
Chanyeol dan Gladis bersiap-siap di belakang panggung menunggu MC yang akan memanggil mereka. Gladis terlihat begitu gugup karena ini pertama kalinya dia tampil, dan juga pertama kalinya dia akan duet bersama Chanyeol. Keringat dingin keluar dari seluruh tubuh Gladis. Dia benar-benar gugup sekali sekarang. Sedangkan Chanyeol tampak begitu tenang tak ada raut wajah gugup sekalipun.
"Sekarang, kita akan menyaksikan sebuah duet yang mungkin akan menjadi penampilannya terakhir di sini. Ini dia, Chanyeol dan Gladis." kata pembawa acara yang memanggil nama mereka berdua.
Chanyeol dan Gladis pun langsung menaiki panggung dari samping. Dari saat nama Chanyeol di sebut saja semua murid sudah menggila. Apalagi ini ketika Chanyeol sudah naik. Gladis bisa melihat tatapan memuja dari para gadis di sana. Tak ada yang sedikitpun melihat ke arahnya. Dia pun semakin gugup karena ternyata banyak sekali yang antusias melihat penampilan mereka. Ralat, mungkin penampilan Chanyeol.
Sedangkan Chanyeol terlihat begitu acuh dan dingin. Dia tidak menyapa balik para gadis yang tergila-gila dengannya. Baginya gadis itu mendekatinya hanya karena hartanya saja. Sedangkan dulu saat dia belum ada yang tahu kalau dia anak bungsu keluarga Park, orang orang mendekatinya karena ketampanannya. Tapi kini juga dengan hartanya. Itulah kenapa Chanyeol enggan mempublikasikan jati dirinya yang sebenarnya. Karena dia tak mau hanya di pandang dari wajah dan nama besar keluarganya. Dia benar-benar ingin sekali di pandang karena bakatnya.
Chanyeol duduk bersiap menghadap ke arah pianonya sedangkan Gladis duduk di depannya berjarak sekitar satu meter. Gladis memberikan sedikit sentuhan pengantar yang membuat semuanya mulai fokus dengan penampilan mereka.
"Selamat malam semuanya. Kami ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk kalian yang sedang merindu. Lagu ini untuk kalian yang tengah menunggu seseorang yang begitu kalian sayangi. Menunggu seseorang yang sudah pergi jauh dan entah kapan orang itu akan kembali. Selamat mendengarkan."ucap Gladis.
Chanyeol pun memberi isyarat pada Gladis bahwa ia akan mulai membawakan lagunya. Tangan Chanyeol yang lincah menari di atas piano menghasilkan alunan musik yang indah. Semua mata terpana melihat betapa lihainya Chanyeol dalam memainkan alat musik itu. Perlahan suara Gladis yang merdu mulai terdengar.
...Niga it-tteon sofa...
...Anja isseo honja...
...Dan hansumdo mot-jjago...
...Hokssi niga olkka hago...
...Meonghani hyeon-gwan jjongman barabwa...
...Du nuneul gamkko gwireul maga bwado...
...Dasi naege dorawa chueoktteuri...
...Sumeul chamneundago simjangi meomchwojilkka...
...Neol hyanghan geuriumman doedorawa...
Gladis membawakan lagu itu dengan lembut dan penuh dengan penghayatan. Semua yang menatapnya tak percaya bahawa Gladis memiliki suara yang begitu merdu dan indah. Semua semakin semangat ketika Chanyeol menyanyikan part nya. Suara merdu Chanyeol yang selalu menjadi hal yang di tunggu-tunggu oleh mereka.
...Niga it-tteon sofa...
...Neo eopssi na honja...
...I jari-eman nama...
...Neol gidarijana...
...So far...
...Nae gyeote neon so far away...
...Miryeoniraneun ge...
...Meonjiman nameun chae...
...Neol gidarijana...
Chanyeol menyanyikan partnya dengan indah dan tak kalah merdu dari Gladis. Semua mata kembali terhipnotis dengan keterampilan Chanyeol yang begitu lihai dalam menghayati lagu. Alunan musiknya yang indah dan juga suaranya yang begitu merdu membuat mereka terbuai dengan penampilan yang indah.
__ADS_1
...Honjaseon chae-ul-ssuga eopsseosseo...
...Bang ane peojin geuriumeun...
...Gaseume dameul-ssu eomneun-geol, uwo-uwo-uwo...
...Geurae geu jallan himang ttaemune...
...Na honja anja inneun ge deo gomuninde...
...Beoseonaryeogo haedo dasi neol chatkko itjjana...
...Niga it-tteon sofa...
...Neo eopssi na honja...
...I jari-eman nama...
...Neol gidarijana...
...So far...
...Nae gyeote neon so far away...
...Miryeoniraneun ge...
...Meonjiman nameun chae...
...Neol gidarijana...
...Until the end of time...
...Amuri neol biwonae bwado, wo...
...Niga it-tteon sofa...
...Neo eopssi na honja...
...I jari-eman nama...
...Neol, wo-uwo-uwo-uwo (yeah)...
...So far...
...Nae gyeote so far away (yeah, uh)...
...Miryeoniraneun ge (yeah)...
...Meonjiman nameun chae (yeah, yeah)...
...Neol gidarijana (yeah)...
Tak terasa musik sudah berhenti menandakan bahwa Chanyeol dan Gladis sudah menyelesaikan satu lagu untuk semuanya. Semua orang di sana bahkan tidak percaya kalau lagu yang di bawakan oleh Gladis dan Chanyeol sudah selesai.
