
Sudah pukul sembilan malam, sebenarnya Chanyeol masih ingin berada di rumah Yura. Bahkan dia ingin menginap dirumah Yura dan Yohan. Namun karena desakan Han Sung, dia pun pulang. Karena tak enak jika melihat Han Sung pulang sendiri. Bagaimanapun dia yang sudah membuat Han Sung berada di rumah Yura sekarang.
Saat Chanyeol pulang ke rumahnya, dia melihat mobil mewah berderet di rumahnya. Dia bisa mengenali semua mobil itu. Siapa lagi kalau bukan ke empat anggota intinya tengah berada di rumah. Chanyeol hanya menatap mobil itu dengan tatapan tanpa ekspresi. Saat sampai di ambang pintu, Chanyeol bertemu dengan pembantu yang sudah bekerja di rumah itu sejak Chanyeol kecil. Bahkan baginya mungkin orang tua Chanyeol yang sebenarnya itu adalah pembantunya.
"Nah tuh dia, si trouble maker pulang." ucap kakak lelaki Chanyeol, Junnie.
"Darimana saja kamu nak. Mama khawatir. asti sakit kan?" ucap Ela yang mendekati Chanyeol sambil memegang pipi Chanyeol yang masih nampak sedikit merah dan juga bekas darah keringnya pun belum hilang karena Chanyeol memang belum mengobatinya. "Mama obatin ya." ucap Ela.
"Bi, bawain obat ke kamarku ya." ucap Chanyeol kepada bibi tanpa memperdulikan Ela.
"Biar aku saja Bi." ucap Ela.
"Gak usah, biar bibi aja. Aku tak biasa di obati oleh tangan emas milik Mama." ucap Chanyeol.
"Kamu kalau ngomong sama Mama yang sopan dong. Dia itu mama kamu." ucap Minky.
"Ohh ya? Bukannya dunia hanya tahu bahwa Angela Lin, istri Park Yong Jin, ibu dari Dosen muda di Harvard University Park Min Jung dan Designer muda ternama Park Ye Jun aja?" ucap Chanyeol.
Plak.. Satu tamparan mendarat di pipi Chanyeol tepat di pipi yang tadi di tampar oleh Yong Jin. Namun kali ini yang menampar nya bukan Yong Jin yang dari tadi hanya diam atau kedua kakak kembarnya. Melainkan Ela, selama ini dia tidak pernah melakukan itu kepada Chanyeol.
"Ma-maaf sayang... maafkan mama." ucap Ela menyesali perbuatannya.
Bukankah apa yang dikatakan Chanyeol itu hal yang tidak begitu parah. Justru memang itulah kenyataannya. Dunia memang tak pernah tahu siapa itu Chanyeol dan dari keluarga mana dia. Karena Ela dan Yong Jin tak pernah mengenalkannya di depan semua orang. Dia hanya menjadi putra bungsu keluarga Park yang tanpa wajah.
"Bi, ayo ke kamar. Kurasa bibi juga harus bawa es batu." ucap Chanyeol kepada bibinya lalu menaiki tangga. Sedangkan bibinya menatap iba kepada Chanyeol.
Selama ini, yang dia kenal Chanyeol selalu menurut kepadanya dan kepada Yura. Dia juga tak pernah membangkang jika di suruh oleh Yuna dan Jin-young. Bibi sendiri tahu bahwa Chanyeol hanya butuh keluarga dan kasih sayang. Dia tak butuh harta dan rumah besar. Dia hanya ingin semuanya berkumpul di rumah dan memberikan kehangatan pada rumah mewah yang begitu dingin ini.
"Sakit ya den?" ucap bibi ketika membersihkan luka Chanyeol, ia sedikit meringis.
"Gak kok bi, udah biasa. Ohh ya bi, bibi dapat salam dari kak Yura." ucap Chanyeol.
__ADS_1
"Ohh, den Chanyeol dari rumah non Yura. Kenapa gak bilang sama bibi sih den. Kan bibi bisa bilang sama keluarga aden kalau aden berada di rumah non Yura." ucap Bibi.
"Memangnya mereka sejak kapan di sini?" tanya Chanyeol.
