
Kamar Zie.
"Gue disini sekarang berperan sebagai tunangan Chanyeol. Alias Chan Lie di sekolah. Gue harus bisa buat Chanyeol jatuh cinta sama gue." gumam Zie pada dirinya sendiri.
Tok tok tok... Pintu kamar Zie di keuk seseorang. Dan belum Zie persilahkan masuk, pintu itu sudah terbuka. Dan masuk lah seseorang yang tadi mengetuk nya.
"Om.." sa0a Zie kepada Yong Jin.
"Gimana? nyaman kan kamarnya? Nanti kalau ada apa-apa kamu bilang sama Bibi." ucap Yong Jin.
"Nyaman kok Om." jawab Zie.
"Ohh ya, jangan lupa, Chanyeol yang sekarang itu lebih membangkang. Kamu harus bisa buat dia jatuh cinta dan bertekuk lutut denganmu. Om gak mau kalau dia jatuh cinta dengan wanita lain." ucap Yong Jin.
"Om tenang saja. Sampai waktunya tiba dia pasti akan bertekuk lutut padaku. Om tenang saja." ucap Zie percaya diri.
"Baiklah kalau begitu. Istirahat lah." kata Yong Jin yang setelah itu langsung keluar dari kamar Zie.
Sedangkan Chanyeol yang dibicarakan masih betah berada di kamar Han Sung. Dia bermain PlayStation bersama Han Sung. Bahkan mereka berdua sudah menghabiskan banyak sekali camilan yang tersedia di lemari pendingin milik Han Sung di kamarnya.
"Pantas ya, lo kalau udah masuk rumah seringnya sampai di katain anak rumahan gara-gara sering ngurung diri di kamar habisin banyak makanan." ucap Chanyeol.
"Ya kalau gue lagi bosen jadi trouble maker ya gini kerjaan gue." ucap Han Sung santai.
"Udah malam aja nih. Gue balik ke kamar gue ya. Besok kita berangkat bareng." ucap Chanyeol.
"Oke."
*
*
*
__ADS_1
Paginya, seperti kebiasaan seminggu belakangan ini. Han Sung menghampiri Chanyeol dirumahnya. Dia langsung duduk di kursi penumpang samping kursi pengemudi yang di kemudikan oleh Chanyeol.
Namun saat hendak melakukan mobilnya, Chanyeol dan Han Sung kaget saat tahu Zie masuk dan duduk di kursi belakang mobil mereka. Han Sung dan Chanyeol langsung melihat ke arah Zie. Namun yang dilihat hanya tersenyum.
"Kenapa? Ayo jalan. Nanti telat." ucap Zie.
"Ngapain lo masuk ke mobil gue?" ucap Chanyeol dingin.
"Lo lupa omongan bokap lo semalam. Mulai hari ini kan gue tinggal sama lo. Jadi ya pulang pergi sekolah gue harus sama lo. Kemanapun lo pergi gue juga harus ikut." ucap Zie.
"Udah Chan, bahas nanti lagi aja. Udah jam segini. Buruan ayo berangkat." ucap Han Sung tak ingin memperpanjang perdebatan agar tidak telat ke sekolah.
Akhirnya mereka melaju ke sekolah. Karena mood Chanyeol sedang tidak baik pagi ini, maka dia mengendarai mobilnya dengan sedikit mengebut. Han Sing hanya diam melihat sikap Chanyeol. Karena jika dia berbicara pasti yang ada Chanyeol akan menyuruhnya turun dari mobil dengan paksa meskipun keadaan tengah melaju kencang.
Sampai di sekolah, Chanyeol turun tanpa banyak bicara. Bahkan saat Zie terus menempelinya, Chanyeol tak berbicara sepatah katapun. Hal itu membuat Han Sung merasakan bahwa Chanyeol semakin dingin.
"Chan, ada apaan tuh di papan pengumuman. Kenapa rame banget pada kumpul disitu?" tanya Han Sung yang melihat bahwa papan pengumuman di depannya begitu penuh dengan siswa.
"Coba kita kesana. Kita lihat." ucap Chanyeol.
"Kemah musim panas?" ucap Zie.
