Kisah Keysha

Kisah Keysha
S2. Will You Marry Me?


__ADS_3

Jin-young tanpa sadar berada di sebuah taman. Dia berjalan sendirian menyusuri sebuah taman kecil namun rindang dan penuh dengan orang yang berpacaran. Dia teringat akan dulu waktu dia mengejar cinta dari Bo Reum. Namun sekarang itu hanya kenangan saja. Bagaimana bisa, Bo Reum mematahkan hatinya begitu saja ketika dia sudah berharap akan berumah tangga dengan wanita itu.


Namun, jika dia tidak segera menikah, pasti sahabatnya akan sedih. Ini merupakan permintaan terakhir dari sahabatnya. Dia gak mungkin menolak permintaan sahabatnya itu. Namun dengan siapa dia menikah jika Bo Reum saja menolak ajakannya. Tapi jika dia tidak melaksanakan itu, pasti dia akan merasa sangat menyesal jika tak mengabulkan permintaan sang sahabat dari kecilnya.


Saat dia tengah berpikir, tiba-tiba saja di depannya ada gadis yang sepertinya tengah menolak ungkapan cinta dari seseorang. Gadis itu tiba-tiba melambai ke arah Jin-young sambil tersenyum dan menyuruh Jin-young mendekat.


Karena di belakang Jin-young tak ada siapapun saat dia menoleh, Jin-young pun yakin bahwa gadis itu tengah menatapnya. Jin-young pun perlahan mendekati gadis yang tengah berdiri dengan tampilan yang swag. Gadis itu memakai celana jeans yang sobek sobek, kaos oblong besar serta topi hitam dan tas pinggang kecil.


"Nah ini dia cowok gue. Lo tanya kan siapa Park Jin-young yang sering gue sebutin? Nah ini dia cowok gue. Lo lihat sendiri kan? Standar gue itu tinggi. Gak mungkin gue suka sama Lo. Lagian lo itu kaya, tapi yang kaya bokap lo bukan lo. Gila aja ya gue suka sama orang kaya lo yang tiap malam ONS di club. Mau jadi apa nanti gue jadi pacar lo." ucap gadis itu sambil menggandeng tangan Jin-young. Jin-young sendiri hanya diam.


"Ehh lo kalau mau nyewa orang yang bagusan dikit napa. Cowok kaya gini kok di sewa. Kalau mau cari orang yang mirip pengusaha Park Jin-young tu ya paling gak yang tampangnya kaya idol BTS gitu. Gak kaya curut kaya gini." ucap si cowok.


Jin-young tak bisa tinggal diam karena merasa dirinya di hina. Padahal cuma gadis seperti ini yang berpura-pura menganggap Jin-young kekasihnya. Artis luar negeri saja bisa kok jadi kekasihnya.


"Apa ini kurang cukup membuktikan bahwa saya Park Jin-young?" ucap Jin-young mengeluarkan kartu namanya.


"Alah kalau kaya gini mah orang tua gue juga punya. Tinggal minta aja sama orangnya langsung terus ngaku aja kalau diri sendiri itu Park Jin-young." ucap lelaki itu masih tak percaya.


"Kalau gitu, ini bukti yang kuat bahwa gue Park Jin-young." ucap Jin-young dengan mengeluarkan kartu Tanda pengenal nya.


Mata lelaki itu terbelalak. Dia tidak menyangka bahwa lelaki di depannya ini beneran Park Jin-young. Gadis itu yang awalnya sombong dengan berpura-pura menjadi kekasih dari seorang Park Jin-young yang wajahnya terserah di cover majalah bisnis yang selalu di baca oleh ayahnya itu pun ikut terbentang karena tak percaya bahwa lelaki yang dia ajak bercanda tadi Park Jin-young yang asli.


"Ma-ma-maafkan saya tuan. Saya akan pergi." ucap lelaki itu yang langsung pergi meninggalkan Jin-young.


Sedangkan sang gadis yang berdiri di samping Jin-young perlahan berjalan mundur untuk pergi dari sisi Jin-young. Namun tangannya di tahan oleh Jin-young saat dia hendak membalikkan badannya.


"Mau kemana kamu, kekasihku?" ucap Jin-young.


"Ma-maaf Tuan. Ma-maaf saya sudah lancang." ucap gadis itu sambil menundukkan kepalanya.


Jin-young bisa melihat dari name tag yang berada di pakaiannya. Ternyata dia seorang kurir makanan. Namanya Kim Yu Na. Gadis ini juga menarik, pikir Jin-young. Sejenak terbesit ide yang tak masuk akal. Namun mengingat kata dokter umur Woodz yang semakin tipis, Jin-young pun memantabkan tekadnya. Dia menarik gadis itu sampai masuk kedalam mobilnya.


Sesampainya di dalam mobil, Jin-young menelfon sekretaris Hans, sekretaris yang bekerja dengan Woodz.

__ADS_1


"Hans, tolong kamu cari orang tua dari gadis yang bernama Kim Yu Na. Dia bekerja di sebuah restoran ayam goreng yang berada di dekat SOPA. dia bekerja sebagai kurir. Bawa orang tuanya secepatnya di rumah sakit Seoul dimana Woodz dirawat." ucap Jin-young di telfon.