__ADS_1
Gladis dan Chanyeol mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari semua siswa di sana. Penampilan mereka akan menjadi legendaris. Penghayatan lagu yang bagus membuat semuanya ikut masuk ke dalam alur yang ada di lirik itu.
Gladis dan Chanyeol turun bersamaan setelah memberi penghormatan untuk semua tamu di sana yang merupakan teman-teman nya sendiri. Chanyeol terus saja berjalan tanpa melihat ke arah Gladis. Gladis yang sebenarnya ingin berbicara sebentar saja dengan Chanyeol seperti dulu pun diam-diam mengikuti Chanyeol. Namun Chanyeol tahu kalau Gladis terus mengikutinya. Dia pun menghentikan langkah kakinya tiba-tiba membuat Gladis yang tidak bisa mengerem langkah kakinya pun menabrak punggung Chanyeol yang bidang. Chanyeol pun berbalik dan melihat Gladis yang tengah mengusap keningnya yang tadi menabrak Chanyeol.
"Mau lo apa sih dari tadi ngikutin gue mulu? Gue mau pulang." ucap Chanyeol kepada Gladis karena dia merasa risih terus di ikutin oleh seseorang.
"Gue... gue.. sebenarnya gue..." ucap Gladis tergagap.
"Sebenarnya lo apa? Ha? Gini ya dis, dulu lo selalu nolak gue setiap gue bilang gue sayang sama lo. Gue cinta sama lo, tulus. Tapi lo selalu bilang kalau jurang di antara kita itu terlalu dalam. Entah gue sebagai Chan Lin maupun Park Chanyeol, lo menolak gue dengan alasan yang sama. Sekarang gue udah jauhin lo. Gue udah jauh-jauh dari hidup lo, tapi kenapa lo justru deketin gue? Gue tahu ya kalau selama ini lo yang sering naruh sandwich dan juga susu coklat di bangku kelas gue. Gue tahu itu. Mau lo apa sebenarnya? Setelah lo nolak gue, lo mau buat gue jatuh cinta lagi sama lo? Terus lo bakalan tolak gue lagi dan ngomong ke gue kalau gue sama lo itu terlalu berbeda, jurang diantara kita itu terlalu dalam. Itu yang lo mau?" ucap Chanyeol.
Gladis terdiam tak tahu harus menjawab apa. Gladis tersadar bahwa memang selama ini dia yang selalu menolak Chanyeol. Dia yang slelau mencoba untuk menjauhi Chanyeol. Namun sekarang justru dialah yang diam-diam berperilaku seperti pengagum rahasia. Dia baru sadar kalau dirinya mencintai Chanyeol.
Tapi dia juga sadar bahwa dia hanyalah seorang anak pembantu yang hidup di yayasan. Dia tidak akan pernah sepadan dengan Chanyeol seorang penerus keluarga Park yang terhormat. Tapi Gladis tidak akan menyerah begitu saja. Cukup sekali dia bodoh dengan menolak Chanyeol. Tapi dia akan mengejar Chanyeol dan menunggunya sampai Chanyeol kembali mencintainya.
"Maaf. Mungkin memang benar apa yang lo katakan tadi. Tapi memang benar juga bahwa perbedaan di antara kita itu terlalu jauh. Lo itu anak seorang yang terpandang. Lo dari keluarga yang terhormat. Sedangkan gue cuma anak pembantu yang hidup dari yayasan. Gue sekolah juga karena beasiswa dari yayasan. Gue mesti kerja keras buat uang tambahan. Kita terlalu berbeda Chan." ucap Gladis sekali lagi membuat hati Chanyeol semakin sakit.
"Hmmm.." Chanyeol yang tak ingin semakin sakit hatinya pun memilih untuk pergi tanpa menghiraukan omongan Gladis. Dia sudah begitu sakit dengan penolakan itu. Dia tak pernah meminta untuk di lahirkan sebagai orang kaya. Kalau dia mau, dia ingin di lahirkan dari orang biasa yang tak pernah memandang status.
"Chanyeol tunggu!" teriak Gladis dari belakang mengejar Chanyeol. Chanyeol pun kembali menghentikan langkah nya namun tanpa melihat ke arah Gladis.
"Apalagi?" tanya Chanyeol dengan nafas beratnya.
"Lo mau kan menunggu gue?" tanya Gladis.
"Maksud lo?" tanya Chanyeol.
"Gue tahu, besok lo mau pergi ke LA untuk menempuh pendidikan musik lo kan? Gue di sini juga akan menempuh pendidikan gue. Gue ingin kita menunggu satu sama lain. Gue ingin lo menunggu gue sampai gue sukses. Tunggu gue sampai gue bisa pantas bersanding dengan anak keluarga Park yang terpandang. Gue ingin menunjukkan pada dunia bahwa gue pantas buat lo." ucap Gladis dengan serius.
"Apa maksud dari ucapan lo?" tanya Chanyeol.
"Gue cinta sama lo Chan. cup..."
Setelah mengucapkan kata cinta, Gladis yang lebih pendek dari Chanyeol pun berjinjit dan mencium bibir Chanyeol. Mereka berciuman. Tidak, lebih tepatnya hanya bibir yang saling bersentuh. Tak ada saling balas dalam ciuman. Setelah itu, Gladis melepaskannya dan tersenyum lalu meninggalkan Chanyeol setelah berkata.
"Aku akan menunggumu sampai kapanpun. Ku harap hatimu tidak pernah berubah." ucap Gladis sambil melambaikan tangannya kepada Chanyeol. Chanyeol masih diam terpaku di tempatnya. Tak tahu harus melakukan apa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1