
Nana mendengar berita tentang kecelakaan pesawat jurusan Inggris yang baru saja lepas landas dari bandara internasional di San Francisco. Nana menghela nafasnya pelan. dia bersyukur terlepas dari semuanya. Bahkan sekarang dia dan anaknya aman-aman saja tanpa ada kejadian yang mengerikan yang menimpanya. Nana pun mengingat kejadian sebelum akhirnya dia terbang ke negara yang tak pernah dia kunjungi.
#Flashback On#
Malam ketika Nana melihat semuanya. Dia langsung pergi dari tempat itu dan menuju kerumah untuk mengambil semua barang yang dia bawa dari New York. Namun dia bingung mau kemana. Akhirnya dia pun pergi ke hotel agar Vin's tidak menemukannya.
Namun dia sadar bahwa credit cardnya pasti bisa dilacak. Akhirnya setiap dia habis check out dari hotel, dia pasti mengambil uang dan membuka rekening baru. Lalu selama seminggu dia melakukan itu. Dan dia pergi di hari dimana kecelakaan pesawat itu terjadi.
Dia mendaftarkan dirinya untuk pergi mengikuti penerbangan ke Inggris. Sementara dia hanya ingin pergi dari semuanya tanpa orang tuanya tahu dimana dia berada. Dia hanya ingin sendiri dahulu sampai dia kepikiran untuk ke Inggris.
Namun saat dia ingin berangkat ke Inggris, ada seorang paruh baya yang kebingungan. Dia terlihat sekali cemas. Akhirnya Nana mencoba mendkeatinya dan bertanya.
"Permisi madam, ada yang bisa saya bantu? Madam terlihat begitu cemas." tanya Nana. dan dia tidak menyangka bahwa wanita itu langsung menjawabnya.
"Saya ingin ke Inggris, namun penerbangan ke Inggris sudah penuh. sedangkan saya harus segera menghadiri pemakaman cucu saya. Saya tidak tahu harus bagaimana." ucap wanita itu terlihat kacau.
"Bagaimana kalau Madam memakai penerbangan kursi atas nama saya saja. Saya tidak begitu terburu-buru untuk terbang ke Inggris. Saya bisa terbang dengan penerbangan selanjutnya." ucap Nana menawarkan.
"Terimakasih kak, terimakasih sekali. Kalau begitu, anda bisa memakai tiket saya, saya ingin memberikan ini untuk anda. Tiket saya menuju ke Venezuela. Anda bisa memakainya. Anggaplah anda sedang berwisata ke sana selama beberapa hari. Saya juga punya sebuah villa disana." ucap wanita itu membalas budi Nana.
"Baiklah, terimakasih madam."
Akhirnya Nana pun ikut penerbangan ke Venezuela sedangkan nenek itu ke Inggris. Bahkan koper mereka pun tertukar. Nenek itu tanpa sengaja membawa koper milik Nana yang bahkan Nana sendiri tidak sadar karena koper miliknya begitu sama persis dengan koper milik Nenek itu.
Nana tersadar saat dia tak melihat namanya di koper itu melainkan nama nenek itu. Dengan terpaksa Nana membawanya. Dan dia terkejut saat membuka isinya di dalam koper itu. Pakaian wanita yang begitu banyak namun bukan pakaian umur nenek tersebut. Melainkan pakaian wanita muda seumuran dengan Nana yang bahkan terlihat nehitu modis dan masih baru. Ada beberapa yang masih terlihat labelnya. Menandakan belum pernah di pakai.
Nana berjalan menyusuri jalanan di Venezuela. dia bingung mau kemana sampai dia pun mampir sebentar ke sebuah kedai kecil untuk mengisi perutnya yang kosong. Dia memesan makanan lalu memakannya dengan lahap.
Dia memang masih memegang uang banyak, namun dia tidak yakin itu bisa cukup untuk hidup bertahun-tahun disini. Ya, dia memutuskan untuk berada disini setelah yakin kalau suaminya tak akan pernah berpikir mencarinya disini. Dia harus mencari tempat berteduh dahulu sebelum pada akhirnya dia mencari pekerjaan yang sesuai dengan hobinya menjadi designer.
Hingga saat dia tengah berjalan pelan menyusuri trotoar, dia melihat seorang ibu-ibu tengah terjatuh dan terluka. Dia pun menolongnya.
__ADS_1
"Terimakasih nak. sudah menolongku." ucap Ibu itu dengan bahasa Venezuela.
