
Reuni antara mereka berempat pun berlanjut. Mereka tertawa bersama-sama mengenang masa SMA mereka. Tanpa canggung walaupun sudah delapan tahun tidak bertemu. Tak ada perasaan asing untuk semuanya. Mereka tetap saling canda, saling mencemooh satu sama lain seperti dulu. Tawa mereka berhenti ketika tiba-tiba saja Chanyeol menghentikan tawanya dan fokus pada jalanan yang di laluinya. Chanyeol merasa tak asing dengan jalannya. Dia melihat ke luar jendela, ternyata memang benar bahwa jalan yang mereka lewati sekarang adalah jalan yang sama seperti yang dulu selama lima belas tahun selalu Chanyeol lewati. Meskipun sudah delapan tahun dia tidak pulang ke Korea, namun ingatannya tidak lupa akan jalan penuh kenangan itu.
"Loh loh loh.. Tae, bukankah ini jalan ke rumah lamaku ya?" tanya Chanyeol.
"Ehh iya. Ini mah ke rumah kita." ucap Han Sung.
"Kalian pada ingat sama jalan ini?" tanya Taeyong.
"Jelas ingat dong. Jangan remehin aku kamu ya. Walaupun sudah delapan tahun aku pergi dari Korea, tapi aku tinggal di kawasan ini lima belas tahun, itu lebih lama daripada aku pergi dari Korea." ucap Chanyeol.
"Tapi kawasan ini sudah banyak yang berubah ya?" ucap Han Sung.
"Kamu benar Hans. Sudah banyak orang yang mendirikan rumahnya disini. Kalau dulu, masih belum sebanyak ini. Sekarang komplek ini semakin terlihat benar-benar komplek perumahan mewah. Semuanya bahkan memiliki mobil mewah keluaran terbaru." ucap Chanyeol.
"Ahh, tapi itu mobil sudah ku punya dua tahun yang lalu. Aku sudah bosan dengan mobil itu." ucap Han Sung.
"Semenjak kepergian kalian, banyak sekali yang berubah. Semuanya menurutku berubah. Bahkan bertambah dengan yang baru. Tapi kurasa suasananya masih saja sama. Bahkan tak ada yang berubah sama sekali." ucap Taeyong.
"Aku jadi penasaran, akankah rumah kita masih ada? Aku juga ingin melihat rumah Kak Yura. Kalau aku beruntung pasti rumah itu masih ada." ucap Chanyeol mengingat dia menghabiskan banyak kenangan dengan Yura di Korea.
"Ehh.. tapi kan kita mau ke villa. Emangnya di perumahan mewah seperti ini ada yang mendirikan sebuah Villa? Kurasa tidak mungkin deh." ucap Han Sung.
"Ahh mungkin disini ada Villa Hans. Kita kan gak tahu karena sudah lama tidak pulang." ucap Chanyeol.
"Iya kamu benar. Aku jadi ingin beli rumah kita lagi." ucap Han Sung.
"Benar Hans. Haih... aku jadi teringat akan Bibi. Bagaimana ya kabar Bibi? Apakah Bibi mendapatkan pekerjaan barunya setelah keluarga Park pergi? Padahal keluarga Park itu tempat satu-satunya Bibi mencari uang dan mendapatkan penghasilan. Kemana ya Bibi pergi." ucap Chanyeol.
__ADS_1
"Kabar Bibi baik. Dia hidup dengan baik dan tercukupi." ucap Taeyong.
"Bagaimana kamu bisa tahu tentang keadaan bibi?" tanya Han Sung, Chanyeol pun juga ikut penasaran kenapa Taeyong bisa tahu tentang bibi.
"Aku sering sekali bertemu dengan Bibi. Dia punya usaha yang menopang biaya hidupnya. Kamu tenang saja. Bibi baik-baik saja. Dia hidup dengan baik bersama anak dan cucunya." ucap Taeyong.
"Benarkah? Wah, aku bahkan belum sampai bertemu dengan anaknya Bibi karena keadaan ini. Sekarang Bibi sudah punya cucu, pasti dia bahagia sekali bisa mempunyai cucu." ucap Chanyeol yang ikut merasakan bahagia ketika mendengar tentang Bibi.
