
Hari - hari yang sibuk Key lalui dengan senang hati, meski hampir setiap hari bosnya bertanya akan setuju tidaknya dia berangkat ke Korea untuk kuliah designnya. namun lagi - lagi jawaban Key masih sama, dia masih bingung. hingga suatu hari dia mengalami kejadian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya.
Dia sedang berada dikamar mandi, beberapa hari ini dia merasa sering mual dan sering capek. dia baru tersadar kemarin saat mau pulang kerja bahwa dia sudah melewatkan 2kali siklus bulanannya.. akhirnya sepulang kerja dia beranikan diri membeli tespeck dan pagi ini dia mengecek uji tes urin nya menggunakan tespeck. dan ternyata hasilnya 2 garis.
"2 garis... gak.. gak mungkin.. bagaimana aku mau menghadapi orang tuaku sedangkan aku juga gak tak tahu siapa yang menghamiliku. Arnold dan Yudis juga pergi seperti ditelan bumi. mereka berdua harus bertanggung jawab. iya mereka berdua yang sudah menjebakku." gumam Key.
Dia langsung mengambil tas selempang dan kunci mobilnya. untungnya hari ini dia off jadi bisa mencari keberadaan dia orang brengsek itu. dia mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. dia mencari kesemua tempat yang sekiranya sering mereka pakai untuk nongkrong. hingga pukul 12 siang dia berhenti di sebuah cafe untuk mengisi perutnya yang keroncongan.
Tiba-tiba dia mendengar suara para karyawan yang tengah santai mengobrol karena kebetulan cafe itu tidak sedang dalam keadaan ramai.
"ehh kalian lihat gak itu cewek yang diseberang itu? dia pasti selalu membawa dia cowok itu."
"iya, bahkan pernah ada yang mergokin mereka sedang treesome. gila gak itu cewek."
__ADS_1
"iya, dia bener-bener cewek murahan banget."
Sekiranya begitu kata-kata para karyawan. hingga Key ikut mengedarkan pandangan kearah seberang jalan. begitu terpukul nya dia saat melihat ketiga sahabatnya disana. berapa tidak terpukul? saat dia melihat Yudis dan Arnold bergantian menyapa dan mencium bibir Siska dengan mesra. mereka langsung masuk menuju rumah itu. dengan segera key langsung berlari kearah mereka.
"Arnold... Yudis.." teriaknya.
Mereka bertiga langsung memasang muka was-was dan saling menatap satu sama lain.
"apa? nikah? gak salah dengar aku? gak mau aku nikahin kamu yang udah bekas orang dan sedang hamil juga. hello.. dia bukan anakku jadi buat apa aku tanggung jawab. daripada nikahin kamu mending aku main sama Siska dan Yudis sampai puas. tapi kayanya gak akan puas sih. hahahaha" kata Arnold berlalu meninggalkan Key didepan sendiri sedangkan mereka bertiga sudah masuk kedalam rumah dan menguncinya.
Kini Keysha benar-benar putus asa. bagaimana dia akan menjelaskan kepada keluarganya nanti. kini dia berkendara menuju rumahnya. dia hanya bisa melamun sambil menyetir. untung kesadarannya masih ada jadi dia tak menabrak.
Saat dia memasuki rumah, siapa sangka semuanya sudah berkumpul diruang makan. semua barang-barang Key pun sudah berada disana.
__ADS_1
"Ada apa ini ma?" kata Key.
"masih berani bilang ada apa? kita yang seharusnya tanya sama kamu. ini apa?" kata Johan yang sudah meradang sambil melemparkan sebuah tespeck yang tadi tak sengaja ditemukan menantunya yang mencari Key untuk minta katalog baru dari butik tempat Key berkerja namun dia malah menemukan itu ditempat tidur Key.
Key merutuki dirinya sendiri, mengapa dia tak membuang tespeck itu.
"Key bisa jelasin semunya pa"
"gak usah ada penjelasan. kamu hanya bisa bikin keluarga malu. mulai sekarang kamu aku coret dari keluarga Siregar. keluarga Siregar tak mempunyai anak yang memalukan seperti kamu. dan jangan pernah kamu menginjakkan kaki dirumah ini lagi. sekarang kamu pergi dari hadapan kita. PERGI!!" bentak Johan.
Key hanya bisa mengambil 2tas besarnya dan menuju mobilnya. diluar sudah banyak pelayan yang menahan kepergian Key, namun Key sudah merasa sakit hati karena merasa diabaikan dan dibuang. cukup sudah dia menjalani kehidupan dengan sakit seperti ini. doa memberi sebuah catatan tentang nomor telepon dan alamat kantornya jikalau mereka kangen dengannya mereka bisa pergi mengunjunginya dikantor Key.
Kini key sudah duduk dikursi kemudi. dia menatap untuk terakhir kalinya rumah itu. dan dia membulatkan tekad bahwa sampai kapanpun dia tak akan menginjakkan kaki kerumah itu lagi. dia akan pergi jauh setelah ini.
__ADS_1