
Setelah menempuh waktu yang begitu lama, akhirnya Chanyeol sampai di Los Angeles. Chanyeol sampai di sana pukul dua belas siang. Meskipun dari Korea pukul satu siang, dan seharusnya sampai di Los Angeles pukul empat pagi setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas jam. Namun karena perbedaan waktu di Korea lebih cepat enam belas jam dari Los Angeles, maka Chanyeol merasakan kalau dirinya memutar waktu kebelakang satu jam.
Untungnya sejak kecil Chanyeol sudah cakap dalam berbagai bahasa. Dia suka sekali belajar bahasa asing. Bahkan bahasa asing sudah seperti makanannya sehari-hari. Termasuk pula bahasa internasional Inggris. Jadi jika Chanyeol ingin berpergian ke negara yang belum pernah dia datangi, maka dia tidak akan tersesat atau akan bingung karena terkendala bahasa. Chanyeol bisa langsung lancar dalam berkomunikasi.
Setelah keluar dari bandara, Chanyeol mencari taxi untuknnya langsung menuju ke alamat yang sudah di berikan oleh Papanya tadi. Alamat milik Omnya, yakni Park Yong Bin. Adik dari Papanya. Yong Bin dan Krystal kebetulan sudah sepuluh tahun menetapkan di sini. Sebelumnya mereka menetap di England. Dan kebetulan sekali itu lebih dekat dari kampus yang dia ingin masuki.
Awalnya saat Chanyeol bilang ingin melanjutkan kuliah di Amerika, baik Yong Jin maupun Ela menyarankan untuk masuk ke Harvard University dimana ada Minky yang menjadi salah satu dosen di sana. Namun dengan tegas Chanyeol menolaknya. Dia tidak ingin masuk ke Harvard yang kemungkinan jurusannya pun akan di tetapkan oleh Yong Jin karena punya chanel di sana. Dan dia tidak mau.
Alasan keduanya karena ada kakaknya. Dia pasti akan seperti di awasi dua puluh empat jam oleh kakaknya. Apapun yang di lakukannya akan di laporkan oleh kakaknya. Dia akan merasa seperti hidup di sangkar emas. Alasan keduanya, karena dia lebih ingin masuk ke Los Angeles College of Music. Yang secara kebetulan letak kampusnya hanya berjarak lima menit di tempuh dengan jalan kaki dari tempat tinggal Yong Bin.
"Westgate Apartemen, please." ucap Chanyeol ketika dia memasuki sebuah taxi.
Chanyeol berencana tinggal di sana setelah semalam berbicara kepada Yong Jin. Yong Jin pun juga sudah memberitahu bahwa Chanyeol akan tinggal di sana selama beberapa tahun kepada Yong Bin. Dan Yong Bin pun dengan senang hati menerima Chanyeol. Karena dia hanya tinggal bersama istri dan anak bungsunya. Sedangkan anaknya yang pertama lebih memilih menetap di New York karena pekerjaannya. Anak bungsu Yong Bin juga baru saja beranjak dewasa. Dia hanya selisih dua tahun lebih muda dari umur Chanyeol.
Tak terasa taxi yang membawa Chanyeol sudah sampai di depan lobi apartemen mewah di sana. Melihat bangunan mewah di depannya, Chanyeol sama sekali tak terpana. Dia bahkan pernah melihat yang lebih mewah dari ini. Dan Chanyeol bukan type orang yang suka dengan kemewahan meskipun dia tidak bisa menghindarinya.
Chanyeol berjalan kearah resepsionis. Semua mata menatapnya dengan tatapan sinis. Hanya karena pakaian yang di pakai oleh Chanyeol. Chanyeol hanya memakai kaos oblong hitam dengan jaket kulit, serta celana jeans yang robek di bagian depannya. Berbeda dengan kebanyakan orang di sana yang memakai pakaian yang mewah dan juga terlihat beberapa yang memakai setelan jas yang rapi bak seorang parlente. Namun Chanyeol mengacuhkannya. Karena tak penting baginya penampilan bagus kalau itu hanya di pakai untuk topeng saja.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya resepsionis itu ramah. Resepsionis itu sempat terpana dengan ketampanan Chanyeol meskipun hanya memakai pakaian yang sederhana seperti itu.
"Apakah Guan Park dan Nyonya Krystal ada di Apartemennya? Nomor berapakah apartemennya?" tanya Chanyeol.
"Apakah anda sudah membuat janji sebelumnya dengan beliau?" tanya resepsionis itu.
"Beliau belum tahu kalau saya datang sekarang. Saya juga tidak memberitahunya karena saya tidak mempunyai nomor telfonnya." ucap Chanyeol.
"Kalau begitu maaf, karena peraturan di sini kalau belum mempunyai janji tidak bisa untuk bertemu." ucap sang resepsionis.
__ADS_1
"Kalau begitu terlfonkan beliau saja. Bilang kepada beliau bahwa ada yang mencarinya. Tamu dari Korea yang bernama Chanyeol." ucap Chanyeol menyebutkan namanya tanpa marganya.
