
Setelah pertemuan mereka di parkiran tadi, Ela tak sungkan menggandeng tangan Woodz. Namun ketika mereka memasuki ruangan, Woodz langsung melepaskan tangannya dari gandengan Ela. Awalnya Ela enggan melepaskannya, namun karena perkataan suaminya, Ela akhirnya menurut.
"Kalian dari mana saja? Kenapa tidak ikut makan bersama?" ucap Eomma panti.
"Kami tadi di ajak oleh Woodz untuk makan di bawah pohon yang rindang karena Woodz merasa bahwa kita ini orang kota yang jarang makan di alam terbuka. Makanya dia mengajak kami makan di alam terbuka." ucap Yong Jin.
"Aiss... kau memang cocok dengan alam Woodz. Seperti namamu." ucap Seung woo.
"Baiklah, kalau begitu, mari kita mengantar rombongan dulu." ucap Jin-young.
Lalu mereka meninggalkan rombongan yang akan pulang ke Seoul. Meninggalkan dua keluarga ini. Mereka pun berkumpul selama disini.
"Yang, kamu kenal dengan Woodz?" tanya Nana kepada Jin-young ketika mereka hanya berdua saja.
"Ya tentu kenal lah. Kan tadi dia udah kenalin diri di sini." ucap Jin-young.
"Ishh... bukan itu maksudnya. Maksudku apa kamu kenal dia dari dulu?" tanya Nana.
"Ya gak lah. Aku mana kenal dengan pihak panti kalau bukan karena kesini." bantah Jin-young.
"Lalu, kenapa kalian akrab sekali?" tanya Nana.
"Ya karena kita merasa cocok jadi kita akrab. Orangnya baik juga kok." ucap Jin-young.
"Baik apanya. dari tampilannya aja nyeremin kaya preman." kata Nana yang sebenarnya merasa janggal dengan orang itu.
"Terserah kamu lah..." Jin-young pun pergi meninggalkan Nana sendiri di luar yang masih asyik menatap langit malam.
Tiba-tiba saja ada Ela yang datang menghampiri Nana. Ela duduk di samping Nana dengan jarak sekitar setengah meter.
"Apa kabar lo? Bahagia lo di sana?" tanya Ela kepada Nana dengan pandangan ikut menatap langit. Nana pun mengalihkan pandangannya ke arah Ela.
"Lo tanya gue?" kata Nana sambil menunjuk mukanya sendiri.
"Ya iya lah. Lo, siapa lagi disini kecuali lo." ucap Ela.
__ADS_1
"Ya... gue baik sih. Makin baik malah." ucap Nana dengan nada sombongnya.
"Emangnya lo kagak nyesel setelah ambil keputusan itu?" tanya Ela.
"Buat apa gue nyesel. Gue punya Gloria. Gue juga punya Jin-young. Hidup gue udah lengkap dan bahagia. Buat apa gue menyesali yang udah lalu. Justru gue bersyukur sudah mengetahui dengan mata kepala gue kalau abang lo itu gak sebaik yang lo kira." ucap Nana dengan sarkas nya.
"Kalau seumpamanya kak Jin-young juga melakukan hal yang sama di mata lo, apa lo juga akan melakukan itu kepada kak Jin-young? Seperti apa yang lo lakuin terhadap kakak gue?" tanya Ela.
"Jin-young gak mungkin khianati gue La. Dia itu cinta mati sama gue. Cuma belum dapet momentnya aja untuk nikahin gue." ucap Nana.
"Ya gue berdoa aja moga kak Jin-young gak akan mengkhianati lo seperti apa yang di lakukan kakak gue. Ups.. kakak gue juga gak khianati lo sih, lo nya aja yang salah paham." ucap Ela.
Nana pun menjadi kepikiran atas apa yang dikatakan oleh Ela. Nana menjadi berpikir negatif thinking tentang Jin-young. Seperti ketika Jin-young yang menjauh ketika menerima telfon. Padahal biasanya tidak. Aneh banget menurut Nana.
"ishh... kenapa sih gue mesti kemakan omongan tuh nenek lampir." batin Nana.
