
Yuna Pov.
Aku dan Jin-young sampai di rumah sakit terbesar yang berada di Seoul. Sampai di sana bertepatan dengan seseorang yang aku yakini bernama Hans seperti yang di panggil oleh Jin-young di telfon tadi. Dan aku melihat ada ayah disana. Secepat itu dia bisa menemukan siapa ayahku dan dimana dia berada? Ayah menghampiriku dengan muka yang begitu cemas.
"Yuna, apa yang terjadi nak? kenapa ayah sampai di jemput oleh seseorang untuk datang ke rumah sakit? ayah pikir bahwa kamu kecelakaan nak." Ternyata ayah berpikir jika aku tengah mengalami kecelakaan. duh ada-ada saja.
"Aku tidak apa-apa yah. Nanti sampai dalam ayah akan mengerti. Apapun yang terjadi nanti, mohon restui Yuna ya yah." ucapku, karena aku yakin ayah akan menolaknya. Tapi aku akan meyakinkan dia nanti karena semua ini juga untuk kelangsungan hidup kita berdua. biarpun kedepannya nanti aku akan dianggap wanita matre.
"pasti nak. Apapun itu, karena kamu prioritas ayah sekarang." Aku bersyukur ayah tak pernah membatasi apapun yang aku mau. Ayah pasti akan mendukungku dan mengembalikan semua keputusan berada di tanganku.
"Baiklah kalau begitu, ayo masuk. Semuanya sudah di tunggu oleh sahabatku." ucap Jin-young yang menarik tangan ku masuk kedalam rumah sakit.
Aku masih bertanya kenapa dirumah sakit, bukankah kalau menikah harus mencatatkan diri dulu ke kantor pencatatan sipil? Kenapa ini justru kerumah sakit dahulu? Banyak sekali pertanyaan sampai pertanyaan ku terjawab begitu saja ketika kita memasuki sebuah ruangan dimana banyak orang. Disana ada seseorang yang tengah terbaring lemah tak berdaya dengan banyaknya alat di tubuhnya. Aku sendiri juga akan merasa sedih kalau orang yang aku sayang tengah terbaring tak berdaya seperti itu.
"Semuanya, aku sudah siap menikah. Ini mempelai perempuannya." ucap Jin-young membuat semuanya menatap kearahnya.
Aku yang berada di sampingnya pun ikut melihatnya. Jadi aku akan menikah dengan dia disini? Di hadapan keluarganya saja. Syukurlah. Aku takut kalau aku akan diajak menikah dengan di siapkan resepsi pernikahan yang mewah. Kalau iya aju tak akan bisa kembali bersekolah di SOPA. aku pasti akan memilih homeschooling saja.
Aku melihat sekeliling ruangan itu. Bisa kupastikan semuanya kaget karena tak melihat kekasih Jin-young disini. Justru malah melihat aku yang tengah di genggam tangannya. Aku pun juga melihat ekspresi ayah yang begitu kaget saat mendengarku akan menikah di depannya saat ini juga. Ayah melayangkan pertanyaan lewat tatapan matanya. Aku pun menggenggam tangannya sambil tersenyum bahwa kedepannya akan baik-baik saja. Tak akan ada apa-apa lagilagi yang akan menyulitkan kita kedepannya.
"Siapa dia kak? kenapa bukan Bo Reum? kemana dia?" tanya seorang wanita yang berdiri di samping brangkar pasien. Ku perkirakan umurnya sekitar dua puluh tujuh tahunan.
"Penjelasannya nanti. Yang penting sekarang nikahkan aku. Bukankah hal ini yang di inginkan oleh kamu Woodz? melihat pernikahanku sebelum kamu pergi?" ucap Jin-young sambil menatap lelaki yang tengah terbaring dengan wajah begitu pucat itu.
Lelaki yang kutahu namanya Woodz itupun akhirnya hanya tersenyum kecil lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju akan pernikahanku dengan Jin-young. Akhirnya di ruangan itu, telah terucap janji suci Jin-young dan aku. Dengan saksi beberapa dokter dan juga perawat. Akhirnya aku dan Jin-young resmi menjadi suami istri mulai hari ini.
Setelah pernikahan itu berlangsung, kini aku keluar bersama ayah, Jin-young dan juga Hans. Aku masih tak percaya bahwa aku kini sudah menjadi seorang istri dari pengusaha terkenal Park Jin-young. Akan bagaimana ya reaksi dari ke empat temanku nantinya bahwa kini aku menjadi seorang istri milyarder? Bahkan aku tahu bahwa kekayaan lelaki yang kini menjadi suami ku itu melebihi kekayaan ke empat temanku yang notabene anak konglomerat di Korea ini. Entah kenapa mereka mau berteman denganku yang miskin ini. Tapi sekalipun mereka tak pernah menjelekkanku di belakang.
