Kisah Keysha

Kisah Keysha
S2. I Already Know Everything


__ADS_3

Hari ini karena Nana sudah sadar dari komanya, Woodz di pindahkan ke kamar rawat yang khusus untuk penyakit sepertinya. Di bangsal itu banyak sekali orang yang mengidap penyakit yang mematikan seperti Woodz. Woodz sendiri sampai di pindahkan ke bangsal itu, dia belum sadarkan diri. Dan hari ini dia sadar.


"Kakak mau apa? Apa ada yang di rasa sakit?" tanya Ela kepada Woodz yang semakin hari terlihat semakin pucat.


"Sayang, kakak ingin bertemu dengan dokter yang menangani kakak." ucap Woodz.


"Baiklah. Akan aku panggilkan dokter Wu kesini." ucap Ela yang langsung memanggil kan dokter Wu.


Setelah dokter Wu datang, Ela mengambil pouch nya dan langsung beranjak dari ruangan itu. Namun sebelumnya dia berpamitan dengan Woodz.


"Kak, aku akan pulang dulu ya. Gantian dengan Bunda. Karena Bunda juga ingin menemanimu. Aku juga ingin bertemu dengan si kembar yang selalu menanyakanmu. cepat sembuh ya kak." ucap Ela dengan senyuman sambil mengecup pipi Woodz.


Ela tersenyum di depan Woodz. Namun ketika dia keluar dari ruangan itu, seketika air matanya jatuh. Bagaimana bisa dia menahan kesedihan hatinya. Sudah enam tahun dia tidak bertemu dengan kakaknya, giliran sekarang di dipertemukan dengan sang kakak, justru sang kakak harus mengalami sakit yang amat sakit itu.


"Ada apa anda ingin bertemu dengan saya Tuan? Apakah anda merasakan ada yang sakit?" tanya Dokter Wu yang diminta keluarga untuk merahasiakan penyakit itu kepada Woodz. Karena pihak keluarga yakin bahwa Woodz akan sedih karena harus meninggalkan anak yang begitu di rindukan.


"Dokter, katakanlah yang sebenarnya. Apakah benar bahwa kemungkinan kesembuhan ku hanya empat persen?" ucap Woodz yang seketika membuat dokter itu tertohok. Bagaimana bisa pasiennya tahu padahal pihak saudara sendiri tak ada yang memberi tahu.


"Aku sudah tahu semuanya dok. Berterus teranglah. Aku tak akan bilang kepada keluargaku." ucap Woodz dengan tenang tanpa menunjukkan kesedihannya.


"Baiklah. Tingkat kesembuhan anda memang hanya empat persen. Namun selagi masih ada harapan, meski hanya satu persen, kami bisa menaruh harapan kami pada satu persen itu Tuan. Maka Tuan tenang saja. Kami selalu dokter akan berusaha sekeras mungkin menyembuhkan anda." ucap dokter Wu.


Meskipun dokter itu sambil tersenyum, namun Woodz tahu bahwa tak ada harapan untuknya bertahan hidup. Bahkan baginya dia hanya merasa bahwa umurnya sudah tidak lama lagi. Dia menginginkan sebuah permintaan yang tak bisa di bayangkan oleh dokter Wu.


"Dok, aku merasa bahwa umurku sudah tidak lama lagi. bisakah aku membuat satu permintaan?" tanya Woodz kepada dokter itu.


"Tuan, kami akan berusaha sebaik mungkin agar anda sembuh. janganlah anda bicara seperti itu lagi tuan." ucap Dokter Wu.


"Sudahlah dokter. Anda tak perlu bicara seperti itu. Aku tahu meskipun aku bukan orang yang mengetahui tentang medis, namun aku tahu dan paham keadaanku dok. Jadi aku mohon, kabulkanlah permintaan terakhir ku ini." ucap Woodz.


Akhirnya Dokter Wu pun luluh. Tak bisa di bohongi bahwa kanker pankreas merupakan kanker dengan tingkat kesembuhan paling rendah. Jadi dia hanya bisa berharap pada mukjizat.


"Baiklah, apa yang anda inginkan Tuan?" tanya Dokter Wu.


