
Malam harinya semua tengah bersiap untuk pergi menuju ke Namsan tower. Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing. Sedangkan Chanyeol duduk santai di ruang tamu menyaksikan keluarganya hilir mudik kesana kemari. Dia bosan sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi. Hanya itu caranya buat dia tidak terlalu ambil pusing dengan keluarganya.
"Semuanya udah siap kan? Ayo kita berangkat." ucap Yong Jin kepada semuanya.
Chanyeol yang mendengarnya hanya berdiri lalu dengan malas berjalan keluar kearah mereka. Terlihat mobil mewah sudah siap di hadapan mereka.
"Ayo masuk semuanya." ucap Ela. Chanyeol hendak masuk ketika Junnie menghalangi langkahnya.
"Eits.... ini untuk keluarga Park. Buat kamu, duduk di mobil belakang bareng sama sekretaris." ucap Junnie sarkas.
"Jun, apa-apa an kamu. Chanyeol juga anggota keluarga kita." ucap Ela.
"Sudahlah Ma, kita udah terlambat gak usah debat kenapa." sahut Yong Jin.
"Papa benar Ma. Lagian keluarga Park kan hanya punya dua anak." ucap Chanyeol lalu pergi dari sana.
Dia lebih memilih berangkat bareng keluarga Han Sung. Bagi Han Sung, tak perlu bertanya pun sudah bisa di pastikan apa yang terjadi. Namun tidak untuk Jin-young dan juga Yuna.
"Loh, kamu kenapa ikut mobil kita, tuh mobil Papa kamu sudah jalan." ucap Jin-young yang berjalan di belakang mobil Yong Jin. Hanya berjarak satu mobil.
"Gak papa. Pengen bareng sama Han Sung aja. Ohh ya Hans, nanti yang lain pada datang kan?" tanya Chanyeol mengalihkan pembicaraan. Lebih tepatnya dia tak mau ada pertanyaan dari Yuna dan Jin-young.
"Iya, tadi udah pada kontak gue. Ohh ya, gimana sama si pirang nanti?" tanya Han Sung.
"Si Pirang? siapa?" tanya Chanyeol.
"Itu lho..." Han Sung menjawab sambil menggerakan bola matanya agar Chanyeol mengerti. Bisa gawat kalau Jin-young mendengar Han Sung menyebutkan nama perempuan.
"Ohh... itu, ya gak tahu deh nanti. Emangnya dia siapa sih kok sok banget mau masuk ke grup kita." ucap Chanyeol yang langsung paham apa yang di maksud Han Sung setelah melihat tatapan mata Han Sung mengarah pada Jin-young.
"Emm... entahlah. Aku juga gak tahu. Yang penting lo pikirin matang-matang ya. Jangan asal Terima gitu aja. Oke." kata Han Sung memperingati.
__ADS_1
"Oke sip, santai aja." kata Chanyeol menyudahi percakapan mereka.
*
*
*
Mereka sudah sampai di tempat acara. Banyak sekali. wartawan yang sudah siap berkumpul untuk meliput keluarga sang pengusaha terkenal. Termasuk keluarga Jin-young yang akan turun di mobil belakang.
"Kalian semua turunlah. Aku akan turun belakangan. Daripada ada rumor aku anak selingkuhan Om Jason." ucap Chanyeol.
"Baiklah. Kita turun dulu. Kamu jangan lama-lama ya." ucap Jin-young.
Namun bukannya ikut turun melalui pintu yang sama, Chanyeol justru turun dari pintu samping yang satunya lagi. Dia tak ingin ada wartawan yang memotret nya. Saat dia mencoba membelah kerumunan para wartawan yang tak menyadari kehadirannya, dia menabrak seseorang wanita.
"Aduh.. pelan-pelan dong kalau jalan." ucap wanita yang suaranya tak asing di telinganya.
"Gladis?" ucap Chanyeol setelah ingat bahwa suara cempreng itu milik seorang gadis yang sekelas dengannya.
"Emangnya lo lagi kerja?" tanya Chanyeol yang tahu bahwa gadis itu merupakan gadis berprestasi yang sekolah di tempatnya dengan beasiswa. Dia juga sering terlihat bekerja paruh waktu di tempat yang kadang tak sengaja bertemu dengan Chanyeol. Cuma dia gadis satu-satunya yang tak pernah tergila-gila atau berteriak ketika melihat gerombolan Chanyeol lewat.
"Iya nih. Gue lagi kerja. Bantuin dong kaya waktu itu." ucap Gladis menunjukkan puppy eyesnya.
