Kisah Keysha

Kisah Keysha
S2. Park Jin-young and Yuna Scene 01


__ADS_3

#FlashbackOn#


Hari itu hari dimana Yuna tengah menjalankan kerja part time nya. Karena hari itu tengah libur sekolah, maka dia mengerjakan beberapa kerjaan part time sekaligus. Dan kini dia tengah mengerjakan part time di restoran kecil yang sudah setahun ini memperkerjakan dia.


Ketika dia tengah bekerja, tangannya tiba-tiba di tarik oleh seseorang dan di bawa masuk ke dalam mobil. Hanya di lihat dari tangannya saja dia sudah tahu siapa yang menariknya. Siapa lagi kalau bukan Yutoda. Anak pengusaha sekaligus anak pemilik restoran kecil dimana tempat ia bekerja part time. Yutoda sejak awal dia bekerja disana selalu saja mengejarnya. Bahkan dia sering menyatakan cintanya kepada Yuna. Namun Yuna tak pernah menanggapinya.


Walaupun mereka tidak satu sekolah, namun dari sahabat-sahabatnya, dia tahu bahwa Yutoda itu bukanlah orang yang baik. Karena salah satu temannya melihatnya sering berada di club malam. Bahkan dia sering melakukan one night stand dengan gadis dari SOPA. Bagaimana dia tahu? Karena siapa sih yang tak kenal dengan Yutoda, apalagi ketampanannya itu. Namun semua itu tak pernah mempan untuk Yuna.


Kali ini mereka tengah berada di taman. Kembali lagi Yutoda menyatakan cintanya kepada Yuna. Dan Yuna pun menolaknya lagi. Yuna selalu beralasan bahwa dia sudah mempunyai kekasih. Kekasihnya bernama Park Jin-young. Sebenarnya dia hanya berbohong. Karena Yuna melihat nama itu hanya di sebuah majalah bisnis yang selalu di baca oleh ayahnya di rumah. Dia tak pernah tahu atau bertemu secara langsung dengan orang yang bernama Park Jin-young.


"Alah bohong kamu itu. Sekarang coba kamu buktikan seperti apa kekasihmu itu." ucap Yutoda menantang Yuna.


Awalnya Yuna sempat gelagapan. Karena dia tak punya temen cowok satupun. Dia hanya punya empat teman dan itu semua cewek. Bagaimana bisa dia menunjukkan seorang pacar di hadapan Yutoda. Sampai pada akhirnya dia melihat seseorang yang wajahnya tak asing di matanya. Dia pun melambaikan tangannya. Lelaki itu berjalan mendekati Yuna. dia menatap Yuna dengan penuh tanya.


Yuna Pov


Saat lelaki yang gue panggil itu sampai di samping gue, gue langsung aja perkenalan dia di hadapan Yutoda dengan nama Park Jin-young. Meskipun gue gak tahu sebenarnya dia siapa. Persetan, itu urusan nanti. Yang penting aku bisa membuat Yutoda tak mengejarku lagi.


"Nah ini dia cowok gue. Lo tanya kan siapa Park Jin-young yang sering gue sebutin? Nah ini dia cowok gue. Lo lihat sendiri kan? Standar gue itu tinggi. Gak mungkin gue suka sama Lo. Lagian lo itu kaya, tapi yang kaya bokap lo bukan lo. Gila aja ya gue suka sama orang kaya lo yang tiap malam ONS di club. Mau jadi apa nanti gue jadi pacar lo." aku melemparkan perkataan yang kasar di hadapan Yutoda dengan terus menggandeng tangan lelaki yang berdiri di sampingku ini.


"Ehh lo kalau mau nyewa orang yang bagusan dikit napa. Cowok kaya gini kok di sewa. Kalau mau cari orang yang mirip pengusaha Park Jin-young tu ya paling gak yang tampangnya kaya idol BTS gitu. Gak kaya curut kaya gini." ucap Yutoda.


Matanya minus kali ya. Cowok yang tampaknya kaya bidadari gini dia bilang kalau mukanya kaya curut? Lah emangnya muka dia tampan apa? Mukanya dia itu yang curut.


"Apa ini kurang cukup membuktikan bahwa saya Park Jin-young?" ucap lelaki yang berada di sampingku sambil mengeluarkan kartu namanya yang tertera nama Park Jin-young di kartu itu. Gak mungkin kan kalau dia orang yang asli?


"Alah kalau kaya gini mah orang tua gue juga punya. Tinggal minta aja sama orangnya langsung terus ngaku aja kalau diri sendiri itu Park Jin-young." perkataan Yutoda ada benar nya. Namun aku tak bisa membuka suara karena takut bahwa Yutoda tak percaya kalau lelaki itu kekasihku.


"Kalau gitu, ini bukti yang kuat bahwa gue Park Jin-young." sekali lagi aku di buat terkejut oleh perkataannya. Dia mengeluarkan kartu Identitas penduduknya. Dia menunjukkan bahwa dia Park Jin-young yang asli. Aku hanya bisa terdian dan terpaku di tempatku berdiri.