__ADS_1
"Ayah mertua, maafkan menantumu yang lancang ini langsung menikahi putrimu. Tapi mohon restui pernikahan kami." ucap Jin-young kepada ayah. Dia terlihat begitu sopan santun di hadapan orang tua. Dia memang lelaki idaman.
Aku pun baru sadar bahwa yang di dalam yang tengah sakit itu anak tertua dari keluarga Lin. Karena aku melihat ada Tuan dan Nyonya Lin. Aku juga yakin wanita yang tadi memanggil Jin-young kakak itu anak kedua keluarga Lin yang menikah dengan putra pertama keluarga Park, Park Yong Jin.
Aaaaaa.... aku menikahi Milyarder....
"Tak apa nak Jin-young. Pasti ada alasan di balik ini. Apakah alasannya sahabat anda yang tengah berjuang di dalam?" tebakan ayah memang tak pernah meleset.
"Tepat sekali tebakan anda. Terimakasih pengertian anda ayah. Dan mulai sekarang kalian berdua akan tinggal di rumah saya." ucap Jin-young sambil membungkukkan badannya.
"Tapi Tuan, barang-barang kami kan masih di rumah kami." ucapku yang baru teringat bahwa barangku masih berada di rumah reot kami.
"Barang kalian sudah di bereskan oleh anak buah Hans. Dan sekali lagi jangan panggil saya Tuan. Sekarang kita sudah menikah. Meskipun umur kita terpaut belasan tahun, tapi panggilah aku dengan sebutan yang pantas untuk seorang suami." ucap Jin-young sambil menatapku.
Benar kini kita sudah menikah. Tapi umurnya selisih lima belas tahun denganku. Aku harus memanggilnya apa? Dia pantasnya ku panggil Om. Apakah aku akan menjadi sugar babynya?
"Ya sudah kalau begitu, Hans. Antar Nyonyamu. Ingat, sampai rumah harus dalam keadaan selamat." ucap Jin-young kepada Hans.
"Baik Tuan."jawab Hans sambil membungkuk dengan hormat kepada Jin-young.
"Dan ini satu lagi. Di dalam kartu ini ada uang saku kamu dalam sebulan. Belilah apapun yang kamu dan ayahmu mau. Untuk keperluan sehari-hari itu sudah di urus oleh Hans. Jadi kamu tak perlu pikirkan itu. Namun ingat, jangan terlalu boros. Satu won saja yang keluar dari kartu itu, langsung masuk di HP ku. Jadi aku tahu berapapu uang yang kamu gunakan dan untuk apa saja."ucap Jin-young sambil menyerahkan sebuah kartu berwarna gold kepadaku.
Kartu itu benar-benar mirip dengan yang dimiliki oleh ke empat temanku. Tiap bulan mereka menerima kiriman uang saku dengan nilai fantastis, bahkan bisa mencapai ratusan juta. Berarti aku juga sama seperti mereka? Aku akan mendapatkan uang ratusan juta? Sepertinya aku harus mengeceknya nanti di ATM rumah sakit.
"Baik oppa. Aku bukan orang yang boros kok. Karena aku selalu menghargai uang. kalau begitu, aku pamit dulu Oppa. Ini sebagai tanda bahwa kamu suamiku. cup."
Aku memberanikan diri mengecup pipinya saat tak ada orang yang melihatnya karena Hans dan Ayah sudah berjalan lima langkah lebih jauh. Aku pun langsung mengikuti mereka setelah mengecup sekilas pipi itu.
__ADS_1
Saat sampai di lobi rumah sakit, aku menyuruh Hans untuk menunggu. Aku ingin memanggilnya Tuan tapi Hans menolak karena sekarang aku berstatus Nyonya mudanya. Ya asalkan dia nyaman aku tak masalah.
Aku mengecek isi saldo setelah tadi Jin-young memberitahuku berapa pin kartu itu. Dan benar saja. Mataku seperti berbinar melihat jumlah nol yang berada di belakang angka lima itu.
"Lima ratus juta won? fantastis..."
(1000KRW \= 12.425,12 IDR)
Hanya itu yang bisa aku katakan sekarang. Dan aku mengambil lima ratus ribu won. Aku menatap uang itu dengan berbinar. karena aku belum pernah memegang uang lima ratus ribu won. paling banyak hanya seratus ribu won, itupun untuk bayar sewa rumahku. sekarang uang itu untuk aku bersenang-senang. aku tak perlu repot mencari uang lagi. Tapi aku tak boleh boros. Karena dia mencarinya juga susah. Aku harus menjadi istri yang hemat.
Yuna Pov End.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1