Kisah Keysha

Kisah Keysha
S2. Long Distance Relationship


__ADS_3

Ney York City, waktu setempat.


"Sayang, ayo sarapan. makanannya udah siap." ucap Nana memanggil suaminya yang masih di lantai atas. Sedangkan orang tua mereka baru saja terbang ke Finlandia karena urusan yang mendadak.


Sebenarnya Nyonya Kim enggan meninggalkan anaknya. Namun Nana menyakinkan ibunya agar tidak perlu khawatir tentang dirinya. Toh disini juga ada Vin's yang melindunginya.


"Pagi sayang..." ucap Vin's dengan suara khas bangun tidurnya.


"Pagi juga sayang. udah sikat gigi kan?" tanya Nana yang selalu mengingatkan suaminya itu untuk sikat gigi terlebih dahulu meskipun malas mandi pagi.


"Hiiii..." ucap Vin's memamerkan gigi putih bersihnya.


"Good boy. ya udah makan gih. Mau nasi goreng, sandwich atau roti bakar?" tanya Nana.


"Nasi goreng aja." ucap Vin's.


Sebenarnya aneh ya di negara barat makan nasi goreng, tapi karena mereka terlahir di Korea, maka nasi goreng tak pernah lepas dari menu sarapan sehari-hari. Bahkan mereka masih sering makan kimbap. Dan bisa dipastikan bahwa mereka membuat sendiri untuk makanan Korea. Karena disini jika ingin mencari restoran Korea, harus bayar mahal. Dan itu membuat jiwa pelitnya Vin's meronta.


"Sayang, kemarin kamu jadinya belikan apa buat baby twins?" tanya Nana.


"Beliin mobil." jawab Vin's singkat sambil mengunyah nasi goreng nya.


"Bukan mobil murah kan yang?" tanya Nana yang tahu bahwa suaminya itu orang kaya paling pelit yang dia kenal.


"Gak lah sayang. Aku belikan baby twins Alphard." ucap Vin's membuat mata Nana melotot.


"Sayang, kan aku udah bilang, belikan Ferrari aja. kenapa belikan Alphard sih." ucap Nana jengkel.


"Kemahalan sayang. Toh mereka masih kecil ini. Kalau belikan Ferrari mah itu buat orang tuanya bukan buat anaknya." ucap Vin's menanggapi Nana dengan sistem pelit mode on.


"Tapi kan kalau Alphard, mau ditaruh dimana muka kita, ngasih kado anak penerus keluarga Park cuma mobil Alphard. Kak Jin kerja satu menit udah dapat itu sayang. Hais...." terdengar helaan nafas Nana yang tak suka dengan sifat Vin's yang kelewat pelit.


"Biarin ajalah. Toh ya sayang, kalau di belikan Ferrari, mobil sport kan kebanyakan cuma kursi dua tuh. Kalaupun ada yang kursi empat, itu mobil pasti terbuka bagian atasnya. Kan kasihan baby kena polusi. Mending Alphard aja yang. Terjamin keamanannya dari polusi. mobil family." bela Vin's yang terus ngotot kepada Nana.


"Ya udah deh kalau begitu terserah kamu aja yang. Tapi, sini kartu black card nya." ucap Nana meminta black card milik Vin's. Vin's pun menyerahkannya.


"Mau beli apa sayang?"

__ADS_1


"Mau beli berlian buat baby twins." ucap Nana beranjak pergi dari meja makan membuat Vin's mengejar Nana.


"Yah yah yah sayang... oke oke aku minta maaf. gak akan aku ulangi lagi. Tapi tolong jangan beli berlian lagi sayang... berlian kemarin yang ulang tahunnya Bunda harganya udah selangit sayang. aku belum balikin kekosongan nya di rekening." ucap Vin's memohon.


"Bodo amat. Lagian ya Vin's, uang mu udah banyak. Sepuluh persen uangmu di rekening ini itu, bisa dipakai buat beli seluruh pulau Maldives tahu gak. Kalau gak dihabisin oleh istri mau buat apa kamu?" ucap Nana dengan entengnya.


"Tapi aku mohon sayang...."


