
"Mulai dari mana ya.. Semua ini sebenarnya berawal dari kebangkrutan keluargaku setahun yang lalu. Orang kepercayaan Ayah menggelapkan uang perusahaan dan memanipulasi pembukuan perusahaan. Akhirnya perusahaan hampir gulung tikar. Di saat yang bersamaan, Ayah sakit dan mengharuskan berobat ke Belanda. Disini keluarga terpecah belah. Kedua orang tuaku di Belanda, aku disini dan Ela berada di Korea. Karena Ayah tidak bisa meninggalkan Ela sendiri di Korea, maka Ela di jodohkan dengan Yong Jin. dan menikahlah mereka berdua. Sampai sekarang mereka sedang menunggu kehadiran sang buah hati." jelas Vin's.
"Jadi mereka saling jatuh cinta setelah pernikahan itu?" tanya Jin-Young.
"Ya benar. aku juga tidak menyangka kalau mereka akan saling mencintai. Tapi itu sedikit membuat hatiku lega. Aku bisa menitipkan Ela pada Yong Jin." kata Vin's sambil melihat ke luar.
"Benar. menurut ku Yong Jin juga bukan orang yang jahat yang akan menyakiti Angel. lagipula mereka sudah saling kenal dari kanak-kanak. bahkan kamu ingat kan bagaimana sayangnya Yong Jin pada Angel? Bahkan dia ingin bertukar adik dengan mu dulu gara-gara adiknya cowok." kata Jin-young mengingat masa kecil mereka. Meskipun usianya setahun lebih muda dari Yong Jin dan Vin's, namun Jin-young bisa berbaur dengan baik.
"Hahaha betul banget. aku masih ingat itu. dia selalu menakali Yong Bin sedangkan Ela selalu dia nomor satukan. Namun itu masa anak-anak. setelah dewasa mereka tak begitu dekat. mungkin karena sudah sama-sama dewasa." ucap Vin's.
"Ohh iya, dimana tempat tinggalmu? aku ingin berkunjung kapan-kapan. aku ingin tahu istrimu." kata Jin-young tiba-tiba.
"Istriku? baiklah, nanti akan aku kenalkan diadia kepadamu."
Tak terasa mereka bercakap-cakap sampai jam pulang kerja. Vin's yang awalnya ingin lembur pun segera ke luar sebentar meninggalkan Jin-young untuk menuju ke ruangan Nana.
"Ehh kak, ayo pulang." ucap Nana saat melihat suami rahasianya masuk kedalam ruangannya.
"Kamu pulang aja dulu. mungkin aku akan pulang malaman. kamu gak usah masak. aku akan makan sendiri nanti." ucap Vin's.
"Baiklah kak. kalau gitu aku pulang dulu." Nana pun pulang terlebih dahulu. Vin's kembali masuk ke dalam ruangannya.
"Bro.. aku kaya nya mau lembur nih." ucap Vin's saat masuk ruangan.
"Gak papa. aku juga sudah mau pulang." ucap Jin-young beranjak dari duduknya. "Baiklah kalau begitu aku pamit ya Vin's. kapan-kapan aku main lagi. bye." lanjutnya.
Park Jin-young pun pergi dari kantor Vin's. Dia melajukan mobilnya menuju cafe langganan nya selama tiga tahun berada disini. Dia tak membutuhkan waktu lama untuk sampai disana. kebetulan searah dengan arah pulang rumahnya. Dia masuk dan menuju ke meja seperti biasanya. Namun dia di halangi oleh seorang waiters.
"Maaf Mr. Jason, meja anda di pakai oleh seorang wanita. Jika anda mau memakainya, anda bisa bicara baik-baik dengan Miss itu. Saya mau menegurnya tidak enak karena dia baru pertama kali kesini. kupikir anda tidak akan kesini maka saya juga membiarkan nya." ucap waiters yang sudah tahu siapa Jin-young.
Jin-young pun berjalan menghampiri meja yang selalu dia pakai jika berada di cafe itu. Karena hanya di meja itu yang menyuguhkan pemandangan indah taman yang ada di Amerika, lebih tepatnya di San Francisco, tempat yang kini dia tinggali. Jin-young menghampiri wanita yang sedang menyesap lattenya sambil menerawang jauh keluar.
"Permisi miss." sapa Jin-young perlahan. wanita itupun menatap Jin-young. betapa kagetnya dia saat melihat siapa wanita itu.
"Mister?" ucap wanita yang tak lain Nana, yang bertabrakan dengannya di kantor tadi.
