
Pagi harinya Chanyeol segera terbangun pada pukul enam pagi tepat ketika jam wekernya berbunyi. Semalam dia tidur terlalu larut, namun sedikitpun dia tidak mengantuk saat jam weker membangunkannya. Dia kembali duduk termenung bersandar pada sandaran ranjangnya. Dia masih memikirkan Han Sung yang sampai sekarang tidak tahu bagaimana kabarnya. Chanyeol pun mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Di lihatnya apakah ada notif dari Han Sung atau tidak.
Chanyeol lalu kembali teringat akan Jin-young. Dia lalu menimang ponselnya. Akankah dia menelfon Jin-young atau tidak untuk menanyakan semuanya. Tapi Chanyeol takut mengganggu kesibukan Jin-young yang mungkin sekarang sudah duduk di balik meja kerjanya di kantor. Tapi kalau ia tidak menelfon, dia mungkin akan mati penasaran, tidak akan sabar menunggu Han Sung menghubunginya nanti.
Dan pada akhirnya Chanyeol tetap menghubungi Jin-young. Nada dering pertama, dering kedua hingga dering ketiga Jin-young tidak juga mengangkat nya. Justru panggilannya malah berakhir pada kotak suara. Seperti itu terus berulang kali terjadi tiap Chanyeol mencoba untuk menelfon Jin-young.
"Kenapa nomor telfon Uncle ikut tidak aktif? Gak seperti biasanya Uncle seperti ini." ucap Chanyeol menatap layar ponselnya.
Chanyeol pun akhirnya membuka situs pembelian tiket pesawat online. Dia nekad ingin terbang ke Venezuela. Lagipula setelah di pikir lagi kuliahnya masih akan di mulai satu minggu lagi. Berarti dia tidak harus kuliah. Masih dalam masa free. Chanyeol pun membeli tiket penerbangan tercepat dari Los Angeles ke Venezuela. Dan penerbangan itu akan berangkat satu setengah jam lagi. Itu tandanya dia harus segera berkemas sekarang.
Chanyeol membersihkan badannya dahulu, baru setelah itu mengemas beberapa pakaiannya ke dalam tas ranselnya. Dia memakai mantel yang tebal karena teringat bahwa ini sudah memasuki akhir bulan Mei yang artinya Venezuela sudah mulai memasuki musim penghujan.
Sebelum berangkat, Chanyeol lebih dulu menuliskan pesan pada secarik kertas memeo yang di tempelkan pada daun pintu kamarnya untuk keluarga di apartemen ini. Supaya keluarga Yong Bin tidak khawatir terhadapnya. Lalu setelah itu dia pelan-pelan menyelinap keluar tanpa meninggalkan bunyi apapun. Dia berangkat ke bandara sendiri.
Sesampainya di bandara dia langsung melakukan check-in untuk penerbangan ke Venezuela. Tak perduli nanti ada komentar apa dari keluarganya, yang penting dia bisa segera ke Venezuela dan menemui Han Sung. Meskipun mungkin dia sampai sana sudah jam setengah sembilan malam, dia akan tetap ke sana dan segera menemui Han Sung. Itu tujuan utamanya.
Kalau kemarin ketika Han Sung berangkat dia meninggalkan sebuah pesan untuk Chanyeol, berbeda dengan kali ini. Chanyeol tidak meninggalkan pesan apapun untuknya dan juga kepada siapapun. entah itu kepada Han Sung atau kepada orang lain. Dia tidak meninggalkan pesan sekalipun. Dia bahkan lebih dulu mematikan ponselnya agar tidak ada yang bisa mencegahnya untuk pergi ke Venezuela. Toh dia juga meninggalkan pesan untuk Yong Bin dengan begitu jelas kemana dia pergi dan menyebutkan nama tempatnya. Jadi kalaupun ada apa-apa ke depannya, semuanya tahu itu.
...***...
Tepat pukul empat sore Han Sung mendarat di Venezuela. Dia dan juga Yuna sudah di jemput oleh orang suruhan Jin-young di bandara. Namun bukan rumah utama yang mereka tuju, melainkan sebuah rumah sakit yang terletak tak jauh dari bandara. Rumah sakit wanita.
Saat tahu bahwa tujuan mobil yang membawanya adalah rumah sakit, seketika hal itu cukup membuat Han Sung tidak tenang. Han Sung memainkan ponselnya, melihat pesan yang di kirim oleh nya untuk Chanyeol. Namun dia tidak mendapatkan balasan apapun darinya. Dia hanya melihat kalau Chanyeol hanya membacanya saja.
__ADS_1
Han Sung yang panik pun mencoba untuk menghubungi Chanyeol namun nomornya tidak aktif. Han Sung tidak tahu saja kalau Chanyeol tengah berada dalam pesawat yang menuju ke Venezuela. Namun tidak aktifnya nomor Chanyeol yang tak dia ketahui sebabnya itu. Di tambah sekarang dia sudah berada di dalam rumah sakit. Dia berada di bangsal di mana Joanna, neneknya di rawat. Han Sung langsung mendekati Jin-young yang tidak beranjak dari sisi Joanna. Jin-young seperti itu karena merasa bersalah. Tanpa sadar bahwa dialah yang menjadi penyebab ibunya terbaring di sana.
"Daddy, apa yang terjadi dengan nenek? Kenapa nenek bisa sampai seperti ini?" tanya Han Sung. Sedangkan Yuna menenangkan Jin-young yang terlihat sekali bahwa dia masih dalam keadaan syok. Bahkan Jin-young tidak menanggapi pertanyaan dari anaknya itu. Hingga akhirnya asistennya lah yang menjawab.