Mata Yutoda terbelalak. Dia tidak menyangka bahwa lelaki yang berada di sampingku ini beneran Park Jin-young.


"aduh gimana ini. Dia beneran Park Jin-young yang asli. Bagaimana bisa aku tak mengenali wajahnya yang selalu menjadi cover majalah dia rumahnya?" batin Yuna.


"Ma-ma-maafkan saya tuan. Saya akan pergi." Aku bersyukur bahwa Yutoda sudah pergi dan sadar bahwa lelaki itu memang Park Jin-young.


Sedangkan aku yang berdiri di samping lelaki asing ini perlahan berjalan mundur untuk pergi dari sisinya. Namun tiba-tiba tanganku di tahan olehnya saat aku hendak kabur darinya.


"Mau kemana kamu, kekasihku?" ucap lelaki yang kini ku percaya bahwa dia Tuan Park Jin-young yang wajahnya sering ku lihat di majalah bisnis ayah.

__ADS_1


"Ma-maaf Tuan. Ma-maaf saya sudah lancang." ucapku sambil menundukkan kepalanya. Jujur aku takut melihatnya.


Aku tak tahu harus bagaimana sampai tangan lembutnya menarikku menuju ke dalam mobilnya. Aku hanya bisa terbentang sambil terus mengikuti langkah kakinya. Aku tak tahu mau ngomong apa. Aku memilih diam saja. Sampai saat di dalam mobil aku melihatnya menelfon seseorang.


"Hans, tolong kamu cari orang tua dari gadis yang bernama Kim Yu Na. Dia bekerja di sebuah restoran ayam goreng yang berada di dekat SOPA. dia bekerja sebagai kurir. Bawa orang tuanya secepatnya di rumah sakit Seoul dimana Woodz dirawat." ucapnya.


Aku kaget, bagaimana dia bisa tahu bahwa aku bernama Kim Yuna dan tahu bahwa aku bekerja di sebuah restoran kecil di sebelah sekolahku. Sampai saat aku menunduk baru aku menyadari bahwa aku masih memakai kaos besar dengan name tag dan juga label restoran itu. Aish...


"Bawa seseorang untuk menikahkan ku di rumah sakit sekarang juga. Dan untuk berkasnya nanti di urus menyusul." ucapnya lagi.


Aku yang tak tahu apa maksud dari ucapannya dengan seseorang yang berada di seberang pun hanya diam sambil terus memandangi pakaianku. Aku pun melongo kaget. Aku baru ingat bahwa aku sedang berkerja.


"Aduh.. gawat. Tuan, saya masih jam kerja. saya harus kembali sekarang juga." ucap ku ingin beranjak turun dari mobil itu ketika mobil itu berhenti di lampu merah.


Namun dengan cepat tangannya kembali menggenggam tanganku agar aku tidak turun. Aku pun memberanikan diri melihatnya.


"Tidak.Kamu harus membantuku. Anggap saja imbalan karena aku sudah membantumu." ucapnya dengan menatapku tajam dan dalam.


"Apa yang bisa saya bantu Tuan? tidak bisakah besok? Saya mesti bekerja." ucapku. Aku tak ingin di pecat dari restoran itu karena gaji di restoran itu lumayan untuk membeli kebutuhan selama sehari-hari.


"Setelah kamu menolongku nanti, kamu bahkan bisa membeli restoran itu atas namamu. Asal bantu aku." Dia berucap dengan nada yang santai.


"Iya, tapi bantu apa?" tanyaku yang begitu penasaran dengan lelaki tampan yang terlihat penuh kesedihan itu.


"Menikahlah denganku." ucap Jin-young to the point tanpa basa basi terlebih dahulu.


"WHAT! MENIKAH!?" ucapku, lebih tepatnya berteriak. "Yang benar saja Tuan? Saya baru berumur delapan belas tahun Tuan. Bahkan saya baru tingkat tiga highschool. Masa udah menikah? Yang benar saja. Mau apa di kata nanti di sekolah. Ya oke, saya akan menikah dengan seorang pengusaha kaya seperti anda. Tuan Park Jin-young terhormat. Tapi umur anda saja hampir dua kali lipat umurku. pantasnya saya panggil Om." ucapku.


Memang benar kan apa yang aku bilang. Aku ini baru delapan belas tahun. Tahun ini baru saja aku naik ke tingkat tiga. Aku tak pernah memikirkan untuk menikah di usia sedini ini. Bagaimana mungkin dengan menikah. Meskipun setelah lulus tidak ada kemungkinan aku untuk kuliah karena biaya, tapi setidaknya aku tak ingin menikah terlalu dini seperti ini. Apa kata anak-anak nanti. Pasti tahunya aku hamil di luar nikah. Ohh tidak.


"Tidak ada penolakan. Hari ini juga kita menikah. Aku mohon." ucapnya lagi. Bahkan sebelum aku membuka bibirku lagi.