Nana yang tak paham dengan bahasa itupun hanya diam dan tersenyum kikuk. Ibu itu yang menyadari pun langsung melihat dari penampilan Nana. Sekilas dia melihat bahasa hangul dari tas ransel yang di pakainya. Ibu itupun mencoba untuk berbicara dengan bahasa Korea.
"Apakah kamu dari Korea?" Tanyanya membuat Nana kaget karena ibu itu bisa berbahasa Korea.
"Ne.. saya dari Korea. Saya ingin tinggal disini tapi saya tidak tahu tentang kota ini." ucap Nana jujur karena dia merasa beruntung ada orang yang bisa berbahasa Korea. Meskipun Nana bisa berbahasa Inggris.
"Kalau begitu ikut pulanglah bersamaku. Di sebelah rumahku, ada rumah kosong yang juga tengah menunggu orang membelinya." ucap Ibu itu dan Nana merasa beruntung karena menolongnya.
#FlashbackOff#
Dan disinilah Nana. Sudah selama seminggu dia berada di rumah barunya yang terasa nyaman. Kehamilannya tak mempengaruhinya. Dia masih bisa melakukan aktivitas hariannya. Untungnya rumah yang dia tempati tak jauh dari supermarket jika dia ingin membeli keperluan ibu hamil.
Rumahnya juga tak jauh dari pasar tradisional. Tiap pagi dia akan berjalan bersama ibu yang kemarin di tolong nya. Ibu itu bernama Joanna. Dia tinggal bersama anak bungsu perempuannya. Anak perempuan nya bernama Cassie. Sedangkan suaminya belum lama ini meninggal sesaat sebelum anak bungsunya bertunangan. Bisa dibilang Joanna masih dirundung duka.
Namun Nana dan Cassie selalu menghibur mereka dengan menemaninya berada di kebun bunga kesukaannya. Nana juga tak sungkan bercerita jujur dengan Joanna. Tentang keadaannya yang tengah hamil pun dia bercerita. Namun dia tak menceritakan kemana suaminya. Dia hanya berkata bahwa dia korban pemerkosaan yang diusir dari keluarga karena sang lelaki yang sebenarnya pacarnya itu meninggalkannya.
"Eomma, bagaimana karangan bunga ku? Apa terlihat bagus?" tanya Nana saat kini dia tengah merangkai bunga bersama Joanna dan Cassie.
"Sungguh cantik sayang. Bahkan lebih cantik dari Cassie." puji Joanna.
"Sekarang eomma pilih kasih ya. Semenjak ada kak Nana, anaknya dilupakan." ucap Cassie yang pura-pura cemberut.
"Hahaha kamu bisa aja Cas, walaupun cinta Eomma ke aku besar, tapi lebih besar cintanya ke kamu. kan kamu anak kandung eomma." ucap Nana.
"Tuh kamu denger, kamu itu masih kaya anak kecil aja cemburu. Eomma heran, kamu sama Nana hanya selisih setahun tapi kenapa sifat kamu dengannya kaya selisih sepuluh tahun sih." ucap Joanna.
"Hehehe.. habis aku lebih suka menjadi anak kecilnya eomma." kata Cassie sambil memeluk Joanna.
"Ohh iya Cas, apa jari ini kamu senggang? bisakah kamu menemaniku memeriksakan kandungan ku?" tanya Nana karena dia belum tahu daerah sini.
__ADS_1
"Ohh tentu kak, untuk kakakku yang cantik ini apasih yang gak. Tapi nanti aku diajari buat gaun ya." ucap Cassie yang begitu berbinar ketika dia tahu bahwa Nana lulusan design.
"Tidak masalah, dengan senang hati sayang." ucap Nana dengan senyum manisnya.
"Berapa usia kandungan kamu nak?" tanya Joanna.
"Emm... mungkin dua bulan Eomma. Kalau dilihat dari terakhir aku periksa." ucap Nana mengingat kembali saat terakhir dia di periksa.
"Wah... apakah aku sudah bisa melihat jenis kelaminnya?" tanya Cassie lucu membuat Nana tertawa.
"Bagaimana bisa? itu masih kecil sekali Cassie. paling tidak kamu menungguku sampai perutku sebesar ini." ucap Nana memperagakan tangannya seakan-akan perutnya sudah membuncit.
"Yang, masih lama dong. Perut kak Nana aja masih terlihat rata begitu." ucap Cassie yang terlihat tidak sabaran.
"Ya sabar dong, memangnya hamil itu mudah." kata Joanna.
"Hehe, ya siapa tahu Eomma." katanya dengan meringis kecil.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.