emangnya ada apa sih?" tanya Han Sung yang sudah memakai pakaiannya.
"Lo tahu gak, bokap nyokap gue pulang bawa cewek. Nyokap gue bilang kalau cewek itu gadis yang dulu sering bermain sama gue. Gadis cinta pertama gue waktu kecil. Lo ingat kan gadis tteokbokki yang pernah gue ceritain. Nah kata Nyokap gue, tu cewek gadis tteokbokki itu." ucap Chanyeol.
"Ya bagus dong. Artinya lo gak susah susah cari lagi." ucap Han Sung.
__ADS_1
"Tapi anehnya kenapa mendadak gitu lho Hans. Masak mereka bilang, mulai hari ini dia tinggal bareng gue di rumah. Dia juga mulai hari ini menjadi tunangan gue coba Hans. Apa gak aneh tuh." ucap Chanyeol.
"Serius lo? Terus tu cewek cantik gak.?" tanya Han Sung.
"Kalau lo tahu siapa tuh cewek pasti lo bakal kaget Hans." ucap Chanyeol mengingat Han Sung juga kenal dengan Zie.
"Gimana-gimana. ceweknya jelek?" tebak Han Sung.
"Ceweknya itu..... Zie. anak baru di kelas kita." jawab Chanyeol.
"HAH, SERIUS LO!" teriak Han Sung tak percaya.
"Serius gue. Mana ada gue bohong sama lo." ucap Chanyeol.
"Ada, waktu lo bikin SIM itu bohong, waktu lo yang sekarang suka sama Gladis juga bohong. Ehh.. ngomongin Gladis, apa kabar jadinya jika lo udah di tunangin?" tanya Han Sung tiba-tiba membuat Chanyeol meremas rambutnya.
"Ini nih yang bikin gue bingung. Disisi lain gue masih gak percaya kalau Zie, gadis tteokbokki gue dulu udah balik. Tapi di sisi lain gue juga bingung kalau dia beneran gadis tteokbokki gue, apa kabar sama cinta gue ke Gladis?" ucap Chanyeol yang merasa frustasi.
"Padahal lo belom nyatain cinta lo ke Gladsi. Coba kalau lo udah pacaran sama Gladis, nah makin pusing deh lo." kata Han Sung.
"Nah itu dia. Gue sebenarnya ada niatan mau nembak dia waktu kemah musim panas nanti. Kalau ada Zie, mana bisa gue dapetin Gladis." ucap Chanyeol yang ternyata sudah memikirkan apa yang ingin dia lakukan dengan sang gadis pujaan nanti di kemah musim panas yang sebentar lagi akan berlangsung.
"Nanti kita pikirkan bersama. Gue bantu lo." ucap Han Sung.
"Thanks bro. Lo memang sobat gue yang paling the best deh."
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.