
Zie yang mendengar nama Chanyeol di sebut pun langsung mengambil handphone milik Hans yang tadi terjatuh dari tangannya. Untungnya panggilan dari Yuna masih tersambung. Oleh karena itu Zie langsung berbicara dengan Yuna melalui telefon.
"Halo tante ini Zie, apakah ada kabar dari rumah sakit?" tanya Zie yang tak tahu bahwa Yuna sebenarnya juga berada di rumah sakit.
^^^"Zie, cepatlah bawa Han Sung kesini. Cepat nak, Yura meninggal." ucap Yuna yang lalu mematikan telfonnya secara sepihak.^^^
Zie yang paham kenapa Han Sung menangis pun langsung segera membereskan perlengkapan sekolahnya dan juga milik Han Sung. Zie paham perasaan Han Sung sekarang. Pasti dia tengah mengkhawatirkan Chanyeol yang kini butuh kehadiran mereka.
Sedangkan seluruh orang di kelas masih menatap mereka dengan tatapan bingung dan penuh pertanyaan. Namun Zie yang langsung sigap dengan suasana tersebut pun langsung berkata kepada guru yang tengah mengajar di depan.
"Pak maaf, Kita harus segera ke rumah sakit sekarang. Chan-Chan butuh kita." ucap Zie yang mendengar nama Chanyeol di sebut pun tanpa basa basi langsung menganggukkan kepalanya. "Buat lo berdua, mau ikut apa kagak terserah lo. Tapi gue harap lo berdua sekalian ikut supaya Chan-Chan bisa lebih tenang dengan adanya kalian." lanjut Zie mengarah pada Taeyong dan Jihoon.
Taeyong dan Jihoon pun langsung menuruti semua yang di perintahkan oleh Zie. mereka membereskan mejanya lalu ikut bersama Zie dan Han Sung ke rumah sakit. Meskipun mereka berdua tidak tahu kenapa tujuan mereka harus rumah sakit. Semua ini mereka lakukan karena hal ini menyangkut Han Sung dan Chanyeol.
Di bangku barisan depan, Gadis melihat semua itu dengan penuh pertanyaan. Dia juga khawatir ketika Han Sung memanggil nama Chan-Chan sambil menangis. Namun dia mengurungkan niatnya untuk bertanya karena sadar bahwa dia bukanlah orang yang penting di sana. Apalagi dia juga bukan siapa-siapa Chan-Chan. Terlebih ada Zie yang dia ketahui sebagai tunangan Chan-Chan.
Sebelum mereka berangkat ke rumah sakit, Taeyong lebih dulu menemui ayahnya yang kebetulan pemilik sekolah ini dan sedang berada di sekolah. Taeyong meminjam mobil beserta sopirnya untuk mengantar mereka. Awalnya ayah Taeyong melarang anaknya karena ini juga sedang jam pelajaran. Namun Taeyong berkata bahwa ini merupakan kepentingan penerus keluarga Park, maka ayah Taeyong dengan segera memberikan kunci mobil serta membawakan sopirnya untuk mengantar mereka.
Kini mereka berempat sudah berada di dalam satu mobil yang membawa mereka ke rumah sakit. Namun baik Taeyong maupun Jihoon masih belum tahu kemana tujuan mereka pergi. Zie yang duduk di depan sebagai petunjuk arah kemana mereka akan pergi. Sedangkan pikiran Taeyong dan Jihoon penuh dengan tanda tanya kemana mereka akan pergi. Sampai pada akhirnya Taeyong yang tak bisa diam untuk tidak bertanya pun mengeluarkan suaranya.
"Sebenarnya ini ada apa sih? Chanyeol kenapa? Terus ini kita mau kemana?" tanya Taeyong.
"Chanyeol sekarang berada di rumah sakit. Oleh karena itu kita harus segera ke sana." ucap Zie. Dia menjawab setelah melihat Han Sung dari kaca depan yang hanya diam dengan pandangan mata yang kosong. Zie yakin bahwa Han Sung tidak mendengar pertanyaan Taeyong walaupun ia duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Memangnya ada apa dengan Chanyeol? Kenapa dia bisa di rumah sakit?" tanya Jihoon. Dia juga penasaran karena sedari tadi Han Sung hanya diam mematung sambil terkadang air matanya mengalir di pipi tampannya.
"Kak Yura meninggal." ucap Zie singkat.
"APA! KAK YURA MENINGGAL!?" teriak Jihoon dan Taeyong bersamaan karena kaget mendengar jawaban dari Zie. Seketika mereka berdua melihat ke arah Han Sung yang kembali mengeluarkan air mata.
Baik Taeyong maupun Jihoon bisa tahu apa yang di pikirkan oleh Han Sung. Apalagi kalau bukan Chanyeol. Chanyeol pasti terpukul akan kematian kakaknya yang paling dia sayang dengan tiba-tiba. Taeyong juga tak bisa membayangkan bagaimana jadinya Chanyeol tanpa Yura nantinya. Taeyong dan Jihoon tahu bagaimana pentingnya Yura dalam hidup Chanyeol.