Aku melihat ekspresi Jin-young yang terlihat sakit dimatanya. Aku pun memberanikan dirinya untuk bertanya. Alasan apa yang membuatnya ingin menikahi ku, orang yang tak di kenalnya.


"Adakah masalah dengan anda Tuan? Sampai anda rela menikahiku gadis dari anak seorang penjaga sekolah SOPA dan aku juga hanya seorang siswi beasiswa di SOPA?" ucapku yang memang benar ini kenyataannya bahwa aku hanyalah anak penjaga sekolah.


"Sahabatku dari kecil tengah sakit parah. Dia di diagnosis dokter memiliki umur yang tidak lama lagi. Dia menginginkan aku menikah selagi dia bisa melihatku menikah. Dan seharusnya hari ini juga aku menikah dengan kekasihku."


Mendengar ceritanya, dia sudah memiliki seorang kekasih. Kenapa dia tak menikahi kekasihnya itu?

__ADS_1


"Lalu kenapa Tuan tidak menikah dengan kekasih Tuan? Seharusnya kan Tuan sudah menikah dengan kekasih Tuan sekarang. Kenapa malah mau menikah denganku?" tanyaku.


"Karena bertepatan dengan itu juga, aku tengah di putus kan oleh kekasihku. Ya bisa jadi kamulah pelarianku." ucap Jin-young.


"Hais.. sungguh sakit hatiku di anggap sebagai pelarian." ucapku jujur mendengar perkataannya. Karena siapa sih yang ingin menikah dengan orang yang menganggapmu sebagai pelariannya karena ditinggal oleh kekasih hatinya.


"Tapi Please, aku mohon... maulah menikah denganku. Ini menyangkut hidup mati sahabatku. Sebagai imbalannya, kamu tak perlu melayani ku sebagai seorang suami, anggap saja aku sugar daddy atau hanya sekedar bank berjalanmu saja tak apa. Aku akan memberikan semua yang kamu minta. Dan pernikahan ini tak akan lama. Hanya sampai salah satu diantara kita menemukan pasangan yang mampu merebut hati kita."


Dia memohon kepadaku. Jujur aku hanya ingin menikah satu kali dalam hidupku. Aku tak ingin membuat sebuah pernikahan sebagai permainan. Maka dari itu aku bertanya dengannya lagi sebelum membuat keputusan.


"Tapi kalau pada akhirnya diantara kita jatuh cinta?" tanyaku.


"Ya, berarti itu takdir dari Tuhan untuk kita berjodoh. bagaimana?" ucapannya terdengar begitu ringan sekali keluar dari bibirnya.


Jujur saja aku memikirkan nasib hidupku selama ini. Aku hanya tinggal berdua dengan ayah. Ayah hanya seorang duda yang ditinggal pergi oleh istrinya yang tak lain ibu kandungku sendiri karena miskin. Meskipun aku bisa bersekolah dengan beasiswa, tapi untuk makan sehari-hari aku tidak bisa begitu saja bergantung pada pekerjaan ayah yang hanya menjadi penjaga SOPA.


Maka dari itu, sejak kelas enam, apapun itu aku lakukan untuk membantu ayah. Dari loper koran, pengantar susu, sampai sekarang aku menjadi kurir di sebuah restoran kecil. malamnya aku bekerja sebagai penjaga toko. Apapun itu aku lakukan agar bisa bahagia bersama ayah. Aku bahkan merelakan masa remaja yang seharusnya belum memikirkan mencari nafkah, namun aku melakukan semua itu demi kelangsungan hidupku dan ayah. Karena aku tak ingin melihat Ayah harus bekerja banting tulang sendirian.


Mendengar tawaran dari Jin-young tadi, terlihat begitu menggiurkan. Apakah ini sebagai jawaban dari doaku agar aku bisa membahagiakan Ayah? Tapi bagaimana dengan sekolahku?


"Tapi Tuan, bagaimana dengan sekolahku?" tanyaku karena jujur aku ingin sekali berkuliah. Akankah dia akan membiayai ku sekolah?


"Kamu akan tetap bisa sekolah. Setelah lulus dari SOPA nanti, kamu akan langsung masuk ke perguruan tinggi ternama nantinya. Untuk sekolah nanti biar di urus oleh sekretaris Hans. Sekretaris sahabatku yang mungkin akan bekerja denganku kedepannya. Jadi bagaimana jawaban kamu?" tanya Jin-young.


Mendengar perkataannya, tanpa pikir panjang aku pun menyetujuinya. Aku tak bisa menolak tawaran yang begitu menggiurkan itu. Bagaimana bisa aku menolak bank berjalan? Tapi aku bukan wanita matre. jika dia tak memberi maka aku tak akan meminta. Itu prinsipku selama ini. termasuk dengan ayahku. Kau tak pernah meminta jika dia tak memberinya. Dan semoga ini bukan pilihan yang salah untuk ayahku.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2