Belum sempat Hans bertanya untuk apa, Jin-young sudah menutup panggilannya. Jin-young kembali melajukan mobilnya dan kembali menelfon seseorang.


"Bawa seseorang untuk menikahkan ku di rumah sakit sekarang juga. Dan untuk berkasnya nanti di urus menyusul." ucapnya dengan seseorang di seberang.


Gadis yang bernama Kim Yu Na itu pun di buat melongo dengan apa yang dikatakan oleh Jin-young. Dia bahkan tidak tahu kenapa Jin-young mengetahui namanya sampai dia melihat name tag yang terdapat di bajunya. Dia masih bekerja seharusnya.


"Aduh.. gawat. Tuan, saya masih jam kerja. saya harus kembali sekarang juga." ucap Yu Na hendak turun dari dalam mobilnya yang tengah berhenti di lampu merah.


"Tidak.Kamu harus membantuku. Anggap saja inbalan karena aku sudah membantumu." ucap Jin-young.


"Apa yang bisa saya bantu Tuan? tidak bisakah besok? Saya mesti bekerja." ucap Yu Na yang tetap kekeh ingin keluar dari mobil itu.


"Setelah kamu menolongku nanti, kamu bahkan bisa membeli restoran itu atas namamu. Asal bantu aku." ucap Jin-young.


"Iya, tapi bantu apa?" tanya Yuna yang penasaran.


"Menikahlah denganku." ucap Jin-young to the point.


"Tidak ada penolakan. Hari ini juga kita menikah. Aku mohon." ucap Jin-young.


Yuna melihat ekspresi Jin-young yang terlihat sakit dimatanya. Yuna pun memberanikan dirinya untuk bertanya.


"Adakah masalah dengan anda Tuan? Sampai anda reka menikahiku gadis seorang penjaga sekolah SOPA dan aku juga hanya seorang siswi beasiswa di SOPA?" tanya Yuna.


"Sahabatku dari kecil tengah sakit parah. Dia di diagnosis dokter memiliki umur yang tidak lama lagi. Dia menginginkan aku menikah selagi dia bisa melihatku menikah. Dan seharusnya hari ini juga aku menikah dengan kekasihku." ucap Jin-young.


"Lalu kenapa Tuan tidak menikah dengan kekasih Tuan? Seharusnya kan Tuan sudah menikah dengan kekasih Tuan sekarang. Kenapa malah mau menikah denganku?" tanya Yuna.


"Karena bertepatan dengan itu juga, aku tengah di putus kan oleh kekasihku. Ya bisa jadi kamulah pelarianku." ucap Jin-young.


"Hais.. sungguh sakit hatiku di anggap sebagai pelarian." ucap Yuna.

__ADS_1


"Tapi Please, aku mohon... maulah menikah denganku. Ini menyangkut hidup mati sahabatku. Sebagai imbalannya, kamu tak perlu melayani ku sebagai seorang suami, anggap saja aku sugar daddy atau hanya sekedar bank berjalanmu saja tak apa. Aku akan memberikan semua yang kamu minta. Dan pernikahan ini tak akan lama. Hanya sampai salah satu diantara kita menemukan pasangan yang mampu merebut hati kita." ucap Jin-young.


"Tapi kalau pada akhirnya diantara kita jatuh cinta?" tanya Yuna.


"Ya, berarti itu takdir dari Tuhan untuk kita berjodoh. bagaimana?" tanya Jin-young.


Yuna terlihat berpikir. Yuna memikirkan nasibnya selama ini. Dia hanya tinggal berdua dengan ayahnya. Ayahnya hanya seorang duda yang ditinggal oleh istrinya karena miskin. Meskipun Yuna bersekolah dengan beasiswa, tapi untuk makan sehari-hari mereka tidak bisa begitu saja bergantung pada pekerjaan ayahnya yang menjadi penjaga SOPA.


Maka dari itu, sejak kelas enam, apapun itu dia lakukan untuk membantu ayahnya. Dari loper koran, pengantar susu, sampai sekarang dia menjadi kurir di sebuah restoran kecil. malamnya dia bekerja sebagai penjaga toko. Apapun itu dia lakukan agar bisa bahagia bersama ayahnya. Dia bahkan merelakan masa remaja untuk belajar. Tapi itu tak apa baginya asal dia tak melihat Ayahnya harus bekerja banting tulang sendirian.


Mendengar tawaran dari Jin-young tadi, terlihat negitu menggiurkan. Apakah ini sebagai jawaban dari doanya agar dia bisa membahagiakan Ayahnya? Tapi bagaimana dengan sekolahnya?


"Tapi Tuan, bagaimana dengan sekolahku?" ucap Yuna.


"Kamu akan tetap bisa sekolah. Setelah lulus dari SOPA nanti, kamu akan langsung masuk ke perguruan tinggi ternama nantinya. Untuk sekolah nanti biar di urus oleh sekretaris Hans. Sekretaris sahabatku yang mungkin akan bekerja denganku kedepannya. Jadi bagaimana jawaban kamu?" tanya Jin-young.


"Baik. Saya terima." ucap Yuna Mantap.


"Demi ayah. apapun itu akan aku lakukan."


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2