Kisah Keysha

Kisah Keysha
S2. Wedding


__ADS_3

Ela mengikuti kemana arah kaki Yong Jin melangkah. dia menunduk takut kepada Yong Jin yang kalau itu terlihat memasang ekspresi tak ramah. baru kali ini dia melihat Yong Jin berekspresi seperti itu. dia sungguh takut.


Yong Jin berhenti di sebuah taman rumah sakit. Saat melihat Yong Jin menghentikan langkah kakinya, Ela pun ikut berhenti. Dia menatap punggung tegap milik Yong Jin. Tubuh yang pemiliknya selama setahun ini telah memikat hati Ela.


"Ela... apa kamu yakin dengan perjodohan ini?" tanya Yong Jin membuka pembicaraan.


"Maksud kakak?" tanya Ela yang bingung.


"Bukannya kakak mau menolak perjodohan ini. tapi jujur kakak sendiri belum siap untuk membina rumah tangga. bahkan kalaupun kakak ingin menikah, kakak tidak mungkin menikahimu. kakak sudah menganggapmu sebagai adik kakak. mana ada seorang kakak yang menikahi adiknya. kakak sudah mengenalmu dari kecil La. kakak gak mungkin bisa begitu saja menerimamu menjadi istri kakak." kata Yong Jin yang kini sudah berbalik menatap Ela.


Ela membalas tatapan Yong Jin dengan tatapan yang sulit diartikan. Hanya Ela yang paham akan maksud dari tatapan itu. Sebenarnya bagi Ela sendiri begitu bahagia saat tahu kalau mereka akan menikah. Karena jujur di hati Ela, Ela masih menyimpan perasaan kepada Yong Jin. Karena hanya Yong Jin yang dapan membuka pintu hati Ela yang sudah dia tutup rapat-rapat untuk para lelaki yang mendekatinya.


Namun saat tahu bahwa Yong Jin masih mencintai orang lain, hati Ela merasakan sakit. Tak butuh waktu lama, dalam hari ini juga Yong Jin mengatakan kata-kata yang menyakitkan lagi. dia bilang kalau dia tidak bisa menikahi Ela hanya karena sudah sering menganggap Ela sebagai seorang adiknya.


"Baiklah kak. intinya kakak tidak ingin menikahiku kan? Ela akan membujuk ayah agar menarik ucapannya." kata Ela yang hendak pergi dari hadapan Yong Jin.


"Bukan itu maksud kakak La. kakak juga gak bisa menolak perkataan orang tua kakak yang sudah menyetujui apa yang Om Kevin inginkan." kata Yong Jin menahan tangan Ela agar tidak pergi.


"Lalu maksud kakak apa? kalau emang kakak tidak menginginkan pernikahan ini, Ela akan membujuk semuanya. kakak tenang saja. Setelah ini Ela akan memaksa ikut Ayah dan Bunda ke Belanda atau ikut ke Amerika membantu Kak Vin's." ucap Ela sembari menepis tangan Yong Jin yang masih memegangnya.


"Tapi La, pertimbangkan kesehatan Ayah kamu. apa kamu tidak kasihan? ayah kamu akan pergi ke Belanda. dia hanya ingin melihatmu menikah sekarang. kakak masih bisa wujudkan itu. tapi bukan kakak yang menikahimu. tapi Park Yong Bin. adik kakak." kata Yong Jin.


Duar... Bagai disambar petir, untuk ketiga kalinya dia merasakan sakit hati yang teramat dalam dari perkataan Yong Jin. Bagaimana bisa, setelah dia menolak Ela dengan terang-terangan, dia memberikan Ela kepada adiknya. MEMBERIKAN. Dia merasa seperti dipermainkan.

__ADS_1


"apa kakak bilang? Aku akan menikah dengan Yong Bin? Apa kakak sadar dengan ucapan kakak? Kakak menolak perjodohan ini. Bahkan kakak menolak ku secara terang-terangan. Saat Ela ingin membatalkan perjodohan ini kakak melarangnya. dan bilang kalau kakak ingin menikahkan ku dengan Yong Bin. Kak, sudah cukup aku di berikan kepada keluarga kalian dengan cara di nikahkan seperti ini. dan sekarang, Kakak dengan santainya memberikanku kepada adik kakak yang notabene aku itu calon istri kakak sekarang. Terimakasih kak. mungkin aku memang barang yang bisa dikasihkan kepada siapapun seperti ini." kata Ela panjang lebar lalu pergi meninggalkan Yong Jin yang masih terpaku.


Yong Jin menatap punggung Ela yang meninggalkannya. Dia tidak pernah percaya kalau hubungan yang terjalin begitu baik dari kecil harus menjadi seperti ini. Dia tidak ingin hubungan kekeluargaan antara dia dan Ela menjadi rusak karena perjodohan ini. Karena Yong Jin tahu, jika dia menikahi Ela, maka akan ada hati yang tersakiti. Yaitu adiknya sendiri, Park Yong Bin.


Tapi di balik itu, Yong Jin juga tak pernah tahu bahwa ada hati yang tersakiti jika dia menolak perjodohan ini. Hati yang telah membuka diri untuknya namun tidak disambut dengan begitu baik.


Yong Jin pun melangkahkan kakinya kembali ke ruang inap Kevin berada. Dia berjalan dengan begitu lesu. tak tahu harus bagaimana jadinya. apa dia akan menikahi Ela atau membiarkan Ela menikah dengan adiknya. dia tidak tahu harus bagaimana. Karena dia sendiri belum cukup siap untuk menjalin rumah tangga. Bahkan di hatinya, masih ada nama orang lain.