"Pak, bisa lebih cepat jalannya? kita harus segera sampai di rumah sakit." ucap Taeyong pada sopir ayahnya itu. Dia semakin ingin segera sampai di rumah sakit agar segera bertemu dengan Chanyeol.
"Ini juga sudah yang paling cepat tuan muda." jawab sopir itu dengan sedikit gugup karena tidak biasanya tuan mudanya yang terkenal baik itu membentak nya.
Dengan penuh perasaan cemas mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Han Sung yang awalnya hanya duduk diam saja kini dia yang paling semangat untuk turun dari dalam mobil. Dia langsung berlari meninggalkan ketiga temannya. Untungnya Zie pernah sekali berkunjung ke ruangan Yura, jadi dia tahu jalan ke bangsal ruangan Yura. Namun sampai di sana, ruangan itu sudah kosong. Tak ada satupun seseorang di sana.
"Sus, pasien yang di rawat disini berada dimana sekarang?" tanya Zie.
Kembali lagi mereka berempat berlari. Namun kali ini mereka berempat lari bersamaan. Mencari dimana rumah duka rumah sakit itu berada. Mereka bahkan tidak menaiki lift tapi lebih memilih menaiki tangga dan berlari. Sampainya di rumah duka rumah sakit itu, ternyata sudah ramai orang di sana. Bahkan ada para reporter dari berbagai stasiun televisi dan berita lokal meliput nya. Hal ini karena tak luput dari status keluarga dan juga status Yura sebagai CEO perusahaan Lin dan juga bagian dari keluarga Park.
Nafas mereka yang terengah-engah membuat kedatangan mereka yang berlari menjadi pusat perhatian di sana. Tapi mereka berempat tak menggubris itu. Mereka berempat fokus mencari Chanyeol dimana Chanyeol berada. Pertama kalinya selama Han Sung mengenal Chanyeol, untuk pertama kali melihat seorang Chanyeol yang dingin bisa terlihat rapuh dan sekacau itu. Chanyeol duduk di pojokan. Matanya terus memandang ke arah bingkai foto Yura di depan.
Han Sung menghampirinya. Dia bersimpuh di depan Chanyeol dengan mata berkaca-kaca. Chanyeol bisa lihat bahwa itu Han Sung karena Han Sung menghalangi pandangan matanya untuk melihat bingkai foto Yura. Chanyeol langsung memeluk Han Sung dengan kepala berada pada kedua kaki Han Sung. Chanyeol kembali menangis meraung-raung di pelukan Han Sung yang juga tak bisa membendung air matanya. Zie, Taeyong dan Jihoon secara bersamaan mengangkat kepalanya melihat ke langit-langit kamar agar air mata mereka tidak turun. Mereka menyaksikan sendiri bahwa persahabatan Han Sung dan Chanyeol begitu erat. Mereka saling berbagi kesedihan dan juga saling berbagi kebahagiaan. Han Sung tak akan membiarkan Chanyeol menangis sendirian. Dia akan selalu ada untuk Chanyeol.
Hari itu juga, Yura di makamkan. Ia di makamkan tepat di samping makam kedua orang tuanya. Chanyeol dan Yohan sudah tak menangis lagi, tapi sulit bagi mereka menyembunyikan kesedihan mereka. Wajah mereka benar-benar kacau. Semua yang hadir di upacara pemakaman nampak berkabung. Dari karyawan, teman-teman Yura dan Yohan, juga dari klien yang kenal baik dengan Yura dan Yohan.
__ADS_1
Awak media ikut memadati upacara pemakaman itu. Mereka meliput apapun yang terjadi di sana. Bahkan seorang Chanyeol yang sudah sejak dulu mati-matian menyembunyikan wajahnya dari awak media pun ikut tersorot. Tapi bagi Chanyeol sekarang dia tak peduli mau seluruh dunia mengetahui bahwa dia anak bungsu keluarga Park. Dia sudah tak peduli karena yang dia perdulikan sudah pergi. Yura sudah pergi, kini dia hanya harus melanjutkan hidupnya dengan mimpinya saja. Tak perlu ada yang harus di sembunyikan lagi.
Rasanya, kehangatan dalam diri Chanyeol sudah menguar begitu saja. Dia sudah tidak bisa merasakan cinta dalam hatinya. Dia merasakan ini lebih sakit daripada saat Gladis menolaknya dulu. Hati Chanyeol benar-benar beku sekarang. Orang yang mengajarinya tentang arti cinta dan kehangatan sudah pergi. Yura mengajarinya dalam segala hal. Yura mengajarinya arti kehidupan. Pentingnya kehangatan dan cinta dalam keluarga. Tanpa Yura, hidup Chanyeol rasanya sudah tidak ada artinya lagi. Namun Chanyeol juga ingin bangkit. Apapun caranya, dia harus bisa meraih mimpinya. Jika Yura sudah pergi darinya, maka dia tidak akan membiarkan mimpinya ikut pergi juga.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.