"Oke, aku kembaliin black card kamu. Tapi siniin HP kamu." ucap Nana meminta barter dengan HP nya.


"Ini sayang...." ucap Vin's memberikan HP nya dan mengambil kembali black card miliknya. "untung kamu kembali baby." ucap Vin's mencium black card nya.


"Nih aku kembaliin." ucap Nana setelah beberapa saat melihat HP Vin's lalu di kembalikan.


"Loh kok udah sayang. Buat apa barusan?" tanya Vin's.


"Cuma buat transfer sembilan puluh persen uang yang ada di rekening kamu menjadi di rekeningku." ucap Nana enteng.


"Ohh transfer uang, sembilan puluh persen ya.. sembilan puluh persen.. sembilan puluh persen.. HA! SEMBILAN PULUH PERSEN?!.... gubrak.." Vin's terjauh pingsan di depan kamar Nana.


*


*


*


Beberapa hari berlalu, semenjak kejadian itu, Vin's tidak lagi memperdulikan perihal saldo rekening yang diambil paksa oleh Nana. Karena dia sudah melapangkan dada, toh itu untuk istri tercintanya. Dan rekeningnya pun gak terkuras habis.


Hari ini Vin's bersiap untuk ke San Francisco, dia berkemas memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper berukuran sedang miliknya. Nana juga ikut membantu membawa bekal masakan untuk Vin's yang sekiranya bisa di awet kan di kulkas dan jika ingin makan tinggal memasaknya.


"Sayang, bener nih aku gak ikut gak papa?" ucap Nana mengantar kepergian suaminya.


"Udah sayang. Gak papa. Kamu disini aja. lagian kamu kan masih terus medical check up. Nanti kalau kamu ikut aku ke San Francisco, kamu akan kecapaian. Lebih baik kamu disini aja sama Mama." ucap Vin's.


"Iya deh. Tapi bener ya disana cuma tiga hari?" rengek Nana yang enggan ditinggal suaminya.


"Iya sayang, bener cuma tiga hari. Nanti sampai disana aku akan langsung telfon kamu." ucap Vin's sambil memeluk erat istrinya itu.

__ADS_1


"Baiklah. kamu hati-hati ya disana. Jangan lupa makan. Jangan begadang. Jangan main serong ya. Aku punya kata-kata disana." ucap Nana mengancam.


"Iya sayang. Takut banget sih?" kata Vin's sambil mencubit gemas istrinya itu.


"Iyalah takut, kamu lupa waktu kamu patahin hatiku setahun yang lalu? aku kehilangan memory ku. Untungnya sekarang waktu aku ingat kamu udah jadi baik. Coba kalau sekarang kamu bikin aku kecewa lagi, aku pastikan kamu gak akan lihat aku lagi." ucap Nana serius membuat Vin's takut akan kehilangan Nana lagi. Sudah cukup sekali saat dia melihat Nana terbaring tak berdaya diranjang rumah sakit.


"Iya sayang. Kau tak akan mengkhianatimu." ucap Vin's memeluk Nana dan mendaratkan bibirnya pada bibir Nana sebelum melepaskan pelukannya dan pergi dari hadapan Nana.


*


*


*


Setelah kurang lebih lima jam berada di pesawat menuju San Francisco, akhirnya Vin's mendaratkan dirinya di bandara San Francisco. Diapun sudah di jemput oleh asistennya di bandara. Dia langsung menuju kerumah sederhananya yang berada di sana. Rumah yang dulu ditempatinya dengan Nana saat masih menjadi pengantin baru. Namun kini dia kesini sendirian. Tanpa Nyonya rumah ini.


"Mister,kalau ada apa-apa tinggal telfon saya. Saya membeli rumah sebelah dan tinggal disana bersama keluarga saya. Kalau ada apa-apa anda bisa merepotkan saya." ucap asistennya.


"Oke. kalau begitu kamu boleh pulang." ucap Vin's.


Diapun langsung menuju kamarnya untuk membereskan pakaiannya. Setelah itu dia kembali membongkar koper yang masih berada di lantai tengah. Koper yang berisikan makanan khas Korea untuk Yong Jin dari istrinya. Dia memasukkan makanan tersbeut ke dalam lemari pendingin.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2