"Ohh Hai miss. ternyata anda. bolehkah saya duduk disini? ini meja VIP saya disini." ucap Jin-young.
"Ohh maafkan saya. saya tidak tahu mister. karena saya melihat kalau dari meja ini melihat keluar terlihat begitu bagus." ucap Nana sambil kembali menyesap minumannya.
"Tidak apa-apa. kita bisa duduk berdua disini kalau anda tidak keberatan. perkenalkan, saya Jason. Jason Lim." ucap Jin-young mengenalkan dirinya pada Nana menggunakan nama Inggris nya.
"Saya Lin Na Young." ucap Nana yang sudah merubah marganya menjadi Lin. "Kebetulan, saya disini orang baru. jadi saya juga butuh teman. ku lihat anda sudah begitu lama di negara ini?" lanjutnya.
__ADS_1
"Saya sudah tiga tahun disini. kalau memang anda ingin berteman, mari hilangkan panggilan formal kita. buatlah nyaman agar tidak terlihat kaku." ucap Jin-young.
"Baiklah kalau itu maumu mister. kamu tidak pesan makanan?" tanya Nana yang belum melihat pesanan Jin-young.
"Tanpa ku pesan pun mereka akan membawakan makanan yang sering aku makan disini. nah itu dia sudah datang." ucap Jin-young
menunjuk waiters yang membawakan nampan berisi minuman dan camilan untuk Jin-young.
"Ngomong-ngomong, kamu asli dari mana? kenapa bahasa Inggris mu terlihat berbeda?" tanya Nana.
"Aku dari Venezuela. sebenarnya aku bukan asli Venezuela. aku asli dari Korea. seperti kamu." ucap Jin-young membuat Nana kaget dan berbicara bahasa Korea.
"Daebak. Ohh maaf."
"Tak apa. kamu bisa terus bicara bahasa Korea jika sedang bersamaku." ucap Jin-young sambil tersenyum. senyum yang begitu manis.
"Syukurlah. Aku belum begitu terbiasa untuk berbahasa lain selain Korea. tapi karena aku bekerja disini jadi harus terbiasa. Namun tetap lebih asyik jika memakai bahasa negaranya sendiri." kata Nana dan di jawab anggukan oleh Jin-young.
"Benar apa katamu. dulu waktu pertama kali aku pindah ke Venezuela aku berumur lima belas tahun. Aku belum begitu lancar berbahasa negara Venezuela. pada akhirnya aku hanya seperti orang bisu dan tuli. Namun lama kelamaan aku mulai belajar dan bisa bahasa mereka. Tapi aku akan lebih suka memakai bahasa Korea jika sedang di rumah. Namun berkat bahasa Korea juga, aku mempunyai teman yang ternyata begitu mencintai Korea. akhirnya dia mengajariku bahasanya dan aku mengajari bahasa Korea. dari situ kita berteman. bahkan sampai sekarang dia sudah menikah." ucap Jin-young panjang lebar.
"Sungguh? di negara ini aku belum menemukan seornag teman yang akrab. sekalinya aku bisa akrab denganmu yang kupikir penduduk asli, ternyata itu hanya casingnya saja. kamu tetap dari Korea. haha." kata Nana sambil bercanda.
"Maafkan aku nona. tapi memang aku selalu menipu siapa saja yang hanya melihat wajahku namun tak tahu latar belakang keluargaku." ucap Jin-young percaya diri.
"Ohh sudah malam. mau ber jalan-jalan di San Francisco? kupikir kamu belum pernah berjalan jalan disini jika malam." kata Jin-young dan begitu tepat sekali karena selama disini sudah hampir dua minggu dia hanya tahu jalan dari rumah ke kantor. belum pernah sekalipun dia diajak oleh Vin's jalan-jalan keluar.
"Dengan senang hati ku trima tawaran mu tuan." ucap Nana dengan senang.
Ini salah satu kelebihannya. Dia bisa langsung akrab dengan orang baru. terlebih jika dia tidak melihat itikad buruk pada orang tersebut. dia bisa sangat akrab. Namun jika dia sudah memiliki teman yang begitu akrab, dia akan susah untuk dekat dengan orang baru.
Nana pun masuk kedalam mobil milik Jin-young, karena Nana tidak di beri fasilitas mobil oleh Vin's. Jin-young segera melajukan mobilnya menuju Chinatown. tempat yang sering dia kunjungi jika ingin makan masakan china di negara ini.