Yong Jin memasuki kamar tersebut. ternyata sudah ada petugas pencatatan kantor Urusan sipil. Ternyata benar bahwa hari itu juga Ela dan Jin menikah. Yong Jin hanya pasrah dengan keadaan. dia tidak. bisa lari lagi. karena jika dia ingin lari, siapa yang akan menggantikannya. dia sudah menghubungi Yong Bin, tapi hanya operator yang menjawabnya.


Akhirnya setelah menandatangani buku nikah, Ela dan Jin telah resmi menikah hari itu juga. Kevin dan Key bisa tersenyum tenang meninggalkan putrinya untuk terbang ke Belanda malam itu juga. Sedangkan Vin's, besok pagi - pagi sekali akan ikut pergi ke Amerika mengurus usaha keluarga mereka. Vin's juga berat meninggalkan adik kesayangannya itu. namun dia yakin, selama ada Yong Jin yang kini menjadi suaminya Ela, Vin's yakin bahwa Ela tak akan menderita. dan keselamatan Ela pun pasti terjamin.


***


Ela menatap rumahnya yang kini sudah di jual oleh kedua orang tuanya. Rumah yang dibeli oleh orang tuanya dari hasil jerih payahnya. semuanya di jual, kecuali butik kecil milik Key yang sudah dirintis dari dua puluh tahun yang lalu. namun butik itu kini terpaksa tutup karena Key harus ikut ke Belanda. Tapi Ela janji pada diri sendiri bahwa dia akan mengembangkan usaha itu bersama sahabatnya Na Young.


"iya Ma. makasih ya sudah mau menerima Ela." kata Ela dengan senyum cantiknya.


"Asyik.. papa jadi punya anak cewek sekarang. jadi papa bisa merasakan merawat seorang putri." kata Tuan Park yang dari dulu sudah ingin sekali mempunyai seorang putri. namun karena alasan kesehatan, setelah melahirkan Yong Bin, Nyonya Park tidak boleh hamil lagi.


"Makasih ya pa. ohh iya, kak Jin kemana Pa? dia gak ikut jemput Ela?" tanya Ela yang hanya melihat kedua mertuanya saja disana.


"Yong Jin sedang mengurus kerjaan kantor yang ditinggal oleh Vin's. jadi dia tak bisa menjemputmu. kalau Yong Bin dia ada kelas hari ini. kamu pasti tahu kan?" kata Nyonya Park.

__ADS_1


"Iya ma, Ela juga inget kok kalau hari ini ada kelas." kata Ela.


"Ya udah kalau begitu sekarang kita pulang. mama sudah menyuruh para pembantu memasakkan makanan untuk kamu." kata Nyonya Park membimbing Ela untuk masuk kedalam mobil.


Ela masih terlihat berat meninggalkan rumah yang penuh kenangan itu. air matanya menetes kembali dari ujung matanya. Saat itu juga dia melihat sebuah butik milik Bundanya yang tutup. dia memantapkan hatinya untuk meneruskan usaha milik bundanya itu. Ela menatap sang mama mertua yang duduk didepan bersama suaminya yang tengah menyetir.


"Mam, Ela masih boleh kuliah dan kerja kan?" kata Ela.


"Tentu boleh sayang. selama kamu belum memiliki anak syaratnya." kata Nyonya Park.


"Ela ingin menghidupkan kembali butik Bunda Mam. Bunda pasti sedih kalau butik nya di tutup. Ela juga ingin berusaha sekeras mungkin agar bisa membeli kembali rumah milik Ayah yang dijual. agar jika Ayah pulang, Ayah tak perlu lagi mencari apartemen untuk di kontrak." kata Ela penuh dengan semangat.


"Mama setuju saja dengan apa yang kamu inginkan. Mama akan mendukungnya. Tapi kamu butuh modal. maka terimalah ini." kata Nyonya park menyerahkan black card seperti milik ayah Ela yang kemarin di berikan kepada Ela. namun jujur saja sekarang Ela tidak memiliki apapun karena semua miliknya yang berharga ikut Ela jual untuk menutupi kerugian perusahaan.


"Ini buat Ela ma?" tanya Ela yang masih tak percaya.


"Iya itu buat Ela."


"Tapi kenapa ada dua buah mam?" tanya Ela lagi melihat satu kartu credit yang satu lagi debit.


"Kartu kredit itu milik Yong Jin yang tadi pagi dititipkan mama untuk membeli kebutuhanmu. dan yang satunya, itu hadiah dari papa dan mama untuk kamu menjadi menantu kami." kata Mama.


"Tapi apa ini tidak berlebihan Ma? black card saja udah cukup untuk Ela, Ma." kata Ela.

__ADS_1


"Tidak tidak.. kamu harus menerima ini juga. karena ini sudah mama dan papa persiapkan sejak jauh - jauh hari. Kami sengaja membuat ini untuk tabungan jangka panjang dan kami berikan kepada menantu kami nanti. untuk istri Yong Bin nanti juga ada. jadi kamu tak perlu merasa tak enak. itu sekarang sudah menjadi hakmu karena kamu sudah menjadi menantu kami." kata Mama.


Hal itu sontak membuat Ela menangis terharu. dia memeluk dan mencium pipi kedua mertuanya dengan sayang. Disaat banyak orang yang mendapatkan seorang mertua yang memperlakukannya dengan buruk, dia mendapatkan anugerah mendapat seorang mertua yang begitu baik hati sekali.


__ADS_2