
Han Sung sempat menitikkan air matanya karena ternyata Daddy nya sempat berpesan kepada Chanyeol untuk melindunginya dan Mommynya. Han Sung belum pernah sekalipun mendengar tentang ini. Dia baru kali ini mendengar dari Chanyeol. Kalau Chanyeol tidak di tanya oleh Taeyong dan Jihoon, mungkin selamanya Han Sung tidak akan mendengar tentang wasiat dari Daddy nya untuk Chanyeol itu. Mungkin itu alasan kenapa Chanyeol selalu ada untuknya meski dalam keadaan cacat sekalipun seperti ini Chanyeol masih saja bertaruh nyawanya untuk terjun ke dunia mafia.
"Aku bahkan tidak tahu kalau Daddy berpesan seperti itu denganmu Chan. Aku hanya melihat senyum terakhirnya sebelum akhirnya bom itu menewaskannya. Jadi apakah ini alasannya menaruh kan semua nyawamu untukku? Bahkan sampai sekarang?" tanya Han Sung yang sudah penuh dengan emosionalnya.
"Chanyeol melakukan itu pasti karena dia begitu menyayangimu Hans. Tidak mungkin dia akan rela mempertaruhkan nyawanya hanya demi kamu kalau kamu bukan orang terpenting untuknya. Dan aku pun jika berada di posisi Chanyeol akan melakukan hal yang sama untukmu." ucap Jihoon yang kali ini terlihat lebih dewasa dari biasanya. Dia biasanya selalu urakan dan terlihat seperti anak kecil. Tapi omongannya kali ini benar-benar terlihat seperti dewasa.
"Kita semua yang berada di sini terpukul mendengar kabar kematian kalian. Apa kalian tahu itu? Rasanya aku ingin ikut menyelam ke dasar samudera untuk mencari kalian. Dan saat itu aku baru teringat akan bibi. Aku pergi ke rumah ini untuk mencari bibi. ternyata bibi sudah melihat berita itu melalui TV yang berada di kamarmu karena bibi tengah membersihkan kamar mu. Kamu tahu apa yang aku lihat? Aku melihat bibi menangis meraung-raung sambil duduk di lantai dengan terus memanggil namamu. Awalnya aku tidak percaya dengan apa yang ada di berita itu. Namun setelah melihat kesedihan bibi, aku menjadi yakin kalau sesuatu sudah terjadi denganmu. Firasat bibi tidak pernah bohong. Bibi sudah seperti ibumu, dia akan tahu walau kamu hanya terluka sekecil apapun itu." ucap Taeyong menceritakan tentang bagaimana kondisi ketika kabar kematian Chanyeol berembus.
"Segitunya kah? Apa hanya Chanyeol saja yang kalian tangisi? Apa aku tidak kalian tangisi?" tanya Han Sung yang merasa kalau yang dari tadi di ceritakan hanya tentang Chanyeol.
"Kurasa kalau bagian itu hanya untuk Jihoon. Dia menangisimu hanya karena tak bisa bermain VR denganmu saja." ucap Taeyong di sambut tawa dari Jihoon.
"Kalian jahat." ucap Han Sung berpura-pura ngambek.
"Tapi kita senang saat Hans mencoba menghubungi kami lalu bertemu dengan kami. Itu menjadi anugrah yang benar-benar indah dari Tuhan. Kita gak pernah menyangka kalau kalian benar-benar masih hidup." ucap Jihoon.
"Itu benar. Rasanya hidup kita berantakan tak ada kalian." timpal Taeyong.
"Iya berantakan sekali. Aku tahu semuanya tentang kalian enam tahun belakangan ini. Aku mencari tahu sendiri tentang kehidupan kalian disini akankah bisa berjalan lancar atau tidak. Ternyata sungguh kasihan sekali kalian. Taeyong, kamu sudah tiga kali gagal tunangan kan? Dan untuk kamu Jihoon, kamu selalu di manfaatkan oleh wanita untuk mendekati mu hanya karena ingin lebih dekat dengan Taeyong. Benar kan?"ucap Chanyeol.
"Ka-kamu tahu darimana tentang ini semua? Bahkan aku sendiri tidak memberitahu kepada Hans ketika kita bertemu dulu." tanya Taeyong yang tidak merasa membeberkan informasi nya kepada siapapun.
"Kalian jangan remehin Chanyeol. Dia walaupun dalam keadaan seperti ini dia bisa mencari tahu apapun yang dia mau. Termasuk kehidupan kalian. Kalau aku menceritakan detailnya kalian pasti akan kaget. Tapi aku tak akan menceritakan nya. Karena disini yang berhak bercerita adalah Chanyeol sendiri." ucap Han Sung membuat Taeyong dan Jihoon yang penasaran langsung menoleh ke arah Chanyeol.
__ADS_1
"Aku kenapa memangnya? Aku hanya seorang CEO biasa yang menyuruh anak buahku untuk mencari tahu tentang kalian disini. Jadi apa yang perlu ku ceritakan?" ucap Chanyeol.