*
*
*
Selama berada di Busan, sebisa mungkin Jin-young mendekatkan Gloria kepada Woodz. Semuanya tak tahu apa yang tengah di lakukan oleh Jin-young. Karena ini hanya rencananya. Jin-young tahu bahwa tidak mungkin sepenuhnya Woodz benar-benar move on dari Nana. Ia yakin bahwa nama Nana masih bertengger manis di hati Woodz.
Sedangkan Woodz sendiri bahagia bisa dekat dengan anaknya. Meskipun jika ada Nana yang tak mengenalinya, Nana akan menjauhkan Gloria darinya, tapi itu tak membuat kebahagiaan Woodz pudar. Dia merasa menjadi orang yang paling bahagia ketika bisa dekat dengan anak kandungnya sendiri.
Kini mereka semua sudah sampai di rumah mereka di Seoul. Jin-young langsung berlari ke rumah seberang. Rumah milik Yong Jin. Tapi Nana tak ikut ke sana karena malas bertemu dengan mereka yang selalu memojokkan nya dan menatapnya dengan penuh amarah.
"Mama, Bunda, Ayah... kita pulang.." teriak Ela.
"Wah kalian sudah pulang." sambut Kevin.
"Kakek..." Minky dan Junnie langsung berlari ke dalam pelukan Kevin.
Sedangkan Nyonya Park dan Key berdiri di belakang Kevin dengan mengulum senyumnya. Namun mata Key basah karena melihat sosok lelaki yang berdiri mematung di belakang bersama Jin-young yang memegang pundak lelaki itu.
__ADS_1
Lelaki yang tak pernah membuat Key pangling walaupun tampilannya kini yang acak-acakan dan penuh dengan tato. Kevin ikut mendongak ketika melihat seseorang di belakang Ela dan Yong Jin. Kevin menatap lelaki yang begitu di rindukan nya itu.
Perlahan, Kevin dan Key berjalan melewati Ela dan Yong Jin. Nyonya Park sendiri sudah tahu bahwa nantinya mereka akan pulang bersama dengan Vin's. Namun dia tak menyangka bahwa tampilan Vin's sekarang tak ubahnya seperti seorang preman. Begitu berbanding terbalik dengan dia yang dulu begitu rapi dan tampan.
"Anakku...." ucap Key lirih sambil terus menangis.
Kevin langsung saja memeluk tubuh Woodz. Dengan erat Kevin mencurahkan kerinduannya kepada anak lelaki tercintanya itu. Woodz pun ikut menangis merasakan begitu kangennya dia dengan kedua orang tuanya tersebut.
"Akhirnya kamu kembali sayang.. Bunda merindukan kamu nak. Kemana saja kamu selama ini?" tanya Key dengan terisak di dada anaknya tersebut.
"Maafkan aku Bunda.. Ayah.. Maafkan aku.." ucap Woodz.
Dan sekali lagi Ela berubah menjadi seperti anak kecil karena kepulangan kakaknya membuatnya untuk tidak mengharuskan dia menjadi orang yang lebih dewasa dari umurnya. Padahal umurnya juga sudah mendekati kepala tiga.
"Ya... sudah sudah sudah... kasihan kakak yang udah kangen sama masakan Bunda. Lebih baik Bunda masak yang enak untuk kakak dan juga anak gadisnya ini." ucap Ela menghentikan acara pelukan ketiga orang itu.
"Baiklah.. Bunda sampai lupa kalau Bunda punya anak gadis disini. Ayo semuanya ke meja makan. Kita makan bersama." ucap Key.
"Tante... Mian... Jin-young ikut juga kan?" tanya Jin-young dengan nada sok manisnya.
"Heh dasar kamu anak nakal. Sini, kamu sebelum minta makan tuh kerja dulu." ucap Nyonya park yang menyeret Jin-young menuju meja makan untuk membantunya menyiapkan peralatan.
Sedangkan yang lainnya hanya tertawa melihat itu. Woodz merasakan bahwa dia kembali pulang setelah lama dia berada di tempat yang bukan seharusnya. Kini dia kembali pulang ke rumah.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.