
"Terus saja bandingkan aku dengan dua anak Papa yang begitu Papa banggakan itu. Asal Papa tahu, aku tak pernah minta untuk di lahirkan menjadi Park Chanyeol seperti sekarang. Kalau aku bisa memilih, aku lebih memilih dilahirkan sebagai Chanyeol sang pengamen dijalanan saja." ucap Chanyeol lalu berjalan pergi meninggalkan rumah Han Sung.
"Dasar anak kurang ajar. Mau kemana kamu, Ya!" teriak Yong Jin namun Chanyeol tak menggubris nya.
"Biar aku saja yang mengejarnya." ucap Han Sung mengambil jaket lalu mengikuti Chanyeol yang sudah pasti dia tahu kemana tujuan Chanyeol. Kemana lagi kalau bukan rumah yang dihuni oleh seorang wanita yang selama ini sudah membesarkannya sebelum wanita itu menikah.
"Chanyeol...." ucap wanita itu yang kaget karena melihat Chanyeol datang langsung memeluknya, bahkan ia bisa merasakan bahwa Chanyeol menangis karena bahunya terguncang.
"Kamu kenapa? hei..." ucap wanita yang berumur tujuh tahun diatasnya itu. Wanita itu Gloria, yang resmiengubah namanya menjadi Park Yu Ra semenjak kematian Woodz.
Dulu dia tinggal bersama Chanyeol. Karena setelah para kakek dan nenek pergi, Minky dan Junnie memilih tinggal diluar negeri meninggalkan Chanyeol bersama Yura dan Nana di Korea untuk meneruskan kuliah mereka di universitas impian mereka.
Sedangkan Chanyeol tinggal bertiga bersama Yura dan Nana. Namun Nana pergi meninggalkan mereka berdua setahun setelah kecelakaan itu. Nana mengalami serangan jantung untuk kedua kalinya dan terlambat di bawa kerumah sakit karena baik Yura dan Chanyeol tengah berada di sekolah.
Saat itu Chanyeol masih berumur sebelas tahun dan Yura berumur delapan belas tahun. Chanyeol pikir, mungkin orang tuanya akan menawarinya untuk ikut tinggal bersama. Namun orang tuanya hanya diam bahkan tidak bertanya. Pada akhirnya Chanyeol memilih tinggal bersama Yura kakak sepupunya. Yura menguris semuanya keperluan Chanyeol. Namun sudah dua tahun belakangan ini Yura pergi ikut suaminya karena dia sudah menikah. Tak ingin membebani keluarga barunya Yura, Chanyeol memilih tinggal di rumahnya yang kebetulan keluarga Han Sung datang dan ikut tinggal di Korea. Hal ini membuat Chanyeol tidak begitu kesepian karena tak ada Yura. Namun sifat nakal yang di sembunyikan dari belakang Yura semakin menjadi jadi.
"Kamu kenapa? cerita sama kakak? Lalu kenapa ini bibir berdarah?" ucap Yura memegang bibir Chanyeol yang sedikit berdarah.
"Aww.. aku tak apa kok kak. Aku hanya rindu sama kakak jadi sampai menangis barusan. Aku kan udah lama gak ketemu kakak karena kakak lagi bulan madu sama suami kakak yang tengil itu. apa-apa an sih udah nikah dua tahun masih pakai acara bulan madu segala. Ada ada aja suami kakak yang super tengil itu." ucap Chanyeol. sifat kekanak-kanakan nya keluar jika bersama dengan Yura.
"Hush.. kalau ngomong ya." kata Yura memperingatkan.
"Kan emang tengil..." ucapan Chanyeol terpotong karena suami Yura yang keluar dari rumahnya.
"Siapa yang tengil? hmm..." ucap Yohan suami Yura dengan memasang tampang garangnya yang sebenarnya tak terlihat karena sikapnya yang begitu friendly kepada Chanyeol membuat Chanyeol justru tertawa.
__ADS_1
"Ehh... ada kakak ipar? sehat kak?" ucap Chanyeol sambil tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Belum sempat menjawab tiba-tiba datang Han Sung dari arah gerbang dengan berlari. Nafasnya terlihat tersengal, karena meskipun hanya butuh waktu sepuluh menit untuk berjalan, tapi jika berlari juga membutuhkan tenaga ekstra. Terlebih langkah kaki Han Sung lebih pendek dengan langkah kaki Chanyeol.