"Saya ingin, jika saya meninggal nanti, saya ingin mendonorkan mata saya untuk pasien buta yang mengalami kecelakaan bernama Lin Na Young." ucap Woodz dengan menahan rasa sesak di dadanya.


"Ba-bagaimana anda bisa tahu bahwa Nyonya Nana mengalami kebutaan?" ucap Dokter Wu kaget karena saat dipindahkan ke ruang rawat nya sendiri, Woodz masih dalam keadaan tak sadarkan diri.


#FlashbackOn#


Sudah seharian Woodz tak sadarkan diri. Dan akhirnya dia bangun. Namun dia merasakan pusing di kepalanya. Akhirnya dia memutuskan untuk terus menutup matanya. Karena dirasa bahwa sekelilingnya sunyi tak ada orang. Sampai pada akhirnya dia mendengar suara pintu di buka.

__ADS_1


Lalu perlahan dengan pasti dia merasakan bahwa ada seseorang yang duduk di samping brangkar nya. Dia merasakan orang itu menggenggamnya. Dia juga mendengar suara tangis dari ibundanya. Meskipun dia menutup matanya, namun dia masih bisa mengenali suara bundanya yang selalu menangis dari kecil ketika melihatnya sakit.


"Kak... kenapa kamu harus mengalami ini semua. kenapa kak.. kenapa tidak aku saja yang mengalami ini?" Woodz perlahan mendengar suara Ela yang terlihat begitu sedih dan menyayat hati di telinganya.


Woodz belum tahu apapun dengan yang terjadi. Kenapa Bundanya menangis dan kenapa adiknya juga berkata seperti itu? Apa yang dia rasakan? kenapa dia menjadi penyebab dua wanita yang paling dia cintai di dunia ini menangisinya? Sampai perkataan Yong Jin yang dia kenali dari suaranya menjawab semua pertanyaan yang ada di dalam benaknya.


"Woodz mengalami kanker pankreas. Kanker ini tidak bisa di deteksi dengan awal. Kanker ini bisa di deteksi ketika sudah menyebar dan makin parah di dalam tubuh. Seperti yang terjadi pada Woodz. Dan angka kesembuhannya kecil. Hanya empat persen kemungkinan untuk sembuh."


Seketika Woodz merasa seperti terhantam baru yang teramat besar. Dia menderita Kanker Pankreas. Kesempatan untuk sembuhnya hanya empat persen? Woodz tak bisa membayangkan bagaimana tersiksa nya nanti di saat menjelang ajalnya dia belum bisa mendengar anaknya memanggilnya dengan sebutan ayah. Belum juga kagetnya Woodz hilang, Woodz sudah di buat kaget lagi saat tahu tentang keadaan Nana.


"Saya dimana?" Woodz mendengar suara Nana untuk pertama kalinya. Dari pendengaran Woodz, bisa ia pastikan Nana terlihat begitu lemas.


"Anda tengah berada di rumah sakit Nyonya. Jangan anda bergerak terlalu banyak. Anda belum sembuh total." ucap Dokter itu.


"Tapi dok, kenapa lampunya di matikan? Apa tengah mati lampu?" Mendengar pertanyaan Nana, ingin rasanya dia melihat keadaan Nana. Namun diurungkan niatnya karena tak ingin Nana menjadi berang dan menyuruhnya pergi dari ruangan itu. Biarlah dia menjadi pendengar dalam diamnya di ruangan itu.


"Tidak Nyonya, dalam ruangan ini terang benderang." Woodz kembali mendengar suara dokter itu. Dan dia tak mendengar suara siapapun yang berada di dalam ruangan itu. Bahkan bundanya sudah terdengar tidak menangis lagi.


"Tidak dokter. saya tidak bisa melihat semuanya gelap." Woodz berpikir apakah Nana buta? Dan jawaban dari sang dokter yang ditunggu lah menjawab sudah semuanya.


"Mohon maaf, dengan berat hati saya katakan, bahwa Nyonya Nana mengalami kebutaan. Untuk permanen atau tidaknya, kami akan melakukan observasi lagi." ucapan dokter itu membuat hati Woodz teriris.