"Ternyata kali ini tempatnya lebih jauh dari yang di perkirakan. Prefektur Tochigi, Jepang. pasti yang memilih tempatnya si anak kaya sombong itu." ucap Han Sung.
"Kalau iya emangnya kenapa?" ucap seseorang di balik kerumunan.
Dari nada bicaranya yang selalu ketus di hadapan gengnya Chanyeol sudah bisa di tebak kalau dia anak kaya sombong yang di maksud oleh Han Sung tadi. Dia dan dua orang temannya merupakan orang pendatang di Korea. Tapi keluarga mereka keluarga yang kaya di Korea. Mereka adalah Max si ketua geng, dan dua temannya Brian serta Louis.
"Ohh jadi bener lo yang ngatur semuanya. Gua heran sama bokapnya Taeyong. Dia kan pemilik sekolah ini. Kenapa mesti semuanya ngikut sama kemauan lo." ucap Han Sung.
"Ya karena keluarga gue lebih segalanya daripada keluarga Taeyong. Lagian dia juga cuma pemilik sekolah ini doang. Dalam hitungan menit sekolah ini jadi milik gue juga bisa kali." ucap Max sombong seperti biasanya.
"Lagian kalian berdua dari anak tak mampu mending gak usah ikut deh kemah musim panas. Mending tidur di rumah sambil minum susu." ledek Louis.
__ADS_1
"Kurang, tambah pakai pokok." lanjut Brian.
Ketiganya langsung tertawa. Namun tak ada yang ikut tertawa selain mereka bertiga. Karena di sekolah, meskipun mereka juga terkenal dengan tampannya, tapi ketampaban mereka mengalahkan geng Chanyeol yang walaupun trouble maker, mereka tak sekalipun pernah bersikap sombong terhadap teman-temannya.
Berbeda dengan geng Max yang terus menyombongkan kekayaan keluarganya. Padahal tak tahu aja bahwa keluarga Max itu masih di bawah keluarga Chanyeol dan Han Sung. Namun karena Chanyeol dan Han Sung tidak mau mempublikasikan jati diri mereka yang sebenarnya, mereka enggan bersikap seolah yang memiliki kekayaan itu mereka. Ya meskipun mereka bisa saja seperti Max, karena uang saku mereka yang melimpah. Namun bukan di sekolah tempat mereka untuk pamer. Ada tempat lain yang lebih pas untuk di pakainya menghabiskan semua uangnya.
"Jangan sombong dulu. Kita lihat saja kedepannya, lo yang akan terus sombong atau lo yang bakal menunduk malu setelah tahu siapa gue yang sebenarnya." ucap Chanyeol tajam kepada Max.
Max yang di tatap tajam oleh Chanyeol itupun enggan untuk menatap balik karena jujur saja dia takut kepada Chanyeol yang memiliki wibawa penuh dengan jiwa kepemimpinan. Hanya melihat tatapan mata Chanyeol saja membuat semuanya langsung terdiam.
"Udah Chan. Biarin aja. ayo ke kelas." ucap Zie yang langsung menarik tangan Chanyeol keluar dari sana.
Saat sudah jauh dari kerumunan, Chanyeol menghempaskan tangan Zie. Dia langsung menatap tajam Zie. Zie hanya menatap penuh tanya kenapa Chanyeol menatapnya seperti itu.
"Jangan pernah sekalipun lo pegang pegang gue." ucap Chanyeol dingin tanpa perduliin Zie.
Saat Chanyeol hendak masuk ke dalam kelas, Zie sebenarnya ingin menggandeng tangan Chanyeol lagi. Namun ternyata sudah keduluan dengan seseorang yang memanggil Chanyeol dengan suara cempreng nya.
"Chan-Chan......" teriaknya.
Hanya mendengar dia berteriak saja Chanyeol sudah tahu siapa yang memanggilnya walaupun dia tak melihatnya. Siapa lagi kalau bukan si manis yang tengah memenuhi hati Chanyeol itu. Gladis. Mendengar gadis itu berteriak namanya membuat Chanyeol merasa tak karuan. Dia merasakan bahwa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.