
Sudah sehari Woodz dirawat di dalam ruangan rawat bersama dengan Nana. Kini selain Bo Reum, ada Key dan Ela yang tak pernah beranjak dari samping Woodz. Sedangkan Kevin tak berani berlama-lama disana. Karena dia paling tak bisa melihat Woodz sakit sejak dulu. Karena mengingat ketika Key hamil Woodz, Kevin tak berada di sampingnya dan menemani proses kelahirannya.
"Keluarga tuan Woodz, harap ikut ke ruangan saya sebentar." ucap Dokter itu dan langsung di ikuti oleh Ela, Key, Kevin dan Yong Jin yang kebetulan tengah berada di rumah sakit.
Saat sampai di ruangan dokter, Ela dan Key yang duduk di kursi sedangkan Yong Jin dan Kevin berdiri di belakang mereka.
"Bagaimana hasil dari tesnya dok?" tanya Ela selaku jubir keluarga itu. Karena Key dan Kevin sendiri tidak kuat dengan apa yang akan dikatakan oleh dokter itu nanti.
"Apa akhir-akhir ini pasien sering hilang nafsu makan dan berat badannya turun?" tanya dokter itu.
"Kurasa iya dokter. karena selama di kantor, kakak ipar saya itu sering sekali melewatkan makan nya. Bahkan pernah saya melihat dalam sehari dia itu tidak makan sama sekali dok." ucap Yong Jin.
"Memangnya kakak saya sakit apa dok?" tanya Ela yang tak sabaran mendengar diagnosis dokter.
"Saudara Woodz menderita Pancreatic Cancer, atau kanker prankeas." ucap dokter itu tegas dan jelas.
"Tidak dok. tidak mungkin dok. Bagaimana bisa kakak saya mengalami penyakit itu? sedangkan dia tak pernah menunjukkan gejala-gejala sakit itu dok." ucap Ela yang tak percaya sedangkan Key sudah memeluk Kevin sambil menangis keras.
"Kanker pankreas itu seringnya muncul di jaringan pankreas yang membantu pencernaan dan mengatur metabolisme. Deteksi dan penanganan sejak dini sulit dilakukan karena seringkali bersifat diam-diam dan cepat menyebar. seperti apa yang diderita oleh saudara anda itu. Selama ini tidak terlihat gejalanya dan langsung menyebar dan parah seperti sekarang ini."ucap Dokter itu.
"Lalu bagaimana tentang kemungkinannya untuk sembuh dok?" tanya Yong Jin.
"Penderita kanker pankreas memiliki angka harapan hidup yang paling rendah dibandingkan penderita jenis kanker lainnya, yakni kurang dari empat persen. Hal ini dikarenakan gejala kanker pankreas tidak spesifik, sehingga biasanya baru terdeteksi ketika sudah menyebar. Jadi karena saudara anda sudah parah, saya hanya bisa berusaha sebaik mungkin sebagai dokter dan semoga ada mukjizat dari Tuhan agar beliau segera sembuh dan diangkat penyakitnya. Untuk sekarang mungkin tindakannya hanya kemoterapi." ucap dokter itu.
__ADS_1
Mereka berempat pun keluar dari ruangan dokter itu. Ela terlihat lesu berjalan menuju brangkar Woodz. Kakinya serasa kehilangan tulang. Sedangkan Ayah bundanya tak berani untuk berjalan mendekati brangkar Woodz.
"Kak... kenapa kamu harus mengalami ini semua. kenapa kak.. kenapa tidak aku saja yang mengalami ini?" gumam Ela sambil menangis dan menggenggam tangan Woodz.
Jin-young yang belum tahu tentang apapun disana langsung bertanya kepada Yong Jin. sedangkan orang tua Yong Jin yang juga sudah berada di sana langsung menanyai Yong Jin.
"Woodz mengalami kanker pankreas. Kanker ini tidak bisa di deteksi dengan awal. Kanker ini bisa di deteksi ketika sudah menyebar dan makin parah di dalam tubuh. Seperti yang terjadi pada Woodz. Dan angka kesembuhannya kecil. Hanya empat persen kemungkinan untuk sembuh." ucap Yong Jin dengan sedih.
Nyonya Park yang mendengar itupun langsung syok dan terduduk di sofa nya. Dia melihat kearah Key yang terus menangis dalam pelukan Kevin. Bisa dia bayangkan bagaimana rasanya menjadi Key yang mendengar bahwa anaknya tersebut menderita penyakit yang membahayakan.
"emm.." terdengar sebuah gumaman kecil yang seperti rintihan di sertai dengan sebuah tanda gerakan di jari tangan Nana.
"Kak, kak Nana.. kak Nana sudah bangun.. semuanya.. Dok... Dokter.." ucap Bo Reum yang duduk di samping Nana berteriak senang karena melihat Nana sudah sadarkan diri.
"Saya dimana?" ucap Nana setelah membuka matanya.
"Anda tengah berada di rumah sakit Nyonya. Jangan anda bergerak terlalu banyak. Anda belum sembuh total." ucap Dokter itu.
"Tapi dok, kenapa lampunya di matikan? Apa tengah mati lampu?" tanya Nana yang merasakan gelap di sekitarnya.
"Tidak Nyonya, dalam ruangan ini terang benderang." ucap Dokter itu. Yang lain pun ikut mengerutkan keningnya karena heran dengan Nana yang mengatakan bahwa ruangan ini gelap. Termasuk Ela yang menyaksikan Nana dari samping brangkar Woodz.
"Tidak dokter. saya tidak bisa melihat semuanya gelap." ucap Nana sambil meraba-raba matanya karena dia mengira matanya tengah di tutupi kain kasa seperti yang dilihat di TV itu.
__ADS_1
Dokter pun memeriksa mata Nana dengan senter yang dinyalakan lalu diarahkan ke pupil mata Nana. Dokter itu melihat bahwa mata Nana tidak merespon silaunya cahaya dari lampu senter kecil itu.
"Ada apa dengan Nana dok?" tanya Jin-young.
"Mohon maaf, dengan berat hati saya katakan, bahwa Nyonya Nana mengalami kebutaan. Untuk permanen atau tidaknya, kami akan melakukan observasi lagi." ucap Dokter itu membuat semua yanga di ruangan itu pun langsung kaget dan terdiam.
Terlihat Nana yang hanya diam merespon apa yang di katakan dokter itu. Nana hanya menangis dalam diamnya. Dia tidak menyangka bahwa tak akan bisa melihat dunia untuk selamanya. Dia menangis tak bisa melihat wajah cantik anaknya lagi.
Bagaimana dia bisa membesarkan anaknya nanti jika dia saja tidak bisa melihat? Dia hanya akan menjadi beban untuk anaknya kelak. Dia tak bisa memikirkan itu lagi.
"Tuhan... Vin's sudah pergi dariku, lalu kedua orang tuaku, setelah itu Jin-young. Sekarang engkau mengambil penglihatanku setelah aku hanya punya Gloria. Bagaimana aku bisa menghidupi Gloria jika aku harus huta seperti ini Tuhan..." batin Nana dengan sedih. Dia tidak bisa berpikir jernih sekarang.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.