Gloria akan kehilangan ayahnya dan kini dia akan menjadi tulang punggung untuk ibunya yang buta. Woodz tak bisa membayangkan betapa sedihnya Gloria saat tahu bahwa ibunya tidak bisa melihatnya tersenyum lagi. Sungguh Woodz terasa hatinya begitu teriris.


Sampai suatu rencana terbesit di benaknya. Kalau dia tidak bisa menjaga orang yang dia cintai dan anaknya sendiri, maka dia bisa melihat anaknya tumbuh kembang dengan cara mendonorkan matanya kepada Nana. Hanya dengan itu dia bisa tetap hidup bersama Nana dan anaknya meskipun dia sudah tenang di alam sana.


#FlashbackOff#


Setelah mengatakan keinginannya itu, Woodz pun menandatangani surat persetujuan donor mata untuk Nana jika dia meninggal nanti. Dan Woodz pun menuliskan keinginan lainnya. Di salah satu keinginan itu, dia ingin mendengar anaknya memanggilnya ayah untuk terkahir kalinya.


*


*


*


Pagi ini, Ela tengah menyuapi Woodz. Dan masuklah yang lain yang juga ingin melihat keadaan Woodz. Sedangkan Nana tengah bersama dengan Bo Reum. Nana sudah menerima semua keadaan termasuk tentang hubungan Jin-young dan Bo Reum. Nana sadar bahwa hati tak bisa di paksakan.


"Mumpung semuanya kumpul, aku ingin membicarakan sesuatu." ucap Woodz sambil mencoba untuk duduk. Meskipun dia merasakan bahwa tubuhnya semakin sakit dan lemah.


"Kamu mau bicara apa nak?" tanya Key dengan lembut.

__ADS_1


"Semuanya, aku sudah tahu bahwa hidupku tidak akan lama lagi. Aku sudah tahu semuanya tentang penyakitku." ucap Woodz.


"Apa ini karena dokter Wu yang menceritakannya kak?" ucap Ela yang terlihat sebal karena mengira bahwa dokter Wu yang membocorkan nya.


"Bukan dek. Aku mendengar sendiri dari mulut kalian. Saat itu kalian tengah membicarakan tentang penyakitku sebelum Nana sadar. Disitu sebenarnya aku sudah sadar dari tidurku. Aku mendengar semuanya. termasuk dengan kebutaan Nana." ucap Woodz membuat Ela menatap sebal pada suaminya itu.


"Seharusnya aku tak berkata di ruangan itu." gumam Yong Jin yang ternyata di dengar oleh Woodz.


"Kalau lo gak bilang sama gue, mungkin, sampai akhir khayat gue, gue akan menyesal tidak menikmati waktu terakhir gue di dunia bareng lo, adik ipar." ucap Woodz.


"Apaan sih lo bro. lo itu bakalan sembuh. Gak udah ngomong yang aneh deh. Gue udah cariin dokter yang hebat dari luar negeri buat nyembuhin lo." ucap Jin-young.


"Gak perlu buang duit buat gue deh. Gue sebenarnya bukan mau ngomong ini, tapi aku ingin ngomong hal penting sebelum akhir hidupku." ucap Woodz membuat Ela membentak nya.


"KAK! Kamu itu gak akan mati. Kamu itu akan sembuh. percaya pada Tuhan. Tuhan pasti akan memberikan kesembuhan untukmu." ucap Ela sambil memegang tangan Woodz dan sudah menangis.


"Aku hanya ingin bilang, bahwa aku sudah menyiapkan lima keinginan terkahir ku di dunia ini. Aku ingin kalian mengabulkannya." ucap Woodz.


"Kak...." bentak Ela lagi.


"Apapun itu Bunda akan kabulkan Nak." ucap Key membuat Ela menatap kesal bundanya.


"Kenapa Bunda bicara seperti itu. Kakak tidak akan mati. Tidak ada keinginan terakhir apapun itu. Kakak akan sembuh.. kakak akan sembuh." ucap Ela menangis..


"Aku tak meminta banyak. Aku hanya ingin meminta lima permintaan terakhir.."


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2