"Nyonya Joanna mengalami koma setelah di tikam sebanyak lima kali oleh perampok yang hendak merampok rumah Tuan Jin-young. Nyonya di tikam pada bagian vitalnya, sehingga setelah operasi nyonya masih belum sadarkan diri. Dokter berkata bahwa Nyonya Joanna mengalami koma." ucap asisten pribadi Jin-young yang kala peristiwa itu terjadi juga berada di TKP. Dia dan Jin-young berada di TKP ketika mereka pulang dari kerja lembur merek karena ada masalah di perusahaan mengakibatkan mereka harus lembur.
"APA!? PERAMPOK?" teriak Han Sung dan Yuna bersamaan karena kaget mendengar penjelasan dari asisten pribadi Jin-young.
"Kamu jelaskan detailnya!" ucap Han sung tegas. Sifat tegasnya benar-benar menuruni dari ayahnya. Namun dia masih memiliki hati yang begitu baik seperti mamanya.
"Hari dimana Tuan sampai disini, itu Tuan langsung di hadapkan oleh masalah yang begitu besar. Semua ini berawal dari Tuan Dawn, suami dari Nyonya Cassie yang menggelapkan uang perusahaan dan membawanya kabur. Dia juga tega membunuh kedua anaknya, Tuan muda Calvin dan Tuan Muda Dirly dengan mendorong mobil yang di kendarai oleh Calvin ke jurang. Namun lebih dulu dia membuat kedua anaknya itu dalam pengaruh obat tidur. Tuan Dawn berhasil lolos dari jeratan hukum karena dia menjebak dan melimpahkan semua kesalahan nya kepada Nyonya Cassie. Dan akhirnya Nyonya Cassie lah yang di tahan atas tuduhan pembunuhan berencana kepada anaknya." jelas asisten pribadi Jin-young.
"Ya Tuhan, lalu bagaimana dengan anggota keluarga yang lain? Apakah mereka sudah tahu?" tanya Yuna yang tak percaya kalau keluarga suaminya akan sekacau itu. Mungkin kalau ayahnya masih hidup dia akan ikut bersedih mendengar keluarga menantu kesayangannya seperti ini.
"Untuk Nyonya Park Soo Young dan Nona muda pertama tengah berjuang membantu untuk melepaskan Nyonya Cassie dari jeratan hukum. Sebisa mungkin mereka mencari bukti bahwa Nyonya Cassie tidak bersalah. Sedangkan Tuan Han Bin dengan bantuan Tuan Muda kedua tengah berusaha untuk menangkap Tuan Dawn di manapun dia berada. Tuan Han Bin ingin memastikan sendiri bahwa lelaki itu membusuk di penjara." ucap asisten pribadi Jin-young.
"Malam itu saat kita pulang ke rumah, rumah sudah dalam keadaan pintu depan terbuka. Tak jauh dari sana saya juga melihat mobil terparkir dengan kondisi nyala namun tak ada orangnya. Padahal waktu itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam hampir tengah malam. Karena kita merasa curiga, kita langsung saja masuk ke dalam. Dan saat kita masuk, kita melihat dua orang bertopeng dengan salah satunya tengah menikam Nyonya besar. Sedangkan yang satunya tengah mencari surat-surat berharga di dalam kamar Nyonya besar...."
"..... Dan dari situ kami mencoba untuk menolong Nyonya besar sebisa mungkin karena kami juga tidak memiliki senjata apapun. Kebetulan saat saya hendak meminta tolong keluar, di sana ada petugas keamanan komplek yang tengah berkeliling mengecek keamanan komplek. Saya pun langsung memanggilnya dan akhirnya pelaku itu berhasil di tangkap. Pelaku itu langsung di bawa ke kantor polisi, saya ke kantor polisi dan Tuan ke rumah sakit. Ternyata perampok itu mengaku bahwa mereka adalah suruhan dari Tuan Dawn." jelasnya.
"Lalu dimana sekarang lelaki itu?" tanya Han Sung.
"Sekarang Tuan Dawn tengah menjadi buronan polisi setelah Tuan Han Bin melaporkannya atas tindakan penggelapan dana perusahaan. Tapi kita tidak bisa diam begitu saja Tuan Muda. Diam-diam selama ini di belakang kita, ternyata Tuan Dawn adalah seorang mafia. Keselamatan kita semua bisa saja terancam karena yang menjadi targetnya adalah seluruh kekayaan Tuan Jin-young."jelasnya semakin membuat Han Sung meradang.
__ADS_1
Han Sung amat marah mendengar semua itu. Namun dia tidak tahu bagaimana caranya agar bisa membalas perbuatan pamannya itu. Terlebih keadaan keluarganya sekarang juga terancam. Dia tidak bisa begitu saja lengah dalam keadaan yang terlihat tenang ini.
Han Sung keluar dari ruangan itu. Dia tidak tega melihat keluarganya hancur. Melihat Mommy and Daddy nya menangis tak berdaya. Untuk kedua kalinya dia melihat Daddynya menangis. Tapi dia masih anak kecil yang belum mempunyai kekuatan apapun. Dia belum sekuat Calvin sepupunya, anak dari Cassie dan lelaki biad*b itu. Namun sepupunya itu justru lebih dahulu pergi dengan adik lelakinya yang tak bersalah sebelum dia bisa membantu keluarganya.
Han Sung berpikir siapa lagi yang bisa membantunya. Keluarga pamannya Han Bin tengah membantunya untuk menjebloskan Dawn. Sedangkan sepupu perempuannya tengah mencoba melepaskan tantenya Cassie. Hanya Chanyeol lah harapan terakhirnya untuk bisa menolongnya. Tapi sampai sekarang Chanyeol masih belum bisa di hubungi. Han Sung semakin terlihat gelisah dan kalut. Dia tidak tahu harus bagaimana menyikapi semuanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.