Kisah Keysha

Kisah Keysha
S2. Park Jin-young And Yuna Scene 06


__ADS_3

Pagi harinya, Yuna dan Jin-young sudah berada di dalam pesawat pukul delapan pagi. Ada drama sedikit antara Yuna dan Ayahnya. Ayahnya ikhlas membiarkan Yuna pergi karena selama ini Yuna anak rumahan. Namun berbeda dengan Yuna, bukan Yuna yang takut meninggalkan ayahnya melainkan Yuna sendiri yang takut jika berada jauh dari ayahnya.


"Berhentilah menangis. Ini sudah satu jam berlalu kita lepas landas. Kenapa terus aja kamu nangis sih. Ayah juga gak akan denger ini." ucap Jin-young yang melihat Yuna menangis sambil melihat keluar jendela.


Untungnya kelas yang dia ambil kelas satu jadi jarak antara penumpang cukup jauh. Karena jika banyak orang yang tahu, dia tak bisa menanggung malunya. Namun jawaban yang di dengar dari mulut istri kecilnya itu benar-benar tak dia sangka.


"Aku bukannya menangisi ayah. Tapi aku takut sama ketinggian. Hua..." tangis Yuna pecah yang langsung memeluk lengan Jin-young.


"Kalau takut ketinggian kenapa milih kursi di samping jendela sih.. kan nangis terus jadinya. Kering air mata mu kalau selama perjalanan nangis." ucap Jin-young.


"kata Ryujin pemandangan dari pesawat itu indah sekali. Ku pikir juga tidak akan setinggi yang aku perkirakan. Gak tahunya segini tingginya." ucap Yuna masih dengan sisa sesenggukan nya.


"Hais... ya sudah, lebih baik kamu tidur saja. Karena perjalanan kita akan memakan waktu seharian." ucap Jin-young.


Akhirnya Jin-young mendiamkan Yuna yang bersandar pada lengannya. Tanpa terasa nafas Yuna sudah teratur menandakan bahwa dirinya sudah berada di alam mimpi. Jin-young pun juga ikut memejamkan matanya. Dia menyandarkan kepalanya pada kepala Yuna. memegang erat tangan Yuna seperti tak ingin kehilangan Yuna.


Yuna merasakan tubuhnya sakit. Dia mengerjapkan badannya dan melihat bahwa di luar jendela sudah mulai petang. Mungkin jika dia di darat makan sudah malam. Yuna memperhatikan tangannya yang di genggam erat oleh Jin-young. Kepala Jin-young sudah tak menyender di kepalanya, maka dari itu Jin-young tak tahu bahwa Yuna sudah bangun.


Yuna perlahan mengambil HP nya tanpa membuat Jin-young terbangun. Yuna memotret moment ketika tangannya di genggam oleh Jin-young. Ini mungkin akan menjadi hal yang jarang sekali dia dapatkan mengingat selama ini dia di sentuh sekalipun tidak. Walaupun mereka berada di ranjang yang sama.


Yuna tidak jatuh cinta? Itu tidak mungkin. Bagaimana bisa seorang Yuna yang tak pernah dekat dengan cowok tidak jatuh cinta dengan Jin-young yang begitu tampan menurutnya itu. Kalau boleh jujur, dia ingin mengatakan hal itu kepada Jin-young. Dia ingin jujur bahwa dia mencintai Jin-young. Dia sudah jatuh cinta kepada lelaki yang berstatus suaminya itu.


__ADS_1


Yuna menjadikan foto itu sebagai unlock screen. Sedangkan wallpaper utamanya sudah terpasang foto saat suaminya itu tengah tertidur lelap. Fotonya terlihat manis baginya. Maka dari itu dia menyimpannya dan menjadikan foto itu wallpaper di hpnya.


Yuna merasakan ada sedikit pergerakan dari sang pemilik tangan. Yuna pun segera menyimpan hpnya dan berpura-pura tertidur kembali. Dia merasakan bahwa tangannya di lepas oleh Jin-young. Lalu Jin-young beranjak dari duduknya. Dan saat itu Yuna melihat Jin-young pergi ke dalam kamar mandi yang berada di kabinnya. Yuna memutuskan untuk bangun saja.


"Ohh.. aku membangunkanmu?" tanya Jin-young saat dia kembali sudah melihat Nana yang tengah menikmati camilan nya.


"Emm.. oppa, sudah sampai mana ini?" tanya Yuna.


"Entahlah.Tapi paling sebentar lagi kita akan sampai." ucap Jin-young.


Akhirnya sisa waktu di penerbangan, Yuna pakai untuk menonton film di laptop yang baru beberapa hari menemaninya. Dia benar-benar menggunakan uang dari Jin-young dengan baik. Bahkan dia tidak shoping di Mall atau makan di restoran mewah layaknya orang kaya lainnya. Dia tidak menambah koleksi pakaiannya jika Jin-young tidak membelikannya keika mereka berada di busan. uangnya benar-benar untuk beli barang yang benar-benar dia butuhkan seperti HP canggih, laptop, buku atau apa yang berhubungan dengan belajar.


"Sudah hampir sampai. Ayo kamu pakai sabuk pengamanmu. kita akan mendarat." ucap Jin-young.


"Kamu itu ya, kalau matanya tak sehat pakai kacamata. Indah dari mana kalau dilihat dari atas pas saat malam hari lagi." ucap Jin-young geleng kepala.


"Ohh iya Oppa, bukannya disini ada air terjun terbesar apa tertinggi itu ya oppa. mau dong kesana oppa." ucap Yuna girang.


"Besok ya, itupun kalau aku ada waktu. Karena kita disini bukan untuk wisata. Tapi aku juga akan melihat perusahaan juga." ucap Jin-young.


"Berarti kita akan ke Amerika juga dong oppa?" tanya Yuna.


"Hmmm.." hanya jawaban singkat yang Jin-young berikan kepada Yuna.

__ADS_1


Jika Jin-young sudah menjawabnya seperti itu, artinya Jin-young sudah mulai bosan dengan topik yang Yuna bicarakan. Yuna hanya diam saja tanpa tahu apa yang akan dialakukan selanjutnya.


Saat sudah turun dari pesawat, Jin-young langsung di sambut oleh sopir pribadi keluarganya. Merasa lelah dengan perjalanan, Jin-young mencoba memejamkan matanya. Namun dia gagal tertidur karena mendengar ucapan Yuna yang terus mengatakan kata yang sama setiap melihat jalanan yang dia lewati serta pemandangan sekelilingnya.


"Woah... woah... woah... woah..."


Dia begitu takjub melihat dunia luar yang belum pernah dia lihat. Setiap ada hal yang menarik perhatiannya, dia memotret nya dengan camera yang dia bawa. Dia benar terlihat seperti turis karena mengalungkan camera di lehernya seperti seorang pelancong.


Hal itu dia lakukan untuk membagi kenangan bersama ayahnya nanti jika dia pulang ke Korea. Bahwa putri kecilnya kini sudah bisa keliling luar negeri untuk melihat dunia Baru. Dunia yang lebih indah dari lingkungannya. Burung kecilnya kini sudah menjadi burung garuda yang mengarungi cakrawala.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2