"Sejak pukul enam mereka disini den. Bibi aja kaget saat tahu mereka semua kumpul. Memangnya ada hal spesial ya?" tanya Bibi.
"Kurasa aku tahu bi." ucap Chanyeol yang tengah melihat ponselnya.
Han Sung mengiriminya sebuah link. Chanyeol membukanya dan ternyata link itu menampilkan sebuah berita tentang pesta ulang tahun megah anak kembar keluarga Park yang akan di gelar di Namsan Tower dengan meriah bahkan akan ada kembang api terbesar nanti nya di puncak acara.
Setelah mengobati Chanyeol, bibi keluar dari kamar Chanyeol. Kini tinggallah Chanyeol sendiri di kamarnya. dia menuju balkon dan di seberang sudah ada Han Sung yang tengah duduk di kursi santainya di balkon.
"Lo mau dateng besok malam? " tanya Han Sung.
"Emangnya gue siapa sampai harus datang segala?" tanya Chanyeol dengan sarkas nya.
"Hais... lo kan adik mereka. masak lo gak datang." ucap Han Sung.
"Memangnya dunia tahu siapa anak bungsu keluarga Park? gak kan. mending enak hidup tanpa wajah seperti ini. Bebas." ucap Chanyeol membentangkan tangannya.
"Gak akan lah. Gue itu cuma anak yang gak dianggap. Kalau bukan karena permintaan om Woodz, aku mungkin juga gak akan di lahirkan. Kalau Om melihatku hidup seperti ini mungkin Om gak akan minta itu ke Mama." ucap Chanyeol menatap langit yang penuh bintang di sana.
"Hais... jangan bicara gitu. Kalau lo gak lahir, gue juga mungkin gak ada kali Chan." ucok Han Sung.
"Gimana sih rasanya punya keluarga yang hangat kaya lo gini Hans?" ucap Chanyeol sambil terus melihat ke langit.
"Yang pasti lo gak akan jadi trouble maker." ucap Han Sung dengan singkat padat dan jelas.
"Benar juga ya. Tapi kenapa lo tetep blangsak?" tanya Chanyeol.
"Karena hobi gue lah. Lagian kalau bukan gue yang lo ajak blangsak, siapa lagi? temen gue juga cuma elu doang unang mau di ajak jatuh ke jurang." ucap Han Sung.
__ADS_1
"Lo itu terlalu pintar ya. Sampai apa yang lo omongin selalu bener. Bisa gak sih sekali aja lo salah gitu." ucap Chanyeol.
"Kesalahan gue itu cuma satu Chan. Gue gak bisa setinggi lo. Udah itu doang." ucap Han Sung.
"Dasar bantet lo. Ohh iya, besok nongkrong yuk di tempat biasa. Udah lama nih kita gak nongol. Siapa tahu ada anak baru." ucap Chanyeol.
"Emm.. lo yakin gak mau ngehadirin pesta ultah kakak kembar lo?" tanya Han Sung.
"Gak penting acara itu mah. Paling juga sama bahas bisnis bisnis dan bisnis. Bosan gue dengarnya. Dan lo lupa sama pesta terakhir yang mengharuskan gue ikut? Ujung-ujungnya gue hanya berdiri di pojokan sambil makan dan minum tanpa di lihat sama keluarga gue. Dikenalin aja kagak. daripada hal itu terulang lagi, mendingan gue gak ikut aja Hans." ucap Chanyeol.
"Tapi Nyokap lo?"
"Nyokap gue kenapa?" tanya Chanyeol.
"Nyokap lo pasti marah lo gak datang Chan." ucap Han Sung.
"Gak bakal. Emangnya dia bakal tahu gue datang apa kagak? Dia aja gak pernah nyamperin aku kalau di pesta. Udah ahh gue mau tidur. Lo ngomongin masalah itu mulu ahh, bikin malas gue." ucap Chanyeol masuk meninggalkan Han Sung sendiri di balkon nya.
"Hais... anak itu... Semoga kamu dapat kebahagiaan besok di hari ultahmu." gumam Han Sung lalu ikut masuk ke dalam kamarnya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.