Chanyeol sama sekali enggan untuk membeberkan tentang jati dirinya yang sebenarnya. Bagaimanapun juga mereka baru bertemu untuk pertama kalinya setelah delapan tahun mereka tidak bertemu. Chanyeol memang masih menganggap mereka sahabat. Terlebih lagi sudah dari kecil mereka bersama-sama. Tapi kini bagi Chanyeol tetap ada batasan sebagai orang asing untuk mereka. Chanyeol belum tahu apakah Taeyong dan Jihoon berada di pihaknya atau bukan.
"Hais.... ku pikir kamu seorang presiden atau apa. Kalau cuma seorang CEO mah aku juga seorang CEO. Tak perlu ada yang di banggakan disini." ucap Taeyong yang merasa kecewa karena dia pikir akan mendapatkan sebuah berita besar tapi ternyata hanya sebuah oasis yang dia lihat dari kejauhan.
"Aku juga CEO disini Hans. Kamu hanya terlalu membesar-besarkannya Hans." ucap Jihoon dengan geleng-geleng kepala.
"Bukankah CEO itu hebat? apalagi dengan keadaan Chanyeol yang seperti ini. Aku saja kagum dengannya. Aku selalu belajar darinya. Aku bahkan masih berada di bawahnya. Aku hanya wakilnya saja." ucap Han Sung mencoba untuk menutupi kalau Chanyeol lebih dari sekedar CEO. Awalnya dia pikir kalau Chanyeol akan terbuka, tapi ternyata tidak.
"Kamu hanya wakilnya? kupikir kalau kamu juga seorang CEO di sebuah perusahaan." ucap Jihoon kaget. Begitupun juga Taeyong yang kaget setelah mendengar ini.
"Aku belum di percaya penuh oleh uncle Yong Jin. Tapi bagiku tak apa. Yang terpenting masih ada Chanyeol di sisiku yang selalu ada untukku sudah lebih cukup dari seluruh harta di dunia ini." ucap Han Sung dengan penuh penghayatan.
Tepat pukul delapan pagi Chanyeol terbangun. Matahari sudah keluar dari peraduan masuk ke dalam kamar melalui jendela kamar yang semalam tirainya di biarkan terbuka. Ketiga teman nya masih saja pulas tertidur. Chanyeol juga berpikir kalau Freya dan Scarlett pasti masih tertidur pulas. Chanyeol mengambil pakaian ganti lalu mendorong kursi rodanya ke kamar mandi. Dia melakukan ritual mandi dengan tenang tanpa takut ketahuan oleh temannya yang tengah mabuk berat itu.
Tak butuh waktu lama dia sudah selesai. Dia keluar dari kamar mandi dengan pakaian rumahan yang rapi. untungnya syutingnya masih lusa jadi badannya tidka terlalu kacau. Saat dia tengah berkaca di kamarnya, dia sempat mendengar suara dentingan piano yang mengalun indah dari luar kamarnya. Chanyeol pun langsung duduk di kursi rodanya dan menjalankan kursi rodanya untuk melihat siapa yang dengan jelas bermain piano itu.
Dari nadanya saja Chanyeol sudah bisa menebak lagu apa yang tengah di mainkan. Chanyeol masih teringat dengan jelas lagu yang dulu begtu dia sukai itu. Lagu berjudul sofa yang selalu dia nyanyikan ketika sedang merindukan seseorang. Chanyeol perlahan menjalankan kursi rodanya untuk sampai di ruang tengah. Dia mencari sumber suara dimana orang itu bermain piano.
Chanyeol melihat seorang anak kecil yang tengah bermain dengan piano yang Chanyeol masih ingat kalau piano itu miliknya. Piano yang menjadi saksi berapa banyak lagu yang di ciptakan oleh Chanyeol. Ternyata di ruang tengah bukan hanya piano. Tapi juga ada alat musik Chanyeol yang lain berada di sana. Ternyata Taeyong memindahkannya ke ruang tengah.
Chanyeol melihat anak kecil itu dengan penuh penghayatan. Dia merasa kalau anak kecil itu sungguh mirip dengan dirinya. Mirip dirinya yang dulu selalu bermain dengan Yura. Tanpa Chanyeol sadari, ternyata permainan anak kecil itu sudah selesai. Sekilas Chanyeol langsung bertepuk tangan dengan keras. Anak kecil itupun melihat kearah Chanyeol. Namun tiba-tiba mata anak kecil itu melotot melihat Chanyeol. Dia kemudian berlari ke arah dapur meninggalkan Chanyeol sendiri yang terbengong karena kejadian itu.
__ADS_1
Chanyeol pun tidak memperdulikan nya. Dia justru menjalankan kursi rodanya untuk lebih dekat dengan pianonya. Dia sudah delapan tahun tidak memainkan piano itu. Rasanya ada perasaan hangat di dalamnya. Dia begitu merindukan piano yang hanya sebuah benda mati itu. Tiba-tiba Chanyeol mendengar keributan dari arah dapur.
"Ayo Eomma, nenek.. Yoon Gi tidak bohong. Yoon Gi benar-benar melihat Lin Chan-Chan. Dia benar-benar ada di sini." ucap Yoon Gi. "Dia ternyata lebih tampan dari di video. Pokoknya kita harus berfoto bersama." ucap Yoon Gi yang terus menarik Gladis dan bibi.
"Nah ini dia orangnya!" ucap Yoon Gi dengan begitu gembira.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.