
Ela masih terus memperhatikan Woodz. Lama kelamaan matanya terasa perih ingin menangis. Sudah tak bisa di bendung lagi perasaannya ketika melihat Woodz. Tiba-tiba saja Ela memeluk Woodz dengan erat membuat eomma panti heran..
"Kakak....." ucap Ela seraya memeluk Woodz.
Ingin rasanya Woodz berbalik memeluk Ela. Namun dia tak mau penyamarannya disini terungkap. Woodz pun berusaha melepas pelukan Ela. Dia sekeras mungkin mendorong Ela hingga terlepas dan jatuh kedalam pelukan Woodz.
"Maaf Nyonya. Saya bukan kakak anda. Dan saya mohon jangan lah anda memeluk saya, karena saya alergi dengan wanita kecuali eomma dan anak perempuan." ucap Woodz.
Hal itu membuat Ela merasa sakit. Kenapa kakaknya tidak mengakuinya. Bahkan dengan terang-terangan bilang bahwa ia alergi dengan wanita. Apa karena Nana yang membuatnya menjadi alergi dengan wanita seperti ini.
"Maafkan istri saya Tuan, mungkin karena anda mirip dengan kakaknya. Jadi dia berpikir bahwa anda kakaknya yang sudah pergi enam tahun yang lalu." ucap Yong Jin.
"Sungguh? apa anda mempunyai foto tentang kakak anda itu?" tanya Eomma panti yang memang selama ini begitu penasaran dengan asal usul Woodz.
"Ini eomma." tunjuk Yong Jin yang menyimpan foto Vin's di dalam HP nya.
"wah.. iya Woodz.. Dia beneran mirip sama kamu. Apa jangan-jangan dia itu kamu." ucap Eomma sambil melihatkan foto itu pada Woodz.
"Eomma jangan ngaco deh. Gak mungkin juga aku kaya begitu. Orang aku aja kucel kaya gini. Di dunia ini kan semua orang memang mempunyai tujuh kembaran. Mungkin dia memang salah satu kembaran yang tak aku tahu dimana tempatnya." ucap Woodz mengelak.
Namun hati Ela tak percaya. Dia yakin bahwa lelaki yang bernama Woodz yang berada di depannya ini adalah kakaknya. Kakak kandungnya yang selama ini dia cari. Kakak kandung yang selama ini menghilang tak pernah ada kabarnya.
"Maafkan istri saya kalau begitu Tuan. Karena istri saya begitu merindukan kakaknya. Sampai badannya yang dulu berisi pun kini semakin kurus karena memikirkan kakaknya." ucap Yong Jin memancing reaksi Woodz. Yang dia sendiri juga yakin bahwa Woodz itu adalah Vin's.
Dan benar saja. Yong Jin melihat reaksi Woodz yang memandang tubuh Ela dari atas sampai bawah. Ela memang lebih kurus dari dulu terakhir enam tahun yang lalu ditinggalkan oleh Vin's di Venezuela. Ada sedikit perasaan sedih di hati Woodz. namun dia tak bisa begitu saja mengakui bahwa Ela adalah adiknya di depan eomma. Terlebih dia kesini karena tadi melihat Jin-young dan juga Nana tengah berjalan menuju halaman belakang tempatnya bercocok tanam.
"Ohh tidak apa-apa Tuan. Sudah terlihat dari wajah Nyonya yang begitu merindukan kakaknya. Lebih baik Tuan bawa Nyonya masuk ke dalam kamar. Ku dengar anda dan beberapa orang akan menginap?" kata Woodz.
"Ohh iya eomma sampai lupa. Ya sudah kalau begitu mari Tuan dan Nyonya. Saya tunjukkan kamarnya." ucap Eomma membuat Yong Jin dan Ela mau tak mau jalan mengikuti eomma sampai dalam.
__ADS_1
*
*
*
Sepeninggalan mereka bertiga, duduklah Woodz sendiri di sana. Rasanya dia ingin menangis sekeras kerasnya. Dia ingin memeluk adiknya yang paling dia cintai itu. Namun dia tak mungkin melakukan itu karena tak ingin samarannya terungkap.
"Halo Tuan. kenapa anda bersedih?" aapa seorang gadis kecil yang matanya membuat Woodz terhipnotis.