Beberapa waktu lalu ketika Gladis ingin meliput pertunangan seorang artis ternama, Gladis juga mendapat pekerjaan seperti ini. Dulu dia di suruh untuk menguak siapa sebenarnya anak tiri dari keluarga yang tengah bertunangan. Dan atas bantuan dari Chanyeol, pekerjaannya bisa sukses. Dan sekarang dia ingin meminta bantuan lagi kepada Chanyeol.
"Emangnya lo mau cari tahu tentang apa?" tanya Chanyeol sambil menarik lengan Gladis agak jauh dari orang-orang yang masih terus berkerumun.
"Anak bungsu keluarga Park Yong Jin." ucapan Gladis membuat Chanyeol menghentikan langkahnya dan menatap Gladis.
"Apa yang lo ingin tahu dari anak itu? Bukannya dia anak yang tanpa wajah ya?" ucap Chanyeol menyembunyikan jati dirinya. Tapi mungkin ini menjadi kesempatan untuknya bisa menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya, atau justru membuat isu yang membuat keluarga Park kesayangan kedua kakaknya itu menanggung malu.
__ADS_1
"Memangnya benar ya kalau anak itu tidak punya wajah?" tanya Gladis. Kini mereka berdua sudah berada di taman jauh sebelum janji temu Chanyeol dengan yang lainnya.
"Ya kali beneran. Lo itu polos banget sih. Itu cuma perumpamaan tahu." ucap Chanyeol gemas setiap melihat tingkah polos Gladis yang sejujurnya selama ini menarik perhatiannya jika dia melihatnya.
"Lalu, apa lo punya info tentang anak itu?" tanya Gladis.
"Kalau tidak salah, gue memang tak tahu persis seperti apa anak itu. Bahkan namanya siapa pun gue tak tahu. Dari orang tua gue, mereka bilang kalau anak itu sebenarnya anak penyakitan. Makanya dia tak pernah keluar dari rumahnya." ucap Chanyeol kepada Gladis. Sedangkan Gladis menulis apa yang di katakan oleh Chanyeol.
"Dia sakit apa? Parahkah?"
"Dia menderita sakit yang parah. Dia frustasi. Bahkan sangat frustasi sampai tak bisa keluar dari lingkungan tempat tinggalnya. Namun di balik itu, seharusnya lo tidak mempertanyakan siapa anak bungsu keluarga Park. Seharusnya yang lo pertanyakan, di saat sang anak bungsu sakit, Orang tuanya terus sibuk bekerja dan kedua kakaknya juga sibuk dengan karirnya masing-masing. Bahkan keluarganya semuanya berada di luar negeri. Sedangkan si bungsu tinggal di Korea bersama pengasuhnya. Keluarga macam apa yang seperti itu. Kalau gue jadi dia, gue sudah pergi dari sana." ucap Chanyeol menggebu-gebu.
"Hiks.. hiks.. hiks.." bukannya mendengar jawaban dari Gladis dia justru mendengar isakan tangis dari gadis cantik tersebut.
"Kenapa nangis lo?" tanya Chanyeol heran.
"Kisahnya sedih banget. Gue yang mendengar ceritanya pun tak bisa membayangkan betapa kesepiannya dia selama ini. Pasti sepi sekali." ucap Gladis sambil mengusap air matanya yang jatuh.
"Ya begitulah. Dia sungguh kesepian. Namun dia menyukai musik. Dia bisa semua alat musik sampai dia menghibur diri dengan musik. Dia bisa di bilang jenius musik." ucap Chanyeol.
"Lo dong." kata Gladis spontan.
"He?"
"Iya, Lo kan jenius musik." ucap Gladis.
"Ohh..." Chanyeol hanya ber oh ria karena dia kira Gladis tahu bahwa orang yang dari tadi Chanyeol ceritakan itu dirinya sendiri.
"Oke, ini sudah lebih dari cukup. Makasih ya, nanti kalau artikel ini bisa di terbitkan dan gue mendapat bonus yang gedhe dari bos, gue bakal traktir lo. Tapi jangan di restoran mahal. bisa tekor dong gue." ucap Gladis sambil menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Oke, gue tunggu ya. Kalau besok gue denger berita itu udah booming, gue tunggu di kantin." ucap Chanyeol.
__ADS_1
"Jangan di kantin. Lo kan tahu makanan di kantin mahal. Gue gak pernah mampu makan di kantin. Gini aja gue tunggu di taman belakang sekolah, gue bawain lo bekal. Gimana?" tawar Gladis.
"Boleh. deal." ucap Chanyeol sambil tersenyum melihat Gladis meninggalkannya. Sungguh gadis yang bisa membuat Chanyeol tersenyum seperti sekarang.