"Baik, kalau begitu silahkan tuan menunggunya di sebelah sana." ucap sang resepsionis menunjukkan sofa panjang tempat untuk para tamu menunggu di lobi.
Chanyeol pun berjalan pelan sekali sambil menyeret kopernya. Dia merasakan begitu kelelahan. Dia duduk di sofa dengan sedikit membanting tubuhnya. Rasanya dia ingin segera melemparkan tubuhnya di ranjang yang empuk dan hangat. Dia menyandarkan punggungnya pada sofa lalu memejamkan matanya. Belum ada lima menit ia memejamkan matanya, terdengar suara yang tak asing di telinganya.
"Dimana orangnya?" tanya seorang lelaki kepada resepsionis.
"Di sana tuan." ucapnya sambil menunjuk ke arah Chanyeol.
Perlahan Chanyeol mendengar suara langkah kaki yang semakin dekat dengannya. Dia berpikir kalau itu Yong Bin. Dia pun membuka matanya ketika di rasa Yong Bin sudah begitu dekat dengannya.
"Halo Om." sapa Chanyeol dengan memamerkan deretan gigi putihnya.
"Ya, keponakan Om yang tampan." ucap Yong Bin yang merentangkan tangannya memberi isyarat untuk memeluk Chanyeol. Chanyeol pun dengan senang hati langsung memeluk Yong Bin. "Sudah berapa lama kita tidak berjumpa? Kenapa sekarang kamu makin tinggi saja dari Om?" tanya Yong Bin.
"Om sudah tidak pulang ke Korea lima tahun. Terakhir kali pulang ke Korea, waktu itu aku masih berumur tiga belas tahun. Ya wajar saja kalau dulu aku masih pendek dan ingusan. Sekarang aku sudah delapan belas tahun Om. Aku sudah dewasa dan juga makin tampan."ucap Chanyeol dengan pedenya.
"Paman sendiri yang bilang. haha" ucap Chanyeol dengan tawanya.
Inilah yang dia suka dengan keluarga Yong Bin. Keluarga Yong Bin begitu hangat satu sama lain. Dan mereka selalu saja menyelipkan candaan di setiap pembicaraan serius mereka. Namun sayangnya Chanyeol jarang bertemu mereka karena mereka fokus bekerja.
"Ayo kita naik. Tantemu sudah menunggumu dari tadi. Bahkan adikmu tidak mau tidur demi menunggumu datang. Padahal Om bilang kalau kamu akan datang seminggu lagi. Dan bodohnya dia berkata bahwa akan menunggumu dan tidak tidur seminggu lagi." ucap Yong Bin sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah anak bungsunya yang lucu itu.
"Apa tante memasak makanan kesukaanku Om?" tanya Chanyeol antusias.
"Tentu. Maka ayo kita naik.xucap Yong Bin sambil membawakan koper milik Chanyeol.
__ADS_1
Namun sebelum mereka naik, lebih dahulu Chanyeol mampir sebentar ke bagian resepsionis. Hanya untuk meminta kartu cadangan yang sudah dia siapkan awal saat tahu Chanyeol akan datang. Kartu itu mempermudah untuk Chanyeol masuk ke dalam apartemen.
"Berikan akses card yang kemarin ku minta untuk buatkan. Dia akan tinggal di sini mulai sekarang. Namanya Park Chanyeol. Dia keponakanku. Catat itu." ucap Yong Bin.
"Baik tuan. Ini akses card nya." resepsionis itu menyerahkan akses card dengan hormatnya. Karena siapa sih yang tidak kenal dengan Park Yong Bin pengusaha terkenal yang begitu dermawan dan selalu menghormati orang lain meskipun orang itu berpangkat lebih rendah darinya. Maka dari itu Yong Bin di gemari dan di segani oleh semua orang termasuk para penghuni apartemen ini yang tahu kalau Yong Bin tinggal di sana.
Setelah menerima akses cardnya itupun Chanyeol dan Yong Bin langsung menaiki lift dan menuju ke lantai apartemennya. Chanyeol mengingat-ingat di lantai berapa dia akan tinggal Ternyata lantai paling atas lantai nomor dua puluh tiga. Dan saat mereka keluar dari lift, Chanyeol hanya melihat satu pintu di lorong itu. Dan itupun pintu apartemen Yong Bin. Dan itu cukup membuat Chanyeol tahu bahwa Omnya itu membeli satu lantai apartemen untuk rumahnya sendiri.
Chanyeol selalu heran dengan keluarganya yang suka sekali memberi rumah yang mewah dan luas padahal sering mereka tinggal kalau mereka pergi bekerja. Lagi-lagi Chanyeol ingat akan perkataan Yura. Bahwa ia lebih memilih rumah kecil namun keluarga utuh di dalamnya daripada rumah besar namun hanya seorang diri yang tinggal.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.