"Ahh tidak sayang. Kamu kenapa sendirian? dimana rombongan kamu?" tanya Woodz kepada gadis kecil yang berjalan sendiri tanpa ada yang bersamanya.
"Aku bosan mengikuti Minky yang berada di halaman belakang. Aku tak suka bercocok tanam. Makanya aku jalan sendiri disini." ucap gadis kecil yang begitu manis itu.
"kenapa tidak suka? Om aja suka sekali. Apalagi menanam buah-buahan." ucap Woodz sambil mengangkat gadis itu dan memangku nya.
"Nama Om siapa?" tanya gadis itu.
"Aku punya dua nama Om. Tapi nama Korea ku tidak banyak yang tahu. Cuma Daddy dan aku yang tahu. Karena Daddy yang memberiku nama Korea ini. Namaku Lin Yu Ra. Aku hanya memberitahukan kepada Om ya. Om jangan bilang ke siapa-siapa. Apalagi kalau sampai Mommy tahu. Nanti Yu Ra akan di marahi." ucap gadis kecil yang bernama Lin Yu Ra itu.
"Wah nama yang cantik. secantik yang memilikinya. Pasti Mommy kamu cantik ya." ucap Woodz.
"Pastinya dong Om. Mommy ku seorang designer terkenal di negeriku. Dan Mommy juga sangat cantik. Tapi nanti jika Om bertemu dengan Mommy, Om jangan mengejar Mommy ku ya. Karena Mommy hanya milik Daddy." ucap gadis itu lucu.
"Iya sayang. Om gak akan suka sama Mommy kamu." ucap Woodz. "Lagian buat apa jatuh cinta sama wanita yang sudah mempunyai suami. Sama aja gali lubang kubur sendiri." terusnya dalam hati.
Namun Woodz tersenyum geli mengingat kata suka sama wanita bersuami. Dia jadi ingan Jin-young yang begitu mencintai Nana. Bahkan tadi dia juga melihat berapa mesranya Nana yang bergelayut manja di lengan Jin-young. Sudah bisa Woodz tebak bahwa mereka sudah menikah. Dan mungkin anaknya akan memanggil Jin-young dengan sebutan Ayah. Seperti dulu yang ingin sekali Woodz dengar dari suara merdu anaknya nanti.
"Hayo! kok Om melamun sih. Om melamunin apa?" tanya Yu Ra sambil mentoel-toel pipi Woodz dengan gemas.
"Tidak apa-apa kok cantik. Om hanya teringat sama anak Om saja. Om kangen. sudah lama Om tidak bertemu dengannya." ucap Woodz. Entah kenapa dia merasakan begitu rindu dengan anaknya ketika memeluk Yu Ra.
__ADS_1
"Anak Om memangnya dimana?" tanya Yu Ra.
"Anak Om jauh, dia tidak di Korea. Dia sedang bersama Bundanya." ucap Woodz.
"Kan Om bisa telfon kalau kangen sama anak Om." ucap Yu Ra.
"Om gak punya nomornya sayang."
"Ya kalau begitu Om bisa melihat fotonya. Seperti saat Yu Ra kangen dengan Appa Yu Ra. Yu Ra pasti selalu melihat fotonya." ycao Yu Ra.
"Tadi kamu bilang kalau kamu punya Daddy. Lalu kenapa kamu kangen sama Appa kamu?" tanya Woodz yang bingung dengan apa yang dikatakan oleh Yu Ra.
"Aku memang punya Daddy, tapi kata Daddy, di Korea aku punya seorang Appa. Makanya Daddy menberiku nama Lin Yu Ra. Tapi itu semua tanpa sepengetahuan Mommy. Karena Mommy tak suka jika aku dan Daddy mengungkit perihal Appa. Jadi, Daddy memberikanku kalung ini. Dia juga diam-diam menaruh foto Appa di dalam kalung ini. Jadi setiap Yu Ra kangen dengan Appa, Yu Ra akan melihat isi dari kalung ini. Apa Om mau melihat seperti apa rupa Appa ku?" tanya Yu Ra.
Woodz yang tertarik pun mencoba untuk membuka kalung yang berada di leher Yu Ra. Namun belum sempat kalung itu terbuka, Yu Ra sudah di tarik oleh seseorang. Seseorang itu menatap Woodz dengan tatapan was-was. Namun Woodz tak bisa berkutik saat melihat siapa yang menggendong Yu Ra.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1