Mereka pun sampai disana. Nana begitu terperangah melihat bangunan yang berada di depannya. Benar-benar mirip perkampungan china yang asli di negara Cina.
"Dimana ini?" tanya Nana setelah turun dari mobilnya dan mengikuti Jin-young yang berjalan masuk ke Chinatown.
"Kita berada di Chinatown yang terpusat di Grant Avenue dan Stockton Street, San Francisco,California. Ini adalah pecina tertua di Amerika Utara dan bersebelahan dengan Chinatown Manhattan, enklace Tionghoa terbesar di luar Asia. Kota ini adalah Pecinan tertua dari empat pecinan terkenal di kota ini. Sejak didirikan pada 1848, kota ini telah memiliki pengaruh dan kepentingan yang tinggi dalam sejarah dan budaya imigran etnis Tionghoa di Amerika Utara. Pecinan adalah sebuah enklave yang masih mempertahankan adat istiadat, bahasa, tempat ibadah, klub sosial, dan identitasnya sendiri. Terdapat dua rumah sakit, sejumlah taman dan lapangan, sebuah kantor pos, dan infrastruktur lainnya. Meskipun para imigran dan tetua terkini memilih untuk tinggal disana karena ketersediaan perumahan dan familiaritas mereka dengan budaya, tempat ini juga menjadi tempat wisata utama, yang meraih lebih banyak pengunjung setiap tahun ketimbang Golden Gate Bridge." ucap Jin-young panjang lebar.
"Wow... kau sudah seperti tour guide saja. berapa ongkos mu sejam tuan?" canda Nana.
"Cukup dengan seporsi makanan cina saja nona." jawab Jin-young yang juga candaan namun di terima serius oleh Nana.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu mari cari restoran cina terenak disini." ucap Nana.
"Ya! aku cuma bercanda."
"Tapi perutku tidak bercanda Tuan. cacing ku di dalam sudah mulai berkomentar karena tidak segera di beri makan" kata Nana memegang perutnya yang sudah kelaparan.
"Baiklah kalau begitu. mari ke tempat langganan ku." ucap Jin-young menarik Nana menuju kedai makanan kecil favoritnya.
Jin-young membawa masuk Nana dan langsung memilih makanan yang akan di pesan mereka berdua. seperti sudah biasa, Jin-young menyebutkan nama makanan tersebut.
"Kita pesan Tahu Mapo, Bebek Peking, La Mian, dan Hainan Jifan. Masing-masing dua porsi ya." ucap Jin-young yang langsung diangguki oleh pelayan itu.
"Wow... kamu udah biasa makan disini ya sampai tau sama makanan yang ada di kedai ini." ucap Nana.
"Ya. aku udah sering makan disini. ini hanya salah satu kedai favorit saja. masih ada kedai yang lain disini. Aku juga punya tempat favorit restoran Jepang dan Korea dikota ini kalau kamu mau lain hari kita akan mengunjunginya." ucap Jin-young.
"Sungguh? kalau begitu, beri nomorku. kamu akan memerlukannya jika bertanya tentang jadwal pekerjaan ku ketika kamu ada waktu luang untuk mengajakku nanti." ucap Nana yang langsung membuat Jin-young menyodorkan HP nya.
"Dengan senang hati nona. kamu tahu gak nona? kamu teman wanita ku kedua setelah my little Angel." ucap Jin-young.
"Sungguh? aku tidak percaya. sudah berapa wanita yang kamu bilang seperti itu?" kata Nana memicingkan matanya sambil melihat mejanya yang sudah penuh dengan makanan. "Wah... banyak banget. malam ini aku akan kenyang." ucap Nana melupakan pertanyaan tadi. Dia lebih fokus dengan makanannya.
"Nikmatilah Nona. kamu akan ketagihan untuk kesini nantinya." ucap Jin-young yang juga mulai memakan makanannya.
Mereka pun makan dengan layaknya sampai habis tak tersisa. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Nana terpekik kaget saat melihat jam tangannya.
"Ternyata sudah malam. Aku harus segera pulang." ucap Nana tanpa menunggu Jin-young untuk mengantarnya dia sudah lebih dulu pergi meninggalkan Jin-young dan menghentikan taxi yang kebetulan habis menurunkan penumpang.
"Ahh sial. jadi tidak bisa tahu rumahnya. Tapi tak apa. aku sudah punya nomornya." ucap Jin-young yang merasa tertarik dengan wanita yang satu ini. Tanpa dia tahu bahwa Nana sudah menikah dengan sahabat lamanya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.