Jihoon ingin mengucap kan sesuatu perihal Bibi yang ternyata ibu dari Gladis, namun Taeyong menatapnya lalu menggelengkan kepala tanda Taeyong tak mengijinkan Jihoon untuk membocorkan berita perihal itu. Taeyong tidak tega untuk memberitahu Chanyeol tentang Gladis yang ternyata anak dari Bibi. Taeyong juga tahu perihal anak lelaki Gladis. Meskipun Taeyong tidak tahu kapan Gladis menikah, namun pertemuannya lima tahun yang lalu dengan mereka membuat Taeyong tahu kalau Gladis pernah menikah dan sudah punya anak. Jihoon mengurungkan niatnya untuk bercerita perihal Gladis. Suasana dalam mobil itu pun kembali hening.
Taeyong membelokkan mobilnya masuk ke dalam pekarangan rumah Chanyeol yang kini sudah di sulap oleh Taeyong dan Jihoon menjadi sebuah villa yang mewah. Villa yang begitu indah di sana. Begitu juga rumah milik Han Sung yang berada di sebelahnya. Dua rumah mewah yang kini berganti fungsi menjadi sebuah villa.
Chanyeol dan Han Sung kaget ketika mereka turun dari mobil dan melihat bahwa Villa yang di maksud oleh Taeyong adalah rumah milik mereka berdua. Rumah itu bahkan tidak berubah, masih sama seperti dulu saat mereka pergi dari sana. Hanya saja kini penampilannya lebih mewah dan juga lebih tertata rapi. Ada taman di depannya dan juga lampu hias kecil-kecil yang lebih membuat rumah itu nampak manis.
"Tae, bukankah ini rumahku dulu?" tanya Chanyeol.
"Berarti rumah yang sebelah, jangan bilang kalau rumah itu juga di jadikan villa?" tanya Han Sung.
"Benar sekali. Rumah mendiang Park Han Sung yang berada di sebelah juga menjadi sebuah villa namun yang lebih minimalis dan lebih bernuansa romantis. Itu yang nanti akan di pakai oleh klien anda tuan Hans." ucap Jihoon ikut berlagak seorang tuan rumah menyapa tamunya.
"Kalian kenapa melakukan ini semua?" tanya Chanyeol.
"Bagi kami, rumah ini yang menjadi satu-satunya kenangan kalian yang masih hidup dan akan selamanya ada di sini sampai kita tua nanti. Jadi aku benar-benar bahagia sekali ketika melihat kalian kembali. Aku benar-benar mencintaimu seperti mimpi saat melihat kalian berdua berdiri di hadapanku." ucap Jihoon yang merasa senang sekali dengan kedatangan Han Sung terutama Chanyeol.
Mereka melihat kearah mobil kedua dimana Scarlett dan Freya tiba. Saya Scarlett turun, mata Jihoon sudah tak bisa lepas dari Scarlett. Freya dan Scarlett terlihat sekali bahwa mereka kelelahan karena penerbangan ini. Untungnya syuting masih di lakukan besok lusa. Jadi baik Freya atau Scarlett yang selalu mabuk penerbangan bisa istirahat selama seharian.
"Kak, kamar Scarlett dimana? Scarlett capek banget ini." ucap Scarlett dengan badan yang sudah sekali terlihat lemas. Bahkan mungkin tulangnya sudah melunak karena dia tak bisa berdiri dengan tegak.
__ADS_1
"Kalian para perempuan berada di kamar atas. Di sana ada banyak kamar kalian boleh bebas memilihnya. Nanti sisanya biar menjadi kamarku dan Han Sung." ucap Taeyong.
"Baiklah terimakasih." ucap Scarlett lalu menyeret kopernya dan berjalan meninggalkan mereka lalu di ikuti oleh Freya yang sudah nampak tak bersemangat untuk bertegur sapa dengan yang lainnya.
"Cantik..." gumam Jihoon, namun tanpa sadar bahwa ketiga temannya juga mendengar apa yang di gumam kan oleh Jihoon barusan. Chanyeol pun berdehem untuk memperingati Jihoon.
"Ehm... adik ku tersayang itu. Jaga pandangannya." ucap Chanyeol seperti seorang kakak yang galak.
Tapi memang selama ini dia selalu selektif dengan siapapun lelaki yang dekat dengan adik perempuan nya terutama Scarlett. Bukan karena Freya tidak ada yang mendekatinya, namun Freya lebih cuek dengan lelaki. Berbeda dengan Scarlett yang selalu tiap hari dekat dengan lelaki. Sampai-sampai Chanyeol menempatkan anak buahnya untuk memantau gerak gerik Scarlett jika tengah kencan buta dengan seorang lelaki.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.