"Ehh buset. lo itu lari atau apa sih. cepet banget. gue yang juara lari aja gak bisa nyusul lo." ucap Han Sung dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
"Lagian ngapain lo kejar gue. Tadi gue nebeng sama anak komplek yang lagi lewat jadi cepet." ucap Chanyeol dengan tampang tak ada dosanya.
"Ehh.. bayi jerapah, gak ada dosa ya lo ngomong gitu. untung gue yang nyusul, kalau bokap lo gimana?" ucap Han Sung.
"Bokap gue gak bakal tahu kali kalau gue disini. Dia mana peduli gue pergi kemana. Palingan udah terbang kemana lagi dia." ucap Chanyeol.
"Om Yong Jin pulang?" tanya Yohan.
"Iya dia pulang baru aja kak." ucap Han Sung.
"Bukannya memang hanya itu yang bisa buat dia pulang ya?" ucap Chanyeol langsung nyelonong masuk kedalam. Dia tak mau berdebat dengan Yura. Kalau Yura ikut memarahinya dan mengajaknya berdebat, sudah tak ada tempat untuknya pergi lagi selain malam kakek neneknya.
"Dasar anak itu ya..." ucap Yura ingin mengejar Chanyeol.
"Udah biarin aja. Kalau kamu marahin dia, kamu mau dia menginap di makam kakek nenek lagi sampai sakit seperti waktu itu?" ucap Yohan mengingatkan Yura.
"Iya kak. Biarlah dia seperti itu. Lagian ada Han Sung ini yang pasti bikin dia ketawa. Tenang aja kak." ucap Han Sung yang sebenarnya dia sedikit memahami perasaan Chanyeol.
Karena Han Sung dulu begitu nakal di Venezuela juga karena kesepian seperti Chanyeol. Namun semenjak mereka pindah ke Korea, hari hari Han Sung sedikit berwarna berkat Chanyeol. Dan baginya senyum Chanyeol itu segalanya. Dia benar-benar sudah menganggap Chanyeol seperti kembarannya. Makanya dia rela berbagi pelukan Mommynya untuk Chanyeol jika Chanyeol tengah rindu pelukan Mamanya yang selalu sibuk dengan galeri nya.
__ADS_1
"Ya sudah yuk masuk. Sekalian kakak juga lagi mau masak nih. kita makan sama-sama." ucap Yura.
"Asik... masak kesukaan nya Chanyeol ya. Biar dia sedikit tenang." ucap Han Sung. Dia lebih memikirkan Chanyeol di bandingkan dirinya sendiri.
"Kamu memang saudara sekaligus sahabat sejati ya. Sampai mentingin Chanyeol dulu daripada diri kamu." ucap Yohan.
"Iya dong kak. Hans gitu lho." Ucap Han Sung dengan membusungkan dadanya tanda bangga.
Semuanya masuk ke dalam rumah. Chanyeol sudah asyik dengan PlayStation yang ada di ruang keluarga itu. Han Sung tanpa berkomentar ikut bergabung dan juga Yohan yang tak pernah mengerti cara bermainnya dan hanya ikut menonton saja, duduk di belakang mereka sambil berkomentar. Yohan membeli PlayStation itu ya untuk mereka berdua agar tidak bosan jika sedang di rumahnya. Karena sudah dua tahun Yohan dan Yura menikah, mereka sengaja menundanya untuk memiliki momongan. Dan sekarang mereka berdua ingin memilikinya.
Mereka makan malam bersama. Bercanda riang sampai Chanyeol benar-benar lupa dengan masalah yang tadi siang terjadi. Baginya keluarganya sekarang hanya mereka yang berada di meja makan sekarang. Tak ada yang membahas tentang pekerjaan, karir atau hal yang membanggakan keluarga Park. Dia memang begitu membenci hal yang berkaitan dengan bisnis dan design. Sifatnya benar-benar mirip dengan ayah Yura, Woodz. Kata Jin-young yang Chanyeol ingat.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.